Sunday, August 16, 2009

Pijatan Bi Eci

Menjelang akhir kuliahku di Bandung aku tinggal di daerah Dipati Ukur, mengontrak bersama 3 orang temanku. Karena sibuk dengan tugas akhir aku sudah jarang bertemu dengan Tante Nita maupun teman-temannya. Terakhir aku berkencan dengan Tante Nita sebulan yang lalu. Saat itu ketiga temanku pergi berlibur ke Jakarta selama 3 hari, lalu aku sengaja mengundang Tante Nita untuk datang ke rumahku. Selama dua hari berturut-turut Tante Nita datang sambil membawa makan siang dan selajutnya kami melepaskan kerinduan syahwat kami sepuasnya hingga malam hari. Tante Nita belum mau pulang kalau aku belum orgasme tiga kali.

Sebulan tidak menyentuh seorang wanitapun rasanya sungguh berat bagiku, tapi aku beruntung bisa mengalihkannya dengan berkonsentrasi dalam kesibukan menyelesaikan tugas akhir. Di rumah kami tidak ada pembantu, hanya ada Bi Eci yang setiap hari datang untuk mencuci baju. Bi Eci ini sangat baik, meski kami hanya membayarnya untuk mencuci baju tidak jarang dia juga ikut membereskan dan membersihkan rumah. Bi Eci asli Sukabumi, usianya sekitar 35 tahun dan suaminya bekerja sebagai sopir di Jakarta. Meski sudah memiliki 3 orang anak Bi Eci tidak tampak gemuk, mungkin karena dia banyak bekerja dan juga pintar merawat tubuhnya. Wajahnya khas Sunda, cantik dan kulitnya putih. Aku dan teman-temanku kadang-kadang suka menggodanya, tentu dalam batas-batas yang wajar sehingga Bi Eci juga tidak tersinggung.

Suatu hari Bi Eci datang kepadaku, dia mengeluh suaminya belum pulang-pulang sudah 2 bulan dan dia butuh uang untuk bayar sekolah anaknya. Aku memberinya pinjaman Rp 200.000,- Untuk ukuran waktu itu jumlah tersebut cukup besar, kira-kira setengah jumlah kiriman bulananku. Bi Eci berjanji mengembalikannya kalau suaminya sudah pulang nanti, aku sih setuju aja.

Sudah sebulan berlalu, aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan uang yang dipinjam oleh Bi Eci karena tidak pernah kuanggap sebagai sebuah pinjaman. Tapi Bi Eci tampaknya tidak merasa enak hati karena sudah sebulan lebih suaminya masih juga belum ada kabar.

"Duh, aden... bibik minta maaf belum bisa mengembalikan pinjaman bibik..."
"Ah, udah bik, nggak usah dipikirin, itu buat bibik aja...."
"Jangan den..., bibik nggak enak..."

Aku mencoba menjelaskan kalau uang itu aku anggap sebagai bonus karena dia mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain selain mencuci, tapi Bi Eci tetap tidak mau.

"Ya udah deh, bibik bisa bayar dengan cara lain, nggak usah harus pake duit..."
"Gimana den...?"

"Gini bik..., bibik bisa mijitin saya nggak?"
"Oh.. kalau cuma mijit sih bibik bisa aja den, tapi enak apa enggak bibik nggak tau soalnya bibik cuma pernah mijit suami bibik aja..."
"Ah, nggak apa-apa bik, yang penting bibik mijitnya serius, nggak setengah-setengah, pasti enak...., sekali mijit saya itung 25 ribu gimana..."

Bi Eci setuju, kami lalu masuk ke kamar dan menutup pintu, kebetulan pada waktu itu cuma ada aku saja di rumah. Aku berbaring tengkurap di tempat tidur dan Bi Eci mulai memijatku. Mulanya Bi Eci agak canggung karena berdua sekamar denganku, tapi lama-kelamaan dia mulai terbiasa. Pijatannya lumayan enak dan membuatku merasa nyaman sekali. Sambil memijit Bi Eci mulai curhat soal suaminya yang nggak pulang-pulang.

"Wah, terus bibik kesepian dong....," kataku mulai memancing-mancing.
"Yah, resiko den..., untung ada anak-anak jadi bibik nggak terlalu kesepian."
"Maksud saya kalau malam gimana? Bibik sendirian terus dong..."
"Ah aden ini....," katanya sambil mencubit pantatku.
"Jujur aja bik, emangnya bibik nggak kepengen begituan...."
"Ih... bibik masih normal den, ya pengen juga..."

"Ya udah, gini bik... tiap mijit saya itung 100 ribu tapi bibik mijitnya ekstra ya... persis seperti kalau bibik mijit suami bibik gitu...ada tambahannya," kataku memancing lebih lanjut.
Sejenak Bi Eci terdiam dan memandangku, "Aden pengen ya....kalau aden pengen bibik sih mau aja...," kata Bi Eci setengah berbisik di telingaku.

Aku cuma tersenyum, Bi Eci lalu bangkit keluar kamar untuk memastikan pintu rumah sudah terkunci kemudian dia masuk kembali dan mengunci pintu kamarku. Dia mulai melepas bajunya sehingga yang tertinggal hanya BH dan celana dalamnya saja. Sekarang kami berdua sama-sama hanya mengenakan pakaian dalam saja. Bi Eci membalikkan badanku dan tangannya masuk ke celana dalamku, dia meremas-remas penisku yang perlahan-lahan mulai membesar. Tampaknya Bi Eci benar-benar sedang mempraktekkan apa yang dilakukannya setelah memijat suaminya. Di pelorotkannya celanaku, dan dia langsung menjilat-jilat penisku lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Tidak kusangka Bi Eci yang sehari-hari hanya tukang cuci ini cukup pandai dalam melakukan oral-sex.

Aku tidak tinggal diam, tanganku mulai menggerayangi selangkangan Bi Eci, jari-jariku mulai masuk ke dalam lubang vaginanya yang basah sambil mengusap-usap klitorisnya. Bi Eci tampak keenakan, dia langsung melepas celana dalam dan BHnya sehingga kami berdua betul-betul telanjang bulat. Bi Eci kembali melumat penisku dengan ganas, sementara tanganku terus menggerayangi vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Tampaknya Bi Eci mulai tidak tahan dan dia berusaha melepaskan tanganku dari vaginanya, "Masukin aja itunya den, ke punya bibik..."

Bi Eci lalu berbaring telentang dengan wajah penuh harap. Akupun sudah sangat terangsang dan penisku sudah sangat tegang. Tapi aku tidak langsung memasukkan penisku ke vaginanya, aku mulai meremas-remas payudara Bi Eci yang montok dengan puting yang besar. Kemudian mulutku mulai melumat dan menghisap-hisap buah dada yang ranum itu dengan penuh gairah. Bi Eci makin terangsang dan terus mendesah-desah, "Den... masukin sekarang den... bibik nggak tahan..."

Bi Eci lalu membuka pahanya lebar-lebar sehingga lubang vaginanya samar-samar tampak terbuka di balik bulu-bulunya yang lebat. Aroma vagina Bi Eci membuat aku semakin tidak sabar ingin memasukkan penisku ke dalamnya. Aku lalu memposisikan diriku di antara kedua pahanya, perlahan-lahan kusibakkan bibir vaginanya dan kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah teramat basah.

"Mmhh... den... ," Bi Eci merintih dengan berbisik, menjaga supaya suaranya tidak terdengar ke luar kamar. Aku mulai menggoyangkan penisku naik turun memasuki vagina Bi Eci yang hangat dan basah. Bi Eci yang sudah berbulan-bulan tidak disentuh suaminya tampak sangat menikmati tusukan-tusukan penisku. Aku merasakan otot vagina Bi Eci seperti meremas-remas penisku dengan ganas. Sementara itu tangan Bi Eci tampak meremas kasur untuk menahan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya, matanya tampak terpejam meresapi nikmat.

"Bi, saya lupa mau pake kondom dulu, nanti takut keluar di dalam bisa gawat..."
"Nggak apa-apa den, bibik pake KB kok..., nggak usah pake kondom, keluarin aja di dalam kalau aden mau keluar....," katanya sambil mencegahku mengeluarkan penis dari dalam vaginanya.

Aku terus menusukkan penisku dalam-dalam sambil tanganku meremas-remas payudara Bi Eci. Akhirnya aku merasakan gerakan Bi Eci makin ganas dan mulai tidak beraturan, tangannya mulai meremas-remas pantatku seolah memintaku untuk menusukkan penis lebih dalam lagi sementara pinggulnya memagut-magut pinggulku dengan kuat. "Mmhh...mmhh...den....bibi sudah keluar...."

Kami berhenti sejenak, tetap dalam posisi aku menindih Bi Eci yang terlentang tak berdaya. Aku memberi kesempatan Bi Eci menikmati orgasmenya yang pertama setelah berbulan-bulan....

"Enak bik...?" tanyaku, Bi Eci hanya mengangguk malu-malu. Tak lama kemudian Bi Eci kembali menggoyang-goyangkan pinggulnya, akupun lalu merespon dengan kembali menancapkan penisku ke dalam vaginanya berulang-ulang. Setelah beberapa menit berlalu aku merasakan gelombang orgasme mulai terbentuk.

Aku mempercepat tusukanku, "Bi, kayaknya saya mau keluar...."
"Mmhh... bibik juga... keluarin di dalam den..."
"Agghh...mmhh.... bik.....saya keluar..."
"Mmhh...iya den....bibik juga keluar lagi.....uuhh..."

Aku menusukkan penisku dalam-dalam sambil menumpahkan seluruh isi spermaku berkali-kali ke dalam liang vagina Bi Eci sementara itu Bi Eci dengan kuat memeluk tubuhku dan matanya terpejam menahan nikmat. Akhirnya aku merebahkan diri di samping Bi Eci yang tampak lemas melepas rasa puas. Kulihat cairan putih mulai meleleh dari lubang vagina Bi Eci.

Setelah rasa lelah mulai hilang kami bangkit dan berpakaian. Bi Eci tampak malu-malu menyadari apa yang telah kami perbuat, dia agak salah tingkah.

"Bik, pijatan spesialnya enak banget...maksud saya burung saya dipijat memek bibik, saya jadi ketagihan...."
"Ah, aden... bibik jadi malu, bibik baru pertama kali dengan laki-laki lain..."
"Bibik suka...? Kapan bisa pijit saya lagi...?"
"Terserah aden, kapan aja bibik sih nggak masalah asal jangan ketahuan yang lain, bibik malu...."
"Terus, kalau utang bibik udah lunas bibik masih mau pijit saya lagi...? Saya betul-betul ketagihan bik...."
"Hi..hi...hi... terserah aden, kapan aden mau tinggal bilang aja....., nggak usah diitung bayar utang segala...."

Akhirnya Bi Eci berpamitan pulang setelah berjanji melakukan lagi besok saat teman-temanku tidak ada di rumah. Aku bilang sama Bi Eci kalau besok gantian Bi Eci yang di atas, Bi Eci cuma menjawab dengan tersenyum nakal.

Friday, July 24, 2009

HOT Backpacker

Kisah ini terjadi setelah aku bekerja di Jakarta. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju Bandung lewat Puncak Pass dengan mobil kijangku dalam rangka tugas kantor. Perjalananku cukup lancar karena bukan hari libur dan hari cukup cerah, waktu itu kira-kira pukul 15.30 sore. Aku menikmati perjalananku sendirian sambil mendengarkan alunan musik jazz.

Kurang lebih 2 km menjelang Puncak Pass aku melihat seorang wanita bule sedang berjalan sendiri dengan ransel besar di punggungnya. Dia berkacamata, umurnya sekitar 30-an, wajahnya lumayan cantik, mirip-mirip Luna Maya tapi agak gemuk, rambutnya ikal dan pirang. Dengan segera aku menghentikan mobilku dan turun untuk menawarkan tumpangan. Bahasa Inggrisku memang pas-pasan tapi untuk komunikasi sederhana tentu saja bisa.

"Hi, where are you going...?"
"Oooh, hi... I want to go to Puncak Pass.."
"Well, I am going there too, want to go together..? It's free..."
"Hmm.. no thanks, I want to walk..."
"Come on.. it's still too far... I think it's about 5 miles from here..." kataku sedikit berbohong.

Sejenak dia tampak bingung dan ragu-ragu, tapi akhirnya dia mau ikut denganku. Kami berkenalan, dia menyebut namanya Anne, dari Australia, dan sedang menikmati liburan ala backpacker di Indonesia. Dia sudah menginap dua malam di Jakarta, lalu akan melanjutkan ke Bandung, Jogya, dan terakhir rencananya akan menghabiskan liburannya di Bali sebelum kembali ke Australia.

"Are you alone?"
"Yes, for now, but my friends are waiting for me in Bali, we will meet there..."

Kami berhenti di Puncak Pass, aku mengajaknya makan di Restoran. Setelah itu aku mengajaknya berjalan menikmati perkebunan teh. Anne orangnya sangat ramah, cukup terbuka dan mudah akrab. Tanpa malu-malu kadang dia menggandeng tanganku selama kami berjalan-jalan di antara tanaman teh. Lalu kami ke Telaga Warna, sebuah danau kecil yang ada di daerah Puncak, dan kami duduk menikmati danau tersebut sambil menghilangkan lelah.

"Are you tired Anne...?"
"Aha..yess, but it's fun... I really like it..."
"Come on, you can lean on me... just relax..."
"Is it Ok for you...?"

Meski baru saja kenal, tanpa canggung Anne merebahkan diri dan kepalanya berada di pangkuanku sementara kakinya yang sudah lelah setelah berjalan cukup jauh diselonjorkan di bangku. Sambil ngobrol, sesekali aku menyentuh tangannya. Kelihatannya Anne tidak keberatan dengan aksiku maka aku lebih jauh lagi berani membelai-belai rambutnya. Tubuh wanita bule yang tergolek kelelahan di pangkuanku tentu saja mulai membangkitkan gairahku. Apalagi Anne tampaknya juga tidak keberatan seandainya aku meminta lebih jauh. Mungkin ini salah satu yang dia cari selama berlibur sendirian disini.

"Anne... if you want, I can give you a massage to refresh your body...," kataku coba memancing.
"Oo... no..no... not here.... "
"Of course not.. we can find more private place..." kataku.
"Hey... we just met...," katanya.
"But, if not now we probably will not meet again...," kataku mencoba merayunya.
Anne hanya tersenyum penuh arti.

Tidak berapa lama kemudian Anne bangkit, "OK, let's go... I'm very tired....".
Aku tahu Anne menanggapi maksudku. Aku rasa dia juga menginginkan apa yang saat itu aku inginkan. Aku mengajaknya langsung pergi ke Bandung dan mencari penginapan di sana. Dengan begitu aku bisa menikmati malam bersama Anne tanpa harus meninggalkan pekerjaan kantor esok hari.

Kami sampai di Bandung sekitar pukul 20.00. Kami langsung makan malam dan kemudian mencari penginapan di daerah Setiabudi. Setelah masuk kamar kami bergantian mandi, Anne mandi duluan, setelah itu aku. Saat aku keluar dari kamar mandi tampak Anne berbaring tengkurap dengan mata terpejam di tempat tidur hanya berbalut handuk. Aku langsung menghampirinya,

"May I massage you now...?" kataku berbisik di telinganya, Anne mengangguk tanpa berkata-kata. Aku langsung membuka handuknya dan tampak Anne tidak mengenakan pakaian dalam sedikitpun. Aku mulai memijat punggungnya beberapa saat, lalu aku mulai memijatnya kakinya yang terasa kaku karena kelelahan. Anne tampak sangat menikmati, "Hm.. I feel great..."

Tentu saja aku tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada pijatanku. Pikiran ngeresku terus menggoda. Aku ingin segera mengakhiri pijatanku dan menikmati tubuh Anne yang putih dan montok itu. Setelah kira-kira 10 menit aku memijat tubuh Anne, tanganku mulai menggerayangi payudara Anne. Mengetahui maksudku, Anne langsung membalikkan tubuhnya dan membiarkanku melumat payudaranya. Tangan kananku mulai menggerayangi area kewanitaannya, jari-jariku mulai masuk ke vagina dan mengelus-elus klitorisnya. Perlahan-lahan vagina Anne mulai terasa basah dan licin. Anne tidak tinggal diam, sambil melenguh keenakan tangannya berusaha meraih celana dalamku dan melepaskannya. Dia langsung meremas-remas penisku yang sudah mengeras dari tadi. Kemudian dengan ganas Anne menarikku dan merebahkan badanku, dia langsung menjilati dan mengulum penisku. Aku biarkan Anne menikmati penisku sepuasnya.

Kemudian Anne mengatur posisi tubuhnya sedemikian rupa sehingga vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu pirang itu berada tidak jauh dari wajahku. Belahan vaginanya tampak begitu basah membuatku tidak sabar ingin segera menjilatinya. Segera kuarahkan mulutku ke vaginanya dan aku mulai menjilati vaginanya. Sekali kali aku mengulum klitorisnya diantara bibirku sambil terus menjilatinya, Anne tampak makin terangsang dan lenguhannya semakin ganas. Lalu lidahku kembali mengeksplorasi liang vaginanya yang basah dan lembut. Aroma vaginanya sedikit berbeda dengan aroma vagina wanita-wanita lokal yang pernah kunikmati, entah karena beda cara perawatan atau karena pengaruh gen, aromanya terasa lebih lembut dan itu membuatku semakin terangsang.

Kurasakan vagina Anne semakin basah, aku rasa Anne sudah sangat terangsang. Benar saja, Anne langsung melepaskan penisku dan memakaikan kondom yang sudah disiapkannya. Lalu dia memposisikan dirinya di atas pinggangku. Sambil setengah jongkok tangannya berusaha memasukkan penisku ke dalam lubang vaginanya yang sudah begitu basah.

"Ooohh..." Anne melenguh merasakan nikmat saat penisku memasuki vaginanya. Selanjutnya dengan ganas Anne mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya sehingga penisku terasa keluar-masuk vaginanya. Meski badannya montok dan ukuran tubuhnya lumayan besar (maklum bule), vaginanya terasa cukup menjepit penisku. Payudaranya yang menggantung tampak bergerak naik turun mengikuti irama goyangan Anne. Aku langsung meremas-remas dan memelintir kedua payudaranya dan memilin-milin putingnya. Anne tampak makin terangsang dan badannya menggelinjang hebat. Tidak berapa lama kemudian Anne menjerit dan pinggulnya menekan ke bawah dengan kuat sehingga penisku terasa masuk sampai ke ujung, "Aaagh... I'm cummiiingg......". Tangannya meremas lenganku dengan kuat selama beberapa detik, kemudian badannya mulai melemas dan Anne langsung merebahkan diri kelelahan di sampingku.

Tapi tidak lama, Anne tampaknya cepat pulih dan dia memintaku untuk menyetubuhinya lagi, "I want your cock inside me again... and make me cum....". Aku langsung bangkit dan Anne langsung membuka selangkangannya untuk mempersilahkan penisku masuk ke dalam vaginanya. Tanpa berlama-lama langsung kutancapkan penisku dalam-dalam ke liang vaginanya sambil terus menggerakkan pantatku dengan kuat. Anne kembali menjerit tertahan, "Oooh... fuck me hard...fuck me hard..." Tanganku terus meremas payudaranya dan lidahku menjilati telinga dan lehernya. Tampak Anne sangat menikmatinya, dia menanggapi dengan menggerakkan pinggulnya mengimbangi gerakanku sambil tangannya terus mencengkeram punggungku kuat-kuat. Tubuh kami basah oleh keringat meski malam sebenarnya begitu dingin. Kami terus menikmati persetubuhan yang panas ini, kami saling meremas, saling menjilat, kadang bibir kami saling bercumbu dan lidah kami saling melilit. Akhirnya Anne mulai merasakan orgasmenya yang kedua, akupun mulai merasakan desakan sperma yang ingin tumpah.

"Ooohh... fuck me harder...I'm cumming.... I'm cumming..." Anne menggelinjang hebat.
Aku menggerakkan pantatku makin kuat, dan akupun sudah tidak tahan lagi, "Oohh... Anne.....yess... I'm cumming too...". Akhirnya kami berdua mengalami orgasme secara bersamaan, kami saling berpelukan erat merasakan nikmat yang luar biasa sebelum akhirnya seluruh tubuh kami terasa lemas.

Kami berbaring lemas dan saling berpelukan. Anne mengatakan kalau ini adalah pengalamannya yang pertama bercinta dengan pria Asia, akupun mengatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamaku bercinta dengan wanita bule. Anne bilang dia sangat menikmatinya dan ingin melakukannya lagi kalau rasa lelahnya sudah hilang. Memang hanya sejam saja kami beristirahat, setelah itu tangan Anne meremas-remas penisku hingga kembali mengeras dan Anne memintaku untuk memasukkannya lagi ke dalam vaginannya. Kami melakukannya berulang-ulang malam itu sampai kami akhirnya benar-benar kelelahan setelah orgasmeku yang ketiga,

Pagi harinya kami mandi bersama dan melakukannya lagi di kamar mandi. Tidak puas dengan itu, Anne menarikku ke atas ranjang dan menindih tubuhku lagi sambil memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah tampak merah. Berbagai gaya kami lakukan pagi itu, kadang Anne di atas, lalu gantian aku yang di atas. Kemudian Anne memintaku untuk menusukkan penisku dari belakang, doggy-style. Kadang kami melakukannya di atas lantai atau sambil duduk di kursi. Sampai akhirnya kami mengalami orgasme yang begitu nikmat berkali-kali. Rasanya kami sudah bergumul lebih dari dua jam pagi itu. Anne terlihat sangat kelelahan tapi wajahnya menampakkan rasa puas, akupun demikian.

