Tuesday, July 29, 2014

Kristin - Agen Properti Yang Cantik



Pagi itu aku ke kantor dengan perasaan riang gembira. Suasana di kantorku memang hari-hari belakangan ini agak ceria. Maklum perusahaan kami baru saja menang tender proyek yang lumayan besar di daerah Indonesia Timur. Sudah dipastikan semua staff dan karyawan bakal mendapat bonus tahunan yang lumayan akhir tahun nanti.

Kira-kira jam sembilan Mbak Amy, sekretaris bos, masuk ke ruanganku.

"Mas Doni, nanti jam sepuluh diminta ke ruangan Pak Herman ya... katanya penting..."
"Ok mbak, terima kasih... nanti saya kesana.."

Pak Herman bosku terkenal sangat disiplin, kalau dia bilang jam sepuluh, jangan pernah berani datang lewat satu menitpun. Maka kira-kira jam 09.55 aku sudah siap di depan ruangannya. Melihat aku datang Mbak Amy langsung menelpon Pak Herman,

"Mas Doni, langsung masuk aja, sudah ditunggu..."

Aku segera masuk, Pak Herman mempersilahkan aku duduk sementara dia masih menelpon istrinya. Setelah berbasa-basi sejenak menanyakan pekerjaan-pekerjaanku Pak Herman langsung mengutarakan maksudnya.

"Kamu dulu lama di Bandung ya..."
"Iya pak, dulu waktu kuliah... ada yang bisa saya bantu pak...?"
"Begini.. ibunya anak-anak pengen beli rumah di Bandung... kamu bisa bantu carikan?"
"Oh siap pak... mau di daerah mana dan kira-kira budget-nya berapa..."
"Coba kamu carikan di daerah Setiabudi atau Dago Atas.. pokoknya yang hawanya masih sejuk tapi akses ke kota nggak susah, terserah kamu, pasti lebih tahu.... kalau soal budget antara 4 sampai 5M gitu.."
"Siap pak, nanti hari Sabtu saya ke Bandung..."
"Jangan khawatir, ini bukan kerja bakti... nanti kalau sudah deal ada komisinya 2% buat kamu... sementara, ini kamu terima dulu buat pegangan selama di Bandung... kamu pasti perlu buat hotel dan transport... kalau kurang tinggal kamu kontak Amy biar ditambah... Ok..?"

Setelah menerima amplop dari Pak Herman aku meminta ijin untuk kembali ke ruanganku. Amplopnya cukup tebal juga, di luar ruangan Mbak Amy menggoda aku,

"Wah bisa nih ikutan makan siang..."
"Ok... siapa takut?...Nanti siang kita ke foodcourt ya...?"

---------------------

Pagi itu aku meluncur ke Bandung sendirian. Aku sudah menyiapkan daftar kandidat rumah-rumah yang sedang di jual, hasil browsing di internet dan iklan-iklan baris di koran. Rupanya ini pekerjaan yang cukup melelahkan karena aku harus melihat langsung kondisi rumah yang dicari. Pak Herman memang mempercayakan semua kepadaku tapi ia tidak mau kalau aku memberinya pilihan cuma berdasarkan foto atau iklan saja.

Setelah berkeliling melihat-lihat beberapa alternatif, akhirnya pilihanku jatuh pada sebuah rumah di daerah Setiabudi. Aku yakin sekali ini pilihan terbaik dan cocok dengan keinginan Pak Herman. Malam itu aku segera menghubungi kembali agen penjualnya, Kristin.

"Hallo Kristin, ini saya... Doni..., yang tadi siang lihat rumah yang kamu tawarkan..."
"Oh iya.. bagaimana pak.. sudah cocok..."
"Yah... mungkin... bagaimana kalau saya besok mau lihat lagi rumahnya, sambil kita bicara lebih detail soal harga atau kondisi-kondisi lainnya?"
"Ok pak, besok kita ketemu dimana?"
"Sambil aku traktir sarapan aja gimana? Di Pizza Hut yang di dekat Cipaganti sekitar jam sembilan pagi..."
"Baik pak...sampai ketemu besok..."

Esoknya seperti rencana semalam, kami bertemu di Pizza Hut. Kristin tampak cantik dan sangat ceria. Tidak seperti kemarin, hari ini Kristin banyak sekali bercerita tentang dirinya  Kelihatan sekali suasana hatinya sedang enak. Dia baru kerja dua bulan di bisnis properti dan belum satupun berhasil menjual rumah. Tapi kali ini dia punya harapan besar kalau bisa melakukan penjualan.

Dari penuturannya dia seorang fresh-graduate, baru lulus S-1 bidang ekonomi 6 bulan yang lalu. Sambil menunggu pekerjaan yang lebih cocok dia merintis karir di bidang properti. Kristin keturunan chinese, tingginya sekitar 160cm dengan ukuran tubuh yang sedang-sedang saja, kulitnya putih mulus seperti kebanyakan wanita chinese di Bandung, rambutnya lurus sebatas bahu, wajahnya manis dan punya lesung pipi kalau tersenyum.

Setelah aku membayar bill kami segera meluncur ke rumah yang ditawarkan. Di perjalanan Kristin terus mempromosikan rumah yang akan dijualnya. Kujelaskan kepadanya kalau yang berminat membeli rumah tersebut adalah bosku, tapi aku diberi kuasa penuh untuk memilihkan rumah yang cocok.

"Saya jamin deh pak.. bos bapak tidak akan kecewa, ini rumah pernah disewa orang bule selama 3 tahun.. tahu aja pak... orang bule nggak akan mau kalau rumahnya jelek... dan semuanya terawat baik, sudah direnovasi dan dicek semua nggak ada masalah.... nanti pak Doni lihat sendiri, rumahnya bersih luar dalam.. lantai duanya juga bagus sekali, ada teras di bagian belakang buat keluarga duduk-duduk santai sambil lihat pemandangan bagus... meskipun sekarang kosong, setiap hari ada orang yang membersihkan rumah dan halaman. Kalau soal harga, asal sudah serius nanti bisa nego langsung dengan yang punya, untuk sementara dia buka harga 4.7 M dulu lengkap dengan semua isinya..."

Aku hanya mendengarkan saja semua omongannya, dalam pikiranku Kristin sudah sangat berharap besar dia bisa melakukan penjualan perdana kali ini. Pasti dia mau melakukan apapun supaya berhasil, apalagi sudah dua bulan lamanya dia kerja keras tanpa memperoleh hasil apa-apa.

---------------

Kami sampai di rumah yang ditawarkan sekitar jam 11 siang dan langsung masuk ke dalam. Kemarin meskipun juga sampai ke dalam, aku memang hanya melihat sekilas saja karena tidak punya waktu lama. Tapi hari ini aku punya kesempatan untuk melihat lebih detail. Memang ucapan Kristin tidak berlebihan, rumah tersebut kondisinya sangat baik dan terawat. Halamannya cukup luas dan lokasinya juga sudah cocok dengan keinginan pak Herman.

"Kalau jam 11 yang beresin rumah sudah pulang pak, biasanya cuma sampai jam 10 pagi...."

Kurang lebih satu jam kami berkeliling di rumah tersebut memeriksa semua ruangan dan perabotan, semuanya memang bagus. Pak Herman pasti akan merasa beruntung bisa membeli rumah ini. Tapi aku berpikir bisa mendapatkan lebih dari sekedar komisi yang dijanjikan Pak Herman, mungkin Kristin bisa memberikan sesuatu kepadaku... Akhirnya kami beristirahat di teras lantai dua, duduk santai sambil menikmati hembusan angin segar di utara kota Bandung.

"Semuanya bagus, mudah-mudahan bos saya tertarik, tinggal keputusannya nanti apa mau mengambil rumah ini atau yang di Dago..." aku sengaja mulai memancing-mancing kekecewaan Kristin.
"Oooh.. jadi masih ada pilihan lain ya pak... saya kira sudah mantap mau yang ini....," terdengar suara Kristin seperti kecewa sekali, raut mukanya tampak berubah 180 derajat dan tubuhnya terlihat lemas.
"Tidak usah khawatir, saya akan rekomendasikan ke bos... tapi bagaimanapun pilihan bukan di saya.. bos yang punya duit.."
"Bantu Kristin dong pak... Kristin sudah dua bulan belum jual satu rumah juga.... ini harapan buat Kristin, bantu ya pak... khan katanya bapak yang diberi kuasa untuk menentukan mana rumah yang mau dibeli... ayolah pak....yakinlah rumah ini bagus... harganya juga masih bisa nego.. bos Pak Doni nggak akan kecewalah..."
"Ya saya bisa mengerti, tapi coba deh Kristin yakinkan saya, terserah bagaimana caranya, supaya saya merekomendasikan rumah ini ke bos...," kataku pura-pura bersimpati sambil memegang tangannya. Kristin terdiam, matanya menerawang jauh, tampaknya dia sedang berpikir keras.

"Pak Doni... bapak bantu Kristin supaya bos bapak beli rumah ini, nanti Kristin bagi sebagian komisi yang Kristin dapat, lumayan lho pak... bagaimana?"
"Ah... jangan, Kristin pasti butuh uang itu, lagipula saya juga sudah ada komisi dari bos...janganlah.. nggak adil rasanya kalau saya masih minta bagian komisi lagi dari kamu," kataku sambil meremas tangannya. Kristin kembali terdiam, tapi tampaknya dia mulai punya harapan melihat aku membuka diri untuk tawar-menawar. Wajahnya sedikit cerah dan matanya mulai berani memandangku dengan tatapan nakal menantang... Kemudian Kristin mendekatkan wajahnya.

"Gini aja pak.. nanti kalau bos pak Doni jadi beli rumah ini....mmm..... kita weekend ke Bali mau pak...? Terserah pak Doni mau ngapain aja.... Kristin yang traktir semua... kita menginap di Legian, " katanya dengan suara perlahan sambil tangannya menarik tanganku ke arah payudaranya. Aku agak terkejut dengan tantangan Krstin yang langsung to the point. Aku tidak menjawab, aku hanya menatap wajahnya sambil mulai meremas-remas payudaranya. Mata Kristin terpejam dan nafasnya mulai terdengar berat. Tak berapa lama kemudian Kristisn membuka matanya,

"Bawa kondom pak...? Kita lanjutin di kamar bawah yuk...?"
"Oh.. ada di mobil, sebentar aku ambil ya....?"

--------------

Kami berdua segera turun ke bawah, aku keluar menuju mobil untuk mengambil kondom sementara Kristin mempersiapkan kamar. Di dalam kamar kulihat Kristin sudah melepaskan baju atasan dan roknya, tubuhnya mulus sekali. Payudaranya yang tadi sempat kuremas tampak masih kencang di balik BH-nya.

Langsung kudekap badannya dari arah belakang dan kuciumi dengan lembut lehernya yang jenjang. Tubuhnya yang putih, mulus, wangi dan terawat baik membuatku tidak ingin melepaskannya. Tangan kiriku meremas payudara di balik BH-nya sementara tangan kananku masuk ke celana dalamnya. Kurasakan jariku menyentuh vaginanya yang ditumbuhi bulu tidak begitu lebat, belahannya terasa sudah basah, klitorisnya juga licin dan kenyal. Kristin mendesah-desah menahan nikmat sementara tangannya berusaha meraih penisku dan meremas-remasnya.

"Buka bajunya sekarang sayang.. aku sudah horny..." katanya sambil melepas BH dan celana dalamnya. Tanpa membuang waktu lagi aku juga langsung melepaskan seluruh pakaianku. Kristin kemudian berbaring di tempat tidur kingsize. Aku sempat tertegun sejenak, terpesona melihat kemolekan tubuh gadis belia ini, Tanpa sadar aku mengusap-usap penisku sendiri yang sudah mulai tegang. Melihat aku terdiam dan mempermainkan penisku sendiri, Kristin memberi isyarat dengan tangannya supaya aku segera ikut dengannya ke tempat tidur, "C'mon honey... I'm ready...."

Aku menghampiri Kristin, tangannya dengan cekatan meraih penisku dan memasukkannya ke dalam mulut. Kristin mengulum penisku dengan penuh birahi, kadang lidahnya menjilat-jilat dari pangkal sampai ujung. Tanganku tidak tinggal diam, melanjutkan apa yang tadi sempat kulakukan, kembali tanganku mempermainkan vaginanya. Dua jariku bergerak keluar masuk liang vaginanya sementara jempolku mempermainkan klitorisnya. Kristin mendesah keenakan sambil terus menjilati dan mengulum penisku. Aku gerakkan tanganku makin kuat sehingga membuat Kristin menggelinjang keenakan dan cairan vaginanya menetes keluar. "Oooh..mmmhh... mau pakai kondomnya sekarang sayang...?" Kristin kelihatan sudah mulai tidak tahan.

Begitu kondom selesai kukenakan Kristin langsung mendorongku. Aku pasrah dan menurut saja seperti kerbau yang dicucuk hidungnya. Kristin mengambil posisi di atas dan mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Perlahan dia turunkan pinggulnya sehingga penisku masuk ke dalam vaginanya yang sudah basah. Uh gila... vaginanya sempit sekali... seperti masih perawan. Untung saja cairan vagina Kristin yang keluar cukup banyak sehingga penisku bisa lancar masuk ke dalam meski seperti dijepit rasanya. Kristin menekan pinggulnya dengan kuat ke bawah sehingga penisku menyentuh ujung vaginanya dan membuat Kristin setengah menjerit "Aagh..."

Mata Kristin terpejam dan mulutnya terus mendesah-desah sementara pinggulnya bergerak turun-naik dengan cepat. Ketika tanganku mulai mempermainkan payudara dan putingnya, Kristin makin lama makin menggila, kedua tangannya mencengkeram apapun yang bisa diraihnya. Kadang tangannya meremas kedua lengaku, kadang mencengkeram kasur tempat tidur, Kristin makin tidak bisa mengendalikan dirinya. Sensasinya sungguh luar biasa.

Dengan ritme cepat sepeti ini rasanya Kristin tidak akan bertahan lama. Benar saja, hanya butuh waktu kurang dari 7 menit Kristin mulai menggelinjang hebat dan menjerit meluapkan orgasmenya, "Aggh...ooh... aaaaaaaagh....." Tubuhnya yang mulai basah oleh keringat langsung terkulai lemas di atas tubuhku. Kubiarkan Kristin beristirahat merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasmenya selama beberapa saat sementara penisku masih keras tertancap di dalam vaginanya.

Tubuh gadis cantik yang putih dan mulus, yang tergolek di atas tubuhku, membuatku tergoda untuk melanjutkan. Kucumbu lembut bibirnya dan kubelai mesra rambutnya. Kristin merespon dengan mulai melumat bibirku dengan bibirnya yang tipis. Perlahan-lahan kulepaskan tubuh Kristin dan kubaringkan dia di sampingku. Kini gantian aku yang di atas, kusibakkan pahanya dan tampak belahan vagina Kristin yang basah sedikit membuka. Indah dan sungguh merangsang.

Langsung kubenamkan penisku yang masih keras ke dalam lubang vagina Kristin yang sudah menanti dipuaskan lagi. "Ooohh...," Kristin kembali mendesah saat penisku tertancap dalam di vaginanya. Kugoyangkan pinggulku naik-turun sambil berputar-putar dengan irama yang cepat sehingga membuat Kristin kembali menggelinjang. Tangannya mencengkeram keras punggungku. Rasanya kukunya melukai punggungku, tapi tidak begitu kupedulikan karena kenikmatan yang kurasakan dari jepitan vaginanya jauh melebihi semua rasa. Akhirnya puncak kenikmatan mulai mendekati kami, kupeluk Kristin erat-erat.

"Kristin... aku mau keluar sekarang sayang...mmmhhh... oooh.."
"Iya sayang... keluarin aja... Kristin juga mau keluar lagi... aaggghhh...ooh.... aaaaghhh"
"Agh.... Kristiiin...oooohhh...."
"Aaggh... I'm cummiiiiiiing honeyyyy....ooohhhh..."

Vagina Kristin terasa menjepit hebat penisku saat spermaku muncrat berkali-kali. Setelah gelombang orgasme luar biasa yang kami rasakan mulai mereda kami berpelukan melepas lelah. Kristin mengecup lembut bibirku dengan ringan.

"Enak sayang....?"
"Iya Kristin... kamu luar biasa...."
"Kita bisa begini lagi di Bali nanti.... mau khan?" katanya merayu dengan manja.
"Mau doong... aku usahain jadi deh..."
"Nah... gitu dong sayang... nanti aku servis yang lebih lagi... semalaman...."
"Beneran ya...? Tapi kalau akhirnya tetap nggak jadi juga gimana sayang...," kataku menggoda.
"Hmmm... ya boleh aja kita ke Bali... tapi kamu yang bayarin ya...," katanya sambil tertawa.

Tidak terasa hari sudah menunjukkan jam tiga sore ketika kami keluar dari rumah itu dengan perasaan puas. Aku mengantarkan Kristin pulang ke rumahnya di daerah Pasteur dan selanjutnya akupun langsung meneruskan perjalanan kembali ke Jakarta.

Seperti yang sudah kuduga, Pak Herman akhirnya setuju membeli rumah yang kupilihkan. Dia dan istrinya sangat puas. Aku sendiri sudah tidak ikut lagi ke Bandung untuk urusan itu. Tidak lama setelah proses jual-beli selesai Kristin menelponku menanyakan kapan aku punya waktu untuk weekend ke Bali. Dia bilang kalau bisa berangkat barengan dari Bandung hari Jumat malam supaya bisa menginap dua malam di Bali. Wow, ini pasti akan menjadi weekend yang luar biasa...


Sunday, July 27, 2014

Semalam Bersama Trainer Cantik



Setelah beberapa bulan aku bekerja di Jakarta, aku diutus oleh perusahaan untuk mengikuti workshop pengenalan produk-produk baru yang diadakan di daerah Puncak. Kami akan bermalam disana selama tiga hari bersama sekitar 30 peserta lain dari perwakilan kantor cabang di kota-kota lain. Dari kantorku yang diutus dua orang: aku dan Sinta. Buatku kegiatan ini tentu menjadi selingan yang menyenangkan dari pekerjaan rutin sehari-hari yang melelahkan.

Selama pelatihan peserta ditempatkan di hotel yang cukup nyaman, sekamar berdua. Tentu saja aku tidak dengan Sinta tapi dengan peserta pria lain, Joko wakil dari cabang kota Jogja. Secara umum pelatihan berjalan dengan menyenangkan, presentasi produk-produk baru dengan berbagai fitur yang canggih membuat peserta terus tertantang untuk mengikuti workshop hingga akhir. Tapi buatku yang paling menarik bukan itu, melainkan Ibu Dian, trainer cantik yang sekaligus manajer cabang di kota Semarang. Untuk ukuran wanita Ibu Dian cukup tinggi, mungkin sekitar 165cm, dengan postur tubuh yang sedang, tidak kurus dan tidak gemuk, bentuk payudaranya juga sedang-sedang saja. Taksiranku usianya kurang lebih sekitar 35 tahun. Tapi dari awal aku suka sekali dengan sikapnya yang anggun, cara bicaranya yang tegas tapi lembut, dan tentu saja wajahnya yang manis dan kulitnya yang putih. Semua peserta pria yang aku tahu setuju kalau Ibu Dian adalah primadona di workshop ini. Tapi statusnya sebagai seorang manajer dan sekaligus trainer di workshop ini membuat tidak ada yang berani bersikap kurang ajar kepadanya.

Kalau Ibu Dian memberikan presentasi, aku merasa semangat sekali, selalu aku berusaha mencari perhatiannya dengan banyak bertanya. Setiap kali 'break' aku selalu berusaha mendekati Ibu Dian dan mengobrol dengannya, mulai dari materi pelatihan sampai ke masalah-masalah lain. Setiap ada kesempatan aku mencoba memuji dan menyanjungnya, tentu dengan cara yang sehalus mungkin supaya tidak terkesan dibuat-buat dan sekedar cari perhatian. Siapa wanita yang tidak suka dipuji dan dikagumi? Akhirnya upayaku membuahkan hasil, aku dan Ibu Dian menjadi dekat, kami selalu menyempatkan ngobrol berdua setiap ada kesempatan. Ibu Dian dengan bangga menunjukkan foto-foto ketiga anaknya, yang tertua kelas 2 SMP dan yang terkecil masih kelas 3 SD... Tampak dia sangat sayang sekali dengan ketiga anaknya. Tapi tidak terlihat foto suaminya sama sekali.

"Foto bapaknya anak-anak mana bu...?" tanyaku.
 "Mm..kami sudah hampir tiga tahun ini cerai... sekarang jadi single-parent..."
"Oh maaf bu...."
"Ah nggak apa-apa...awalnya memang berat tapi lama kelamaan ya biasa aja kok..."
"Tapi saya juga lega bu... kalau saya dekat dengan ibu seperti sekarang nggak perlu takut ada yang cemburu ya bu..." kataku setengah bercanda.
"Maksud kamu apa..." tanya Ibu Dian dengan mata menggoda.
"Mmm...anu..mungkin saya bisa lebih dekat lagi dari yang sekarang ya bu he..he..he..."
"Ah kamu ini..banyak yang masih muda dan cantik kok malah mau dekat dengan yang lebih tua dan sudah punya anak tiga...ada-ada aja..., kamu tahu nggak, kalau saya perhatikan ada peserta yang sepertinya suka sama kamu, .itu tuh..yang rambutnya pendek...kalo gak salah namanya Sinta.."
"Oh..Sinta... dia itu teman kantor saya bu... kami memang dekat karena satu divisi tapi dia sudah ada suaminya, saya nggak mau ganggu dialah...nanti bisa panjang urusannya...."
"Oh I see....saya kira...hmm... kamu sendiri gimana...jangan-jangan sudah punya dua istri..."
"Ah ibu ini...saya pacar aja nggak punya..."
"Beneran nih...kalau gitu kita bebas yaa...he..he..he..," Ibu Dian tertawa kecil sambil mencubit lenganku, aku pura-pura kesakitan.
"Oh iya... supaya kita tambah akrab, kamu jangan panggil saya ibu kalau sedang berdua seperti ini... biar nggak kaku,,,panggil Dian aja ya...kalau di depan orang-orang atau di acara workshop aja kamu panggil saya ibu..."
"Ok deh bu..eh...Dian..."

----------------

Hari ini adalah hari terakhir pelatihan, jam 7 malam workshop ditutup dengan bagi-bagi sertifikat dan berfoto bersama. Setelah itu acara bebas sebelum kami pulang ke kota masing-masing esok hari. Setelah makan malam Joko, Sinta, dan teman-teman lain mengajakku ke diskotik. Mereka tahu kalau aku sedang dekat dengan Ibu Dian, "Ajak Ibu Dian sekalian biar kita hepi-hepi..." kata Joko. Tapi Ibu Dian tampaknya tidak begitu menikmati acara dugem semacam itu. "Ah..enggak ah aku lagi males... kami mau ngobrol di cafe aja..." kataku menolak halus.

Sampai jam 10 malam kami masih asyik ngobrol di cafe, semua peserta workshop sudah tidak ada lagi, hanya ada beberapa pasangan dan tamu hotel di cafe tersebut. Rasanya Ibu Dian semakin cantik dan menggairahkan malam itu. Dingin udara Puncak yang menusuk tidak terasa, tertutup oleh hangatnya pembicaraan kami. Pada beberapa kesempatan aku coba memancing-mancing suasana dengan mengungkapkan secara halus kalau aku menginginkan yang lebih dari biasanya. Ibu Dian tampaknya memberi sinyal kalau diapun demikian. Sebagai seorang janda yang sudah lama berpisah dari suami sangat normal kalau Ibu Dian menginginkan interaksi yang intim dengan lelaki.

Setelah aku benar-benar yakin Ibu Dian juga menginginkan hal yang sama dengan apa yang ada di benakku, aku beranikan untuk melangkah lebih jauh, Aku genggam tangannya dengan lembut, kuusap-usap punggung tangannya, "Dian..kamu cantik dan seksi sekali malam ini...besok kita berpisah, aku pasti kehilangan sekali. Kalau kamu mau kita lanjutin pertemuan di kamar yuk...aku mau lebih dari sekedar ngobrol... mm...aku mau peluk kamu... aku juga mau cium kamu...boleh kan... aku mau membelai kamu... aku mau bercinta dengan kamu malam ini... aku mau ini jadi malam yang spesial buat kita berdua sebelum kita berpisah..." kataku merayunya. Ibu Dian seperti yang sudah kuduga tidak menolak, "Kenapa enggak Don...aku juga mau, kamu tidur di kamarku aja malam ini ya...?" Mendengar jawaban tersebut langsung kukecup lembut bibirnya selama beberapa saat.

Seolah tidak ingin membuang waktu, setelah membayar bill Ibu Dian langsung mengajakku ke kamarnya di lantai lima. Tidak seperti para peserta workshop, sebagai seorang trainer dari perusahaan Ibu Dian mendapat jatah kamar sendiri, kelas eksekutif. Di dalam lift hanya kami berdua, aku dan Ibu Dian sudah tidak sabar menunggu sampai kamar, kami mulai bercumbu di dalam lift. Seperti ingin meluapkan hasrat yang lama terpendam, Ibu Dian langsung memainkan lidahnya dan meraba daerah selangkanganku. Aku langsung menyambutnya dengan menjulurkan lidahku sedalam mungkin untuk melayani permainan lidah Ibu Dian sementara tanganku meremas-remas payudaranya yang hangat dan lembut. Sayangnya tidak lama kemudian bel berbunyi menandakan kami sudah sampai di lantai lima.

Kami langsung bergegas menuju kamar Ibu Dian. Begitu tiba di kamar, Ibu Dian langsung mengajakku mandi bareng. Aku begitu takjub melihat kemolekan tubuh Ibu Dian yang masih tampak kencang dan sexy. Sambil bermandikan pancuran air hangat dari shower, aku menyabuni tubuh Ibu Dian dan Ibu Dian sebaliknya juga menyabuni aku. Tidak lupa kami saling merangsang organ sensitif masing-masing, aku meremas payudara Ibu Dian sementara Ibu Dian terus meremas dan mengocok-ngocok penisku yang sudah sangat tegang.