Akhirnya kami berpisah juga karena aku harus segera pergi menyelesaikan urusan kantor. Anne memberiku nomor hp-nya selama di Indonesia dan dia berharap aku bisa menyusulnya di Bali untuk kembali menikmati malam-malam yang panas di sana. Sayangnya aku tidak bisa memenuhi permintaan itu karena tidak bisa mendapatkan cuti. Aku katakan padanya untuk memberi kabar kalau lain kali ingin datang lagi ke Indonesia, aku siap menemaninya kemana saja.

Friday, August 29, 2008

Mbak Mar

Kerabatku yang tinggal di Bandung sebenarnya cukup banyak. Salah satunya Tante Nani dan Om Hadi suaminya yang tinggal di daerah Setra Sari. Tante Nani saudara sepupu ibuku. Dulu sewaktu pertama kali mau kuliah ke Bandung orangtuaku meminta aku untuk tinggal di tempat Tante Nani atau saudara yang lain, tapi aku tidak mau karena pasti tidak bebas.

Meskipun begitu aku selalu berusaha menjaga tali persaudaraan, setidaknya tiga bulan sekali aku datang mengunjungi Tante Nani dan Om Hadi, kadang menginap kadang sekedar main saja. Pada suatu hari Tante Nani dan Om Hadi datang ke tempat kosku untuk meminta tolong.

"Doni, kamu bisa jaga rumah tante sampai hari Senin depan? Soalnya ada acara keluarga di Jakarta, Tante Tuti kakaknya Om Hadi mantu. Besok kami sekeluarga ke Jakarta."
"Bisa aja tante, tapi emangnya Mbak Mar nggak ada?"
"Kebetulan Mbak Mar sedang nengok anaknya di Pekalongan sudah lima hari. Janjinya sih balik kemarin tapi sampai hari ini belum ada kabar, jadi tante terpaksa minta tolong kamu. Itu mobil kijang kalau mau dipake jalan-jalan malam mingguan ya pake aja, bensinnya udah diisi penuh. Dan kalau kamu perlu apa-apa, ini ada di amplop. Nanti kalau Mbak Mar sudah datang, kamu boleh pulang, tapi kalau mau nginep di rumah juga nggak apa-apa."
"Nggak masalah tante, dari rumah tante ke kampus juga nggak jauh kok..." kataku sambil menerima amplop.

******

Hari Kamis sore aku datang ke rumah Tante Nani. Mereka sekeluarga, Om Hadi, Tante Nani, dan Yudi anak mereka yang masih kecil tampak sudah siap berangkat dengan mobil BMW hitam kesayangan Om Hadi. Setelah berbasa-basi sebentar dan meyakinkan segalanya siap serta tidak ada yang ketinggalan merekapun berangkat sekitar jam setengah enam.

Kupandangi rumah mewah mereka, semuanya tersedia: alat hiburan, mobil, makanan dan minuman lengkap di dalam kulkas dan freezer. Wah nikmat juga, seperti berlibur di villa. Tapi aku juga terbayang kesepian yang harus kulewati di rumah ini. Ah nggak apa-apalah, apalagi ketika aku membuka amplop ternyata Tante Nani memberiku uang 500 ribu. Untuk ukuran waktu itu (tahun 1994) jumlah itu lebih besar sedikit dari jatah kiriman 1 bulan! Lumayan....

Aku sendiri sudah menyiapkan perangkat 'hiburan' pengusir sepi berupa beberapa keping VCD porno yang sengaja kusewa. Tapi baru setengah jam aku menikmati VCD porno tiba-tiba kudengar bel berbunyi. Aku segera keluar dan kulihat ternyata Mbak Mar datang menenteng beberapa tas.

"Eh... Mas Doni, Bu Nani sama Pak Hadi mana? Kok sepi...?"
"Mbak...dari kemarin ditungguin kok nggak dateng-dateng... Tante sama Om ke Jakarta sampai hari Senin, kakaknya Om Hadi mantu...Mbak kemana aja..."
"Iya Mas... anak-anak di rumah nggak mau ditinggal cepet-cepet... jadi mundur dua hari."
"Ya udah, masuk aja mbak, istirahat dulu..."

Mbak Mar ini bukan pembantu, sebenarnya masih ada hubungan saudara jauh dengan Om Hadi. Dia kerja di rumah ini dengan imbalan Om Hadi akan menyekolahkan ke 2 anaknya sampai tamat perguruan tinggi. Anaknya yang tertua masih SMP dan yang kecil SD kelas 4, keduanya tinggal sama neneknya. Mbak Mar sendiri sudah 5 tahun cerai, umurnya sekarang mungkin sekitar 35 tahun, dia ditinggal suaminya yang kawin lagi dengan perempuan lain.

Dengan santai aku menutup pagar sementara Mbak Mar masuk ke rumah untuk membereskan barang-barang bawaannya. Tiba-tiba aku tersadar kalau VCD belum kumatikan. Wah...celaka, ketahuanlah kelakuan minusku! Segera aku bergegas masuk ke dalam. Dan benar saja, VCD memang masih menyala, lengkap dengan suara-suara desahan erotis yang terlanjur kusetel cukup keras. Kulihat Mbak Mar tidak ada di dalam, mungkin dia langsung pergi ke kamar. Aku yakin Mbak Mar tahu apa yang aku lakukan, setidaknya dia pasti mendengar suara dari VCD porno yang sedang kuputar. Dengan perasaan malu, segera aku mematikan VCD dan kuganti dengan saluran TV swasta.

Setelah selesai mandi Mbak Mar masuk ke dalam ruang tengah tempatku menonton TV untuk membereskan ruangan. Tidak seperti biasanya, Mbak Mar kelihatan agak kikuk dan salah tingkah. Akupun demikian, tapi aku berusaha untuk pura-pura tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Tapi kekikukan itu tidak berlangsung lama, Mbak Mar segera menyiapkan makanan dan kemudian mengajakku makan di meja. Karena Mbak Mar memang bukan pembantu, dia biasa makan di meja bersama-sama dengan Tante Nina dan Om Hadi. Kamipun mulai ngobrol biasa seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya aku memberanikan diri bertanya mengenai VCD porno yang kuputar.

"Maaf Mbak Mar, tadi waktu masuk rumah lihat film yang saya putar"
"Ih Mas Doni ini... diam-diam ternyata nakal juga... sukanya liat yang gituan... ya iya dong pasti keliatan" katanya malu-malu.
"Oh... jadi Mbak Mar liat ya... duh aku jadi malu....jangan bilang-bilang Tante Nani atau Om Hadi ya...?"
"Ya enggaklah mas... lagian Mas Doni khan udah dewasa jadi kalau ngeliat yang begituan khan juga nggak apa-apa sebenernya..."
"Ya bagus... kita kompak ya mbak..."

******

Suasana rumah yang sepi ditambah udara Bandung Utara yang dingin membuat aku tidak bisa konsentrasi menikmati acara-acara TV yang terasa membosankan. Aku seorang mahasiswa yang sudah sering merasakan nikmatnya tubuh wanita, sekarang tinggal berdua dalam sebuah rumah bersama dengan seorang janda yang mungkin juga sudah lama merindukan sentuhan laki-laki. Apapun bisa terjadi dalam keadaan seperti itu.

Sebelumnya aku tidak pernah tertarik sedikitpun dengan Mbak Mar, wajahnya biasa, 'not my type'-lah, dan tubuhnya juga agak gemuk seperti wanita-wanita yang sudah punya anak dan hanya bekerja di rumah pada umumnya. Sisi fisik yang menarik dari Mbak Mar mungkin kulitnya yang putih dan bersih serta payudaranya yang lumayan besar. Tapi alasan utamaku tidak pernah mengganggunya selama ini adalah karena dia masih saudara dengan Om Hadi. Aku tidak mau sampai merusak hubungan baikku dengan Om Hadi gara-gara masalah itu.

Keadaan menentukan lain, hari ini semuanya berubah. Suasana rumah yang sepi serta bayangan adegan-adegan hot yang tadi kutonton terus memojokkanku dan semakin memperlemah akal-sehatku. Pikiran-pikiran nakal dan mesum kini mulai menggodaku, semakin lama semakin hebat hingga akhirnya membuatku tidak tahan lagi ingin segera menikmati tubuh Mbak Mar. Aku segera bergegas ke kamar Mbak Mar dan mengetuk pintunya.

Mbak Mar membuka pintu, "Ada apa Mas Doni..."

"Mbak lagi ngapain...?"
"Nggak ngapa-ngapain, cuma istirahat... mau tidur, besok khan mesti beres-beres rumah."
"Temenin aku dong... nonton TV, besok nggak usah bangun pagi-pagilah, khan nggak ada siapa-siapa... santai aja mbak, yang penting nanti rumah beres sewaktu om dan tante pulang..."
"Iya deh, tapi sebentar... mbak mau ganti baju dulu..."
"Aaah, nggak usah mbak, khan nggak ada siapa-siapa... gitu ajalah, cuma di dalam rumah aja kok."

Mbak Mar cuma tersenyum, dia membetulkan dasternya dan kemudian berjalan mengikuti aku ke ruang tengah. Kami menonton TV swasta yang acaranya buatku masih membosankan. Sengaja aku mengajak Mbak Mar untuk duduk di sofa panjang bersama denganku. Aku sedang mencari momen yang tepat untuk mengganti acara TV dengan VCD pornoku.

"Mbak Mar, kalau nonton yang seperti tadi itu pernah?"
"Ah... Mas Doni, mbak mana pernah nonton gituan, di daerah mbak nggak ada. Maklum bukan kota besar," katanya tersipu malu.
"Nggak pernah nonton tapi begituan sering khan...?" tanyaku mencoba memancing-mancing.
"Kalau begituan ya dulu jelas pernah dong dengan suami... khan anaknya udah dua... tapi nggak persis seperti yang tadi, ceweknya berdua yang cowok sendiri... yang aneh-aneh begitu mbak sih belum pernah," katanya menjelaskan, aku cuma tertawa kecil.
"Tapi kalau sedang begituan Mbak Mar bersuara kayak cewek yang tadi nggak?"
"Mas Doni ini tanya yang enggak-enggak aja. Jelas nggak kayak gitu dong, nanti kedengaran tetangga gimana...?"

Aku masih mencari momen yang pas, ketika kurasa momennya sudah tepat aku mulai menawarkan untuk mengganti TV dengan VCD porno.

"Mbak, TVnya aku ganti dengan film yang tadi boleh...?"
"Ih mas Doni ini... ntar pusing sendiri lho..."
"Nggak apa-apa ya mbak, aku lagi pengen nonton yang begituan... lagian nanggung yang tadi belum selesai," kataku dengan nada memohon.
"Terserah Mas Doni lah..."

Mendapat lampu hijau aku langsung mengganti acara TV dengan VCD porno. Kami duduk bersebelahan menikmati tayangan adegan-adegan panas di layar kaca. Setengah jam sudah berlalu, kami tidak banyak bicara dan menikmati setiap adegan persetubuhan yang merangsang birahi. Penisku sendiri sejak awal sudah tegang, sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera mengeluarkan spermaku yang siap meledak. Kulihat Mbak Mar juga mulai tidak tenang, sebentar-sebentar dia berganti posisi.

"Mbak, terangsang nggak liat film seperti ini...?"
"Lha iya dong... memangnya Mas Doni enggak?"
"Kalau cowok sih udah pasti terangsang mbak..."

Kupegang tangan Mbak Mar dan pelan-pelan kutarik ke arah selangkanganku, "Coba pegang punyaku ini mbak... udah keras... tandanya aku udah terangsang mbak..." Mbak Mar sempat kaget juga, tapi dia tidak menolak. Dengan pasrah dibiarkannya tangannya kubimbing ke selangkanganku, kemudian pelan-pelan dirabanya penisku.

"Masukin aja tangannya mbak.... pegangin punyaku"

Mbak Mar menuruti permintaanku, dia membuka resleting celanaku lalu diselipkannya tangannya ke dalam celana dalamku. Kelihatannya Mbak Mar juga mulai menikmati, dia meremas-remas penisku dengan lembut sambil terus matanya menatap adegan demi adegan di layar TV.

"Mbak mau isep punyaku?"

Tanpa banyak protes Mbak Mar memelorotkan celana jeans dan celana dalamku. Dia berjongkok di depanku dan kemudian penisku langsung dimasukkan ke dalam mulutnya. Aku merasakan sensasi yang luar biasa setiap kali lidahnya mengulum penisku. Rasanya penisku siap meledak di dalam mulut Mbak Mar. Tapi aku mencoba menahan diri, aku ingin merasakan vagina Mbak Mar dan mengeluarkan spermaku di dalamnya.

Kulepaskan penisku dari mulut Mbak Mar, lalu tubuhnya kurebahkan di atas karpet. Adegan-adegan panas VCD porno sudah tidak lagi menarik perhatianku, tubuh seorang janda yang terbalut daster tipis dan dengan pasrah terlentang menanti sentuhan laki-laki jauh lebih menggairahkan bagiku.

"Gantian sekarang aku yang jilatin memek mbak ya...?"
"Jangan mas... nanti dilihat orang..." katanya lirih.
"Tenang aja mbak, pintu pagar dan pintu depan sudah aku kunci kok..."

Kusibakkan daster Mbak Mar ke atas, terlihat celana dalam warna krem sedikit basah, mungkin terkena cairan vagina Mbak Mar. Pelan-pelan kubuka celana dalam Mbak Mar, dia terdiam pasrah. Bulu vagina Mbak Mar tidak begitu lebat dan tampak lumayan basah oleh cairan vagina, sementara itu belahan vaginanya terlihat cukup jelas. Perlahan-lahan kubuka paha Mbak Mar sehingga belahan vaginanya mulai melebar. Dengan hati berdebar segera kubenamkan kepalaku di antara kedua paha Mbak Mar. Aku mulai menjilati bibir vagina Mbak Mar dan mempermainkan klitorisnya. Mungkin karena tubuh Mbak Mar agak gemuk, gundukan vaginanya yang besar terasa empuk sekali dan klitorisnya juga lebih besar dari wanita-wanita lain yang pernah kunikmati. Tubuh Mbak Mar langsung bergetar hebat saat lidahku menjilati klitoris dan bibir vaginanya dengan penuh nafsu, nafasnya seperti habis maraton, pinggulnya bergerak-gerak menahan rasa nikmat yang sudah lama dirindukannya.

"Aduh... Mas Doni...adduuh...aggh... geli sekali mas... rasanya pengen pipis," katanya setengah berbisik.

Mungkin karena sudah bertahun-tahun tidak mendapat sentuhan laki-laki, Mbak Mar jadi sangat sensitif. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit sebelum Mbak Mar mengalami orgasmenya yang pertama.

"Mas Doni... adduuuh... aku keluaarrr masss... aduuhh... aagghhh"

Setelah menggelinjang dan bergetar hebat selama beberapa saat akhirnya tubuh Mbak Mar tergolek lemas di atas karpet. Perlahan-lahan kuangkat dan kulepaskan dasternya, lalu kucopot BHnya sehingga Mbak Mar sekarang tergolek polos tanpa busana di hadapanku. Akupun melepaskan seluruh pakaianku sehingga kami berdua benar-benar polos tanpa busana, persis seperti para pemain film VCD porno yang sedang kami putar.

Mata Mbak Mar masih terpejam, mungkin dia masih meresapi kenikmatan yang baru terjadi. Payudara Mbak Mar memang cukup besar, demikian juga pentilnya yang bulat mirip seperti onde-onde mini. Tidak tahan melihat pemandangan menggairahkan itu aku langsung meremas-remas dan menjilati kedua payudaranya. Sementara itu tanganku yang satunya lagi menggerayangi vaginanya. Jari-jariku mulai masuk ke lubang vagina dan mempermainkan klitorisnya lagi. Mbak Mar cuma bisa mendesah-desah lirih menahan nikmat. Akupun sudah mulai tidak tahan ingin segera memasukkan penisku.

"Mbak... boleh aku masukin punyaku ke memek Mbak Mar? Aku udah nggak tahan..."

Mbak Mar menjawab dengan mengangguk. Langsung kutindih tubuh Mbak Mar yang montok dan penisku ku arahkan ke lubang vaginanya yang sudah siap sejak tadi. Hanya dengan sekali sentak masuklah penisku dengan sempurna ke dalam vagina Mbak Mar yang sudah licin, "Bless..." Mbak Mar menjerit tertahan dan matanya terbelalak saat penisku meluncur masuk ke dalam vaginanya,

"Aaahhh..."
"Sakit mbak...?"
"Enggak... enak kok....terusin aja..."

Vagina Mbak Mar masih cukup sempit, mungkin karena sudah lama tidak tersentuh pria. Tapi cairan yang keluar membasahi vaginanya membuat penisku dengan mudah meluncur keluar-masuk. Mbak Mar juga pintar memainkan otot vaginanya sehingga penisku serasa diremas-remas oleh dinding-dinding vaginanya. Tubuh gemuk Mbak Mar membuatku merasa nyaman saat menindih dan memeluknya, empuk dan hangat. Sensasinya benar-benar berbeda dengan wanita-wanita yang pernah aku tiduri selama ini.

Mungkin karena sudah sangat sensitif, kali ini tidak sampai 3 menit Mbak Mar sudah menunjukkan tanda-tanda menuju orgasmenya lagi. Gerakannya pinggulnya yang lebar mulai liar, payudaranya yang seperti balon berisi air itu berguncang-guncang, nafasnya kembali ngos-ngosan dan dipeluknya tubuhku erat-erat. Segera kupercepat gerakanku dan kutusukkan penisku dalam-dalam. Betul saja... Mbak Mar kembali mengalami orgasme...

"Mas Doni.. adduuuh... aku keluar lagii... aaagh... aagghh....," tubuh Mbak Mar menegang dan kedua tangannya memeluk erat-erat badanku.

Tak lama kemudian tubuh Mbak Mar kembali terkulai lemas. Sementara itu penisku masih tertancap tegang di dalam vaginanya, dan aku merasa sangat tanggung. Mbak Mar hanya kuberi kesempatan istirahat sebentar lalu aku kembali menggerak-gerakkan pantatku. Hanya selang beberapa detik saja Mbak Mar kembali bergairah, pinggulnya ikut bergerak naik-turun dan berputar-putar mengimbangi tusukan-tusukan penisku. Otot-otot vagina Mbak Mar kembali terasa mencengkeram penisku. Sementara itu aku mulai merasakan getaran-getaran nikmat di seluruh tubuhku, rasanya tidak lama lagi aku akan orgasme.

"Mbak...Doni udah mau keluar...?"

Tiba-tiba Mbak Mar tersadar akan resiko yang mungkin akan dihadapi. Setengah panik dia segera berusaha mendorongku sehingga penisku terlepas dari vaginanya.

"Aduh... jangan dikeluarin di dalam mas... aku takut hamil..."

Ah, sialan. Hanya tinggal beberapa tusukan saja. Mbak Mar tahu aku sangat kecewa, dia berusaha memberi jalan keluar.

"Punya kondom nggak mas...?"
"Wah, nggak ada... aku beli dulu ya..."

Mbak Mar cuma mengangguk sambil kembali mengenakan dasternya, "Aku tunggu lho...," katanya genit sambil melap vaginanya yang basah dengan tisu. Aku segera berpakaian dan melarikan motorku ke apotik terdekat untuk membeli kondom.

Sampai di rumah aku langsung menemui Mbak Mar yang masih duduk di depan TV mengenakan daster. Tapi kulihat celana dalam dan BHnya masih tergeletak di karpet. Kutunjukkan empat kotak kondom yang baru kubeli.

"Ih... banyak amat, emangnya mau berapa kali?" tanya Mbak Mar.
"Ini untuk jatah sampai besok mbak, semuanya 12 kondom....., mbak kuat khan?"

Mbak Mar cuma tertawa kecil.

Tanpa banyak omong aku kembali melepaskan pakaianku. Lalu Mbak Mar kutarik dari sofa dan kurebahkan di karpet. Dasternya kuangkat dan tampak vaginanya yang sudah basah siap menanti penisku. Langsung kutindih Mbak Mar dan penisku kumasukkan ke dalam vaginanya. Mbak Mar cukup kaget dengan serangan kilatku. Ah nikmatnya tubuh montok Mbak Mar...

"Nggak pakai kondomnya mas..?"
"Ntar aja kalau udah mau keluar, sekarang lebih enak gini... memek Mbak Mar lebih terasa mantep"

Aku langsung menyentak-nyentakkan pinggulku sehingga penisku tertancap dalam di vagina Mbak Mar berulang-ulang. Tanganku terus aktif mempermainkan payudaranya yang besar, sambil sesekali menjilati putingnya. Aku sudah tidak sabar ingin menumpahkan spermaku. Setelah beberapa menit penisku keluar-masuk vagina Mbak Mar, aku mulai merasakan tanda-tanda orgasme. Segera kucabut penisku dan kukenakan kondom.

"Duh... aku udah mau keluar mbak..."
"Masukin aja lagi mas... aku juga mau keluar, kita barengan ya..."