"Kita ke tempat tidur sekarang ya Don... punyamu sudah keras...aku kepengen banget ngerasain punya kamu..."
"Iya sayang... aku juga... aku mau jilat punya Dian ya..."

Aku rebahkan tubuh Ibu Dian di tempat tidur, kukangkangkan kaki Ibu Dian sehingga belahan vaginanya yang tertutup bulu-bulu agak tebal tampak terlihat kemerahan. Tidak tahan melihat pemandangan erotis yang sangat merangsang syahwat, aku langsung menjilati vagina Ibu Dian yang sudah basah oleh lendir. Ibu Dian mengerang keenakan dan kakinya terasa bergetar menahan nikmat, Libidonya yang terpendam mulai menemukan jalan keluar untuk dipuaskan, hanya beberapa menit setelah kujilati vaginanya Ibu Dian sudah mulai tidak bisa menahan diri.

"Oh...aaah... Doni...enak banget...aduuuh... udah lama aku nggak ngerasain yang kayak gini...aduuuh...mmmhhh...terus Don...."

Desahan Ibu Dian membuatku tambah semangat, sambil terus kujilati vagina dan klitorisnya, tanganku juga meremas-remas payudara Ibu Dian yang kenyal. Tidak berapa lama kemudian Ibu Dian mulai bergerak tidak terkontrol saat aku menghisap-hisap dan mempermainkan klitorisnya dengan lidahku. Tangannya mencengkeram keras kepalaku.

"Aduh Don...mmh... aku nggak tahan... mau keluar... aduuuh...."
"Keluarin sayang...keluarin aja.... biar puass..."
"Aaaagh...addduuuh...mmhhh... ooohh....... ooohhhh... Doniiii....aghh..."

Ibu Dian menggelinjang hebat sambil menekan kepalaku lebih keras. Tidak berapa lama kemudian Ibu Dian terkulai lemas tanda sudah menikmati orgasmenya. Vaginanya semakin merah dan basah oleh cairan orgasme. Mata Ibu Dian terpejam sementara mulutnya sedikit membuka seolah masih menikmati sisa-sisa orgasmenya. Aku kecup ringan bibirnya. Tidak berapa lama kemudian Ibu Dian membuka mata dan tersenyum nakal.

"Sekarang gantian aku yang isep punyamu ya Don..."
"Iya sayang.. aku juga sudah pengen...."

Ibu Dian langsung bangkit dari tidurnya dan memposisikan dirinya di antara selangkanganku. Dikulumnya penisku yang sudah mengeras sejak tadi. Ibu Dian cukup mahir juga melakukan blow-job, sambil mulutnya menghisap penisku lidahnya terus melilit-lilit kepala penisku dan sesekali dia menjilat-jilat seluruh batang penisku lalu mempermainkan lubangnya sambil tangannya meremas-remas buah pelirku dengan lembut sehingga membuat seluruh tubuhku bergetar menahan rasa nikmat.

"Aduh Dian... enak sayang... kamu pintar sekali... aku belum pernah ngerasain yang kayak gini sayang.....beneran.. enak banget sayang...uuuh...."

Ibu Dian hanya tersenyum mendengar pujianku, blow-jobnya makin menggila membuat penisku terasa mengeras lebih dari biasanya. Boleh dikatakan aku sangat jarang bisa orgasme dengan oral-sex seperti ini, selama beberapa tahun terakhir bisa dihitung jari mungkin. Dan itupun biasanya setelah waktu yang lama, di atas 15 menitan. Tapi blow-job Ibu Dian memang luar biasa, tidak sampai 5 menit aku mulai merasakan getaran-getaran yang menandakan akan datangnya orgasme.

"Dian... kayaknya udah mau keluar...aduuuh... enak banget....ahhh... Diaan..."
"Mmh...keluarin sayang... keluarin aja... aku tampung di mulut... "
"Agh... Diaaaan...aduuuh.. nggak tahan... agggh... aghh....oooooooohhh....."

Cret..cret.. terasa penisku menembakkan seluruh muatannya ke dalam muliut Ibu Dian yang terus menghisap hebat penisku. Seluruh badanku terasa bergetar dan terbang melayang entah kemana... Belum pernah aku merasakan blow-job senikmat ini. Ibu Dian masih terus menghisap penisku yang sudah kehabisan amunisi, dia tampak juga sangat menikmati. Ibu Dian baru melepaskan penisku setelah benar-benar lemas dan kehabisan tenaga. Sebagian besar spermaku tampak ditelannya, hanya ada sedikit sisa-sisa sperma yang menetes dari bibirnya. Setelah membersihkan sisa-sisa sperma di sekitar mulutnya Ibu Dian berbaring di sampingku dan mengecup bibirku. Kami berpelukan sambil memulihkan tenaga yang terkuras.

Tidak berapa lama kemudian tenagaku terasa mulai pulih. Dekapan hangat tubuh telanjang Ibu Dian membuat libidoku mulai naik lagi. Tanganku mulai merayap ke arah selangkangannya dan jari-jariku mempermainkan celah vagina Ibu Dian yang hangat dan terasa masih basah oleh lendir. Ibu Dian merespon dengan meremas-remas penisku yang juga mulai menegang.

"Masukin ya Don...aku pengen ngerasain punya kamu di dalam, bawa kondom kan?"
"Ah.. maaf, aku nggak bawa... nggak apa-apalah, nanti di keluarin di luar..."
"Yah... aku lebih suka dikeluarin di dalam tapi pake kondom... lebih terasa..."
"Mmm... ok.. kalau begitu aku ambil dulu ke kamar ya..."
"Jangan lama-lama... aku tunggu ya sayang....."

Aku segera berpakaian dan bergegas menuju kamarku. Sampai di depan kamar aku memasukkan kunci dan membuka pintu. Tapi rupanya Joko memasang gerendel pintu dari dalam sehingga pintu kamar tidak bisa sepenuhnya terbuka.

"Joko..Joko... tolong bukain pintu,, kenapa dikunci dari dalam sih... ini aku... "
"Ooh... bentar Don...aduuh... aku kira kamu nggak tidur disini..."

Sepintas kulihat bayangan Joko melompat dari tempat tidur, suara Joko terdengar agak panik. Dan setelah itu sepertinya dia berbisik-bisik entah dengan siapa lalu kudengar suara kaki bergerak terburu-buru seperti setengah berlari. Tampaknya ada orang lain di kamar itu selain Joko. Pintu terbuka dan tampak Joko dengan t-shirt dan celana yang agak berantakan seperti terburu-buru dipakai. Langsung aku sadar kalau Joko tengah membawa seorang wanita di kamar.

"Ada siapa di kamar Jok? Udah bilang aja.. nggak apa-apa kok, aku nggak tidur di sini malam ini, cuma mau ngambil barang di tas aja...," kataku sambil melirik ke arah kamar mandi yang tertutup.

Joko cuma cengar-cengir malu-malu sambil mengetuk kamar mandi. Pintu kamar mandi terbuka dan tampaklah Sinta yang tersenyum kecut malu-malu dengan pakaian seadanya, wajahnya agak pucat seperti maling tertangkap basah. Aku langsung mengerti situasinya, tanpa banyak kata-kata aku langsung mengambil sekotak kondom di tasku dan keluar dari kamar.

"Ok Joko, Sinta, kita ketemu besok di tempat sarapan ya... enjoy yourself... aku mau tidur di kamar Ibu Dian malam ini...."

Joko tampak merasa lega, tapi Sinta terlihat masih tegang. Dia tahu kalau aku kenal suaminya dan tentu sangat khawatir kalau-kalau aku memberitahu suaminya perihal perselingkuhan ini. Tapi aku tidak terlalu memikirkan soal itu, yang terpikir saat itu hanya keinginanku untuk segera menikmati tubuh Ibu Dian.

Kuketuk kamar Ibu Dian, dan ia langsung membukakan pintu. Ibu Dian tampak mengenakan daster.

"Ih.. aku kira nggak balik..., " katanya manja.
"Mana mungkin nggak balik sayang.... aku pengen banget making-love dengan kamu malam ini... nggak mungkinlah acara puncak malah dilewatkan... bisa nyesel aku..."

Langsung kucumbu bibir Ibu Dian dengan penuh nafsu. Tanganku mengangkat dasternya dan meremas-remas pantat Ibu Dian yang montok. Ternyata Ibu Dian tidak memakai apa-apa di balik dasternya. Aku segera melepas seluruh pakaianku sementara Ibu Dian juga melepaskan dasternya dan mengajakku ke tempat tidur, kami kembali bercumbu dengan hangat sambil saling meremas-remas.

"Mmmhh... pisangnya sudah keras... mau dimasukin sekarang?" tanya Ibu Dian.
"Iya.. mau.. tapi bentar aku pake kondom dulu..."
"Jangan... nanti aja kalau sudah mau keluar, sekarang langsung dimasukin aja...biar lebih terasa... "

Langsung kubuka paha Ibu Dian dan kuarahkan penisku ke lubang vaginanya yang tampak basah. Bleessss...dengan sentakan lembut penisku terbenam di dalam lubang vagina Ibu Dian yang hangat. Mata Ibu Dian terpejam dan mulutnya berdesah-desah menahan nikmat. Sambil terus menusukkan penisku berulang-ulang aku menjilati leher dan telinga Ibu Dian sambil tanganku meremas-remas payudaranya sehingga membuatnya menggelinjang. Beberapa menit kemudian kami berganti posisi. Ibu Dian membalikan badannya dan mengambil posisi nungging. Belahan vaginanya tampak jelas dan sangat mengundang birahi. Langsung kuarahkan penisku masuk ke dalam liang vagina Ibu Dian. Tampaknya dia sangat menikmati posisi ini, tidak henti-hentinya mulut Ibu Dian berdesah-desah mengekspresikan kenikmatan yang dirasakannya setiap kali aku menusukkan penisku.

"Oooh...aaahhh...mmh... Doni... mmhh.... aaahhh... mmmhhh.... ooohh... tusuk yang kuat sayang... enak... ooh... rasanya punya Doni mentok sayang... aduh... enak banget... aaaahhh..."

Setelah kurang lebih lima menitan dalam posisi ini kamipun berganti posisi lagi. "Gantian aku yang di atas ya... ," kata Ibu Dian. Dalam posisi ini Ibu Dian semakin menampakkan keganasannya. Seolah tidak mau kehilangan penisku, Ibu Dian terus menggiling-giling penisku yang tertancap dalam di vaginanya dengan ganas tanpa sedikitpun melepaskan cengkeramannya. Liang vagina Ibu Dian terasa kuat menjepit penisku. Aku hanya bisa pasrah menikmati sensasi luar biasa vagina seorang janda yang haus kenikmatan sambil tanganku terus meremas-remas payudaranya yang menggantung indah.

"Aduuhhh Doni... enak.. aahh..aku bisa keluar sebentar lagi...."
"Iya sayang aku juga mulai nggak tahan..."
"Mau pake kondom sekarang sayang...? Biar bisa dikeluarin di dalam...."

Aku mengangguk, Ibu Dian langsung melepaskan penisku dari cengkeraman vaginanya dan berbaring di sampingku. Setelah kupasang kondom langsung kumasukkan panisku kembali ke lubang vagina Ibu Dian yang sudah makin merah menanti untuk dipuaskan. Kami berdua sudah betul-betul dekat dengan puncak kenikmatan. Ibu Dian yang kini ada di posisi bawah menggelinjang hebat setiap kali aku menusukkan penisku dalam-dalam. Akupun merasakan gelombang orgasme sedang mulai terbentuk, aku menusukkan penisku makin cepat dan makin dalam sehingga menimbulkan suara kecipak yang berirama.

"Ahh... Doniii... aku mau keluaaar.... mmmh Doni... addduuuuh...yang keras... terusss...teruuuss... aduuuhhh... ooohhh...aaaaggghhhhh......."
"Ooh Dian...aahh...aku keluaarrr sayang...... aaaghhh...aagghhh"

Srr...srr... terasa penisku memuntahkan sperma. Aku langsung terkulai lemas di atas tubuh Ibu Dian yang juga lemas setelah merasakan orgasmenya. Kulepaskan penisku yang mulai melemas karena tenaganya terkuras oleh kenikmatan orgasme yang luar biasa. Ibu Dian langsung meraih penisku dan melepaskan kondom yang membungkusnya, diamatinya sejenak spermaku yang tertampung di dalamnya sebelum di buang ke tempat sampah.

"Hmm.. banyak juga ya.... "
Aku cuma tersenyum, "Iya... memangnya kenapa...?"
"Nanti mau lagi...?" tanya Ibu Dian manja menggoda.
"Boleh... tapi istirahat dulu ya... "

Setelah beristirahat sambil berpelukan selama kurang lebih 15 menit, Ibu Dian kembali mengajakku untuk melanjutkan permainan. Kamipun kembali bergumul dengan berbagai posisi sampai kami berdua akhirnya terpuaskan dan betul-betul merasa lelah.

Aku terbangun kira-kira jam setengah delapan pagi dan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku bangunkan Ibu Dian dengan mengusap-usap vaginanya yang terasa hangat sambil menciumi lehernya. Pagi itu kami bercinta lagi dua kali, sekali di tempat tidur dan berikutnya di kamar mandi. Tapi karena kehabisan kondom, yang di kamar mandi spermaku kukeluarkan di luar. Benar-benar kami berdua merasa puas. Workshop yang diadakan perusahaanku kali ini betul-betul sangat berkesan buatku, dan mungkin juga buat Ibu Dian. Sebelum kami berpisah Ibu Dian memintaku untuk datang ke Semarang jika ada waktu. Dia memberiku kartu nama dan menuliskan sebuah nomor HP tambahan di baliknya. "Ini nomor khusus urusan pribadi dan keluarga...," kata Ibu Dian. Tentu saja aku tidak menolak tawaran luar biasa ini.

Tuesday, May 13, 2014

Threesome Bersama Mbak Mar Dan Temannya



Sabtu sore itu aku berkunjung ke rumah Tante Nani. Sengaja kupilih Sabtu awal bulan karena biasanya Tante Nani dan Om Hadi sekeluarga pergi berlibur ke villanya dan aku bisa menikmati kehangatan tubuh Mbak Mar yang montok semalaman.. Aku sudah siapkan koleksi VCD porno untuk meningkatkan kadar libido. Benar saja, saat aku datang ke rumahnya, kulihat mobil BMW Om Hadi sudah tidak ada. Langsung saja aku buka pintu pagar dan memarkirkan motorku di dalam garasi. Mendengar aku masuk, Mbak Mar langsung menyambutku, "Eh, Mas Doni...ayo masuk mas...Bu Nani dan Pak Hadi seperti biasa...liburan ke villa, baru pulang besok sore..." katanya sambil tersenyum nakal penuh arti.

Pintu pagar kukunci untuk memastikan tidak ada orang yang masuk. Begitu masuk ke dalam rumah langsung kedua payudara Mbak Mar kuremas dengan gemas dan lehernya kujilati,

"Mhh...Mbak Mar sayangku..aku dah nggak sabar nih ...."
"Uuuh...sabar dulu mas...," kata Mbak Mar setengah berbisik sambil mencoba menjauhkanku.
"Lho...kenapa?" kataku heran, karena biasanya Mbak Mar langsung menyambut.
"Anu..ada temanku datang..dia ada di dalam...jadi kita mainnya nanti aja kalau dia udah pulang...udah dari tadi kok..paling sebentar lagi juga pulang"
"Oops maaf mbak...aku nggak tahu..."
"Nggak apa-apa..ayo aku kenalin...."

Di dalam kulihat tidak ada siapa-siapa, "Lho mana temannya mbak?" tanyaku. "Oh...mungkin sedang sholat di kamar.. tunggu aja."  Tidak berapa lama kemudian muncul seorang wanita dari kamar Mbak Mar, kurang lebih usianya seumuran mbak Mar, mungkin sekitar 35 atau 36 tahun, tapi tubuhnya lebih langsing dan wajahnya terlihat manis meski berjilbab. Mbak Mar memperkenalkan temannya kepadaku, namanya Mbak Ningsih, sama sama orang Pekalongan. Kata Mbak Mar dulu Mbak Ningsih ini cewek paling cantik di sekolahnya. Menurutku, sekarangpun kecantikannya masih tampak jelas terlihat. Kebetulan dia datang ke Bandung karena adik suaminya menikah dengan orang Bandung. Sementara suaminya sibuk dengan acara keluarga, dia menyempatkan mampir ke tempat Mbak Mar, teman lamanya. Selanjutnya kami bertiga mengobrol sambil nonton acara TV, tentu saja aku lebih banyak sebagai pendengar yang baik dan komentator.

Tiga jam sudah berlalu tidak ada tanda-tanda Mbak Ningsih berniat pulang. Malah kelihatannya makin malam obrolan Mbak Ningsih dan Mbak Mar makin seru, maklum mereka dulu cukup akrab dan sudah lama tidak bertemu.

"Mar, nggak terasa ya kita ngobrol, sekarang udah jam 9 lebih, kalau begitu aku tidur sini aja ya malam ini...lagipula males dengan suamiku, di tempat adiknya rame banget...acara akad nikahnya udah beres tadi pagi trus nggak ada apa-apa lagi, paling aku besok pagi aja harus pulang, soalnya sorenya ada resepsi, nggak apa-apa khan...toh nggak ada siapa-siapa lagi di rumah..."
"Oh..gitu..ya nggak apa-apa sih..aku seneng-seneng aja kita bisa ngobrol lagi...tapi apa nggak dicari suamimu?" Mbak Mar terlihat pura-pura senang. "Ah biarin aja..aku udah bilang kalau mau ketemu kamu kok,.."

........................................

Duh..sialan...bakalan batal nih rencanaku menikmati tubuh Mbak Mar yang montok. Aku pergi ke dapur dan memanggil Mbak Mar, pura-pura perlu sesuatu.

"Wah... mbak..kayaknya nggak jadi rencana kita malam ini...kalau gitu aku pulang aja ya? Kapan-kapan aja kalau pas om dan tante pergi ke villa lagi..." kataku setengah berbisik
"Yaah...sayang banget...padahal Mbak udah kepengen banget...maklum udah sebulan kita nggak begituan...kalau bisa Mas Doni nginep juga aja.... khan banyak kamar yang kosong...besok pagi kalau temanku sudah pulang kita bisa main...gimana? Atau nanti kalau temanku sudah tidur aku ke kamar Mas Doni...," katanya setengah berharap sambil tangannya mencubit pantatku dan meraba penisku.

Aku mulai ragu-ragu..., Mbak Mar masih terus mendesakku, "Ayolah Mas Doni...nginep sini aja, nanti aku bikinin nasi goreng istimewa kesukaan Mas Doni..."

Tiba-tiba terlintas pikiran mesum di otakku, "Mbak...aku mau deh nginep sini, tapi selain dapat nasi goreng gimana kalau kita ajak Mbak Ningsih ikutan main bertiga? Dia mau nggak kira-kira...?"

"Iiihh kamu ini nakal banget...Mbak Ningsih itu masih ada suaminya lho..."
"Tapi khan suaminya nggak tahu dan nggak akan curiga...gimana mbak?..Kita coba ajalah..ngak ada ruginya...kalau dia nggak mau ya udah ga apa-apa...kita main berdua besok pagi..."
"Mmm...ya terserah Mas Doni...tapi gimana caranya...? Mbak malu ngomongnya...takut dia nggak mau dan tersinggung sama Mbak Mar...jadi malah repot nanti..."
"Udah tenang aja..itu urusan saya..., Mbak Mar pura-pura kasih ide ganti acara TV dengan nonton VCD..aku bawa banyak VCD yang hot....selanjutnya kita lihat nanti..."

Kemudian kami kembali ke ruang TV menemani Mbak Ningsih yang masih asyik nonton. Sesuai janjinya Mbak Mar membuatkan kami nasi goreng istimewa. Dan sambil makan Mbak Mar mulai dengan rencana kami, "Ah.. bosen ya... nonton TV terus, acaranya nggak ada yang bagus... coba Mas Doni lihat di rak itu ada film yang bagus nggak...?" Aku segera pura-pura memeriksa rak yang dimaksud,

"Ah...nggak ada mbak, kebanyakan film kartun....nggak serulah...masak nonton film kartun...tapi aku bawa film untuk orang dewasa...Mbak Mar mau?"
"Maksudnya film dewasa..film apa sih..."
"Ya gitulah...film yang ada adegan hotnya....yang jelas bukan untuk anak-anak...," kataku sambil tertawa kecil.

Terlihat Mbak Mar membisikkan sesuatu ke telinga Mbak Nining, mereka berdua tertawa cekikikan.
"Gimana Ning...kita nonton VCD aja biar seru... sekali-sekali khan gak apa-apa..."
"Ah..terserah kamu aja Mar...toh nggak ada yang masih di bawah umur disini..."

Melihat lampu hijau, langsung kukeluarkan 4 keping VCD porno koleksiku, sengaja kupilih yang ada adegan threesome-nya. Kami bertiga menikmati tontonan video panas di sofa, Mbak Mar di tengah sementara aku di sebelah kanannya dan Mbak Ningsih di sebelah kirinya. Biar suasana mendukung, beberapa lampu sengaja kumatikan supaya cahaya ruangan jadi agak remang-remang. Selanjutnya adegan hot dan suara-suara desahan nikmat di layar TV 32 inch terus memenuhi ruangan dan membuat suasana mulai memanas dan membangkitkan kemistri libido. Mbak Ningsih awalnya menonton dengan canggung dan malu-malu, akhirnya ia melepaskan jilbabnya karena mulai merasa kegerahan. Sementara itu Mbak Mar posisi duduknya terus berubah-ubah, tangan kirinya mulai meraba-raba payudaranya sendiri dan tangan kanannya mengusap-usap daerah selangkangannya. Akupun juga terangsang hebat, kedua tanganku berganti-gantian meremas penisku yang terasa sangat keras dan siap meledak.

Dua keping VCD sudah selesai kami tonton, di VCD ketiga Mbak Mar mulai kehilangan kontrol. Dia membuka retsleting rok dan melepaskannya. Dimasukkannya tangan kanannya ke dalam celana dan jari-jarinya mulai mempermainkan klitoris dan vaginanya sendiri sambil terus mendesah-desah menahan nikmat. Melihat itu aku sendiri jadi nggak tahan untuk tidak bereaksi, tanganku langsung meraba payudara Mbak Mar yang montok dan meremasnya.

"Mbak, aku nggak tahan mau pegang teteknya ya..."
Mbak Mar hanya pasrah sambil terus mendesah-desah makin keras saat tanganku meremas-remas dadanya dan mempermainkan kedua putingnya.

"Mmhh..sorry ya Ning..aku nggak tahan...uuhh...."
"Ah nggak apa-apa Mar, kamu khan udah lama janda, pasti kepengen begituan...aku ngerti kok...aku aja yang masih punya suami rasanya kepengen juga...tapi malu...hi..hi..hi..."
"Kamu kalau kepengen nggak apa-apa juga Ning...aku nggak akan bilang suamimu...cukup kita aja yang tahu..."
"Ah..kamu ini ada-ada aja..."

Langsung aku melepaskan baju dan BH Mbak Mar. sekarang dia tergolek di sofa hanya terbalut celana dalam warna krem yang tampak mulai basah oleh cairan vaginanya.Akupun melepaskan baju dan celanaku sehingga tersisa hanya celana dalam saja. Kujilati dan kuremas seluruh payudara Mbak Mar yang momtok, putingnya kupermainkan dengan lidah dan kuemut-emut dengan penuh nafsu sehingga membuat Mbak Mar menggelinjang keenakan. Kupelorotkan celana dalam Mbak Mar sehingga vaginanya yang penuh ditumbuhi bulu-bulu tampak jelas meski dalam ruangan yang remang-remang. Sementara mulut dan lidahku terus mempermainkan payudaranya, jari tangan kananku kuselipkan ke dalam celah vagnanya yang sudah basah penuh lendir birahi. Tiga jariku masuk ke dalam vaginanya dan terus kegerakkan keluar-masuk dengan irama yang semakin lama semakin cepat.

Mbak Ningsih yang berada tepat disebelah Mbak Mar, tampak sangat gelisah dan salah tingkah, kadang tanpa sadar tangannya meraba-raba payudara dan daerah selangkangannya. Maklumlah, Mbak Ningsih juga manusia normal yang pasti terangsang melihat adegan panas dan desahan-desahan erotis berlangsung di depan matanya. Sementara itu Mbak Mar yang tergolek pasrah mulai merasakan puncak kenikmatan, nafasnya tersengal-sengal, dan lenguhannya makin kuat. Tangan kirinya meremas tangan Mbak Ningsih sementara tangan kanannya meremas-remas kepalaku. Merasakan Mbak Mar sudah mulai orgasme tanganku kumasukkan semakin dalam dan kugerakkan semakin cepat.

"Ah..Mas Doni..terus mas...terus..mas..terus sayang... enak banget..ahh..ahh..aaaaaahhh"

Badan Mbak Mar bergetar hebat dan pinggulnya berkedut-kedut merasakan kenikmatan orgasme pertamanya malam itu. Tak berapa lama kemudian tubuh Mbak Mar terkulai lemas tanpa tenaga.Setelah beristirahat mengumpulkan tenaga sebentar, Mbak Mar langsung bangkit dan gantian dia memelorotkan celana dalamku, langsung tanpa basa-basi dikulumnya penisku yang sudah mengeras sejak tadi. Dijilatinya seluruh penisku, mulai dari kedua biji salak di bagian bawah lalu lanjut ke seluruh batang penisku, akhirnya ke bagian kepala penisku. Sambil mulutnya mengulum, tangannya juga tidak berhenti meremas-remas.

"Udah keras banget...masukin ya sayang... Mas Doni bawa kondom khan?"

Aku mengangguk.
Mbak Mar lalu merebahkan diri di karpet depan TV, kepalanya di dekat TV sementara kedua kainya mengangkang menghadap ke sofa.