Mbak Mar membuka pahanya lebar-lebar dan dia mengangkat kedua pahanya dengan tangannya. Tubuhnya yang agak gemuk membuat perutnya membentuk lipatan-lipatan, tapi itu tidak mengurangi gairahku sama sekali, pandanganku tetap terfokus pada vaginanya. Belahan vaginanya tampak membuka sehingga lubangnya yang berwarna merah dan berkilat karena lendir dengan klitorisnya yang sebesar kacang bogor tampak cukup jelas. Tidak tahan melihat pemandangan itu langsung aku tancapkan penisku ke dalam vaginanya dan aku gerakkan pantatku dengan cepat. Makin lama makin cepat sehingga membuat Mbak Mar menggelinjang hebat dan mendesah-desah tak beraturan. Tidak sampai satu menit aku mulai merasakan sensasi orgasme, aliran darahku serasa mengalir dengan deras.

"Mbak...Doni mau keluar sekarang...aagghh...nggak tahan mbak...aaaggh.."
"Aku juga mas... aaagghhh...aduuuhh... Mas Doniiii....aku keluar lagiii..."

Akhirnya spermaku menyembur keluar dan tertampung seluruhnya di dalam kondom. Aku segera mencabut penisku, kulepaskan kondom yang penuh sperma dan segera kubungkus dengan tisu sebelum kubuang ke tempat sampah. Aku kembali berbaring di sisi Mbak Mar yang masih tergolek lemas. Kubelai rambut Mbak Mar dan kukecup bibirnya dengan lembut.

"Enak mbak...?"
"Enak banget... udah lama mbak nggak ngerasain yang seperti ini..."
"Sejak cerai...?"

Mbak Mar cuma mengangguk, matanya sayu kelelahan.

"Mbak Mar keluarnya cepet juga ya Mbak... wah pasti suami mbak dulu seneng banget ya... tiap malem bisa bikin mbak puas..."
"Ah dulu sih enggak juga mas, kadang-kadang aja mbak keluar, biasanya suamiku duluan yang keluar... terus udah...selesai, padahal aku baru mulai terangsang..."
"Sekarang kok bisa cepet banget, nggak sampe 3 manit udah keluar?"
"Nggak tau kenapa...., mungkin karena sebelumnya nonton film begituan dan karena tadi memek mbak dijilatin mas Doni jadinya mbak udah terangsang banget... Tapi mungkin juga karena mbak udah puasa lama, bertahun-tahun nggak ngerasain yang begituan, sekarang mumpung ada kesempatan rasanya kepengen banget terus-terusan digituin Mas Doni..." katanya malu-malu sambil mencubit perutku.

"Mbak Mar mulai merasa pengen saya tidurin kapan sih?" tanyaku penasaran.
"Mm... waktu tadi Mas Doni ngajak mbak nonton film, lama-lama mbak terangsang... jadi kepingin digituin juga seperti di film.... hi..hi...mbak ngebayangin gimana rasanya kalau punya Mas Doni masuk ke memek mbak.... ah..udah ah... mau tau aja...mbak jadi malu..."
"Ah aku cuma pengen tau aja mbak, soalnya nggak nyangka mbak yang biasanya sehari-hari kalem kok mainnya lumayan hot... goyangannya mamtep...jepitannya maut... aku puas banget lho mbak..."

Kubelai rambutnya dan kukecup bibirnya dengan ringan. Mbak Mar cuma tersenyum, matanya kembali terpejam dan wajahnya menampakkan rasa puas sekaligus lelah. Kami berbaring di karpet saling berpelukan melepas lelah selama beberapa menit. Tubuh Mbak Mar yang montok membuatku merasa nyaman saat memeluknya. Kulihat VCD sudah habis, aku tidak memperhatikan sejak kapan selesainya karena aku lebih asyik menikmati yang 'live' bersama Mbak Mar. Setelah merasa cukup fit Mbak Mar bangkit dan mencoba mengambil pakaiannya.

"Mau kemana Mbak...?"
"Mau ke kamar... tidur..."
"Nggak usah pakai bajunya mbak... kita main lagi di kamar... mau?"

Aku lalu bangkit berdiri dan menggandeng tangan Mbak Mar menuju ke kamarnya. Di atas tempat tidurnya kami melanjutkan persetubuhan kami. Mungkin karena belum terbiasa dengan banyak gaya, Mbak Mar umumnya hanya terlentang pasrah menerima tusukan penisku. Meskipun begitu Mbak Mar sama sekali tidak pasif, pantatnya selalu aktif mengikuti gerakanku. Hanya sekali dia bertukar posisi dan berada di atas, itu juga atas permintaanku, tapi tidak sampai bertahan satu menit Mbak Mar langsung kolaps, orgasme di posisi itu. Jadi ronde berikutnya Mbak Mar hanya terlentang saja, supaya tidak terlalu cepat orgasme dan bisa menghemat tenaga.

Malam itu kami lewati dengan desahan dan erangan nikmat serta suara derit ranjang yang bergoyang, tubuh kami berdua basah oleh keringat. Akhirnya aku menghabiskan tiga buah kondom di kamar Mbak Mar. Kalau Mbak Mar sendiri entah berapa kali dia mengalami orgasme. Seperti yang diakuinya sendiri, mungkin karena dia sudah lama tidak ML sekarang vaginanya jadi sangat sensitif dan mudah orgasme. Setelah puas dan lelah aku kembali ke kamarku karena tempat tidur Mbak Mar kecil, hanya cukup untuk 1 orang.Tidak berapa lama kemudian Mbak Mar tergolek tidur pulas di kamarnya dengan mengenakan daster tanpa celana dalam dan BH. Saat itu kulihat jam dinding sudah menunjukkan jam 2 lebih, hampir jam setengah 3 pagi. Tidak terasa hampir 6 jam lamanya kami bergumul malam itu. Aku baru sadar, Mbak Mar ini seperti macan tidur yang sekarang terbangun dan siap menerkam mangsa.

********

Esok paginya aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Sebenarnya ada kuliah jam 1 siang, tapi aku merasa malas sekali untuk berangkat ke kampus. Tugas menjaga rumah Tante Nani sekarang menjadi 'prioritas utama' bagiku.

Saat aku keluar kamar kulihat Mbak Mar sedang di dapur menyiapkan sarapan kami berdua, dia masih mengenakan daster yang semalam. Sementara aku hanya mengenakan t-shirt dan celana dalam. Melihat ruang TV masih berantakan aku menduga kalau Mbak Mar juga baru bangun dan belum mandi. Kuhampiri Mbak Mar dan kupeluk tubuhnya dari belakang. Kuciumi lehernya dan kuraba payudaranya yang besar itu. Ternyata dia masih tidak memakai BH, ah nikmatnya meremas-remas payudara Mbak Mar yang kenyal..., kupermainkan puting-putingnya yang besar dan akupun mulai terangsang lagi. Kuraba pantatnya, ternyata dia juga belum memakai celana dalam, langsung kunaikkan dasternya dan kuraba vaginanya. Mbak Mar hanya mendesah-desah perlahan sambil berusaha meraih penisku.

"Wah masih seperti semalem, belum pakai apa-apa ya mbak...?"
"Hi..hi.. sengaja, biar cepet kalau Mas Doni kepengen main lagi..."
"Yang semalem emangnya belum puas mbak...?"
"Puas banget, justru itu mbak jadi pengen lagi sekarang.... kalau Mas Doni juga mau..."

Mendengar tantangan halus Mbak Mar penisku yang sudah mulai terangsang langsung membesar dan tegang. Segera kutarik Mbak Mar menuju ke ruang TV dan kubaringkan tubuhnya di karpet. Kuangkat dasternya dan tanpa banyak tanya Mbak Mar langsung membuka kedua pahanya menantangku. Kami lalu bergumul kembali sebelum akhirnya spermaku kembali tumpah di dalam kondom.

Setelah merasa puas, kami mandi berdua. Tapi aku tidak tahan melihat tubuh bugil Mbak Mar yang montok di depan mataku. Aku meminta Mbak Mar untuk membungkuk dan penisku masuk ke dalam vaginanya dari arah belakang. Total pagi itu kami menghabiskan tiga buah kondom sebelum aku merasa benar-benar lelah.

Sehabis makan siang kami merasa fit lagi, dan kamipun ML lagi di atas sofa sambil menonton VCD pornoku. Kami mencoba mengikuti berbagai gaya yang ada di layar TV. Kadang aku duduk di sofa dan Mbak Mar duduk di pangkuanku dengan arah membelakangi aku, kadang kupangku Mbak Mar dalam posisi berhadap-hadapan di atas karpet, kadang kubaringkan Mbak Mar di sofa dan kutusuk vaginanya dengan penisku sambil salah satu kakinya kuangkat ke atas. Sekali waktu kuminta Mbak Mar nungging dan kutusuk lubang vaginanya dari arah belakang. Saat yang lain aku berbaring terlentang di karpet dan Mbak Mar berada diatas seperti sedang menunggang kuda liar. Entah berapa kali kami berdua orgasme siang itu.

Malamnya gairah kami kembali bangkit, kamipun bersetubuh dengan panas dan liar. Kali ini aku mengajak Mbak Mar untuk tidur di kamarku sehingga kami bisa langsung melakukannya lagi saat bangun di pagi hari. Tugas menjaga rumah Tante Nani betul-betul seperti bulan madu yang luar biasa buat kami berdua, nyaris sepanjang hari kami selalu berdua di dalam rumah tanpa selembar pakaianpun. Bahkan saat makanpun kami telanjang bulat. Hanya sekali-kali saja kami keluar rumah naik mobil kijang Tante Nani untuk sekedar refreshing, mencari makanan, atau membeli kondom tambahan! Di luar itu kami menghabiskan waktu dengan ML dan tidur berpelukan seperti sepasang pengantin baru.

Pagi hari saat kami bangun biasanya kami tidak langsung keluar dari kamar, kami saling meraba dan meremas lalu saling jilat sampai kami terangsang hebat. Kemudian berlanjut dengan penisku bersarang di dalam vagina Mbak Mar untuk membuatnya menggelinjang dan merintih keenakan. Selesai kami mengalami beberapa kali orgasme biasanya kami kembali berbaring saling berpelukan sebelum kami mandi berdua.

Mungkin karena sudah kelelahan kadang penisku tidak juga terangsang meski Mbak Mar yang telanjang bulat di depanku terus menggoda dan menantangku untuk ML. Kalau sudah begini Mbak Mar dengan sabar menjilati dan mengocok penisku sampai akhirnya tegang lagi dan kami bergumul lagi sampai puas. Atau Mbak Mar yang sudah 'horny' kadang tidak sabar menunggu penisku tegang, dia duduk di sofa sambil mengangkangkan kedua kakinya lalu menarik kepalaku keselangkangannya. Mbak Mar kemudian memintaku menjilati vagina dan klitorisnya sampai orgasme, beberapa kali.

Kalau Mbak Mar sendiri sepertinya tidak pernah ada kata capai, setiap kali penisku tegang vaginanya selalu siap melumat penisku kapan saja dimana saja. Aku benar-benar kagum dengan stamina dan nafsunya, sama sekali tidak kusangka wanita montok yang sederhana dan polos itu ternyata haus seks melebihi wanita-wanita lain yang pernah kutiduri.

"Mas Doni, mungkin begini ini ya rasanya kalau orang kaya di kota besar berbulan madu..."
"Iya kali, aku khan juga belum pernah menikah mbak... kalau mbak sendiri dulu bulan madunya gimana?"
"Ya biasa aja, setelah malam pertama ya udah, besok-besoknya kerja normal, cuma waktu kita masih pengantin baru begituannya agak sering, malam waktu mau tidur dan pagi-pagi waktu bangun tidur. Gayanya juga nggak aneh-aneh, suamiku di atas dan mbak di bawah. Tapi kalau yang seperti sekarang ini terus terang mbak belum pernah... baru sekali ini mbak ngerasain. Kita begituan terus seharian, nggak pagi, siang, sore atau malem. Gayanya juga macem-macem, udah kayak di film aja, mainnya di kasur, di karpet, di sofa, di kamar mandi, di dalam mobil, di ruang tamu...iih seru banget... mbak jadi kepengen terus begituan dengan Mas Doni... "

Menjelang kedatangan Tante Nani dan Om Hadi kami segera membereskan rumah dan menghilangkan jejak-jejak apapun yang bisa menimbulkan kecurigaan, terutama sisa-sisa kondom yang kadang tidak sengaja belum dibuang ke tempat sampah. Aku sendiri pulang ke tempat kos sebelum Tante Nani dan Om Hadi kembali untuk mencegah kecurigaan. Aku pulang dalam keadaan betul-betul lelah dan lemas, tapi puas. Sampai di tempat kos sekitar jam 5 sore aku langsung tidur dan baru bangun besoknya jam 9 pagi!

Seingatku mungkin selama empat hari empat malam berbulan madu itu kami sudah menghabiskan sekitar 12 kotak kondom atau 36 buah kondom! Dan kalau sekali aku orgasme Mbak Mar kira-kira dapat 3 - 4 kali orgasme bisa dibayangkan berapa kali Mbak Mar mengalami orgasme dalam 'bulan madu' ini, pastinya lebih dari seratus kali. Tidak heran kalau saat aku pulang Mbak Mar minta kapan-kapan kita 'bulan madu' lagi.

*******

Sejak kejadian 'bulan madu' itu aku mulai sering main ke rumah Tante Nani. Mbak Mar sendiri kelihatannya jadi ketagihan ML denganku. Kalau mereka kebetulan tidak ada di rumah, Mbak Mar langsung menarik tanganku dan kami ML di kamarnya. Biasanya sampai berkali-kali atas permintaan Mbak Mar, dia nggak pernah merasa puas kalau cuma sekali. Mbak Mar baru puas dan mengijinkan aku pulang kalau dia sudah dapat sekurang-kurangnya lima kali orgasme.

Dari Mbak Mar aku baru tahu kalau Om Hadi sekeluarga paling tidak dua bulan sekali berlibur ke villa mereka di Ciater. Memang Tante Nani tidak pernah meminta aku menjaga rumahnya saat mereka berlibur, selain karena sudah ada Mbak Mar mungkin dia juga tahu resikonya kalau aku sering-sering berdua dengan Mbak Mar di rumahnya tanpa ada orang lain. Pada saat mereka pergi berlibur seperti itu kami kembali mengulangi 'bulan madu' meski cuma semalam. Rasanya ML dengan wanita matang yang agak gemuk seperti Mbak Mar punya sensasi kenikmatan yang tersendiri, lain dari yang lain, dan aku sangat menikmatinya. Kalau nanti kelak istriku mulai gemuk, aku tidak akan protes atau minta dia melangsingkan dirinya, sebaliknya aku malah akan semakin sering ML dengannya kapanpun ada kesempatan.

Wednesday, August 27, 2008

Tante Rina, Teman Seperjalanan

Suatu ketika salah seorang kerabat dekatku di Sidoarjo menikah dan aku harus datang sebagai wakil keluarga. Hubungan kami cukup dekat, aku bermaksud datang beberapa hari sebelum hari-H. Akupun berangkat naik kereta api dari Bandung ke Surabaya untuk kemudian nanti disambung naik kendaraan umum lain menuju Sidoarjo. Karena dikirimi uang yang cukup oleh orang tuaku, aku membeli tiket untuk kelas bisnis yang ber-AC.

Tadinya aku mengira perjalanan ini akan melelahkan dan membosankan. Tapi ternyata keadaannya berbeda. Di kereta api aku mendapat tempat duduk di sisi kiri. Duduk di sebelahku di dekat jendela adalah seorang wanita yang dari pakaian dan dandanannya aku rasa berasal dari kalangan menengah-atas. Tidak muda lagi memang, umurnya mungkin sekitar 45 tahun, tapi masih cukup menarik dan tampak jelas bahwa dia lumayan cantik sewaktu muda. Kulitnya agak kuning, bersih dan terawat, wangi lagi.

"Mau kemana tante?" tanyaku berusaha bersikap ramah.
"Mau ke Surabaya.., adik mau ke mana?"
"Sama tante...mau ke Surabaya juga..."

Kamipun berkenalan, namanya Marina, aku memanggilnya Tante Rina. Dia ke Surabaya untuk menyusul suaminya yang sedang mengikuti rapat kerja para pejabat sebuah departemen. Tante Rina cukup ramah dan pandai mencari topik-topik pembicaraan yang menarik sehingga perjalanan kereta yang harusnya membosankan jadi lumayan menyenangkan. Tidak itu saja, Tante Rina juga mentraktirku makan malam di gerbong restorasi sehingga kami menjadi semakin akrab.

Tanpa sadar aku mulai menanyakan hal-hal yang mungkin agak pribadi. Untungnya Tante Rina tidak tersinggung.

"Tante kok pakai repot-repot ke Surabaya? Anak-anak yang di rumah sama siapa?"
"Ah anak-anak sudah mulai gede-gede dan bisa ditinggal, ada yang jaga kok, masalahnya suami jaman sekarang ini repot dik kalau dibiarkan pergi ke luar kota berhari-hari... suka lupa istri..."
"Oo..." aku cuma tersenyum.

Lalu Tante Rina mulai bercerita panjang lebar tentang isu-isu perselingkuhan dan petualangan suaminya dengan banyak wanita. Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, maklum itu persoalan rumah tangga yang seharusnya aku tidak perlu tahu dan tidak boleh ikut campur, apalagi aku baru beberapa jam saja mengenalnya. Tapi rupanya semakin larut malam Tante Rina malah semakin banyak mencurahkan seluruh keluh-kesah persoalan rumahtangganya padaku. Seolah-olah Tante Rina mendapat kesempatan untuk mengumbar semua perasaan tertekan yang selama ini harus dipendamnya.

"Aduh maaf ya Dik Doni, tante kok jadi cerita banyak masalah tante."
"Nggak apa tante, saya senang kok tante percaya saya meski kita baru kenal"
"Terima kasih ya dik... nggak tau kenapa setelah tante cerita, perasaan tante jadi lebih lega" katanya sambil memegang tanganku. Aku balas memegang tangannya dan kami saling berpegangan cukup lama sehingga membuat perasaan kami menjadi semakin dekat satu sama lain. Hari semakin larut, kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 12. Penumpang lain sudah banyak yang tertidur, tapi pembicaraan Tante Rina semakin seru dan kami malah semakin akrab. Bahkan tak segan-segan Tante Rina sesekali menyenderkan kepalanya di bahuku.

"Dik Doni, kayaknya tinggal kita aja yang belum tidur... Dik Doni sudah ngantuk?"
"Enggak tante, terus terang ngobrol dengan tante membuat saya nggak ngerasa ngantuk, tapi kalau tante udah ngantuk nggak apa-apa, tidur aja duluan..."

Tante Rina kembali menyenderkan kepalanya di bahuku., kali ini dia bahkan semakin manja, tangannya memeluk lenganku.

"Nggak apa-apa khan Doni.... tante merasa nyaman di dekat Doni"
Tante Rina mulai memanggil namaku tanpa atribut 'dik'. Aku cuma tersenyum, tanpa sadar aku mulai mencium rambutnya yang lembut dan wangi. Tadinya aku sempat khawatir Tante Rina akan tersinggung dan mengira aku kurang ajar, tapi ternyata tidak, tangannya malah semakin erat memeluk lenganku.

Bagaimanapun aku seorang laki-laki normal, berdekatan dengan seorang wanita di malam hari dalam keadaan sepi seperti ini pasti memunculkan pikiran-pikiran erotis. Dan itulah yang terjadi saat itu, pikiranku mulai mengembara ke wilayah erotis. Terbayang pengalaman ML-ku dengan Tante Nita atau wanita-wanita lain dan aku ingin sekali bisa menikmati tubuh Tante Rina. Tanganku mulai mengelus tangan Tante Rina dan aku semakin sering menciumi rambutnya. Tante Rina tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan, aku mulai memberanikan diriku untuk mengelus-elus wajahnya seperti layaknya sepasang kekasih.

Selama beberapa saat kami diam tidak berbicara apa-apa, hanya terdengar suara roda-roda kereta menggelinding di atas rel. Aku tahu Tante Rina juga belum tidur, tangannya semakin erat memegang tanganku dan juga mulai membalas mengelus-elus tanganku. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Tante Rina saat itu, tapi pikiranku terus dipenuhi khayalan-khayalan dan keinginan-keinginan erotis tentang Tante Rina.

Setelah beberapa lama aku mulai yakin semua penumpang lain sudah tertidur dan tidak ada yang memperhatikan kami. Aku makin berani, kuangkat wajah Tante Rina, matanya terbuka perlahan dan kami saling berpandangan. Seolah ada magnet yang sangat kuat, wajah kami saling mendekat dan akhirnya kami mulai berciuman. Awalnya ada sedikit keraguan tapi tidak lama kemudian kami sudah tidak peduli apa-apa lagi. Kurasakan bibirnya terasa hangat dan lembut. Di balik penampilannya yang sopan dan anggun, Tante Rina ternyata juga seorang wanita yang hangat dan penuh gairah. Lidahnya mulai nakal masuk ke dalam mulutku dan tangannya mulai berani menggerayangi daerah selangkanganku. Akupun membalas cumbuan mautnya dengan melilitkan lidahku, sementara itu tanganku mulai meraba-raba payudaranya.

Tante Rina makin ganas, dia mulai melepas ikat pinggangku dan membuka retsletingku. Tangannya yang nakal masuk ke celana dalamku dan meremas-remas penisku yang mulai mengeras. Aku tidak mau kalah, aku mulai membuka satu per satu kancing baju Tante Rina dan kuselipkan tanganku ke dalam BHnya. Kuremas-remas payudaranya yang hangat dan empuk, sesekali kupilin-pilin putingnya sehingga membuat Tante Rina mencumbuku semakin ganas.

Tapi tiba-tiba penumpang yang duduk di sisi sebelah kanan, tepat di sebelah kami terbangun. Kami segera menghentikan perbuatan kami dan segera merapikan pakaian kami yang amburadul. Untungnya orang itu tidak begitu menyadari apa yang sedang terjadi, tapi kami tidak berani lagi melakukannya. Tante Rina hanya tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku, lalu kembali menyandarkan kepala di bahuku.

"Besok anterin Tante ke hotel ya Don..." katanya lirih sambil mencubit pahaku.
"Ok tante..." aku segera tahu apa maksudnya, tidak lama kemudian kami berduapun tertidur.

******

Kami sampai di stasiun Gubeng Surabaya sekitar pukul 9 pagi, segera Tante Rina mencari taksi untuk membawa kami ke hotel.

"Nanti suami tante gimana?"
"Ah nggak apa-apa, sekarang dia lagi sibuk rapat sampai jam 5 sore nanti... lagi pula kita pergi ke hotel yang lain.."

Sampai di hotel kami langsung menuju kamar. Aku merebahkan diri di tempat tidur untuk meluruskan badan yang terasa lelah setelah semalaman harus tidur dalam posisi duduk. Sementara itu Tante Rina langsung masuk ke kamar mandi, tampaknya dengan sengaja ia tidak menutup pintu. Tidak berapa lama kemudian Tante Rina memanggilku,

"Doni... mandi yukk, barengan tante"

Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan kulihat Tante Rina sedang berdiri di bawah pancuran shower dalam keadaan telanjang bulat. Payudaranya yang semalam kuremas-remas tampak agak menggantung, kulihat pentilnya berwarna coklat, begitu menggairahkan. Sementara itu di antara kedua pangkal pahanya terlihat bulu-bulu kemaluan yang cukup lebat dan basah kuyup menutupi seluruh daerah vaginanya. Aku hanya bisa terbelalak kagum menatap keindahan tubuh wanita matang ini. Biarpun umurnya tidak muda lagi dan tubuhnya tidak begitu kencang, tetap saja aku terangsang. Aku tidak sabar untuk segera bisa memasukkan penisku ke dalam liang vaginanya.

"Sini... jangan bengong, ayo buka bajunya, sabunin punggung tante..."

Akupun segera menanggalkan seluruh pakaianku dan menghampiri Tante Rina.

"Duh...tante sexy sekali..."
"Doni juga... tuh liat... udah tegang anunya...hi..hi..hi..."

Tanpa banyak basa-basi kami langsung bercumbu di bawah pancuran shower air hangat, melanjutkan apa yang semalam kami mulai dan belum tuntas. Tangan Tante Rina mulai meremas-remas penisku sementara tanganku juga mulai merayapi selangkangannya. Di balik bulu-bulu yang lebat kurasakan belahan vagina Tante Rina yang begitu hangat dan licin berlendir. Tante Rina mulai bergetar dan mendesah-desah menahan nikmat.

"Mhh...ss...sabunin tante dulu sayang... nanti gantian tante yang sabunin kamu..."

Aku mencabut jari-jariku dari dalam liang vaginanya, lalu segera menyabuni punggungnya. Kemudian dari arah belakang aku menyabuni Tante Rina sekaligus meremas-remas payudaranya. Kusabuni pantat dan pahanya sambil sesekali aku meremas-remas pantatnya yang sexy. Tanganku mulai menuju ke selangkangannya dan jari-jariku yang nakal kembali masuk ke sela-sela belahan vaginanya. Tante Rina tampak kembali bergetar dan sangat menikmati itu, kali ini ia membiarkan aku mengeksplorasi seluruh tubuhnya.

Kemudian giliran Tante Rina menyabuni seluruh tubuhku dengan lembut. Sementara tangan kanannya menyabuni seluruh badanku, tangan kirinya terus meremas-remas penisku sehingga membuat gairahku semakin memuncak dan ingin segera menancapkan penisku ke dalam vaginanya. Akhirnya setelah puas meremas-remas penisku Tante Rina mulai berjongkok di depanku dan langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Dikulumnya penisku dengan penuh nafsu, terlihat jelas pipinya yang kempot saat menghisap penisku. Kucengkeram rambut Tante Rina sambil menahan rasa nikmat yang diberikan mulutnya.

Setelah 'foreplay' dirasa cukup Tante Rina lalu menarikku ke tempat tidur. Dengan sedikit tergesa-gesa direbahkannya badanku ke atas tempat tidur sehingga aku terlentang. Rupanya Tante Rina sudah sangat 'horny'. Tanpa banyak bicara Tante Rina memposisikan dirinya di atasku sambil memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang tertutup bulu-bulu lebat.

Bersamaan dengan masuknya penisku ke dalam vaginanya kulihat Tante Rina memejamkan mata dan membuka mulutnya menahan rasa nikmat. Tidak lama kemudian pantatnya mulai turun-naik, perlahan tapi penuh tenaga diikuti desahan-desahan yang erotis. Penisku terasa menusuk vagina Tante Rina hingga ke ujung, sensasinya sungguh luar biasa. Aku merasakan vagina Tante Rina seolah mencengkeram erat dan mengurut-urut penisku sehingga aku harus bersusah payah mengendalikan diri supaya tidak terlallu cepat mengalami orgasme. Permainan Tante Rina benar-benar luar biasa menurutku. Sementara pantatnya naik turun makin cepat, tangannya terus aktif mempermainkan bola pingpongku. Aku tidak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya.

"Aduuh tante...enak banget..."
"Mmhh...Doni... punya kamu juga enak.... keras dan masuk sampai ke ujung..."
"Tante punya juga ok... seperti masih perawan aja" kataku memujinya sambil terus menyentak-nyentakkan pinggulku menyambut pagutan ganas vaginanya.

"Mmhh...Doni...kayaknya tante mau keluar sebentar lagi..."
"Barengan tante...Doni juga mau keluar..."
"Keluarin aja sayang... keluarin di dalam..."

Tidak lama kemudian gerakan Tante Rina makin liar, kepalanya terus bergoyang-goyang tak beraturan, nafasnya terengah-engah, matanya terpejam dan mulutnya menganga menahan nikmat... sementara tangannya mencengkeram apapun yang bisa diraihnya.

"Aaagghh...Doni...Aaagggghhh..."
"Tantee....Doni keluaar.... aagh..."

Spermaku muncrat ke dalam liang vagina Tante Rina diikuti dengan rasa nikmat yang luar biasa, tulangku seolah rontok dan aku kehilangan semua tenagaku. Sementara itu tubuh Tante Rina yang baru saja mengalami orgasme hebat juga mulai terkulai lemas. Perlahan-lahan dia membiarkan tubuhnya yang sudah kehilangan tenaga rebah di sampingku. Kami berpelukan sambil mencoba meresapi sisa-sisa kenikmatan orgasme yang kami alami tadi. Kulihat spermaku mengalir keluar dari belahan vaginanya, bercampur dengan cairan vagina dan menetes ke sprei tempat tidur.

Kami hanya beristirahat 5 menit sebelum Tante Rina mulai bangkit kembali birahinya dan meremas-remas penisku yang masih agak kelelahan. Sentuhan tangan Tante Rina perlahan-lahan membangkitkan gairahku dan penisku kembali mengeras seperti sebelumnya.

"Masukin lagi Don... tante masih pengen..."

Tanpa banyak tanya lagi aku langsung menindih tubuh Tante Rina yang tergolek dengan paha dikangkangkan siap menantiku. Segera kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang masih basah oleh cairan spermaku.

"Iya... masukin yang dalam sayang... veggie tante jadi punya kamu hari ini..."

Kami lalu bergumul lagi dengan ganas dan penuh nafsu. Setelah melewati beberapa macam gaya akhirnya tubuh kami kembali terkulai lemas karena orgasme. Dan lagi-lagi kami hanya beristirahat beberapa menit saja sebelum penisku kembali bersarang dalam vagina Tante Rina yang masih haus akan kenikmatan.

"Aduuuh Doni...tante nggak kuat lagiii....tusuk yang dalam sayang...aagghh.."
"Ayo tante kita barengan lagi...Doni juga mau keluaarr..."
"Aaaggh... mmhh...aagghhh..Doniiii..."

Bersamaan dengan orgasme Tante Rina, spermaku kembali tumpah-ruah ke dalam vaginanya untuk yang ketiga kali. Setelah beristirahat beberapa menit sebenarnya aku masih bernafsu melihat tubuh Tante Rina yang tergolek lemas disebelahku. Vagina Tante Rina tampak basah bersimbah cairan dan dari balik bulu-bulu lebatnya terlihat belahan vagina yang berwarna merah. Tapi kelihatannya Tante Rina kali ini sudah benar-benar kehabisan energi. Entah berapa kali dia sudah orgasme hari itu, mungkin delapan kali mungkin juga lebih.

"Ah gila kamu Doni... udah dulu ya... tante capek banget... kaki tante sudah gemeteran" katanya lembut mencoba menolak tanganku yang kembali menggerayanngi vaginanya.
"Doni masih mau tante... katanya veggie tante untuk Doni hari ini..."
"Aduh tante bener-bener nggak sanggup Don...kapan-kapan lagi ya... tante suka kok main sama kamu... tante janji kita begini lagi di Bandung nanti" katanya setengah memohon.
"Kalu gitu Doni jilatin aja ya...? Boleh tante?"

Tante Rina tidak menjawab, dia hanya diam pasrah ketika kusibakkan bulu-bulu vaginanya dan lidahku mulai menjilati semua bagian sensitif di vaginanya. Kadang lidahku menjilati seluruh bibir vaginanya, kadang kumasukkan ke dalam liang vaginanya, atau klitorisnya kujilati dan kuhisap dengan lembut. Tidak butuh waktu lama, Tante Rina mulai merespons permainanku. Pinggulnya mulai bergerak-gerak dan diapun mendesah-desah menahan nikmat dan nafasnya kembali terengah-engah. Lama kelamaan aku juga mulai tidak tahan, penisku mengeras dan rasanya seperti ingin meledak. Akhirnya aku bangkit sambil memegangi penisku,

"Boleh dimasukin tante...?"

Tante Rina tidak menjawab, tapi juga tidak menolak. Dia hanya diam pasrah sambil perlahan membuka kedua pahanya. Kulihat samar-samar belahan vaginanya yang berwarna merah membuka dan menantang penisku untuk segera masuk. Kamipun kembali melakukan persetubuhan yang penuh desahan dan erangan nikmat. Entah berapa kali Tante Rina mengalami orgasme saat itu, yang jelas setelah aku memuntahkan spermaku yang keempat kalinya kami berdua hanya bisa berpelukan diam, nyaris tak bergerak selama setengah jam sebelum bisa bangkit dari tempat tidur.

********

Kira-kira jam 3 sore kami check-out dari kamar hotel. Kamipun berpisah, Tante Rina ke hotel tempat suaminya menginap sedangkan aku melanjutkan perjalananku ke Sidoarjo. Tante Rina tidak lupa memberikan kartunama dan berpesan supaya aku kembali menghubunginya setelah pulang ke Bandung.

"Jangan lupa di Bandung telpun tante ya Don.."

Tidak butuh waktu lama, hanya 2 minggu setelah itu aku kembali menghubungi Tante Rina dan kami pun berkencan lagi di sebuah hotel dari jam 12 siang sampai jam 7 malam, nyaris tanpa jeda.

Friday, August 8, 2008

Teh Irma

Sewaktu masih kos di tempat Tante Nita sering aku diminta Tante Nita mengantar ke salon langganannya di daerah Setiabudi. Mau tidak mau aku juga menjadi langganan di salon tersebut. Biasanya aku dilayani oleh Teh Irma, orangnya ramah, suka sekali becanda dan ngobrol saat melayani pelanggan. Usianya mungkin sekitar 30 tahun dan dia seorang janda dengan 2 anak, baru cerai dua tahun yang lalu. Wajahnya lumayanlah, kulitnya putih... cuma bodinya agak montok meski nggak bisa dibilang gemuk juga. Teh Irma tahu kalau aku suka jalan dan kencan dengan Tante Nita. Mungkin Tante Nita yang cerita, entahlah aku tidak ambil peduli.

Setelah aku tidak tinggal di rumah Tante Nita akupun masih sering ke salon tersebut, kadang untuk janjian ketemu dengan Tante Nita kalau dia lagi 'kesepian', kadang juga karena aku memang perlu potong rambut atau sekedar creambath. Sudah hampir enam bulan ini aku tidak bertemu Tante Nita, selain untuk mencegah kecurigaan dari Om Rahmat, suaminya, juga karena aku memang sibuk dengan urusan kuliah.

Pada suatu hari sepulang dari kampus aku menyempatkan diri datang ke salon langgananku, mau creambath. Seperti biasa Teh Irma melayaniku dengan keceriaannya yang khas cewek Sunda. Mungkin karena hari itu akhir bulan keadaan salon tampaknya cukup sepi, hanya ada tiga pengunjung termasuk aku.

"Halo... Doni... mau potong...?"
"Enggak ah.. creambath aja.."

Sambil mulai meng-creambath kepalaku seperti biasa Teh Irma mulai bercerita. Mungkin karena keadaan agak sepi pembicaraan Teh Irma mulai ke masalah hubunganku dengan Tante Nita.

"Kok udah jarang janjian dengan Tante Nita? Padahal dua hari yang lalu Tante Nita kemari lho..."
"Saya sibuk kuliah teh..."
"Udah bosen ya... dasar cowok... kalau udah bosen terus ditinggalin gitu aja..."
"Eh enggak kok, siapa yang bosen.... enak lagi dengan Tante Nita..." kataku sambil tertawa kecil.
"Idiih... baru mahasiswa udah nakal banget, yang dipikirin gituannya aja..." Teh Irma pura-pura cemberut sambil mencubit pipiku.
"Lha, khan Tante Nita nggak mungkin saya nikahin, jadi saya kawinin ajalah..." kataku menggodanya. Teh Irma mencubit pipiku lagi dengan gemesnya.

Entah setan apa yang mampir di kepalaku tiba-tiba aku tertarik dengan Teh Irma. Dari cermin kuperhatikan wajahnya yang lumayan manis dan tanpa sadar aku mulai memperhatikan lekuk tubuhnya yang montok. Mungkin Teh Irma tahu kalau aku memperhatikannya, dia terlihat agak salah tingkah. Ah... kepalang tanggung, kupikir sebagai janda yang sudah bercerai 3 tahun Teh Irma mungkin sekali-sekali juga membutuhkan belaian laki-laki.

"Teh, pulangnya masih lama nggak...?"
"Sebentar lagi, kenapa...?"
"Doni mau ngajak teteh ke Lembang, jalan-jalan, boleh?"

Ditembak langsung seperti itu kelihatannya Teh Irma tidak siap, dia makin salah tingkah.

"Lho kok bengong, ada yang marah ya..."
"Ih... ada-ada aja...teteh nggak punya suami dan nggak punya pacar tau... emangnya Doni mau ngajak ke Lembang kapan?"
"Ya sehabis teteh kerja kita langsung berangkat, naik motor aja... mau ya?"
"Tapi jangan lama-lama ya... nanti teteh nggak bisa masuk rumah, dikunci sama ibu kos"

Gotcha! Modal nekatku berhasil juga... mana mungkin nggak lama di Lembang... naik motor malam-malam dari Lembang dinginnya minta ampun, siapa yang kuat? Mau nggak mau pasti pakai acara menginap di hotel.

******

Kira-kira jam 5 sore Teh Irma keluar dari salon dan langsung menghampiriku yang sudah siap menunggu di halaman salon. Karena Teh Irma pakai rok dia duduk menyamping di belakangku, tangannya langsung melingkar di pinggangku. Akupun langsung tancap gas menuju Lembang.

Di Lembang kami mampir ke tempat susu murni kesukaanku. Kami duduk bersebelahan seperti sepasang kekasih sambil menikmati susu murni yang hangat dan roti bakar. Teh Irma mulai bercerita panjang lebar. Dari soal bekas suaminya yang suka selingkuh, teman kampungnya yang jadi selebriti di Jakarta sampai soal Tante Nita dan pelanggan-pelanggan lainnya. Aku cuma menjadi pendengar yang baik sambil sekali-sekali memberi tanggapan seadanya. Pikiranku sama sekali tidak di situ, dalam otak ngeresku terus terbayang bagaimana tubuh montok Teh Irma nanti akan tergolek telanjang tanpa sehelai busana di ranjang hotel menanti sentuhanku.

Akhirnya aku memberanikan diri mengarahkan pembicaraan ke arah rencana mesumku, kupegang tangannya dan kubelai-belai dengan lembut.

"Teh Irma, teteh menurut Doni masih cantik kok nggak kawin lagi... nggak kesepian ditinggal suami?" Taktik basi, tapi tetap efektif...karena dari nada bicara dan 'body-language'-nya yang kuamati sejak tadi Teh Irma tampaknya tidak akan keberatan kalau aku ajak 'making-love'.

"Kalau calon sih ada di kampung, masih saudara, tapi mungkin baru tahun depan kawinnya, emangnya kenapa?" katanya sambil tersenyum genit.
"Enggak... cuma pengen tau, dulu waktu ada suami khan tiap malam ada yang kelonin tapi sekarang khan tidurnya sendiri, terus kalau teteh lagi pengen gimana...?"
"Iih... udah gelap ngomongnya mulai ngaco... ya teteh tahan aja dong..."
"Kalau nggak tahan...gimana?" tanganku mulai nakal melingkar ke pinggangnya dan mulai mengelus-elus tubuhnya yang montok.

Teh Irma sama sekali tidak keberatan dengan aksiku, dia malah merebahkan kepalanya di pundakku dengan manja dan tangannya balas melingkar di pinggulku. Aku rasa dia tahu ke arah mana maksud pembicaraanku.

"Ya, begitulah... sekali-kali selep-serpis khan enak juga..." katanya lirih dengan mata genit.

Sejenak kami terdiam sambil memikirkan langkah selanjutnya.

"Teh, daripada selep-serpis kalau Doni yang serpis aja gimana? Mau...?"

Teh Irma diam tidak menjawab, tiba-tiba dia menatapku lalu bibirnya mendekat ke bibirku. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, bibirku langsung menyambut bibirnya dan kamipun bercumbu dengan ganas. Nafas Teh Irma mulai turun-naik tidak beraturan seperti sedang menahan gejolak nafsu yang begitu lama tertahan. Pelan-pelan tangaku mulai meraba payudaranya yang montok, Teh Irma tidak mau kalah, tangannya mulai meremas penisku dengan lembut. Setelah beberapa menit melumat bibir dan lidahku, Teh Irma melepaskan cumbuan mautnya.

"Kita ke hotel yuk..." katanya perlahan.

*******

Akhirnya sekitar jam 7 malam kami meluncur ke sebuah hotel melati yang cukup bagus. Tarifnya ekonomis tapi kamarnya lumayan bersih dengan kamar mandi di dalam. Aku minta ijin untuk beli kondom, tapi Teh Irma melarang setengah berbisik, "Nggak usah pake kondom say..., biar lebih enak, aman kok...."

Setelah mengunci pintu kamar lalu kami menuju kamar mandi, kulepaskan baju Teh Irma satu-per satu sampai hanya tinggal celana dalam dan BH yang tersisa. Diapun melakukan hal yang sama, melepaskan pakaianku satu per satu sehingga tinggal tersisa celana dalam. Meski tubuhnya lumayan montok, tampaknya cukup padat juga, tidak begitu tampak adanya lipatan-lipatan lemak. Mungkin Teh Irma rajin merawat badan dan berolahraga. Yang jelas tubuhnya betul-betul membuatku bergairah.

Kami saling berpandangan dan mulai berciuman. Tanganku mulai melepaskan tali BHnya dan tampak buah dada Teh Irma yang montok begitu ranum menantang sehingga membuat aku semakin bernafsu meremas-remasnya. Teh Irma tidak mau kalah, gantian dipelorotkannya celana dalamku dan dengan lembut diremas-remasnya penisku yang sudah mulai tegang. Tanpa menunggu lebih lama lagi tanganku langsung masuk ke dalam celana dalam Teh Irma, belahan vaginanya terasa sudah basah dan licin. Jariku dengan leluasa masuk ke lubang vaginanya yang hangat dan basah, kemudian jariku juga mempermainkan klitoris Teh Irma sehingga membuatnya mengerang keenakan, "Ahh.....mmhh...".

"Uuh..tahan dulu sayang... kita mandi dulu biar lebih asyik..." kata Teh Irma terbata-bata sambil berupaya melepaskan diri dari gerayanganku. Kamipun mandi berdua dengan air hangat. Selama mandi tanganku tidak pernah lepas dari tubuh Teh Irma, saat menyabuninya kadang aku meremas dada Teh Irma yang montok, sekali waktu aku menyelipkan jari-jariku di antara celah vaginanya. Teh Irma juga begitu, sambil menyabuni badanku dia terus meremas-remas penis dan buah pelirku. Kukatakan kalau aku suka sekali dengan tubuhnya yang montok.