"Ning...nggak apa-apa khan kalau aku main di depanmu?"
"Nggak apa-apa...terusin aja..."
"Mau ikutan...? Kita main bertiga yuk...seperti yang di film tadi... kapan lagi kita bisa main dengan anak muda? Ntar nyesel lho....."

Mbak Ningsih hanya tersenyum, tapi jelas tampak ada keraguan di wajahnya, antara mau dan malu.

"Ya udah...kamu lihat aja dulu ya Ning.. aku main dengan Doni dulu, nanti kamu kalau mau gabung langsung aja ya...gak usah malu-malu, cuma kita aja yang tahu... Kami sebenarnya sudah sering kok, udah hampir setahun... Kalau cuma 3 ronde semalem dia ini sanggup kok, maklum masih mahasiswa, jadi jangan takut nggak kebagian...hi..hi..hi...iya khan Mas Doni?"

"Ah bisa aja Mbak Mar ini,... kalian ajalah...aku disini aja..."
Langsung kuposisikan diriku diantara selangkangan Mbak Mar, penisku kuarahkan ke lubang vaginanya yang basah. Dengan perlahan tapi pasti kumasukkan batang penisku ke dalam vagina Mbak Mar yang melenguh keenakan, "Oohhh...Mas Doni...masukin yang dalam mas..."

Kami yang sudah terangsang hebat sejak menonton VCD tadi tidak membuang-buang waktu, langsung kegenjot pinggulku dengan cepat sehingga penisku keluar-masuk vagina Mbak Mar dengan suara kecipak yang heboh. Sementara Mbak Mar yang 'horny' berat juga menanggapi dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik-turun. Suara TV yang sekarang terasa mengganggu kenikmatan persetubuhan kami segera kukecilkan. Kupeluk erat tubuh Mbak Mar yang montok, payudaranya yang besar dan mengganjal menambah rasa nikmat pelukan kami. Sementara itu lidahku terus menjilati leher dan telinga Mbak Mar sehingga membuatnya makin terangsang dan gerakan pantatnya makin bersemangat. Sesekali kedua lidah kami juga saling beradu.

Setelah beberapa lama, kami berganti posisi. Kali ini aku yang di bawah, dan Mbak Mar di atas.Tidak berapa lama dalam posisi ini Mbak Mar mulai merasakan puncak kenikmatan. Terpengaruh kemistri libido Mbak Mar yang memuncak, akupun juga merasakan hal yang sama. Tapi nikmatnya vagina Mbak Mar terpaksa kuhentikan sejenak untuk memasang kondom sebelum terlanjur jebol dan jadi masalah. Begitu kondom terpasang, Mbak Mar tidak sabar langsung memasukkan lagi penisku ke dalam vaginanya. Tidak sampai satu menit kemudian Mbak Mar mulai mengguncang-guncangkan pinggulnya dengan hebat, vaginanya terasa makin menjepit penisku dan tangannya mencengkeram erat dadaku.

"Aduuh Mas Doni..Mbak mau keluar lagi...aah...aaahhh..."
"Ayo mbak, kita barengan, aku juga udah mau keluar...mmhhh...ooohh..."

Mbak Mar mengedutkan pinggulnya berkali-kali dengan kuat, seluruh badannya bergetar menahan nikmat orgasmenya yang kedua. Akupun tidak tahan menahan laju sperma yang menyembur....crett..crett.... sehungga kami berdua mengerang keenakan selama beberapa saat. Akhirnya Mbak Mar merebahkan tubuhnya yang lemas ke dadaku, kami berpelukan selama beberapa saat.

Tak berapa lama kemudian Mbak Mar bangkit sambil mengeluarkan penisku yang mulai sedikit lemas kelelahan, dilepaskannya juga kondom dan diperiksanya, "Wow..banyak banget pejunya...mudah-mudahan stoknya masih banyak untuk malam ini..hi..h..hi..."

................................................

Kulihat Mbak Ningsih masih terduduk di sofa, tapi tampaknya pakaiannya sudah agak berantakan, Kancing bagian atasnya terlihat ada beberapa yang terbuka, demikian juga rok panjangnya tampak sedikit terangkat. Entah apa yang dilakukannya selama kami asyik bersetubuh di depan matanya. Mbak Mar duduk menghampiri Mbak Ningsih dan mulai merayunya untuk ikut bergabung.

"Ayo Ning..ikutan gabung...dijamin enak lho...kamu pasti kepingin seperti aku tadi, iya khan...? Pasti puas deh.... Pokoknya aman, aku nggak akan bilang ke suamimu kok, ayo... kapan lagi nyobain daun muda., nikmati pengalaman baru mumpung lagi di Bandung...nanti nyesel lho....kalau udah di Pekalongan kamu nggak bisa macem-macem lagi...."

Mbak Ningsih tampak sekali masih ragu-ragu, berkali-kali dia mencoba menolak, tapi Mbak Mar terus mendesak dan merayu hingga akhirnya dia menyerah juga. "Bener ya... jangan kasih tau suamiku..." tanyanya ke Mbak Mar. Dengan dibantu Mbak Mar dia membuka sekuruh pakaiannya. Tubuh Mbak Ningsih tampak begitu sexy tergolek di sofa tanpa busana. Badannya lebih langsing dari Mbak Mar dan payudaranya tidak besar tapi cukup proposional dengan postur tubuhnya dan masih cukup kencang. Ditambah wajahnya yang manis...perfect. Tidak ada yang percaya kalau tubuh se-sexy itu sudah punya tiga orang anak. Sementara itu di bagian selangkangan bulu-bulu kemaluannya tidak selebat Mbak Mar sehingga belahan vaginanya samar-samar cukup terlihat meski dalam cahaya remang.

Kudekati Mbak Ningsih yang masih tampak malu-malu, kedua tangannya mencoba menutupi payudara dan vaginanya. Terlihat dia canggung sekali harus telanjang di depan lelaki yang bukan suaminya. Aku mencoba mencairkan suasana dengan memuji tubuhnya,

"Mbak Ningsih ternyata masih sexy ya...kayak masih gadis aja...nggak kalah dengan teman-temanku di kampus.... .bisa-bisa aku nggak tidur semaleman nih..."
"Ih...emangnya mau main berapa kali...mentang-mentang anak muda..."
"Sekuatnya Mbak Ningsih aja....maunya berapa kali...punyaku pasti bisa bangun terus kalau dekat Mbak Ningsih yang sexy...."

Mbak Ningsih tertawa kecil menanggapi godaanku, kekakuannya sedikit mencair. Langsung kuciumi lehernya dan kuremas-remas payudaranya yang padat. Awalnya masih agak kaku dan canggung, mungkin ini pertama kalinya dia main dengan lelaki selain suaminya, tapi lama-kelamaan Mbak Ningsih mulai menikmati. Tangannya mulai meraba-raba penisku yang mulai menegang lagi. Dan ketika aku mencoba mencium bibirnya diapun menanggapi. Kami berciuman dengan hangat, bibir kami saling memagut dan lidah kami saling melilit. Kuraba selangkangannya, vagina Mbak Nining terasa sudah basah dan licin, mungkin sudah terangsang berat dari tadi.... Kupermainkan klitorisnya dan Mbak Ningsih menggelinjang keenakan.

Kemudian aku berbisik kepadanya sambil kuusap-usap vaginanya dengan lenbut, "Mbak, boleh saya jilati punya mbak...?"  Mbak Ningsih mengangguk perlahan. Kepalaku kuarahkan ke selangkangannya, kusibakkan bibir vaginanya hingga lubangnya membuka dan tampak berwarna merah berlendir menjanjikan kenikmatan. Klitorisnya yang mungil dan tersembunyi mulai kujilati. Mbak Ningsih menjerit tertahan, tangannya meremas kepalaku. Kadang klitorisnya kupermainkan diantara bibirku, kadang kuemut dan kuhisap dengan lembut lalu kujilati lagi seolah sedang menikmati es krim lezat. Sementara itu Mbak Mar juga ikut bergabung dengan mempermainkan dan menjilati penisku sehingga membuatnya semakin mengeras dan siap tempur.

Aroma vagina Mbak Ningsih yang khas membuat birahiku semakin naik. Kujilati lubang vaginanya, mulai dari labia mayora di bagian luar, labia minora,  lalu masuk ke dalam liang vaginanya dan kubenamkan lidahku sedalam mungkin. Klitorisnyapun tidak luput dari ganasnya jilatanku. Mbak Ningsih tampak sangat menikmati, tak berapa lama kemudian aku merasakan pinggulnya mulai berkedut-kedut tak beraturan.

"Aaah...aahh...mmmhhh...Doniii...ooohhh....."

Tangan Mbak Ningsih meremas kuat-kuat kepalaku dan pinggulnya berrkedut-kedut kuat tak terkendali dalam gelombang orgasme yang nikmat. Akupun merasakan vaginanya makin dibanjiri oleh cairan bersamaan datangnya orgasme. Akhirnya Mbak Ningsih terkulai lemas di sofa sambil matanya terpejam menikmati sisa-sisa orgasmenya, sungguh tampak sexy dan membangkitkan gairah.

"Mbak, kita lanjutin di kamar aja yuk..," kataku pada Mbak Mar.
"Tapi kamar Mbak Mar tempat tidurnya sempit kalau bertiga..."
"Ya udah di kamar Om Hadi aja gimana...? Tempat tidurnya gede, puas kalau bertiga...kamar mandinya ada air panasnya lagi..."
"Iyalah, nggak apa-apa, tiap hari juga Mbak Mar yang beresin...," kata Mbak Mar menyetujui usulku.

TV kumatikan dan kami bertigapun langsung menuju kamar tidur utama. Aku merebahkan diriku di tengah tempat tidur kingsize yang empuk. Mbak Mar dan Mbak Ningsih masing-masing disebelah kiri dan kananku.

"Dah...lanjutin yang tadi..Ning... kalau dengan aku sudah sering, malam ini giliranmu...puas-puasin deh..."
"Iya deh... tapi kamu juga dong Mar...masak cuma nonton aja..."
"Ya aku juga pasti ikutan, mana mungkin aku tahan cuma nonton...tapi maksudku kamu aja yang banyak, biar puas... mumpung dapat daun muda...kapan lagi..." kata Mbak Mar menjelaskan.

"Ok ibu-ibu...udah selesai diskusinya...aku udah nggak tahan nih...kepengen langsung dimasukkin ke punya Mbak Ningsih yang sexy...," kataku sambil meremas payudara Mbak Ningsih. Sementara aku mulai menjilati payudara Mbak Ningsih, Mbak Mar kembali asyik melumat penisku untuk memastikan penisku cukup keras agar bisa memuaskan Mbak Ningsih, teman baiknya.

Mbak Ningsih mulai naik nafsunya, nggak tahan cuma dijilati payudaranya dia minta lebih, "Masukin dong.... sekarang...." Menanggapi tawarannya, langsung kuposisikan diriku diantara kedua kakinya. Kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang hangat dan basah sambil kutindih tubuhnya yang sexy  Mbak Ningsih mendesah-desah menikmati setiap tusukan penisku, "Oooh..mmhhh...mmhh...."

Mungkin karena sering dipakai suaminya, maklum istri cantik dan sexy, punya Mbak Ningsih tidak sesempit punya Mbak Mar, tapi rasanya tetap nikmat karena dia pintar sekali menjepit penisku dengan otot-otot vaginanya. Aku bangkit dan mengubah sedikit posisi bercinta kami, sementara tubuhnya terlentang pasrah kusilangkan kaki kiri Mbak Ningsih di atas kaki kanannya sementara kaki kiriku di atas kaki kanannya lalu kumasukkan penisku dari posisi agak menyamping. Dengan posisi baru ini Mbak Ningsih tampak sangat menikmati karena penisku terasa masuk semakin dalam, "Aaahh...enak bangat...rasanya sampe mentok ke ujung....aaagh....oooohhh..." Menyadari Mbak Ningsih menyukai posisi ini langsung kutusukkan penisku semakin dalam. Tak lama kemudian Mbak Ningsih mulai bergerak tak beraturan, suara desahannya makin keras dan pinggulnya mulai menyentak-nyentak menyambut orgasmenya bersama lelaki yang bukan suaminya.

"Aaahhh...aaaggh...addduuhhh...aku keluaaarr...aaagh....," tubuh Mbakn Ningsih bergetar hebat, menegang beberapa saat dan kemudian terkulai lemas menikmati orgasme.

"Gimana rasanya Ning...? Enak khan....?" tanya Mbak Mar menggoda.
"Wow..kamu bener Mar....enak bangeeeet...dah lama nggak ngerasain yang keras kayak gini....maklum suamiku sudah tuwek... ngacengnya kurang mantep.... aku mau deh sering-sering main ke Bandung...."
"Mau dilanjutin lagi Mbak...?" tanyaku.
"Siapa takut..! Ayo masukin lagi yang dalam....tancap terus..." kata Mbak Ningsih menantang. Nggak nyangka wanita berjilbab yang awalnya tampak santun dan malu-malu sekarang malah tampil bak wanita binal. Kali ini Mbak Ningsih memposiskan dirinya dengan nungging, memintaku untuk menusuknya dari belakang, "Nih lubang Mbak Ning udah siap buat kamu...masukin lagi sayangku....masukin yang dalam....." Tanpa menunggu lebih lama lagi langsung kumasukkan penisku ke dalam lubang vaginanya yang menantang. Mbak Ningsih sangat nyaman diposisi ini, matanya merem-melek dan terus mendesah-desah menahan nikmat. "Mhh...tusuk yang kuat. sayang...mmhh...ooohhh... iya gitu... yang dalam. sayang......"

Setelah kurang lebih 5 menit diposisi itu Mbak Ningsih minta gantian, dia mau di atas. Aku merebahkan diri di sebelah Mbak Mar yang tengah asyik memainkan klitorisnya sendiri. Mbak Ningsih mengangkangi aku dan memasukkan penisku ke dalam lubang vagunanya yang basah dan merah. Mbak Ningsih langsung menggenjot pinggulnya dengan penuh nafsu untuk membuat penisku masuk sedalam mungkin ke lubang vaginanya. Siapa mengira wanita yang sehari-hari berjilbab ini ternyata menyimpan libido yang luar biasa? Dengan goyangan penuh nafsu sehebat itu sudah pasti Mbak Ningsih bakal cepat sampai puncak lagi. Dan benar saja, tidak lama kemudian tubuh Mbak Ningsih mulai berguncang makin kuat, hentakan pinggulnya makin kuat dan cepat.

"Adduuuhh...ooohhh...aku mau keluar lagii...duuuh...nggak tahan...aaaagh.....aaaaaaghhh"

Tubuh Mbak Ningsih bergetar hebat sebelum akhirnya menegan,. matanya terpejam, nafasnya tersengal-sengal, dan mulutnya ternganga melampiaskan jeritan nikmat. Akhirnya Mbak Ningsih rebah di dadaku, terkulai lemas akibat energi yang terkuras habis oleh orgasmenya yang ketiga malam itu.

Kubelai rambutnya dan kukecup bibirnya dengan lembut,
"Gimana mbak...masih mau lanjut...?"
"Mmhh...edan tenan....aku masih capek...istirahat dulu ya sayang...main sama si Mar dulu ya...aku masih mau kok, tapi nanti..  mau istirahat sebentar... capek..."

Mbak Ningsih tampak kelelahan, dengan perlahan kurebahkan dia disampingku. Mbak Mar yang melihat penisku masih tampak tegang tidak menyia-nyiakan kesempatan. Langsung dikangkanginya aku dan dimasukkannya penisku ke dalam vaginanya. Mbak Mar yang sudah dari tadi terangsang hebat melihat persetbuhanku dengan Mbak Ningsih langsung menggenjot pinggulnya dengan penuh nafsu sehingga membuat penisku terbenam di dalam vaginanya yang terasa sempit. Mbak Mar terus menggoyang-goyangkan pinggulnya seolah tidak memberi aku kesempatan untuk bernafas. Tidak berapa lama kemudian Mbak Mar menggelinjang hebat menikmati orgasmenya. Selanjutnya Mbak Mar merebahkan diri disampingku, tergolek lemas, "Ning, gantian kamu lagi, aku udah puas...."

Mbak Ningsih tampaknya sudah mulai pulih dari rasa lelahnya, dia langsung merapat dan meraih penisku. "Ayo jagoan...masukin lagi ke punyaku....sekarang sampai kamu keluar ya sayang....nggak usah pake kondom segala...aku pake KB.... aman, keluarin aja semua di dalam memekku...."

Mendapat tawaran istimewa tersebut libidoku langsung naik setinggi langit, tanpa menunggu aba-aba langsung kutindih Mbak Ningsih dan kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah menunggu. Kugenjot dengan irama yang cepat sehingga membuat Mbak Ningsih gelagapan menanggapi seranganku...Kujilati lehernya, telinganya, kucumbu bibirnya, kulumat lidahnya dan kuremas-remas payudaranya yang padat. Aku benar-benar bernafsu, tidak sabar menumpahkan spermaku di dalam vagina seorang wanita cantik dan sexy.

"Beneran ya mbak, boleh aku keluarin di dalam?"
"Iya..keluarin aja....biar kamu puasnya pol sayang..... mmhhh...ooohhh....adduh...enak banget.....ayo keluarin sekarang, mbak udah nggak sabar....aaahh...kamu ganas banget... mmhh...  kayaknya kalau seperti ini mbak sebentar lagi bisa keluar nih....."
"Iya mbak...aku juga udah mau keluar...uuuh,,,aduuuh...kita barengan ya mbak...."
"Keluarin sayaaang...keluarin di dalam.....ayo sayang... tusuk yang kuat...keluarin sekarang... oohh... mbak udah mau...aaahhh...keluaaaar....aaagh...Doniii...ooohhh....addduuuh.... nggak tahan... aduuuuuh... mbak keluar lagii....oooohhh..."
"Agh...aku juga...mbaaakk....aaaagh...."

Kusentakkan penisku dengan kuat sedalam-dalamnya sambil memuntahkan seluruh isinya di dalam vagina Mbak Ningsih, creet...creett...creet...uh..nikmatnya luar biasa.. Tubuhku terkulai lemas di atas tubuh Mbak Ningsih yang juga lemas terkuras rasa nikmat orgasme. Setelah tenaga yang terkuras mulai sedikit terpulihkan, kukecup bibir Mbak Ningsih dan aku berguling turun dari atas tubuhnya yang molek. Rasanya sperma yang keluar lebih banyak dari yang pertama, kulihat sebagian spermaku tampak menetes dari celah vagina Mbak Ningsih.

........................................

Hari sudah lewat tegah malam, kudengar sayup-sayup suara satpam kompleks memukul tiang listrik 2 kali tanda sudah pukul 2 pagi. Tidak terasa hampir 4 jam kami menikmati persetubuhan liar bertiga. Kami tidak banyak berkata-kata lagi karena sudah kelelahan dan tidak lama kemudian kamipun tertidur bertiga dalam dinginnya malam kota Bandung tanpa busana sehelaipun, hanya ditutupi selimut tebal.

Kami bangun sekitar pukul 7 pagi, bertiga kami mandi menikmati air hangat di kamar mandi Om Hadi. Sambil mandi tentu saja kami saling berciuman, saling meraba, melakukan seks oral bertiga: aku jilati vagina Mbak Ningsih sementara Mbak Mar mengulum penisku, lalu gantian aku jilati vagina Mbak Mar sementara Mbak Ningsih yang menjiati dan menghisap penisku. Selanjutnya aku kembali memasukkan penisku ke dalam vagina Mbak Ningsih serta Mbak Mar berganti-gantian dengan berbagai posisi yang kuakhiri dengan menumpahkan kembali spermaku di dalam vagina Mbak Ningsih.

Setelah sarapan, Mbak Ningsih minta dipanggilkan taxi karena dia harus pulang ke rumah adik iparnya. Mbak Ningsih berjanji kalau ada kesempatan akan main ke Bandung lagi mengulangi pengalaman threesome yang baginya sangat mengesankan. Setelah Mbak Ningsih pergi dengan taxinya, maka di rumah tinggal kami berdua, aku dan Mbak Mar, "Mas Doni, yuk kita masuk...film yang lain masih ada khan?....kita nonton lagi mumpung rumah masih kosong sampai nanti jam 5 sore...." kata Mbak Mar sambil mencubitku dengan tatapan genit.




Monday, August 27, 2012

From Medan With Lust



Sabtu sore itu aku mengendarai mobilku di jalan tol Cipularang menuju ke Bandung. Aku memilih melaju dengan santai karena memang tidak ada yang aku kejar. Presentasi untuk tender proyek di Bandung baru hari Rabu siang dan tim kami bisa mempersiapkannya hari Senin - Selasa. Jalanan agak padat seperti biasa karena weekend. Tiba-tiba dari sebelah kiri sebuah mobil Toyota Fortuner dengan seenaknya memotong jalan membuat aku sedikit terkejut dan mengumpat dalam hati, "Sialan tuh Fortuner nggak tau aturan... nyalip di tol kok dari kiri.' Aku cuma membunyikan klakson beberapa kali untuk memperingatkan si pengemudi dari kelakuan ugal-ugalannya, tapi sesudah itu aku tidak ambil pusing. Aku ingin santai menikmati perjalanan.

Setelah istirahat makan sambil mengisi BBM aku melanjukan perjalananku. Mendekati Padalarang jalan mulai padat dan semua kendaraan melambat, di spedometerku cuma tercatat sekitar 25-30 km/jam. Baru kurang lebih 10 menit berjalan lambat aku melihat mobil yang tidak asing lagi, Fortuner yang ugal-ugalan menyalipku dari kiri tampak berhenti di bahu jalan. Sepertinya ada masalah dan dua orang wanita muda tampak sedang kebingungan sambil membuka kap mesin. Aku sudah melupakan sama sekali kekesalanku sebelumnya, sekarang kupikir tak ada salahnya kalau aku mencoba menawarkan bantuanku, siapa tahu ada gunanya. Kuhentikan mobilku sekitar 15 meter di depan mereka, dan dengan ramah aku menawarkan bantuanku.

"Halo, ada yang bisa saya bantu...?"
"Halo juga bang... ini entah kenapa, motor kami tiba-tiba mati mesinnya."

Dari logatnya aku langsung menduga mereka berasal dari Medan, karena disana 'mobil' mereka sebut 'motor'. Sebenarnya aku tidak tahu banyak soal mesin tapi sudah kepalang basah. Mereka mengenalkan diri, yang mungil berambut pendek dan dicat pirang bernama Dessy, sedangkan yang agak sintal dan berambut panjang namanya Marisa. Usia mereka kuperkirakan masih terbilang muda, sekitar 23 tahunan. Akhirnya aku menawarkan memanggil mobil derek untuk membawa mobil ke bengkel kenalanku di Bandung, sementara mereka bisa menumpang mobilku. Mereka setuju karena tidak ada pilihan lain.

Selama perjalanan mereka bercerita kalau mereka baru datang dari Medan dan sengaja ingin pergi ke Bandung menggunakan mobil abang si Dessy yang ada di Jakarta. Keduanya masih single dan ngakunya sedang menjomblo. Mereka belum pernah ke Bandung sebelumnya dan sekarang juga tidak punya rencana yang pasti. Mereka hanya ingin senang-senang di Bandung menikmati hadiah liburan dari kantor.

"Jadi rencananya malam ini kalian mau menginap di mana?"
"Belum tahu kita bang.. abang ada tahu hotel yang bagus tapi nggak gitu mahal?"
"Wah, kalau weekend begini agak susah kalau nggak booking dulu..., " aku pura-pura kaget.

Otak mesumku mulai bekerja, aku melihat kesempatan yang mungkin bisa kumanfaatkan... Aku akan atur supaya mereka tidak mendapat hotel dan akhirnya terpaksa tidur di kamar hotel yang sudah aku pesan sebelumnya. Setelah mengurus mobil ke bengkel, sengaja mereka  ku ajak ke beberapa hotel terkenal yang sudah pasti fully-booked pada saat weekend.

"Macam mana nih bang Doni.. sudah 10 hotel kita datangi semua penuh..." kata Marisa setengah putus asa.
"Yah, begitulah Bandung kalau weekend, lain kali mestinya kalian pesan kamar dulu..."
"Kami orang Medan mana tahu bang... tolong bantulah bang, terserah di mana aja asal kami bisa tidur malam ini... kita nggak ada saudara atau teman di Bandung bang..." kata Dessy yang tampak mulai capek.

"Ok, begini aja... kalian malam ini bisa tidur di kamar hotelku, aku tidur di mobil, besok kita cari hotel lagi, siapa tahu sudah ada," kataku memberi alternatif.
"Abang macam mana nanti... nggak apa-apa abang tidur di mobil?"
"Nggak apa-apa, cuma aku nanti numpang mandi aja di kamar ya..."

Mereka setuju, lalu kamipun pergi ke sebuah hotel terkenal di jalan Riau. Ini sebenarnya bagian dari rencana otak mesumku. Dengan situasi seperti ini aku tampak sebagai pahlawan bagi mereka, dan bukan tidak mungkin mereka akan memberikan balas jasa untuk itu meski aku tidak memintanya. Sementara mereka membereskan barang-barang, aku mandi. Begitu aku selesai mandi mereka mengajakku untuk mencari makan, maklum sudah jam 8 malam dan memang perutku juga mulai lapar.

"Bang Doni tahu tempat makan enak di Bandung khan bang? Kita makan sama-sama yuk... kami yang traktirlah bang...OK?"

Kami pergi mencari makan di daerah Dago Atas, tempatnya nyaman dan suasanyanya cepat membuat kami akrab. Aku masih bersandiwara menampilkan diriku seperti seorang pahlawan yang tulus hati, padahal pikiran kotorku sudah semakin tergoda, terutama melihat Marisa yang tampak sexy dengan rok mini dan t-shirt ketatnya. Tapi dengan berpura-pura polos seperti itu tampaknya malah membuat Dessy dan Marisa berusaha keras untuk menarik simpatiku. Tidak jarang mereka berusaha menggodaku, baik dengan kata-kata yang menjurus maupun dengan cubitan-cubitan manja mereka. Maklum usia mereka sudah cukup matang untuk memuaskan birahi.