"Ah.. rayuan gombal, teteh khan gemuk... "
"Enggak gemuk teh, tapi montok dan sexy... beneran... justru body teteh yang montok bikin cowok terangsang banget, nggak sabar pengen masuk ke memek teteh" kataku setengah berbisik sambil lagi-lagi menyelipkan tanganku ke vaginanya.

"Mau dimasukin sekarang?" tanyanya mulai nggak sabar.
"Di kamar mandi...?"
"Iya, dari belakang aja..."
"Katanya mau diserpis dulu..."
"Serpisnya ntar aja di tempat tidur, teteh udah kepengen ngerasain punya kamu sekarang..."

Teh Irma lalu membalikkan badan dan membungkuk sambil berpegangan pinggir bak mandi. Bulu-bulu vagina Teh Irma nggak begitu lebat sehingga tampak belahan vaginanya berwarna kemerahan dan membuat penisku menjadi semakin tegang.

Perlahan-lahan kuarahkan penisku ke lubang vagina Teh Irma, dengan sengaja kupermainkan penisku di bibir vaginanya. Kadang kuuusap-usapkan penisku ke klitoris Teh Irma, lalu kumasukkan ujung penisku beberapa saat dan kutarik keluar lagi.

"Ih.. jail banget sih say..., masukin dong... sampai ujung..." Teh Irma mulai merengek-rengek, tubuhnya meliuk-liuk dengan gelisah. Akupun mulai nggak tahan, lalu dengan dorongan perlahan kumasukkan penisku dalam-dalam ke vaginanya.

"Agh...mhh...gitu dooong..mmhh.." Teh Irma melenguh keenakan. Suara desahan Teh Irma membuatku semakin bergairah, dengan goyangan yang berirama dan kuat aku terus menusukkan penisku berulang-ulang ke dalam liang vagina Teh Irma yang terasa begitu hangat dan masih sempit.

Rasanya sayang kalau kami menikmati orgasme kami yang pertama di kamar mandi, kulepaskan penisku dari jepitan vagina dan kami berjalan menuju ke kamar tidur. Dengan perlahan kurebahkan Teh Irma di tempat tidur, kubuka pahanya dan tampak belahan vaginanya terbuka berwarna merah muda basah oleh lendir.

"Aku serpis ya teh..."

Teh Irma cuma tersenyum genit sambil membuka pahanya tanda setuju. Langsung kubenamkan wajahku di antara dua pahanya. Kusibakkan bibir vaginanya dan dengan lembut kujilati seluruh daerah sensitifnya. Lidahku mengeksplorasi liang vaginanya, lalu kujilati klitoris Teh Irma yang menyembul keluar. Sementara tanganku juga sibuk meremas payudara Teh Irma dan sekali-sekali memilin putingnya. Teh Irma mendesah-desah dan tampak sangat menikmati, dipegangnya kepalaku seolah dia tidak mau lidahku lepas dari vaginanya.

Tidak berapa lama kemudian pinggul Teh Irma terasa bergerak makin aktif, tangannya juga semakin kuat menekan kepalaku.

"Doni... teteh udah mau keluar...mmhhh...aduuh...oohh...oohh.."

Dan akhirnya seluruh tubuh Teh Irma menegang menahan nikmat orgasmenya yang pertama malam itu...

"Aaggh.... Doniii... aagh.....!!!"

Tidak berapa lama kemudian tubuh Teh Irma terkulai lemas. Aku lalu berbaring di sisinya, kukecup bibirnya sambil kubelai rambutnya.

"Enakan mana sama selep-serpis teh..." kataku menggoda.
"Enakan ini gilaa... udah lama nggak ngerasain yang seperti ini... suami teteh aja belum pernah jilatin memek teteh sampai keluar kayak gini..." katanya sambil mencubit perutku.

"Mau dijilat lagi...?"
"Kapan-kapan ya... sekarang teteh mau gantian isep punya kamu terus dimasukin ke memek teteh.." katanya sambil meraih penisku.

Tanpa buang-buang waktu dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya dan diemutnya dengan penuh gairah. Kadang-kadang dilepaskannya lalu lidahnya dengan lihai menyapu seluruh permukaan penisku. Akupun tidak mau tinggal diam, kugeser badanku supaya tanganku bisa meraih vaginanya. Sementara Teh Irma sedang berupaya melumat penisku, jari-jariku menjelajahi celah-celah vaginanya dan terus masuk hingga aku merasakan dinding vagina yang terasa sedikit bergerigi, tentu ini g-spot! Jari-jariku terus mengusap-usap wilayah sensitif itu dan ini membuat tubuh Teh Irma bergetar menahan rasa nikmat.

"Mmhh... mmhhh..." desahan Teh Irma makin keras.

Akhirnya Teh Irma melepaskan penisku dari mulutnya, mungkin dia sudah nggak tahan, vaginanya gatal minta ditusuk penisku. Dengan mengambil posisi duduk ia masukkan penisku ke dalam vaginanya. Dengan penuh gairah ditekannya pantatnya ke pinggulku sehingga penisku masuk dengan sempurna ke dalam vaginanya. Aku merasakan penisku seperti menyentuh ujung vaginanya. Pantat Teh Irma terus bergerak naik turun dengan cepat. Rupanya Teh Irma sudah tidak sabar untuk merasakan orgasmenya lagi! Akupun merespon dengan menghentak-hentakkan pantatku sehingga penisku terbenam lebih dalam lagi...

"Mmhh...Doni...enak banget... uuhh..."

Vaginanya yang hangat dan sempit membuat penisku serasa dijepit dan diurut-urut, sensasi nikmatnya luar biasa. Ditambah lagi desahan Teh Irma yang terdengar begitu sexy membuat penisku mulai bergetar dan berdenyut-denyut menuju puncak orgasme. Sama dengan yang aku rasakan, tampaknya Teh Irma juga sudah mendekati orgasmenya yang kedua.

"Doni... teteh udah mau keluar...mmhhh...mmhh.."
"Iya teh, kita barengan, Doni juga udah mau..."

Gerakan kami menjadi semakin intens dan liar. Akhirnya tangan Teh Irma mencengkeram keras lenganku sambil memejamkan mata menahan sensasi orgasme yang meledak-ledak. Tubuhkupun menjadi kejang saat semburan sperma terasa keluar dari penisku yang berkedut-kedut meluapkan rasa nakmat yang luar biasa.

"Aaahhh... Doni....Aaaaaagh...." Teh Irma menjerit melepaskan rasa nikmat orgasmenya.
"Uuhh... teteh... mmhhh.... " aku juga tidak tahan mengungkapkan rasa nikmatku.

Akhirnya tubuh Teh Irma terkulai lemas ambruk di dadaku. Sejenak kami berpelukan diam tidak bergerak, mencoba merasakan sisa-sisa sensasi nikmat yang masih ada. Sementara itu penisku yang masih ada di dalam vagina Teh Irma mulai melemas. Aku merasakan aliran cairan spermaku yang bercampur dengan cairan Teh Irma mengalir keluar dari vagina dan membasahi pangkal pahaku.

Teh Irma melepaskan diri dari badanku dan dia berbaring lemas di sebelahku sambil matanya tetap terpejam. Kukecup bibirnya sambil kupeluk tubuhnya yang montok dan basah oleh keringat. Kulihat jam di dinding hotel, ternyata sudah jam 8.45 malam, tidak terasa hampir 1 jam juga kami memadu syahwat. Pura-pura aku menawarkan Teh Irma untuk pulang,

"Udah hampir jam 9 sayang... kita pulang sekarang...?"
"Enggak ah, dingin... lagian sampe tempat kos pasti udah dikunci..."
"Jadi..."
"Ya kita terusin aja doong... khan baru satu ronde.."
"Lho Teh Irma mau berapa ronde?"
"Terserah Doni.. teteh mau aja, sampai pagi juga boleh..." katanya genit.
"Ih... buka puasa ya... serakah amat..." kataku menggoda.
"Hi..hi..hi.. teteh udah lama nggak ngerasain kayak gini.."
"Emangnya abis cerai nggak pernah lagi?"
"Ya pernah juga sih, nggak munafik, tapi khan jarang dan udah hampir tiga bulan teteh enggak begituan... "
"Pantesan teteh punya masih sempit, jarang dipake sih... " kataku memuji.

Hanya lima menit istirahat, tangan Teh Irma sudah menggerayangi penisku dan mengusap-usapnya. Otomatis penisku mulai mengeras lagi. Aku langsung merespon dengan mulai merermas dan menjilati payudara Teh Irma. Kukulum dan kuhisap-hisap putingnya yang bulat kecoklatan. Tidak hanya itu, tanganku mulai menggerayangi selangkangan Teh Irma dan jari-jariku mulai nakal masuk ke liang vaginanya yang masih basah oleh spermaku. Teh Irma mulai menggelinjang menahan nikmat.

"Doni, pisangnya masukin lagi ke memek teteh ya... tapi Doni yang di atas, gantian..." Teh Irma berbisik lirih sambil membuka kedua pahanya lebih lebar. Bibir vaginanya yang merah merekah dan bersimbah sisa-sisa spermaku sangat menggugah nafsu kelaki-lakianku. Tanpa membuang waktu langsung aku membenamkan penisku dalam-dalam ke lubang vagina Teh Irma.

Dengan lembut tapi pasti kuturun-naikkan pantatku sambil sesekali menekan dan memutar-mutarnya untuk menambah rasa nikmat. Teh Irma juga tidak pasif, pantatnya ikut bergerak seirama dengan gerakanku sambil tangannya terus meremas pantat dan punggungku. Sebagai variasi kuangkat kaki kiri Teh Irma sementara kaki kiriku kusilangkan di atas kaki kanannya. Posisi ini membuat penisku terasa lebih dalam masuk ke vagina Teh Irma dan kelihatannya Teh Irma sangat menikmati.

"Aduuh... mmhh...."
"Sakit...?"
"Enggak sayang, enak banget....terusin... tusuk yang keras....mmhhhh... rasanya sampe ujung..."

Mendapat semangat dari Teh Irma gerakanku menjadi lebih cepat dan bertenaga. Tidak berapa lama kemudian Teh Irma mulai menggelinjang tidak beraturan, tangannya meremas kasur, bantal, atau apa saja yang bisa diraihnya.

"Uuggh.. Doni...teteh mau keluar lagi..."

Seperti biasa kalau ronde kedua orgasmeku cenderung lama, kali inipun aku belum mau orgasme. Tapi gerakanku kupercepat supaya Teh Irma bisa merasakan puncak orgasmenya dengan intens. Dan tidak berapa lama kemudian Teh Irma mulai bergerak liar, pinggulnya berkedut-kedut melampiaskan kenikmatan orgasme lagi.

"Aagh...Doni...aaggh...."

Kutancapkan penisku dalam-dalam dan kutahan sampai tubuh Teh Irma terkulai lemas tanda sensasi orgasmenya sudah selesai. Beda dengan laki-laki yang butuh waktu beberapa menit untuk kembali pulih setelah orgasme, perempuan biasanya tidak butuh waktu lama untuk 'on' lagi. Itu sebabnya mereka bisa orgasme berkali-kali hanya dalam waktu yang singkat. Seperti yang pernah kualami dengan Tante Nita, sekali waktu dia mengalami orgasme 8 kali hanya dalam selang waktu 20 menit saja! Laki-laki mana bisa seperti itu. Aku pikir Teh Irma juga tidak berbeda, makanya aku tidak melepaskan penisku dari dalam vaginanya. Kulepaskan kaki kirinya dan perlahan-lahan kutindih tubuh montok Teh Irma, dan sambil memeluk tubuhnya yang masih lemas kubelai-belai rambutnya.

"Mau lagi teh...?" tanyaku sambil perlahan lahan kembali menggoyangkan pantatku.

Teh Irma tidak menjawab, hanya membuka mata dan memandangku sambil tersenyum genit. Perlahan-lahan goyanganku makin kuintensifkan. Dan tidak lama kemudian Teh Irma mulai berreaksi kembali, vaginanya terasa mulai menjepit penisku. Pinggulnya juga mulai bergoyang, kadang berputar-putar, kadang naik-turun mengimbangi gerakanku. Hanya butuh beberapa menit saja sebelum akhirnya Teh Irma kembali menggelinjang menahan nikmat.

"Agghh.. Doniii... Mhh...", tangan Teh Irma mencengkeram punggungku dengan kuat selama beberapa detik sebelum akhirnya seluruh tubuhnya kembali terkulai lemas.

Perlahan kucumbu lehernya, lalu bibirnya. Teh Irma tidak tinggal diam, dia juga menanggapi cumbuanku dengan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku sambil pantatnya kembali merespon tusukan penisku. Kamipun lalu kembali bergumul ganas, kami berganti posisi berkali-kali. Kadang aku di bawah, kadang kembali lagi di atas.

"Gila kamu Doni... nanti teteh keluar lagi..."
"Nggak apa-apa teh, Doni juga udah mau keluar sekarang..."

Mengetahui aku juga sedang menuju puncak orgasme Teh Irma menjadi semakin ganas, sambil menindih tubuh montoknya aku merasakan vagina Teh Irma mencengkeram kuat penisku dan pinggulnya bergoyang naik-turun dengan kuat mengimbangi gerakanku. Aku merasakan aliran darahku semakin kencang dan seluruh tubuhku mulai bergetar.

"Aduuh teh... Doni mau keluar..."
"Mmhh..teteh juga say... kita barengan ya..."
"Aagghh... Teh Irmaaa...."
"Doni...Mmhh...aaaggghhh..."

Akhirnya dengan sebuah sentakan kuat spermaku kembali tumpah ke dalam vagina Teh Irma. Kami berpelukan erat selama beberapa lama sebelum akhirnya aku merebahkan diriku di samping Teh Irma dengan seluruh tubuhku terasa lemas seolah-olah kehilangan seluruh tulangnya. Malam itu kami tertidur dengan lelap sambil berpelukan tanpa sehelai busana selain selembar selimut yang menutupi tubuh kami berdua dari serangan hawa dingin kota Lembang. Kami benar-benar merasa puas dan kelelahan malam itu.

********

Saat aku terbangun hari sudah mulai terang, kulihat belum jam 7. Teh Irma masih terlelap di sampingku dan tubuhnya masih tertutup selimut. Kukecup keningnya dan kupeluk tubuhnya untuk memberikan rasa hangat. Tidak lama kemudian Teh Irma terbangun dan tersenyum manis menatapku.

"Udah bangun...?" tanyanya.

Aku hanya menganggup dan tanganku mulai nakal menggerayangi seluruh tubuhnya yang montok. Teh Irma tidak tinggal diam, tangannya juga mulai meraba-raba penisku dan langsung membuatnya berdiri tegang. Payudara Teh Irma yang montok tampak begitu menggairahkan dan aku memuaskan nafsuku dengan menjilatinya, lalu aku mengulum puting-putingnya yang bulat. Hanya butuh beberapa menit saja sebelum akhirnya Teh Irma membuka pahanya lebar-lebar dan memintaku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Pagi yang dingin di Lembang tidak lagi terasa dingin, tubuh kami kembali bersimbah keringat oleh panasnya persetubuhan kami.

Entah berapa kali Teh Irma orgasme pagi itu, aku tidak ingat, yang jelas spermaku tumpah ke dalam vaginanya beberapa kali. Di tempat tidur sebelum mandi sekali, di kamar mandi sekali dengan 'doggie-style', lalu sekali lagi setelah kami berpakaian dan bersiap hendak pulang, di tempat tidur. Ya, saat itu aku memang betul-betul 'horny' dengan Teh Irma. Aku tidak tahan melihat montoknya tubuh Teh Irma yang sexy. Sesaat setelah Teh Irma selesai berpakaian, kupeluk tubuhnya dari belakang dan kujilati leher dan telinganya. Tanpa banyak bicara kamipun kembali melepaskan busana masing-masing lalu bergumul di tempat tidur sampai kenikmatan yang kami nantikan terpuaskan lagi.

Akhirnya kami pulang kembali ke Bandung sekitar jam 11 siang dan Teh Irma terpaksa terlambat kerja. Teh Irma tidak marah atau menyalahkanku, nyatanya ia sendiri juga sangat menikmatinya dan sama sekali tidak menolak ketika aku mengajaknya untuk berkencan lagi seminggu kemudian.

Friday, December 1, 2006

Tante Anis Dan Dewi

Berenang adalah salah satu olahraga rekreasi favoritku selama aku kuliah di Bandung. Tapi pada masa itu sebagai mahasiswa yang masih mengandalkan kiriman orang tua, aku harus berhemat dan tidak bisa sering-sering berenang. Paling-paling aku hanya berenang 2 atau 3 kali dalam sebulan. Kadang aku berenang bersama teman-teman kampus, tapi lebih sering berenang sendiri karena tidak banyak teman-temanku yang mau meluangkan waktu untuk berenang secara rutin. Aku sering berenang di daerah Setiabudi, di sana ada kolam air hangatnya sehingga aku bisa berenang sampai malam tanpa takut kedinginan oleh udara malam kota Bandung.

Hari Jumat itu aku seperti biasa berenang sendiri. Setelah melakukan gaya bebas bolak-balik beberapa kali aku beristirahat sambil tetap berendam di tepi kolam. Hari itu agak sepi, paling hanya 15 orang saja yang ada di kolam renang. Langit sudah mulai gelap dan lampu-lampu di sekitar kolam renang sudah mulai dinyalakan. Tapi aku masih ingin berlama-lama menikmati kolam renang, maklum besok hari Sabtu tidak ada kegiatan kuliah.

Tidak berapa lama kulihat seorang wanita berrambut ikal yang berumur sekitar 40-an masuk ke area kolam renang. Meskipun sudah tidak muda lagi badannya terlihat sangat terawat dan sexy. Payudaranya tampak agak menggantung tapi masih cukup kencang dan menurutku tidak kalah dengan wanita-wanita yang lebih muda. Kulitnya putih dan wajahnya juga masih tampak cantik...ah.. rasanya aku kenal wanita itu... Kalau tidak salah dia Tante Anis, teman klub aerobik Tante Nita bekas ibu kosku di Dago yang pernah kuceritakan kisahnya beberapa waktu yang lalu. Pantas saja tubuhnya sexy.... Setelah meletakkan barang-barang bawaannya wanita itu mulai menceburkan diri ke kolam renang, tepat di seberangku. Lalu perlahan ia mulai berenang mengelilingi kolam renang. Saat ia berenang di depanku, kuberanikan memanggil namanya, “Tante Anis...” Wanita itu berhenti dan berbalik menatapku.

“Hey... Doni ya... sama siapa berenang?” tanya Tante Anis sambil mencubit lenganku.
“Biasa tante... sendirian aja, tante sama siapa?”
“Oh, sama Dewi teman kantor tante... tapi kayaknya dia masih di kamar ganti tuh...soalnya tadi tasnya ketinggalan di mobil... nah itu dia baru datang, tante kenalin yaaa...”

Tampak seorang wanita, terlihat masih muda dan lumayan manis mungkin umurnya sekitar 25-an, berjalan ke arah kolam renang. Rambutnya lurus melewati bahu, tubuhnya terkesan atletis dengan buah dada montok berisi seperti Pamela Anderson di film serial TV “Bay Watch”. Tante Anis lalu naik ke pinggir kolam dan bergegas menghampiri wanita tersebut. Tak lama kemudian kedua wanita itu kembali masuk ke kolam renang.

“Wi.. ini kenalin... Doni, Don... ini kenalin..Dewi, teman kantor tante,”
Sambil mengulurkan tangannya Dewi tersenyum dan menyebutkan namanya, senyumnya manis sekali. Akupun menyebutkan namaku sambil menikmati kehalusan tangannya. Setelah berbasa-basi sebentar Dewi berpamitan untuk berenang beberapa keliling, lalu aku dan Tante Anis mengikutinya. Sebenarnya aku sudah cukup lelah setelah berenang sebelumnya, tapi kebersamaan dengan Tante Anis dan Dewi kayaknya sayang kalau dilewatkan begitu saja hanya karena rasa capai yang tidak seberapa. Setelah berenang beberapa keliling kamipun akhirnya berhenti.

“Doni.. kok udah lama tante nggak pernah lihat kamu jemput Tante Nita lagi?”
“Lho... saya khan sudah nggak kos di tempat Tante Nita...”
“Tapi tante dengar kamu masih suka ketemu dengan Tante Nita, iya khan..?” Tante Anis mulai menggodaku dengan senyumnya yang nakal. Aku tidak menjawab, hanya tertawa ringan.
“Tante Nita suka cerita tentang kamu lho...hmm.. bikin kita-kita penasaran deh,” Tante Anis menggoda lagi, kini tangannya mencubit perutku. “Aduh... sakit tante...,” kataku pura-pura kesakitan. Dewi yang tidak tahu arah pembicaraan kami tampak agak bingung.

Tante Anis merapatkan badannya ke sampingku dan melingkarkan tangannya di pinggangku. “Dewi, kamu kenal dengan Nita teman aerobikku khan..? Doni ini dulu kos di tempat Nita dan semenjak itu si Nita bisa jadi betah banget di rumah kalau Doni lagi nggak kuliah, nggak tau ngapain aja dia dengan si Doni ini,” Tante Anis tertawa genit sambil melirikku. Dewi hanya tersenyum-senyum saja memandangku, “Ah... ati-ati Teh Anis... mahasiswa sekarang memang nakal-nakal....!!”