"Abang, macam mana abang nanti tidur di mobil sendiri... kesepianlah abang...," kata Dessy mulai memancing-mancing.
"Ah..enggak apa-apalah berkorban buat dua cewek cantik macam kalian," kataku pura-pura jadi pahlawan kesiangan.
"Tidur ajalah di kamar sama kami bertiga, asal abang bener-bener tidur ya...jangan macam-macam sama anak Medan ya..." kata Marisa becanda seolah-olah mengancam.

Hm.. ini yang aku tunggu...aku langsung setuju. Mana mungkin tiga orang dewasa berlainan jenis dalam satu kamar hanya melewatkan waktu dengan tidur... Aku rasa mereka sudah tahu persis resikonya. Kami pulang ke hotel sekitar jam 12 malam, bertiga langsung kami menuju ke kamar. Kulihat mereka saling berbisik dan tertawa, entah apa yang dibisikkan, tapi aku menduga pasti ada sesuatu yang ingin mereka rencanakan. Aku masih pura-pura polos dan berlagak tidak tahu apa-apa.

Di kamar kami langsung ke tempat tidur ukuran kingsize, cukup lega buat bertiga. "Abang di tengah ya bang... biar adil," kata Marisa. Aku menurut saja seperti kerbau dicucuk hidungnya. Sementara mereka berganti baju, aku berbaring di tengah tempat tidur tersenyum sendiri membayangkan apa yang mungkin akan terjadi. Setelah mengenakan baju tidur masing-masing. Marisa dan Dessy langsung berbaring di samping kiri-kananku. AC kamar cukup dingin sehingga menjadi cukup alasan buat kami tidur berdekatan di balik selimut.  Dengan manja Marisa dan Dessy menyenderkan kepala mereka di bahuku. Aku tahu, mereka sudah membuka diri, sekarang giliranku yang harus menanggapi 'tawaran' mereka sebelum semuanya terlambat.

"Kayaknya abang nggak bisa tidur nih..." kataku lirih sambil mulai mengikuti gaya bahasa mereka.
"Kenapa bang... nggak biasa tidur diantara dua putri cantik ya.." kata Marisa menggoda.
"Abang bingung..." kataku sambil kedua taganku mulai meraba paha mereka.
"Bingung kenapa bang...?" kata Dessy manja sambil tangannya mengusap dadaku yang sedikit berbulu.
"Bingung siapa yang harus abang cium duluan...yang mungil atau yang montok.." kataku sambil tertawa.
"Ah..abang ini, kami kira bingung kenapa, terserah abang lah... siapa yang abang suka..kami sih nggak masalah siapa yang duluan, yang penting abang adil ya bang...," kata Marisa sambil mencubit perutku dengan manja. Langsung kutangkap tangan Marisa dan kutarik sehingga kepalanya makin mendekat. Aku langsung mencumbu bibirnya dengan hangat, dan Marisa langsung menanggapi dengan tidak kalah hangatnya. Kurang lebih semenit kami bercumbu lalu kulepaskan dan aku berganti mencumbu Dessy yang sudah siap menunggu. Tanganku mulai aktif meraba payudara Dessy di balik BHnya dan membuatnya menggelinjang keenakan.

Kulepaskan bibirku dari Dessy dan sekarang aku mencumbu Marisa lagi sambil mulai membuka dasternya. Dessy tanpa diminta juga langsung membuka dasternya dan dia juga mulai membuka baju dan celanaku. Akhirnya kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Mataku tidak terpejam melihat 2 gadis Medan tergolek di hadapanku, yang satu kurus tinggi dan putih dengan payudara kecil namun padat, sementara satu lagi badannya agak berisi dan kulit sedikit coklat dengan payudara besar yang agak menggantung namun masih terlihat kencang.

Dari semula aku sudah terangsang melihat Marisa yang sexy, maka aku langsung meremas payudaranya yang empuk dan menjilati putingnya. Sementara tangan kananku mulai meraba ke arah selangkangan Marisa sambil mencari belahan vagina diantara bulu-bulunya yang halus. Jariku segera menemukan belahan vagina Marisa yang basah dan aku langsung masukkan kedua jariku ke dalamnya sambil ibu jariku mempermainkan klitorisnya yang membuat Marisa melenguh keenakan. Sementara itu Dessy terus meremas-remas penisku yang tegang dengan lembut lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Setelah puas melumat payudara Marisa, aku mengarahkan kepalaku ke selangkangannya. Marisa menanggapi dengan membuka kedua pahanya sehingga belahan vaginanya tampak membuka menampakkan lubangnya yang merah segar dan sempit. Aku langsung menjilati vaginanya sambil sesekali mengulum klitorisnya. Marisa semakin menggelinjang  penuh nafsu.

"Aduuh bang...enak kali baaang.... abang pandai kali jilat punya Icha... oooh.. mmhh.."

Sekitar 5 menit lamanya aku puas menjilati vagina dan klitoris Marisa, kulihat Marisa sudah hampir mencapai orgasme. Langsung aku lepaskan kepalaku dari selangkangan Marisa, sengaja membuatnya penasaran. Aku juga melepaskan penisku dari mulut Dessy dan lalu merebahkan tubuh mungil Dessy ke samping Marisa. Sekarang giliran Dessy yang kujilati payudaranya sambil tanganku menjelajahi vagina mungilnya yang ditumbuhi bulu tipis. Sementara itu Marisa langsung menggantikan tugas Dessy melumat penisku ke dalam mulutnya.Sama seperti yang kulakukan pada Marisa, aku membuka paha Dessy dan lalu membenamkan kepalaku diantara selangkangannya sambil menjilati vagina mungil Dessy dengan penuh nafsu. Kupermainkan klitorisnya dengan lidahku sambil tanganku memilin-milin puting payudaranya yang mungil. Dessy mulai menggelinjang keenakan sambil kedua tangannya memegang erat kepalaku. Tidak berapa lama kemudian pinggul Dessy mulai bergerak tidak terkontrol.

"Bang...aduh..bang..Dessy nggak tahan bang..... ooohh... baaang... "

Kulepaskan penisku dari mulut Marisa, lalu aku memposisikan diriku diantara kedua paha Dessy. Kuarahkan penisku ke dalam lubang vaginanya yang tampak basah. Kutunggu sampai Dessy mulai bisa mengendalikan diri, lalu dengan sekali sentakan lembut penisku langsung masuk menghujam ke dalam vaginanya.

"Mmh...baaang... enak baaang, masukin yang dalam baang..." Dessy merem-melek dan merintih penuh nikmat sambil memeluk erat tubuhku. Aku merasakan vagina Dessy sempit sekali, mungkin karena tubuhnya yang mungil dan pinggulnya yang kecil. Untung saja cairannya cukup banyak karena sudah terangsang, sehingga penisku tidak terlalu sulit utuk bergerak keluar-masuk. Rasanya seperti penisku masuk ke vagina perawan, setiap kali aku menggerakkan penisku terasa vaginanya seperti memerah penisku dengan kuat. Sementara itu di sebelah kami Marisa tidak berkedip melihat aksi kami, tangannya mulai gatal menggerayangi vaginanya sendiri.

Sempitnya vagina Dessy membuat penisku terangsang sangat hebat dan gelombang orgasme mulai muncul di luar kendali. Sementara itu Dessy juga semakin tidak terkontrol gerakannya, pinggulnya berkedut-kedut menyambut setiap tusukan penisku sehingga penisku terbenam semakin dalam di liang vaginanya. Aku tidak mau ambil resiko, kulepaskan penisku sebentar untuk memasang kondom, lalu kembali kumasukkan penisku ke dalam vagina Dessy.

"Aduh baang..Dessy udah mau keluar baaang..nggak tahan bang...punya abang masukin yang dalam baang... adduuuhh..ooohh...ooohhh...baaang...ooohhh..."  Sementara aku juga hampir sampai puncak meski sudah dengan susah payah aku berusaha mengendalikan diri. Tidak biasanya aku secepat ini, vagina Dessy memang luar biasa....

"Aduuuh Dessy.... abang mau keluar juga...ooh...kita barengan ya..." kataku sambil mempercepat tusukan penisku. Dessy menggelinjang makin tidak terkontrol, tangannya mencengkeram punggungku dengan kuat seolah tidak mau lepas.

"Aaagh...baaang...Dessy  keluaaar... bang.."
"Abang juga...aduuuh...aaaagh..." akhirnya terasa badanku bergetar hebat mengiringi keluarnya spermaku ke dalam kondom sambil kutusukkan penisku dalam-dalam di vagina Dessy.

Badanku langsung terkulai lemah menindih tubuh mungil Dessy yang masih berkedut-kedut menahan gelombang orgasmenya. Setelah mengumpulkan sisa-sisa tenagaku aku mengecup bibir Dessy dengan hangat, lalu kucabut penisku dari vaginanya dan kemudian membuang kondom yang penuh dengan sperma ke tempat sampah. Aku membaringkan diriku diantara dua gadis yang terbaring tanpa busana. Yang satu sedang terkulai kelelahan menikmati sisa orgasmenya, sedangkan yang satu lagi tampak masih berharap bisa menikmati apa yang baru dilihatnya.

"Icha.. tunggu bentar ya.. 5 meniiit aja.. abis itu giliran kamu"
"Santai aja bang....sampai pagi juga Icha tunggu bang.. yang penting adil..." katanya sambil tertawa.

Kuraih tangan Marisa dan kuarahkan ke penisku yang masih terkulai lemas. Marisa tahu apa maksudnya, dia langsung meremas dan mengocok-kocok penisku supaya cepat bangun. Marisa mengambil tissu untuk membersihkan sisa cairan di penisku lalu mulai mengulum penisku yang perlahan mulai bangkit. Tidak sampai 5 menit penisku mulai mengeras. Mungkin sudah terlanjur 'horny' melihat aku dan Dessy, begitu melihat penisku siap tempur Marisa langsung memposisikan diri di atasku dan mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Dengan perlahan tapi pasti pinggulnya menekan ke bawah sehingga penisku masuk terbenam dalam di vaginanya. "Aagh..." Marisa memekik sambil merem menaham rasa nikmat.

Marisa mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun sambil berdesah-desah mengekspresikan setiap rasa nikmat setiap kali penisku meluncur masuk ke dalam vaginanya, aku juga tidak mau kalah menanggapi gerakannya dengan menyentakkan pantatku ke atas dengan ringan saat Marisa menekan ke bawah.

"Bang...ntar sama Icha nggak usah pake kondom ya...aman kok...Icha pengen abang keluarin punya abang di dalam," kata Marisa berbisik sambil berusaha menahan desah nafasnya yang berat. Aku mengiyakan sambil tersenyum kegirangan. Memang vagina Marisa tidak sesempit Dessy, tapi kekurangannya itu ditutupi dengan libido yang besar sehingga membuat penisku terasa seperti sedang diremas-remas oleh dinding vaginanya. Payudaranya yang montok membuat tanganku tergerak untuk meraba dan meremasnya. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan Marisa mulai kehilangan kontrol.

"Aduh baang.. Icha udah nggak tahan, abang yang di atas aja..." katanya sambil melepaskan penisku dari vaginanya. Marisa lalu berbaring di sebelah Dessy yang masih tergolek kelelahan. Diangkatnya kedua pahanya, sehungga belahan vagnanya tampak membuka mengundang penisku untuk masuk ke dalamnya. Langsung aku arahkan penisku masuk ke dalam liang vaginanya. kutekan dalam-dalam sampai penisku terasa menyentuh ujung liang vaginanya. "Aaagh...bang.... enak bang...gila bang...enak kali punya abaaang...," Marisa berusaha mengekspresikan rasa nikmat yang dirasakannya.

Aku terus mengenjot pinggulku naik-turun dengan cepat sehingga membuat Marisa semakin kehilangan kontrol. Kuganjal pantatnya yang bulat montok dengan bantal sehingga penisku masuk semakin dalam lagi. Akhirnya usaha Marisa berganti posisi untuk mengontrol orgasmenya sia-sia, dengan posisi di bawahpun orgasmenya tidak kuasa dibendungnya lagi.

"Adduuh bang...Icha mau keluaar... aduuh bang Icga nggak tahan lagi baaang..."
"Keluarin aja...Icha... nanti abang nyusul...."
"Aggh...baaang...Icha keluaaar baaaang...aggh...oohhh...ooooooooh," Marisa menggelinjang keras sambil mengedut-kedutkan pinggulnya. Akhirnya Marisa tergolek lemas tak berdaya, sementara penisku masih tertancap di dalam vaginanya. Aku sendiri belum merasakan orgasme karena yang kedua memang biasanya lebih lama.