Udara malam makin dingin, tapi suasana kami justru mulai menghangat. Aku merasa kegenitan Tante Anis sedang menantikan tanggapanku. Aku mulai memberanikan diri memegang dan meremas-remas pantat Tante Anis dengan lembut. Jantungku berdegup-degup menanti reaksi Tante Anis... syukurlah dia diam saja dan membiarkan tanganku terus beraksi. Hanya aku dan Tante Anis yang tahu persis apa yang kami lakukan. Suasana kolam renang tidak begitu terang dan kami berendam sebatas leher sehingga apapun yang diperbuat tangan-tangan kami di bawah air tidak akan terlihat siapapun. Meskipun demikian Dewi kelihatannya mengerti apa yang terjadi, tapi dia pura-pura tidak tahu dan dengan sengaja berenang menjauhi kami.

Melihat kegenitannya mendapat tanggapanku dan tidak ada lagi orang lain di dekat kami, Tante Anis semakin berani. Tangannya mulai dengan sengaja menyentuh penisku yang mulai menegang. Melihat aku tidak menolak perlakuannya Tante Anis mulai berani meremas-remas penisku sehingga membuatnya mengeras. Tante Anis tersenyum nakal, “Oh, ini rupanya yang bikin Tante Nita lupa sama suaminya.” Aku tidak mau ketinggalan, kuraba dan kuremas-remas kedua buah dada Tante Anis sehingga membuatnya memekik perlahan. Kami saling meraba dan berpandang-pandangan penuh nafsu. Perlahan-lahan kuarahkan tangan kananku ke selangkangan Tante Anis dan kurasakan gundukan yang lembut dan hangat di antara kedua pahanya. Mulut Tante Anis sedikit terbuka, nafasnya mulai terasa berat dan matanya mulai sayu, tampaknya dia mulai terangsang.

“Ssstop Doni... jangan disini... kita ke hotel aja... mau?” kata Tante Anis setengah berbisik dengan nafas mulai berat menahan birahi. Aku mengangguk setuju, “Tapi Dewi gimana tante.... masak ditinggal?”
“Tenang aja, itu urusan tante... kamu naik dulu... tante mau bicara sama Dewi.”

Aku bergegas naik dan mengambil handuk serta sabun untuk mandi. Saat aku kembali ke kolam renang tampak Dewi dan Tante Anis sudah duduk di kursi sambil mengenakan handuk.

“Doni, keberatan nggak kalau Dewi ikutan acara kita?” tanya Tante Nita sambil mengedipkan sebelah mata kepadaku.
“Terserah Dewi aja, Doni sih nggak keberatan tante...” kataku.
“Iiih... emangnya acara apaan sih...?” tanya Dewi, entah dia cuma pura-pura atau memang tidak tahu aku tidak peduli, yang jelas malam ini aku akan menikmati tubuh Tante Anis yang sexy. Belum terbayang bagiku bagaimana kalau nanti Dewi ikut bergabung, aku belum pernah ML dengan lebih dari satu wanita sekaligus.

Kutitipkan motorku di kantor Satpam, kebetulan karena sudah sering berenang di situ aku jadi kenal dengan mereka. Kami bertiga lalu meluncur pergi ke arah Lembang dengan mobil Tante Anis. Tidak berapa lama kemudian kami sampai di Lembang dan Tante Anis lalu mengajak kami untuk makan malam di sebuah rumah makan. Setelah selesai makan Tante Anis membeli beberapa kaleng bir, softdrink dan makanan kecil, “Untuk bekal sampai pagi cukup nggak...” tanya Tante Anis sambil tersenyum nakal. Aku mengangguk setuju sementara Dewi masih pura-pura tidak tahu apa yang terjadi.

Akhirnya kami meluncur ke sebuah hotel kecil yang cukup bagus di sekitar Lembang, lokasinya enak dan aman untuk berselingkuh karena mobil bisa langsung parkir di garasi yang tersedia di sebelah kamar. Mungkin hotel itu sejak semula sudah dirancang untuk tempat perselingkuhan, entahlah.....

“Eh.. seperti yang aku bilang tadi.... kalau kalian mau ML aku nggak ikutan yaa... aku cuma nunggu kalian di mobil aja.”
“Aduh Dewi... kami nggak tega ninggalin kamu di mobil. Kita bakalan di sini sampai pagi lho, ikutan aja deh ke kamar. Kalau nggak mau ikutan kami ML juga nggak apa-apa, that’s your choice honey... kamu bisa nunggu di ruang tamu sambil minum bir. Atau kalau perlu bisa kami pesankan ‘extra-bed’. Gimana..?” tanya Tante Anis. Dewi akhirnya mengangguk setuju, “OK aku di ruang tamunya aja... tapi kalian jangan ribut ya.... nanti aku nggak bisa tidur.”

Aku pikir Dewi ini cuma pura-pura saja tidak mau ikut ML, kalau dia benar-benar tidak mau ikutan kenapa dia tadi tidak minta diantar pulang saja. Itu jauh lebih baik dari pada tidur di mobil ataupun di kamar sementara kami asyik bercinta sampai pagi. Aku rasa Dewi ini sebenarnya mau tapi malu karena baru kenal denganku beberapa jam yang lalu, jadi kupikir bagus juga kalau aku sengaja memancing-mancing dan mengambil inisiatif supaya dia mau ikut. Setidaknya dengan cara itu dia tidak harus merasa malu kalau ‘terpaksa’ ikut bergabung. Hmm... kalau Dewi mau ikutan, ini bakal menjadi pengalaman pertamaku ML dengan dua wanita sekaligus.

Kamar hotel yang dipesan Tante Anis cukup besar, sebenarnya hanya satu ruangan tapi antara tempat tidur dan ruang tamu dipisahkan oleh tirai pembatas. Dengan kondisi seperti itu apapun yang terjadi di tempat tidur pasti akan terdengar di ruang tamu. Dewi merebahkan dirinya di kursi sofa, “Selamat ML yaa... aku mau disini aja menikmati bir dan tidur nyenyak.”

Sampai di kamar Tante Anis mematikan lampu kamar dan hanya menyisakan lampu tidur yang nyalanya remang-remang saja sementara aku langsung merebahkan diri di tempat tidur. Tante Anis lalu mengikuti dan berbaring di sebelahku. Tanpa menunggu komando aku langsung memeluk dan mencumbu Tante Anis, bibir kami saling memagut dan lidah kami saling melilit penuh nafsu.

Tangan-tangan kamipun mulai saling meraba dan meremas daerah sensitif masing-masing. Kuselipkan tanganku ke balik bajunya, oh... rupanya Tante Anis sudah tidak mengenakan BH lagi sehingga tanganku dengan mudah langsung meremas payudaranya. Sementara itu tangan Tante Anis dengan ganas berusaha masuk ke celana dalamku untuk meremas penisku yang sudah menegang sejak tadi. Setelah beberapa saat kami bergumul dan saling meremas dengan panas, aku mulai melepaskan t-shirt dan celana jeansku sementara Tante Anis juga mulai melepas pakaiannya satu per satu. Akhirnya kami berdua berbaring di atas tempat tidur tanpa sehelai busanapun.

“Tante Anis... tante sexy sekali...,” kataku memuji sambil meraba payudara dan putingnya. Sengaja aku berbicara tanpa berbisik supaya Dewi bisa ikut mendengar.
“Ah... kamu bisa aja,” tampak wajah Tante Anis memerah, mungkin merasa bangga mendapat pujian dari anak muda. Tante Anis juga tampaknya mengerti maksudku sehingga diapun tidak berusaha mengecilkan suaranya.
“Tante, Doni mau menikmati tubuh Tante Anis malam ini sepuas-puasnya... lampunya Doni nyalain aja yaa...”
“Iihh... tante malu ah... khan udah nggak muda lagi...”
“Tapi tante masih sexy banget lho... swear deh.... Doni betul-betul terangsang.”
“Terserah Doni kalau gitu... emangnya Doni mau liat apa sih kok pake nyalain lampu segala...”
“Doni mau menikmati tubuh Tante Anis yang sexy ini sampai puas, Doni mau menikmati buah dada tante yang indah, Doni mau menikmati seluruh bagian vagina tante yang tertutup bulu-bulu lebat itu, Doni mau liat klitoris tante, Doni pengen liat semua bagian dalam vagina tante. Boleh khan...?” kataku merayu sambil menyalakan lampu kamar.

“Tentu boleh aja sayang...., malam ini tante jadi milik kamu. Doni boleh liat apapun yang Doni mau, boleh pegang apapun... pokoknya boleh ngapain aja...sesuka kamu sayang..... Tapi sebaliknya Doni juga jadi milik tante malam ini yaa.... Sekarang tante mau pegang dan isep pisangnya Doni...gimana?” tanya Tante Anis sambil mendorongku ke tempat tidur.

Mulailah Tante Anis menjilati dan mengulum penisku. Rupanya Tante Anis cukup ahli dalam ber-oral, diremasnya buah pelirku sementara penisku dimasukkan ke dalam mulutnya untuk dihisap.

“Hmm dasar anak muda, penisnya keras banget kalau berdiri... tante udah lama nggak ngerasain penis yang keras seperti ini. Tante nggak sabar pengen ngerasain ini di dalam punya tante....” kata Tante Anis sambil terus menjilati kepala penisku. Dimasukkannya kembali penisku ke dalam mulutnya dan sesekali lidahnya menjilati lubang penisku, wow... rasanya membuat tubuhku bergetar menahan nikmat.

“Oohh... tante... enak banget tante....mmhh... isep terus tante...,” aku sengaja mengekspresikan setiap rasa nikmat yang kurasakan dengan harapan supaya Dewi terpancing untuk ikut bergabung.

Aku memutar posisiku sedikit supaya tanganku bisa meraba dan meremas payudara Tante Anis sementara dia tetap mengulum penisku. Dengan lembut kuremas payudaranya dan kupilin-pilin pentilnya. Ini membuat Tante Anis makin bernafsu dan bersemangat mengulum penisku. “Mmhh....mmhh.....” Tante Anis mulai mendesah-desah menahan nikmat. Seranganku kulanjutkan lagi, kali ini tanganku mulai mengarah ke vaginanya. Kurasakan bulu-bulu kemaluannya yang lebat agak basah oleh lendir yang licin. Jari tanganku mulai menyibak bulu-bulu vagina Tante Anis dan masuk ke dalam belahan bibir vaginanya. Akhirnya dengan perlahan kumasukkan jari tengahku ke dalam lubangnya yang basah oleh lendir. Kugosok-gosokkan jariku dengan lembut ke dalam dinding-dinding vagina Tante Anis sementara ibu jariku mempermainkan klitorisnya sehingga Tante Anis menggelinjang keenakan.

“Ah... Doni.... mhh.... masukin sekarang sayang... tante udah kepengen ngerasain penis Doni di dalam vagina tante,” katanya sambil melepaskan penisku dari mulutnya. Tante Anis lalu merebahkan dirinya di tempat tidur sambil membuka kedua pahanya untuk mempersilahkan penisku masuk. Tapi aku tidak ingin langsung memainkan partai puncak, aku harus menyimpan tenaga karena bukan tidak mungkin akan ada partai tambahan dengan Dewi.

“Sabar dulu ya tante... Doni pengen banget jilat vagina tante...Doni nggak tahan liat vagina tante terbuka seperti itu... boleh....?”
“Terserah Doni sayaang.... tante udah kepengen banget sampai puncak....”
Pantat Tante Anis kuganjal dengan bantal sehingga aku tidak perlu terlalu membungkuk untuk menikmati vaginanya. Perlahan kubuka bibir vaginanya yang sedikit menggelambir dengan kedua jempolku, terlihat bagian dalam vagina Tante Anis begitu merah dan merangsang. Lubangnya masih terlihat lumayan sempit meskipun sudah punya dua anak, sementara klitorisnya tampak menyembul bulat di bagian atas bibir vaginanya.

Tidak tahan melihat pemandangan yang begitu membangkitkan birahi akhirnya aku membenamkan lidahku ke dalam liang vaginanya. Dengan penuh nafsu kujilati seluruh bagian vagina Tante Anis, mulai dari klitoris, bibir vagina, hingga lubang vaginanya tidak luput dari sapuan lidahku yang ganas. Tante Anis meremas rambutku dan terus mendesah menahan nikmat, “Oohh...oohh... mmhh... Doni.... mmhh... adduhh....”

Suara Tante Anis makin membuatku bersemangat, aku terus menjilati seluruh bagian vaginanya seperti seorang bocah sedang menikmati es krim coklat yang begitu nikmat. Jari-jariku mulai ikut ambil bagian untuk masuk ke dalam liang vagina Tante Anis, sementara itu bibirku mengulum klitorisnya dan lidahku terus menjilati serta mempermainkannya dengan penuh nafsu.

“Aaahh... Donii... tante nggak tahan Don.... adduuh...” desahannya makin tak terkendali dan tangannya mulai meremas rambutku dengan keras sementara itu otot-otot kedua kakinya mulai menegang. Tampaknya tidak berapa lama lagi Tante Anis akan mengalami orgasme. Sementara itu samar-samar kulihat bayangan di ruang tamu mulai bergerak, ah... rupanya Dewi mulai terpancing untuk melihat apa yang kami lakukan di atas tempat tidur.

“Doni...Doni... mmhh... tante nggak tahan lagi... tante udah mau keluar.... mmhh.... ahh...aahh...,” akhirnya seluruh tubuh Tante Anis menegang selama beberapa saat dan kemudian terkulai lemas. Kulitnya yang putih tampak berubah agak memerah, Tante Anis mengalami orgasmenya yang pertama malam itu. Dia tergolek lemas dengan mata terpejam dan mulut terbuka sementara itu vaginanya yang merah seperti daging mentah tampak masih berdenyut-denyut mengeluarkan sisa-sisa kenikmatan.

Tante Anis perlahan-lahan mulai pulih kesadarannya setelah beberapa saat terbuai oleh kenikmatan orgasme. “Doni... enak sekali orgasmenya... mmhh... tante sampe lemes.... rasanya belum apa-apa tulang-tulang tante rontok semua....”

Aku hanya tersenyum. “Gimana tante... udah siap lagi....,” tanyaku menggoda. “Bentar lagi ya Don... badan tante masih lemes.... dan lagi rasa enaknya masih belum hilang....”

Sementara itu kulihat Dewi sudah berdiri di samping tirai pembatas ruangan, ikut menikmati apa yang kami lakukan.

“Dewi, kalau mau gabung kesini aja... nggak apa-apa kok,” kataku memancing-mancing. “Iih... enggak ah, aku cuma pengen ngeliat kalian ML aja kok, soalnya suaranya seru banget sih... sampe Dewi nggak bisa tidur.”
“Iya Dewi... sini aja lah..., ngapain kamu berdiri di situ... duduk aja di dekat tempat tidur biar bisa liat lebih jelas kalau emang mau liat kita ML,” Tante Anis ikut menimpali.

Dewi kelihatan masih malu-malu, aku lalu berdiri menghampirinya dan menariknya ke sisi tempat tidur.

“Tapi kalian nggak apa-apa kalau Dewi ikutan ngeliat di sini...?” tanyanya sambil duduk di kursi.
“Ah nggak apa-apa Wi, malah kami lebih senang lagi kalau kamu juga mau ikutan ML dengan kami, iya khan Don...... Ikutan ajalah sekalian, aku nggak akan bilang sama suamimu asal kamu juga nggak cerita ke suamiku,” kata Tante Anis sambil melirikku dan aku mengangguk mengiyakan. Wajah Dewi tampak merah, “Ah.. Dewi cuma mau liat kalian aja dulu....”

Betul dugaanku, sebenarnya Dewi mau ikut bergabung hanya saja ia masih malu-malu. Yang dibutuhkannya cuma sebuah alasan yang pas. Sementara itu Tante Anis tampaknya sudah pulih sepenuhnya, tangannya mulai meraih penisku dan menuntunnya ke arah liang hangat di selangkangannya. “Ayo sayang... kita lanjutin lagi.... sekarang punya kamu harus dimasukkin ke sini ya...tante dari tadi pengen ngerasain punya kamu...”

Aku hanya tersenyum, sementara itu aku mulai menjilati payudara Tante Anis dan mempermainkan putingnya diantara kedua bibirku. Tubuh Tante Anis mulai menggeliat-geliat kembali.

“Ah... Doni... tante jadi konak lagi... punya kamu masukin ya.... sekarang sayang... sekarang... tante udah kepengen banget ngerasain penismu yang keras ini...” Tante Anis terus merengek-rengek meminta aku memasukkan penis ke vaginanya sementara itu tangannya terus meremas-remas penisku sehingga membuatnya makin mengeras. Akhirnya perlahan-lahan kubuka paha Tante Anis sehingga bibir vaginanya membelah dan menampakkan liangnya yang bisa mengundang nafsu birahi setiap lelaki. Dengan perlahan-lahan kutuntun penisku menuju lubang vagina Tante Anis yang sudah siap menanti sejak tadi, dan... blesss... dengan sekali sentakan ringan penisku masuk ke dalam vaginanya. “Aahh...” teriak Tante Anis sambil menaikkan pinggulnya untuk menyambut penisku.

Rupanya Tante Anis sudah sangat terangsang dan bernafsu sehingga sekalipun dia berada di posisi bawah justru dia yang lebih aktif menggerak-gerakkan pinggulnya. Aku tidak mau kalah ganas dengan tante berumur 40-an ini, kugerakkan pinggulku turun naik dengan sentakan-sentakan yang kuat sehingga penisku terasa masuk ke dalam dengan mantap. “Aduhh.. Doni... penismu sampai ke ujung... enak banget....mmhh... terus sayang... tusuk yang kuat sayang... tante suka....mmhh...mmhh.... mmhh... mmhh ...mmhh ..” Tante Anis terus mendesah berulang-ulang seirama dengan tusukan penisku.

Suara kecipak beradunya penisku dengan vagina Tante Anis dan suara derit ranjang yang bergoyang menyertai desah persetubuhan kami yang ganas. Aku rasa dengan cara seperti ini Tante Anis tidak akan bertahan lama. Beberapa saat kemudian Tante Anis minta ganti posisi, dia ingin berada di atas.

Akhirnya aku berbaring pasrah sementara Tante Anis memposisikan dirinya berjongkok di atasku. Tangannya meraih penisku dan membimbingnya menuju liang vaginanya yang basah kuyup oleh lendirnya sendiri. Begitu penisku masuk, Tante Anis lalu mulai menggerak-gerakkan pinggulnya dengan ganas. Gerakannnya makin lama makin cepat dan desahannya makin keras, “Mhh...mmhh.. mmhh....” aku belum pernah merasakan goyangan pinggul seorang wanita seganas Tante Anis. Saking keras dan semangatnya goyangan Tante Anis, beberapa kali penisku sempat terlepas dari cengkeraman vaginanya tapi Tante Anis dengan sigap memasukkan kembali. Dan akhirnya tidak sampai tiga menit Tante Anis di posisi atas iapun mulai mengalami orgasme yang kedua kali....

“Aduh... tante mau keluar lagi sayang... aduuh... mmhh... mmhh... mmhh... aahh!” Tante Anis menjerit keras berbarengan dengan orgasmenya yang kedua. Kedua tangannya mencengkeram erat dadaku dan kepalanya mendongak ke atas sementara itu vaginanya menelan habis penisku sampai aku bisa merasakan ujungnya. Baru kali ini kurasakan orgasme seorang wanita yang begitu ganas dan intens. Seganas-ganasnya Tante Nita, rasanya masih kalah ganas dibandingkan Tante Anis. Tidak berapa lama kemudian Tante Anis terkulai lemas di dadaku.

Aku melirik ke arah Dewi, kulihat dia mulai terangsang hebat melihat ‘live-show’ di depan matanya... Duduknya serba gelisah dan tangannya meremas-remas ujung bajunya.
Aku sendiri sebenarnya belum orgasme, tapi rasanya juga tidak lama lagi. Permainan liar Tante Anis mau tidak mau membuatku makin dekat menuju puncak orgasme juga. Kalau aku sekarang mengajak Dewi untuk ML pasti aku tidak akan sanggup bertahan lama, jadi kuputuskan untuk menyelesaikan ronde pertamaku dengan Tante Anis saja.

Setelah Tante Anis mulai pulih dari orgasmenya, aku balikkan tubuhnya sehingga dia kembali dalam posisi terlentang. Tanpa basa-basi langsung aku menancapkan penisku ke dalam vaginanya.

“Doni... tante masih lemes... sabar sayang....sebentar lagi.... mmhh... mmhh...” Tante Anis mencoba mendorongku. Tapi tenaganya tidak cukup kuat, lagi pula hanya berselang beberapa detik kemudian tampaknya Tante Anis sudah mulai terangsang lagi. Apalagi setelah telinga dan lehernya kujilati dengan lidahku. Maklum kaum wanita dalam hal persetubuhan sebenarnya jauh lebih hebat dari pria, mereka bisa mengalami orgasme berkali-kali dalam waktu yang singkat kalau mendapatkan rangsangan yang tepat.

Aku terus menusukkan penisku berulang-ulang ke dalam vagina Tante Anis. “Doni... kamu nakal sekali... mmhh... mmhh .... dasar anak muda..... mmhh... adduuh sayang... nanti tante bisa keluar lagi.... mmhh... Doni... aduuhh...mmhh... tante jadi konak lagi...aahh... kamu ganas sekali....” kurasakan pinggul Tante Anis yang semula diam pasrah kini mulai mengikuti gerakan pinggulku. Setiap kali aku menusukkan penisku, pinggul Tante Anis menyentak ke atas sehingga penisku masuk semakin dalam. Gerakannya yang kembali ganas membuat ketahananku hampir jebol. Perlahan-lahan kuatur posisiku agar bisa menusukkan penis sedalam-dalamnya.

“Tante... udah mau keluar belum.....?”
“Mmhh... iya sayang.... tante udah mau keluar lagi.... mmhh ...mmhh...”
“Sekarang kita barengan ya... Doni juga udah mau keluar....”
“Hmmhh....... keluarin aja sayang... keluarin semuanya di dalam.... tante siap menampung.... tante udah nggak tahan sayaang.. ... tusuk tante yang kuat....... mmhh.... uuh...rasanya penis kamu makin besar..... dorong yang kuat sayang..... iya... seperti itu sayang... iya... masukin yang dalam...mmhh... adduuh... tante keluar lagi.... aahh...aagh....!!”
“Tante...mmhh...aduuh... Doni udah nggak tahan lagii..... aahh...aahh..aagghh...!!”

Akhirnya sebuah semburan sperma yang dahsyat ke dalam vagina Tante Anis menyertai kenikmatan orgasmeku. Sementara itu tubuh Tante Anis juga kembali menegang dan berkedut-kedut menahan nikmat orgasmenya yang ketiga malam itu. Tidak lama kemudian tubuh kami saling berpelukan dengan lemas, kami tidak bergerak ataupun berkata-kata untuk beberapa saat karena rasa nikmat orgasme yang bersamaan tadi seolah meluluhkan semua kekuatan dan keinginan kami selama beberapa saat. Aku dan Tante Anis hanya ingin diam berpelukkan dan saling menikmati hangatnya tubuh masing-masing, sementara penisku yang terasa makin melemah masih tertancap di dalam vagina Tante Anis....

Tidak berapa lama kemudian aku membaringkan tubuhku di samping Tante Anis. Penisku tergolek lemah kelelahan, basah kuyup oleh campuran lendir vagina Tante Anis dan spermaku sendiri. Sementara itu dari celah vagina Tante Anis lelehan sisa spermaku yang berwarna putih kental tampak mengalir keluar bercampur dengan lendir Tante Anis. Aku yakin spermaku banyak sekali yang masuk ke vaginanya karena sudah hampir dua minggu aku belum mengeluarkannya. Tante Anis memiringkan badannya dan mengelus-elus penisku,

“Gila kamu Doni..... belum-belum tante udah keluar tiga kali... kayaknya tante nggak bakalan kuat nih kalau ML sampai pagi....”
“Ah nggak apa-apa tante... khan ada Dewi, dia bisa gantiin tante kalau tante udah capek... iya nggak,” kami tertawa cekikikan melirik Dewi yang dari tadi tampak duduk gelisah menahan gejolak nafsu.

“Iya Dewi, ayo kamu ikutan sini dong... bantuin aku ngerjain Doni...aku nggak bakalan kuat kalau sendiri,” kata Tante Anis ikut memanaskan suasana.
“Ah... kayaknya aku nggak perlu bantuin Teh Anis..., tuh liat... Doni punya udah lemes... kelihatannya dia juga udah bakal nggak kuat lagi main dengan Dewi....,” kata Dewi yang mulai menanggapi ajakan kami dengan setengah menantang.
“Tapi kalau punyaku bisa berdiri lagi Dewi mau ikutan nggak...?” pancingku.
“Boleh aja... tapi buktiin dong kalau Doni punya masih sanggup berdiri lagi seperti tadi,” kata Dewi. Tampaknya Dewi sudah mendapatkan alasan yang pas untuk ikut bergabung.
“Ok... aku akan buktikan kalau sebentar lagi punyaku akan bangun dan keras seperti tadi tapi syaratnya harus Dewi yang bangunin yaa...” kataku tersenyum.
“Iya... tapi dibersihin dulu dong... Dewi nggak mau bekas Teh Anis...he...he..he...”

Aku lalu bangkit ke kamar mandi untuk membersihkan penisku dari sisa-sisa cairan hasil persetubuhan dengan Tante Anis. Saat keluar dari kamar mandi tampak Dewi sudah duduk di tepi tempat tidur. Sementara itu Tante Anis gantian duduk tanpa busana di kursi sambil menenggak sekaleng bir hitam dan menghisap rokok.

“Ayo sini anak muda.... kita buktikan apa kamu masih sanggup bertempur lagi...” kata Dewi sambil tersenyum nakal. Setelah mendapat alasan yang pas, Dewi yang sebelumnya tampak malu-malu mulai menampakkan nafsu sex yang tidak kalah dengan Tante Anis. Aku lalu membaringkan tubuhku di tempat tidur.

Tanpa banyak basa-basi lagi Dewi langsung mengelus-elus penisku yang masih terkulai lemas akibat kelelahan setelah bertempur hebat dengan Tante Anis. Diremas-remasnya biji pelirku dan kemudian Dewi mulai menjilat-jilat batang penisku. Aku mulai merasakan kenikmatan lidah Dewi dan remasan lembut tangannya, akibatnya penisku perlahan-lahan mulai menunjukkan tanda kehidupan. Dewi mulai memasukkan penisku ke dalam mulutnya, dikulumnya kepala penisku dan dikocok-kocoknya batang penisku dengan tangannya. Tentu saja tidak berapa lama kemudian penisku mengeras kembali. Merasakan penisku kembali membesar dan mengeras, Dewi semakin bernafsu menghisap dan menjilatinya. Perlahan-lahan kulepaskan mulutnya dari penisku, “Nah, sudah terbukti bisa bangun lagi khan... sekarang giliran Dewi memenuhi janji untuk ikut bergabung... gimana?”

Dewi cuma tersenyum sambil dengan sukarela melepaskan pakaiannya satu per satu dan berbaring di sisiku. Karena sejak awal aku sudah tertarik dengan payudara Dewi yang montok seperti punya Pamela Anderson, aku langsung meremas payudaranya dengan lembut dan mempermainkan putingnya dengan lidahku. Dewi yang sebenarnya dari tadi sudah terangsang mulai mendesah-desah keenakan. Berbeda dengan Tante Anis, meskipun sudah 3 tahun menikah Dewi belum memiliki anak jadi puting susunya masih mungil dan berwarna terang seperti puting susu gadis perawan. Setelah puas menjilati dan meremas buah dadanya, aku mulai menjelajahi bagian bawah.

Perlahan-lahan kujilati bagian perut Dewi dan kemudian akhirnya sampai ke daerah ‘Segitiga Bermuda’. Bulu kemaluan Dewi tidak selebat Tante Anis sehingga belahan vaginanya sudah tampak jelas tanpa harus menyibakkan bulu-bulunya. Setelah puas menjilati daerah lipatan paha dan daerah bagian atas bulu vagina Dewi, aku membuka bibir vaginanya dan terlihatlah liang vagina yang berwarna merah muda dan sangat indah. Ingin rasanya segera membenamkan penisku ke dalamnya. Mungkin karena belum memiliki anak, kedua bibir vaginanya masih tampak kencang dan tidak menggelambir seperti punya Tante Anis. Secara refleks jari-jari tanganku langsung masuk menggerayangi lubang vaginanya dan membuatnya melenguh keras, “Oohh........” Langsung lidahku menjilati bibir vagina dan klitorisnya dengan lembut. Setiap kali lidahku menjilati klitorisnya, pinggul Dewi bergerak maju seolah tidak menginginkani lidahku terlepas dari klitorisnya.

Setelah kurasa cukup, akhirnya kulepaskan lidahku dari bagian vaginanya dan aku mulai membuka kedua pahanya. Aku benar-benar sudah tidak sabar ingin segera merasakan kenikmatan vagina seorang Dewi. Dengan lembut kubelai lembut rambutnya, dari matanya kulihat Dewipun sudah tidak sabar ingin menerima penisku. Tapi dia bukan Tante Anis yang secara ekspresif dan terang-terangan mengumbar nafsunya dengan ganas. Dewi hanya menatapku penuh harap sambil nafasnya berdesah-desah tak teratur.

Kuposisikan diriku diantara kedua pahanya, lalu perlahan-lahan kubuka bibir vaginanya dan kuarahkan penisku ke liang vagina yang tampak masih sempit. Kuletakkan kepala penisku tepat di depan lubang vaginanya. Lalu dengan lembut tapi pasti kugerakkan pinggulku ke depan sehingga penisku masuk ke dalam vaginanya. Gila....nih cewek... vaginanya masih sempit sekali, benar-benar seperti seorang perawan. Untung saja Dewi sudah cukup terangsang sehingga penisku tidak begitu kesulitan menembus liang vaginanya yang sempit dan basah. Dewi tampak menggigit bibir bawahnya dan tangannya meremas pinggangku. Aku sempat berpikir mungkin Dewi merasa kesakitan akibat perbuatanku, gerakanku kuhentikan sejenak. “Sakit sayang...” tanyaku. Dewi menggeleng perlahan. “Enak sayang....,” kataku lagi. Dewi hanya mengangguk sambil tersenyum.

Sedikit demi sedikit kupercepat gerakanku, vagina Dewi terasa makin basah dan gerakan penisku terasa mulai lancar. Setelah merasakan persetubuhan yang ganas dengan Tante Anis, persetubuhan dengan Dewi terasa begitu lembut dan indah. Kontras sekali bedanya, namun kedua-duanya sama-sama memiliki kenikmatannya yang khas sehingga sulit untuk mengatakan mana yang lebih enak.

Kubelai rambut Dewi dan kucumbu bibirnya dengan hangat, kami sungguh menikmati persetubuhan yang indah ini. Sesekali aku melepaskan diri dan meminta Dewi untuk bergantian di posisi atas. Diapun melakukannya dengan lembut namun penuh energi, digerak-gerakkannya pinggulnya maju mundur dengan berirama dan penuh tenaga sementara aku meremas-remas buah dadanya yang indah. Aku rasakan dinding-dinding vaginanya begitu kuat mencengkeram penisku sehingga membuatku makin terangsang. Sementara itu gerakan pinggul Dewi makin cepat dan desahannya makin kuat serta tidak beraturan. Dewi mulai sulit mengontrol gerakannya sendiri....

“Oohh... mmhh....mmhh... uuhh..” tampaknya Dewi mulai dekat menuju orgasme. “Ahh...Doni...mmhh... Dewi di bawah aja ya... Dewi takut keluar duluan.....”
“Nggak apa-apa sayang, keluarin aja....”
“Enggak ah... Dewi mau keluar barengan sama Doni....”

Akhirnya Dewi kembali berbaring disebelahku. Aku langsung mengambil posisi diantara selangkangan Dewi dan kembali membenamkan penisku ke dalam vaginanya. Di posisi ini tampaknya Dewi lebih bisa mengatur nafsunya sehingga desahannya kembali teratur seirama dorongan penisku. Kami kembali bercumbu dengan hangat sambil tanganku meremas-remas buah dadanya dan pinggulku turun-naik sehingga kedua tubuh kamipun mulai dibasahi oleh peluh. Sekarang giliranku mulai merasakan dorongan kenikmatan orgasme menjalari seluruh tubuhku. Rasanya tidak lama lagi pertahananku akan bobol. Gerakanku makin kuat dan Dewi juga merasakannya sehingga diapun mulai agak mengganas. Aku mulai melepaskan bibirku dari bibirnya dan mulai mengatur posisi agar bisa menancapkan penisku dengan maksimal ke dalam vagina Dewi. Rasanya tidak lama lagi kami berdua akan sampai ke puncak kenikmatan....

“Dewi... aku udah mau keluar sayaang.... mmh....sshh... sshh...mmhh...” aku mencoba sekuat tenaga mengontrol orgasmeku agar bisa bertahan sedikit lagi.
“Dewi juga mau keluar sayang... adduhh... penis kamu tambah besar... Dewi nggak tahan lagi...mmhh... aaah......mmhh...”

Gerakan kami berdua makin cepat dan makin ganas, akhirnya....

“Aahh.... Donii.....mmhh....aahh....Dewi nggak tahan lagi sayang...aahh...aahh...!”
“Dewiii....aduuh..... Donii keluaar............aahh...!”

Tubuh kami menggelinjang dan bergetar hebat dalam sebuah orgasme bersama yang indah, akhirnya kami berpelukan lemas. Setelah beberapa saat kami berpelukan, aku kembali mencumbu Dewi dengan lembut. Kemudian aku merebahkan diriku di sampingnya, kami diam dan saling berpandangan.

“Wow... keren.... hebat....” tiba-tiba kudengar Tante Anis bertepuk tangan memberi ‘applaus’ untuk persetubuhan kami yang cukup lama dan menggairahkan. Kami berdua cuma tersenyum saja, sudah terlalu lelah untuk berkomentar. Mungkin lebih dari setengah jam aku dan Dewi saling bergumul sebelum akhirnya kami tenggelam dalam kenikmatan orgasme.

Tampak Dewi tergolek kelelahan disampingku, dia hanya sebentar menoleh tersenyum penuh arti ke Tante Anis lalu kembali memejamkan matanya. Sementara itu sisa-sisa spermaku tampak mulai menetes dari celah vagina Dewi meskipun tidak sebanyak Tante Anis. Akupun hanya bisa terbaring lemas, penisku tampak tak berdaya. Tiba-tiba aku merasa sangat haus dan lapar. Aku bangkit lalu mengambil sekaleng bir dan menyantap sebungkus roti untuk mengembalikan tenagaku yang nyaris terkuras habis oleh dua wanita bersuami ini.

“Nanti kalau sudah siap, giliran tante lagi ya... melihat kalian ML tante jadi kepengen lagi lho....Doni masih kuat khan...?”
“Ok tante,.... Doni masih kuat kok...liat nih... sebentar juga bangun lagi...” kataku menanggapi tantangan Tante Anis. Kutunjukkan pada Tante Anis penisku yang perlahan-lahan mulai agak membesar.

Melihat aku mulai segar lagi Tante Anis merebahkan aku ke tempat tidur di samping Dewi yang masih tergolek kelelahan. Tanpa merasa perlu membersihkan penisku dari sisa-sisa persetubuhanku dengan Dewi, Tante Anis langsung mengulum dan mengkocok-kocok penisku hingga perlahan-lahan kembali mengeras dengan sempurna. Begitu melihat penisku kembali berdiri sempurna langsung Tante Anis mengambil posisi jongkok dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Seperti sebelumnya, dengan ganas Tante Anis menggerak-gerakkan pinggulnya sambil mulutnya terus berdesah-desah merasakan nikmat. Dewi yang terbaring disampingku lalu membuka mata dan menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan kami, “Ah..keterlaluan deh Teh Anis ini, si Doni belum sempat istirahat udah diembat lagi....nggak kasian sama anak orang...” Tante Anis cuma tertawa kecil dan meneruskan goyangan mautnya.

Tak berapa lama kemudian Tante Anis melepaskan penisku dari vaginanya dan meminta aku untuk berganti posisi, dia ingin ditusuk dari arah belakang. “Doni... tante kepengen kamu masukin dari belakang ya...?”

Tante Anis lalu mengambil posisi menungging di sebelah Dewi sambil tangannya meraba-raba payudara Dewi dan sesekali lidahnya menjilati putingnya. Sementara itu aku langsung memasukkan penisku lagi ke dalam vagina Tante Anis yang sudah merah merekah dari belakang. Merasakan apa yang dilakukan Tante Anis pada mulanya Dewi tampak risih, mungkin dia belum pernah dengan sesama wanita, tapi lama kelamaan dia membiarkan Tante Anis melakukan aksinya bahkan tampaknya Dewi mulai menikmati ulah tangan dan lidah Tante Anis. Aku juga tidak tinggal diam, sambil penisku keluar masuk di vagina Tante Anis tanganku mulai meraba vagina Dewi sehingga membuatnya makin terangsang. Kemudian Dewi membuka kedua pahanya lebih lebar agar jari-jari tanganku lebih leluasa masuk ke dalam vaginanya.

Sementara itu pinggul Tante Anis mulai bergerak tak teratur dan desahannya makin keras, “Aaah... mmhh... mmhh....mmhh....” Aku tahu sebentar lagi Tante Anis akan mencapai orgasmenya yang keempat. Kupercepat gerakanku dan Tante Anispun makin tak terkontrol,

“Donii.... aahh.... tusuk yang kuat sayaang.... iya... yang kuat sayang... teruss... teruss... tusuk yang dalam....tusuk sampai ujung sayang... aahh... tantee keluar lagii......... aaghh...” Tante Anis mengejang keras dan menyentakkan pantatnya ke arahku sehingga penisku masuk makin dalam. Kutarik paha Tante Anis ke arahku dengan maksud supaya dia makin merasakan kenikmatan orgasmenya. Setelah beberapa saat akhirnya Tante Anis terkulai lemas dan peniskupun terlepas dari vaginanya.

Melihat penisku masih berdiri tegang, Dewi langsung mengerti apa yang harus dilakukannya. Dia mengambil alih posisi Tante Anis dengan menungging di depanku. Dengan perlahan kubuka belahan vagina Dewi dan kumasukkan penisku ke dalamnya. Dewipun mendesah menahan nikmat saat penisku meluncur ke dalam vaginanya yang hangat dan basah. Sementara penisku di dalam vaginanya, kedua tanganku mulai meraba-raba buah dadanya yang indah. Dewi tampak sangat menikmatinya sehingga pinggulnya mulai bergerak-gerak.

Setelah beberapa menit berlalu, Dewi tampak mulai kelelahan dengan posisi ‘doggy-style’. Dewi memintaku untuk melepaskan penis dan diapun kembali menelentangkan dirinya pasrah dengan kedua pahanya terbuka lebar-lebar seolah mengundangku untuk segera membenamkan penisku kembali. Dan akupun menanggapi undangannya dengan senang hati. Tanpa banyak basa-basi langsung kumasukkan penisku ke dalam liang vagina Dewi yang belum sempat dibersihkan dari lendir sisa-sisa persetubuhan kami sebelumnya.

Dewi sendiri sekarang sudah mulai berani mengungkapkan gejolak nafsunya terang-terangan, dia mulai berani menggerakkan pinggulnya dengan ganas dan mendesah-desah dengan kuat. Rasanya Dewi yang sekarang tidak kalah ganas dengan Tante Anis. Ini sungguh kejutan bagiku, aku tidak siap menghadapi keganasan Dewi yang nyaris tiba-tiba. Hal itu membuat aku nyaris kehilangan kontrol dan hampir mencapai orgasme. Tapi aku tidak ingin mengalaminya sendiri, aku ingin Dewi juga bisa merasakannya padahal saat itu kurasakan kondisi Dewi masih stabil dan belum mendekati orgasme.

Sekuat tenaga aku berusaha mengontrol nafasku untuk menghambat datangnya orgasme. Tapi rasanya tidak banyak membantu, goyangan Dewi yang ganas membuat orgasmeku terasa makin mendekat. Akhirnya kuputuskan untuk meremas buah dada dan mempermainkan klitorisnya supaya Dewi juga cepat terangsang. Ternyata cara ini efektif, dalam waktu singkat gerakan pinggul Dewi menjadi makin kuat dan mulai tidak beraturan, desahan dan lenguhannya juga semakin keras. Aku tahu Dewi juga sudah kehilangan kontrol dan mulai mendekati puncak orgasme....

“Dewi sudah mau keluar ya.......?” tanyaku.
“Hhmm... iya sayang... adduhh... sebentar lagi Dewi keluar.... barengan ya sayang....sepertinya penis Doni juga udah makin besar... mmhh... enak banget.....vagina Dewi terasa penuh....mmhh....aahh.....fuck me honey....fuck me hard...aahh....aahh....”

Begitu kurasakan Dewi hampir mencapai orgasme langsung kupercepat gerakanku, kulepaskan tanganku dari klitoris dan buah dadanya sambil mencari posisi yang nyaman untuk melakukan tusukan akhir yang dalam dan nikmat. Dan akhirnya...

“Dewi.... aku nggak tahan lagi... keluarin bareng sekarang yukk......”
“Iya sayang.... Dewi juga.... aahh... adduhh....tusuk yang kuat sayang... fuck me...... yess... aahh...uuhh... Dewi keluar lagi....aahh...... aagh...!.”
“Oohh.... Dewi....mmhh Doni juga keluaarr......aagh...!”

Akhirnya kami kembali orgasme bersamaan. Orgasme kali ini sungguh-sungguh menguras energiku, aku tidak tahu apakah aku masih sanggup kalau Tante Anis minta lagi. Tapi kulihat Tante Anis juga sudah kelelahan setelah empat kali orgasme hebat yang dialaminya sehingga kami akhirnya memutuskan untuk beristirahat saja. Kami bertiga tidur saling bepelukan tanpa busana dan hanya ditutupi selimut.

Pagi itu aku terbangun, sayup-sayup kudengar suara adzan subuh. Tapi aku merasakan ada sesuatu yang aneh. Ah... ternyata Tante Anis sudah bangun lebih dulu dan dia sedang asyik mengulum penisku.

“Aduh... tante... pagi-pagi udah sarapan pisang...” kataku sambil tertawa.
“Hmm.. sorry ya Don,... tante tadi bangun duluan terus tante nggak tahan liat penis kamu. Tante langsung ngebayangin kayaknya enak banget kalau subuh-subuh gini ML lagi dengan Doni... nggak apa-apa khan...?”

Kulihat penisku sudah berdiri tegak akibat ulah Tante Anis. Tampaknya Tante Anis sudah sangat bernafsu, nafasnya memburu tak teratur dan pandangan matanya menunjukkan dirinya sedang berada pada puncak birahinya. Sementara itu Dewi tampak masih tergeletak pulas disampingku.

“Doni sayang... tante pengen ngerasain penis kamu lagi yaa....soalnya sebentar lagi khan kita pisah... jadi sekarang tante pengen ML lagi dengan Doni...mau khan...?”
“Masukin aja tante... Doni juga suka ML dengan tante....pokoknya hari ini Doni mau ML sampai kita bener-bener udah nggak kuat lagi.... tante mau khan?”
“Hm.... dengan senang hati sayang.....ssttt... jangan keras-keras nanti si Dewi bangun. Kasihan dia masih kecapaian semalam gara-gara ML dengan kamu.”

Ah... kali ini aku akan memberikan sesuatu yang lain untuk Tante Anis. Aku akan membuatnya mengalami orgasme berkali-kali tanpa sempat istirahat. Aku rasa ini tidak terlalu sulit karena tampaknya Tante Anis tipe wanita yang sangat sensitif dan mudah mengalami orgasme. Lagi pula karena semalam aku sudah tiga kali orgasme, aku yakin bisa bertahan lebih lama lagi sekarang.

Kubiarkan Tante Anis menaiki diriku dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Seperti biasa dia mulai menaik-turunkan pinggulnya sehingga penisku meluncur keluar-masuk vaginanya. Dengan sengaja kusentakkan pinggulku untuk menandingi gerakannya sehingga membuatnya makin terangsang. Benar saja tidak sampai lima menit Tante Anis mulai kehilangan kontrol dan melenguh kuat, ia mengalami orgasmenya yang kelima.

“Aahh... Doni.... tante keluar.... mmhh...adduuhh...aahh... aahh..aaghh...!!.”

Aku tidak memberi Tante Anis kesempatan beristirahat. Setelah tubuhnya melemas aku langsung membaringkan Tante Anis dan membuka pahanya, tanpa basa-basi aku langsung menancapkan penisku ke dalam vaginanya. Dan kali ini aku menusukkan penisku dengan kuat dan cepat. Benar saja, Tante Anis tampak kaget dan tidak siap dengan serangan tiba-tiba ini. Tidak sampai tiga menit kemudian tubuhnya mulai bergetar hebat.

“Adduhh... Doni... tante jadi pengen keluar lagi.... aahh... aahh... aahh...”

Kurasakan badan Tante Anis mengejang dan kemudian lemas, ini orgasmenya yang keenam. Sementara itu penisku masih keras dan besar di dalam vaginanya. Tanpa memberinya kesempatan istirahat aku kembali menggerak-gerakkan penisku dengan kuat dan ganas. Tante Anis yang belum sempat istirahat untuk memulihkan tenaganya, kembali tergetar oleh rangsangan orgasme yang ketujuh.

“Donni..... kamu nakal.... nanti tante bisa keluar lagi... aduuhh... mhh...aahh... mmhh....Doni..... tante mau keluar lagii..... aduuhh... aahh.....dorong yang keras sayang... iya... tusuk yang dalam sayang... iya gitu...terus... terus....jangan berhenti... aahh...aahh...enak sekali sayang... mmhh...tante keluar lagiii... aahh”

Kembali aku tidak memberinya kesempatan istirahat, kali ini kuangkat kedua kakinya dan pantatnya kuganjal dengan bantal sehingga penisku masuk semakin dalam hingga menyentuh ujung vaginanya. Kutusukkan penisku ke dalam vagina Tante Anis berulang-ulang dengan cepat dan kuat. Hanya berselang satu atau dua menit dari orgasme sebelumnya kembali tubuh Tante Anis bergetar hebat untuk mengalami orgasmenya yang ke delapan,

“Aahh... Donnii.... uughh.... masukin yang dalam sayang.... masukin sampai ujung.... aahh.... enak banget..... aaahh... gimana nih....tante bisa keluar lagi....mmhh....aahh... aduuhh...tante keluar lagi sayang...aahh..aahh.....” kali ini tubuhnya menggelinjang cukup lama, pinggulnya berkedut-kedut tidak beraturan, matanya terpejam rapat-rapat dan giginya terkatup menahan kenikmatan yang luar biasa....

Begitu selesai orgasme yang ke delapan, kembali aku meneruskan tusukan penisku. Kali ini Tante Anis sudah mulai merasa tidak kuat lagi, matanya memelas memintaku untuk berhenti.

“Udah dong sayang... tante capek banget.... vagina tante mulai perih sayang jangan cepet-cepet dong...sakit... udah sayang... tante istirahat dulu... sebentar aja... nanti kita lanjutin lagi... kasih kesempatan tante istirahat dulu sayang... ” katanya sambil mencoba menahanku.

Tapi aku tidak peduli, memang gerakanku kuperlambat supaya Tante Anis tidak merasa sakit tapi aku tetap menusukkan penisku ke dalam vaginanya. Aku sendiri sekarang mulai terangsang berat melihat pandangan sayu tanpa daya seorang wanita yang haus kenikmatan seperti Tante Anis.

Setelah beberapa saat tampaknya Tante Anis mulai kehilangan rasa sakitnya dan berubah menjadi rasa nikmat kembali, dia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya mengikuti gerakanku. Sekarang aku ubah sedikit posisiku, hanya kaki kiri Tante Anis yang kuangkat sementara kaki kanannya tergeletak di kasur dan kaki kiriku kuletakkan diatas paha kanannya. Kelihatan Tante Anis menikmati sekali posisi ini, dia mulai bergairah lagi dan gerakan pinggulnya mengganas kembali. Tak lama kemudian iapun mengalami orgasmenya yang kesembilan...

“Ahh...oohh...Doni....kamu pinter banget sih... aahh... anak nakal.... tusuk tante yang kuat sayang... aahh ...aahh...tante keluar lagi.... aahh.....aahh aahh..!,” teriakannya kali begitu keras dan panjang sehingga Dewi yang tertidur kelelahan akhirnya terbangun juga.

Aku menekan penisku dalam-dalam di vagina Tante Anis sambil menunggunya kembali siap. “Udah sayang... tante udah capek...tante nggak kuat lagi sayang....udah ya sayang... vagina tante udah kebas......please...tante udah nggak sanggup lagi......”
“Hmm...Doni masih pengen terus tante... soalnya sebentar lagi kita pisah... Doni mau menikmati tubuh Tante Anis hari ini sampai sepuas-puasnya...” kataku sambil memulai lagi tusukan penisku.
“Ayo dong sayang.....udah dulu... kapan-kapan kita khan bisa ketemu lagi.... tante janji deh.... tapi sekarang udah dulu tante capek banget... tenaga tante udah abis....”
“Yang ini terakhir tante... Doni juga udah mau keluar kok...boleh yaa...” kataku sambil mengecup bibirnya.

Tante Anis terdiam dan berusaha menikmati permainan penisku yang terus mengganas nyaris tanpa henti. Sementara itu aku sudah merasakan diriku mulai mendekati orgasme juga, penisku terasa membesar dan memenuhi vagina Tante Anis. Tampaknya Tante Anis juga merasakan hal yang sama, iapun segera terangsang berat serta mulai mendesah-desah untuk orgasmenya yang kesepuluh.

“Ahh... Doni....keluarin punya kamu sekarang sayaang...tusuk tante yang kuat... tante juga udah mau keluar sekarang.......aaaahhh..!!”
“Ayo tante kita barengan... ini yang terakhir.... aahh Doni keluarr...aaggh...!”
“Aahh...... mmhh... tante juga keluar lagii..... adduhh maakk...enak bangeett......aaghh...!”

Akhirnya kali itu persetubuhan kami benar-benar terhenti dan kamipun berpelukan lemas. Kukecup bibir Tante Anis dan perlahan-lahan kulepaskan penisku dari dalam vaginanya. Kulihat vagina Tante Anis sudah sangat merah dan Tante Anis sendiri masih memejamkan matanya kehabisan energi. Hanya sedikit saja sisa lelehan spermaku yang keluar dari vagina Tante Anis, rupanya aku sudah mulai kehabisan cadangan sperma.

Tiba-tiba keheningan kami dipecahkan oleh suara Dewi, “Hey... kalian ML kok nggak ngajak-ngajak Dewi sih... emangnya kalian kira aku nggak pengen yaa....”
“Sudah berapa lama sih kalian main... kok kayaknya seru banget... Teh Anis sampai basah penuh keringat gitu...,” lanjut Dewi lagi.

Tante Anis hanya menoleh sejenak lalu memberi kode dengan jarinya bahwa ia mengalami 6 kali orgasme pagi itu.

“Enam kali...?? Ah gila juga...bener-bener teteh maniak ML.....Dewi baru tau....” kata Dewi melotot memandangi Tante Anis seolah tidak percaya.
“Swear...enggak juga Wi.... aku baru kali ini kok ML segila ini, gak tau nih siapa yang gila, si Doni apa gue....” kata Tante Anis membela diri sambil masih terengah-engah kelelahan.
“Dewi juga pengen dong sayang.... nggak usah enam kali kayak Teh Anis tapi Dewi pengen ML lagi pagi ini sebelum kita pisah... ya sayang.....please...aku pengen dapet kenang-kenangan yang spesial dari kamu. Ok, honey.....”

Tapi tampaknya Dewi menyadari kondisiku yang masih lelah kehabisan tenaga, “Kalau Doni masih cape, pakai tangan atau lidah juga gak masalah kok..... dari tadi aku liat Teh Anis ML dengan kamu kok kayaknya seru banget, Dewi jadi konak kepengen ngerasain juga. Please honey... jilatin punyaku seperti kemarin malam....Dewi suka kok... jilatin terus sampai Dewi puas...pokoknya jangan berhenti sebelum aku puas yaaa...... please honey...eat my pussy....please...”

Dewi yang beberapa jam sebelumnya masih malu-malu dan pura-pura tidak mau ikutan kini terlihat mulai berani merayuku dengan genit, di bukanya pahanya dan kedua tangannya menarik bibir vaginanya ke samping sehingga lubang vaginanya yang mungil tampak jelas. Mau tidak mau akupun kembali terangsang dan mulai melupakan kelelahanku.

Aku ingin membuat Dewi mengalami orgasme berkali-kali tanpa istirahat seperti Tante Anis. Karena penisku masih lemas, kali ini aku memulainya dengan lidahku dulu. Kubaringkan Dewi di atas ranjang dan pantatnya kualasi dengan dua buah bantal supaya lidahku bisa menjangkau vaginanya dengan mudah.

“Nah... gitu sayang... jilatin vagina Dewi... hmmh...enak banget.... Dewi belum pernah orgasme pakai oral... sekarang Dewi pengen ngerasain...ayoo sayang... bikin aku terbang melayang ke bulan....c’mon honey...lick my pussy....mmhh...yesss... I like it...yess...make me cum honey...”

Kujilati bibir dan liang vaginanya lalu kupermainkan klitoris Dewi dengan bibir dan lidahku sementara itu jari-jari tanganku masuk ke dalam liang vaginanya. Tampaknya Dewi sangat menikmati ini, pinggulnya bergoyang-goyang perlahan serta suaranya mendesah-desah sexy sekali. Setelah beberapa menit akhirnya kuputuskan untuk meningkatkan rangsangan dengan jalan menghisap klitorisnya dengan kuat dan menjilatinya dengan cepat sehingga tubuh Dewi mulai bergetar tak beraturan. Sementara itu jari-jariku terus masuk semakin dalam sampai menyentuh g-spotnya. Ini membuat Dewi menjadi makin tak mampu mengontrol dirinya lagi, pinggulnya bergetar keras hingga akhirnya dia mengalami orgasmenya yang ketiga,

“Mmhh Doni... adduhh... Dewi nggak tahan lagi adduuhh... terus isep yang kuat... c’mon honey....mmhh...yess.... I’m cumming....I’m cumming...... aduh enak bangeett.... aahh ..oohh....oohh...!!” tubuh Dewi mengejang keras, giginya terkatup rapat, matanya terpejam dan tangannya mencengkeram kasur dengan kuat. Tapi aku tidak menghentikan permainanku, klitoris dan g-spotnya terus aku rangsang sampai akhirnya setelah hampir semenit berlalu tubuh Dewi yang menggelinjang mulai terkulai lemas kehabisan tenaga.

Aku ingin Dewi merasakan orgasme yang terus-menerus tanpa henti seperti Tante Anis. Dewi masih tergolek lemas di tengah tempat tidur, sementara itu penisku sudah mulai menegang kembali setelah mendapatkan cukup waktu beristirahat.

Dewi yang belum sadar akan apa yang terjadi tiba-tiba kaget karena aku memasukkan penis ke dalam vaginanya yang masih berdenyut-denyut akibat orgasmenya yang terakhir.

“Aduhh... Doni sayang... kamu ganas banget sih.... Dewi masih capek nih.... istirahat dulu yaa....please honey...”

Aku tersenyum dan menggelengkan kepala perlahan sambil terus menancapkan penisku ke dalam vaginanya. Akhirnya tidak berapa lama kemudian Dewi mulai terangsang juga, dia mulai menikmati sodokan penisku dan mulai menggerak-gerakkan pinggulnya dengan ganas. Setelah beberapa menit berlalu akhirnya pertahanan Dewi mulai bobol. Ia mulai kehilangan kendali dan tubuhnya bergetar-getar merasakan orgasmenya yang ke-empat.

“Donni..... mmhh... gimana nih... Dewi bisa keluar lagi sayang....... aduhh... aahh...keluar lagi deh... aahh.....mmhh....aahh...!” kedua tangan Dewi mencengkeram punggungku sementara itu kakinya menjepit kuat pinggulku. Aku membiarkan penisku tertancap dalam-dalam di vagina Dewi dan membiarkan dia menikmati orgasmenya.

Begitu cengkeraman Dewi mulai melunak aku mulai lagi melanjutkan goyangan penisku di dalam vaginanya. Dewi tampaknya kaget setengah mati dan benar-benar tidak siap mendapat serangan beruntun ini.

“Doni... udah dulu dong sayaang... Dewi masih capek.....Dewi lemes banget sayang.... please.... gimme a break, honey....”

Tapi sama seperti dengan Tante Anis sebelumnya, aku tidak ambil peduli. Aku terus menusukkan penisku ke dalam vaginanya, makin lama makin cepat... sampai akhirnya Dewi mulai terangsang lagi untuk yang kesekian kalinya dan kembali ikut bergerak aktif.

“Doni... gantian ya... Dewi pengen di atas....”

Aku lalu merebahkan diriku dan membiarikan Dewi menaiki tubuhku sambil membenamkan penisku ke dalam vaginanya. Kali ini Dewi benar-benar sudah belajar banyak dari Tante Anis, gerakannya mulai ganas dan liar. Desahan-desahan kenikmatannya benar-benar membangkitkan nafsu. Akhirnya Dewi mulai mengalami puncak kenikmatan orgasmenya yang kelima, gerakannya makin liar terutama saat membenamkan penisku ke dalam vaginanya dan desahannya berubah menjadi jerit kenikmatan,

“Donii.... aahh... Dewi udah nggak tahan...uuhh... mmhh .....Dewi keluar lagi.... mmhh...yess....I’m cumming...aahh...aahh......!!”

Akhirnya pinggul Dewi menghujam keras ke bawah membuat penisku terbenam sampai ke ujung vaginanya berbarengan dengan rasa nikmat luar biasa yang menjalari tubuhnya. Dan Dewipun terkulai lemas di atas tubuhku.

Kelihatan Dewi sudah begitu lemas setelah orgasmenya yang kelima, tapi sudah kepalang tanggung. Aku sudah terangsang berat dan belum orgasme. Kubaringkan Dewi yang masih memejamkan mata, lalu perlahan-lahan kubuka pahanya dan kuarahkan penisku ke liang kenikmatannya.

“Aduh...jangan sayang...uuh... sakit sayang... vagina Dewi udah mulai ngilu.... berhenti dulu yaaa... istirahat sebentar aja... nanti boleh lagi....”

Dewi mencoba menolakku, tapi tubuhnya yang sudah lemah tidak kuasa menahan masuknya penisku ke dalam vaginanya. Akhirnya ia tergolek pasrah di bawah berat tubuhku yang menindihnya. Aku tidak ingin menyakiti Dewi, sebaliknya aku ingin memberinya kenikmatan. Maka aku menggerak-gerakkan pinggulku dengan hati-hati supaya penisku bergerak dengan lembut di dalam vaginanya yang sudah over-sensitif. Kalau Dewi terlihat kesakitan aku berhenti sebentar, setelah itu aku lanjutkan lagi dengan gerakan yang lembut.

Sesekali kucumbu bibirnya, lalu kujilati leher dan telinganya agar nafsunya bangkit kembali sehingga akhirnya perlahan tapi pasti libido Dewi mulai naik kembali. Ia mulai bisa merasakan kenikmatan yang diberikan penisku. Matanya mulai terpejam merasakan nikmat dan dari mulutnya yang mungil kembali keluar desahan-desahannya yang khas dan sexy. Beberapa saat kemudian tampaknya Dewi benar-benar sudah pulih, rasa sakitnya sudah tergantikan sepenuhnya dengan rasa nikmat. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dengan ganas sehingga akupun harus mempercepat tusukan penisku untuk mengimbanginya. Aku merasakan Dewi sebentar lagi akan mencapai orgasme, dan begitu juga aku.

“Doni sayang... Dewi mau keluar lagi..... adduhh... adduhh... enak banget... mmhh...c’mon honey... fuck me harder.... yess....aahh...masukin yang dalam sayang... adduuh...mmhh.... adduhh... Dewi keluar lagii....mhh... aahh... I’m cumming....aahh!”
“Ayo Dewi.... kita barengan yaa sayang.......mmhh... aahh...!!”

Akhirnya aku menumpahkan sisa persediaan spermaku yang terakhir ke dalam vagina Dewi, sementara tubuh Dewi menggelinjang hebat menahan nikmat orgasmenya yang keenam.

Kali ini aku benar-benar sudah kehabisan tenaga, seandainya Tante Anis masih mau ML rasanya aku akan menyerah saja. Untunglah kami bertiga sudah benar-benar kelelahan sehingga tidak ada satupun dari kami yang berani meminta lagi. Tanpa sadar hari sudah terang dan waktu menunjukkan jam 7 pagi, setelah beristirahat sejenak kamipun akhirnya mandi bersama dan bersiap-siap meninggalkan hotel.

Di perjalanan pulang masing-masing kami mulai berkomentar tentang perasaan nikmat yang kami alami...
“Doni... kamu keterlaluan, tante sampai lemes dan kaki tante sampai sekarang masih gemeteran. Veggie tante juga rasanya masih kebas... belum pernah tante orgasme sampai sepuluh kali seperti kemarin... kayaknya jatah ML sebulan habis dalam semalem deh....”

“Iya nih... Dewi juga sampai teler banget, tega banget sih kamu sayang... kayak besok kita nggak bisa ketemu lagi aja....! But anyway thanks ya... Dewi belum pernah ML senikmat ini... I feel great.... kapan-kapan Dewi mau ikutan lagi yaa...”

“Aduh... Tante Anis dan Dewi juga nggak kira-kira ganasnya, Doni sendiri juga sudah kehabisan tenaga. Untung aja tante nggak minta nambah lagi, ML yang terakhir dengan Dewi tadi bikin Doni bener-bener udah nggak kuat lagi. Tapi ngomong-ngomong kapan kita bisa ketemu lagi tante... Terus terang ini pengalaman Doni yang pertama ML dengan dua cewek cantik sekaligus dan Doni kayaknya ketagihan pengen lagi...Doni nggak bisa lupain pengalaman ini.”

“Itu gampang diatur... ini kartu nama tante, Dewi juga kerja di kantor yang sama. Nanti kapan-kapan kalau Doni pengen ketemu tinggal telpon aja, bisa kita atur waktunya. Yang jelas tante nggak mau ketemu sendirian dengan Doni, paling tidak tante akan ajak Dewi atau tambah cewek lain biar gantian Doni yang kita habisin sampe nggak bisa bangun...ha...ha...ha...”

“Atau kalau tante mau ketemu tante bisa dateng ke kolam renang hari Jumat, Doni rutin berenang di sana setiap hari Jumat....” kataku memberi alternatif.

Setelah mengantarkan aku ke kolam renang untuk mengambil motor kamipun berpisah. Tante Anis sempat berusaha menyelipkan beberapa lembar uang seratus-ribuan ke kantongku tapi aku menolaknya dengan halus. Aku tidak ingin mengganti petualangan yang bebas dan menyenangkan ini menjadi suatu profesi yang bisa mengganggu kuliah dan masa depanku.

Setelah kejadian itu kami sempat beberapa kali mengadakan pertemuan dan mengulangi pesta seks, kadang di Ciater, kadang di Puncak, atau di Lembang lagi. Sekali waktu Tante Anis pernah mengajak seorang temannya lagi dan itu benar-benar membuatku kehabisan tenaga karena harus mengalami orgasme sampai delapan kali dalam semalam untuk melayani tiga orang wanita yang haus akan kenikmatan syahwat.

Sayang sekali petualangan gila ini terpaksa harus berakhir setelah Tante Anis dan Dewi terlibat perselisihan akibat urusan kantor. Meskipun demikian pengalamanku bersama mereka masih terus kuingat sampai sekarang dan sering menjadi fantasi seksualku saat aku bercinta dengan istriku.