Setelah Marisa mulai sadar, aku kembali menggerakkan penisku. Marisa tampaknya juga kembali mulai terangsang, maklum wanita memang bisa cepat pulih setelah orgasme. Beda dengan laki-laki yang pasti butuh waktu untuk istirahat sebelum bisa tegang kembali. Kali ini aku minta Marisa berganti posisi, kubalikkan badannya dan kuangkat pantatnya. Perlahan kubuka pahanya dan penisku langsung membelah vaginanya dari belakang. "Agghh... enak kali baang..." Marisa tampak sangat menikmati posisi ini, tangannya berusaha meraih buah pelirku dan meremas-remasnya sehingga membuat aku semakin terangsang. Ketika aku mulai merasakan munculnya gelombang orgasmeku yang kedua, langsung kucabut penisku dan kubalikkan badan Marisa. Kuangkat kaki kanan Marisa dan kusilangkan agak ke kiri sehingga tubuhnya agak menyamping. Dengan posisi ini penetrasi penisku terasa semakin mantap karena kaki kanan Marisa ikut menambah kekuatan otot vaginanya dalam menjepit penisku. Tanpa membuang waktu lagi aku langsung menancapkan penisku ke dalam vagina Marisa. Posisi ini rupanya 'baru' buat Marisa sehingga dia menjadi begitu cepat terangsang.

"Abang,,,aduh...Icha bisa keluar lagi nih bang..."
"Nggak apa-apa Icha..keluarin aja...abang juga mau keluar...kita barengan..."
"Aggh...bang...aduuuh...bang...Icha nggak tahan bang...enak kali bang..."
"Keluarin barengan aja ....abang udah mau nembak....mmhh..."
"Keluarin di dalam punya Icha ya bang...adduuuhh...Icha mau keluar sekarang baaangg..."
"Aggh...abang juga keluar...aaaaghh..."

Akhirnya aku tidak tahan lagi, sambil kupeluk erat tubuh montok Marisa spermaku menyembur keluar memenuhi liang vagina Marisa yang berdenyut-denyut karena orgasmenya yang kedua. Setelah melepaskan seluruh perasaan puas, aku mencabut penisku yang lemas kehabisan tenaga. Spermaku tampak mulai menetes keluar dari vagina Marisa. Kukecup bibirnya dengan lembut, Marisa hanya bisa tergolek pasrah tanpa daya. Setelah tenaga kami pulih, kamipun ke kamar mandi membersihkan diri.

Dessy yang sedari tadi menikmati aksi kami langsung protes, "Abang nggak adil ya..., kenapa nggak tanya Dessy dulu, harusnya sama Dessy abang juga nggak perlu pake kondom, Dessy juga aman... baru selesai mens 3 hari yang lalu, sama dengan Icha"
"Sorry, abang cuma nggak mau ada resiko, emang apa bedanya sih..."
"Ya bedalah bang... kalau nggak pake kondom lebih enak... waktu nembak punya abang serasa meledak di dalam...puasnya mantap kali..."
"Oh...gitu...Ya udah, besok kita main lagi nggak pake kondom, abang janji..." kataku menghibur Dessy yang masih cemberut.
"Beneran ya bang... jangan bohong... besok abang main dengan Dessy nggak pake kondom... abang harus adil..."

----------------

Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi ketika kami memutuskan untuk tidur bertiga saling berpelukan tanpa busana. Sekitar jam 6 pagi aku terbangun. Kulihat kedua gadis Medan masih tergolek di samping kiri-kananku. Dengan gemas kuraba payudara Marisa yang montok dari belakang sehingga Marisapun terbangun.

"Abang udah bangun.?.Jam berapa ni bang..?. Marisa masih ngantuk.."
"Udah jam 6 pagi sayang..., abang gemes lihat tetek kamu... boleh abang pegang ya..."
"Ihh abang...nanti terangsang macam mana bang...."
"Ya nggak apa-apa, kita main lagi... threesome seperti semalam"
"Dasar...abang...genit..., abang udah sering threesome ya...." kata Marisa sambil mencubit pahaku.
"Ah..kadang-kadang aja.. kalau dapet rejeki seperti sekarang ini...mana mungkin abang tolak.."
"Kami belum pernah lho bang... semalem itu yang pertama kami main bertiga. Tadinya aku takut juga  bang..., tapi Dessy yang bilang buat pengalaman..."
"Tapi suka khan..." kataku sambil tanganku mempermainkan putingnya.
"Ihh... abang ini... getek kali....." katanya sambil tangannya berusaha ke belakang meraih penisku.

Aku tidak peduli, tanganku terus meremas-remas payudara Marisa sehingga membuatnya mulai terangsang. Kubalikkan badannya dan tanganku mulai menggerayangi selangkangannya sehingga vagina Marisa menjadi basah oleh cairannya. Nafas Marisa kembali terengah-engah menahan nafsu dan tangannya meremas-remas penisku yang mulai mengeras.

"Boleh abang masukin..."
"Iya bang...masukin aja..."

Langsung aku membuka paha Marisa dan menindih tubuh montoknya sambil menancapkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah basah. Dessy tampak masih tidur, tapi aku tidak enak hati kalau  kami berdua main duluan meninggalkan Dessy. Sambil aku menancapkan penisku naik-turun di atas tubuh Marisa, tanganku meremas-remas payudara Dessy hingga dia terbangun. Setelah sadar apa yang terjadi, Dessy hanya tersenyum dan tetap membiarkan tanganku meremas-remas payudaranya. Pagi itu permainan kami berjalan sangat cepat, karena nafsunya sudah langsung tinggi tidak sampai 5 menit Marisa mulai menggelinjang tidak beraturan. Kupercepat tusukan penisku, tidak lama kemudian Marisa memelukku dengan erat sambil menjerit panjang menahan nikmat dan langsung kolaps beberapa detik kemudian, tergolek lemas karena orgasme.

Tidak menunggu lama, penisku yang masih tegang langsung kucabut dari vagina Marisa dan mencari sasaran baru, vagina Dessy. Dessy yang sudah terangsang berat melihat persetubuhan kami, langsung membuka pahanya dan membiarkan penisku masuk ke dalam vaginanya. Aku tidak membuang waktu, langsung kugenjot penisku keluar-masuk vagina Dessy dengan irama yang cepat. Kami berganti-ganti posisi, kadang aku di atas, kadang aku di bawah. Menghadapi vagina Dessy yang sempit aku tidak bisa bertahan lama, hanya kurang lebih 7 menit aku mulai merasakan gelombang orgasme. Dan tampaknya Dessy juga merasakan hal yang sama, pagutan pinggulnya makin kuat dan cengkeraman vaginanya makin keras.

"Bang... keluarin di dalam ya baangg...Dessy mau ngerasain abang punya keluar di dalam..."
"Iya Dessy...abang udah mau keluar..."
"Ayo bang...Dessy juga mau keluar...aggh...ooohh...mmhhh.. sekarang bangg...ooohhh."
"Dessy...abang keluaar...ooohh...."

Akhirnya dengan sebuah sentakan kuat aku memuncratkan seluruh spermaku ke dalam vagina Dessy yang menerimanya dengan perasaan puas.

----------------

Setelah beristirahat melepaskan rasa puas, kami mandi dan bersiap melanjutkan aktivitas. Sementara mobil mereka masih di bengkel sampai hari Senin mau tidak mau akulah yang mengantarkan mereka menikmati kota Bandung. Tidak apalah, aku pikir pengalaman bersama mereka semalam dan pagi tadi sudah menjadi hiburan yang luar biasa buatku. Dan ternyata pengorbananku mengantarkan mereka juga tidak sia-sia. Ketika aku menawarkan mereka untuk mencari hotel, mereka menolak. Mereka mau tidur bertiga lagi di kamar hotelku dan menikmati threesome sampai mereka pulang ke Jakarta lagi pada hari Selasa, artinya sudah pasti aku akan menikmati surga libido bersama mereka selama dua malam lagi.....alamak... mantap kali...!

Sunday, August 16, 2009

Pijatan Bi Eci



Menjelang akhir kuliahku di Bandung aku tinggal di daerah Dipati Ukur, mengontrak bersama 3 orang temanku. Karena sibuk dengan tugas akhir aku sudah jarang bertemu dengan Tante Nita maupun teman-temannya. Terakhir aku berkencan dengan Tante Nita sebulan yang lalu. Saat itu ketiga temanku pergi berlibur ke Jakarta selama 3 hari, lalu aku sengaja mengundang Tante Nita untuk datang ke rumahku. Selama dua hari berturut-turut Tante Nita datang sambil membawa makan siang dan selajutnya kami melepaskan kerinduan syahwat kami sepuasnya hingga malam hari. Tante Nita belum mau pulang kalau aku belum orgasme tiga kali.

Sebulan tidak menyentuh seorang wanitapun rasanya sungguh berat bagiku, tapi aku beruntung bisa mengalihkannya dengan berkonsentrasi dalam kesibukan menyelesaikan tugas akhir. Di rumah kami tidak ada pembantu, hanya ada Bi Eci yang setiap hari datang untuk mencuci baju. Bi Eci ini sangat baik, meski kami hanya membayarnya untuk mencuci baju tidak jarang dia juga ikut membereskan dan membersihkan rumah. Bi Eci asli Sukabumi, usianya sekitar 35 tahun dan suaminya bekerja sebagai sopir di Jakarta. Meski sudah memiliki 3 orang anak Bi Eci tidak tampak gemuk, mungkin karena dia banyak bekerja dan juga pintar merawat tubuhnya. Wajahnya khas Sunda, cantik dan kulitnya putih. Aku dan teman-temanku kadang-kadang suka menggodanya, tentu dalam batas-batas yang wajar sehingga Bi Eci juga tidak tersinggung.

Suatu hari Bi Eci datang kepadaku, dia mengeluh suaminya belum pulang-pulang sudah 2 bulan dan dia butuh uang untuk bayar sekolah anaknya. Aku memberinya pinjaman Rp 200.000,- dari uang tabunganku. Untuk ukuran waktu itu jumlah tersebut cukup besar, kira-kira setengah jumlah kiriman bulananku. Bi Eci berjanji mengembalikannya kalau suaminya sudah pulang nanti, aku sih setuju aja.

Sudah sebulan berlalu, aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan uang yang dipinjam oleh Bi Eci karena tidak pernah kuanggap sebagai sebuah pinjaman. Tapi Bi Eci tampaknya tidak merasa enak hati karena sudah sebulan lebih suaminya masih juga belum ada kabar.

"Duh, aden... bibik minta maaf belum bisa mengembalikan pinjaman bibik..."
"Ah, udah bik, nggak usah dipikirin, itu buat bibik aja...."
"Jangan den..., bibik nggak enak..."

Aku mencoba menjelaskan kalau uang itu aku anggap sebagai bonus karena dia mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain selain mencuci, tapi Bi Eci tetap tidak mau.

"Ya udah deh, bibik bisa bayar dengan cara lain, nggak usah harus pake duit..."
"Gimana den...?"

"Gini bik..., bibik bisa mijitin saya nggak?"
"Oh.. kalau cuma mijit sih bibik bisa aja den, tapi enak apa enggak bibik nggak tau soalnya bibik cuma pernah mijit suami bibik aja..."
"Ah, nggak apa-apa bik, yang penting bibik mijitnya serius, nggak setengah-setengah, pasti enak...., sekali mijit saya itung 25 ribu gimana..."

Bi Eci setuju, kami lalu masuk ke kamar dan menutup pintu, kebetulan pada waktu itu cuma ada aku saja di rumah. Aku berbaring tengkurap di tempat tidur dan Bi Eci mulai memijatku. Mulanya Bi Eci agak canggung karena berdua sekamar denganku, tapi lama-kelamaan dia mulai terbiasa. Pijatannya lumayan enak dan membuatku merasa nyaman sekali. Sambil memijit Bi Eci mulai curhat soal suaminya yang nggak pulang-pulang.

"Wah, terus bibik kesepian dong....," kataku mulai memancing-mancing.
"Yah, resiko den..., untung ada anak-anak jadi bibik nggak terlalu kesepian."
"Maksud saya kalau malam gimana? Bibik sendirian terus dong..."
"Ah aden ini....," katanya sambil mencubit pantatku.
"Jujur aja bik, emangnya bibik nggak kepengen begituan...."
"Ih... bibik masih normal den, ya pengen juga..."

"Ya udah, gini bik... tiap mijit saya itung 100 ribu tapi bibik mijitnya ekstra ya... persis seperti kalau bibik mijit suami bibik gitu...ada tambahannya," kataku memancing lebih lanjut.
Sejenak Bi Eci terdiam dan memandangku, "Aden pengen ya....kalau aden pengen bibik sih mau aja...," kata Bi Eci setengah berbisik di telingaku.

Aku cuma tersenyum, Bi Eci lalu bangkit keluar kamar untuk memastikan pintu rumah sudah terkunci kemudian dia masuk kembali dan mengunci pintu kamarku. Dia mulai melepas bajunya sehingga yang tertinggal hanya BH dan celana dalamnya saja. Sekarang kami berdua sama-sama hanya mengenakan pakaian dalam saja. Bi Eci membalikkan badanku dan tangannya masuk ke celana dalamku, dia meremas-remas penisku yang perlahan-lahan mulai membesar. Tampaknya Bi Eci benar-benar sedang mempraktekkan apa yang dilakukannya setelah memijat suaminya. Di pelorotkannya celanaku, dan dia langsung menjilat-jilat penisku lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Tidak kusangka Bi Eci yang sehari-hari hanya tukang cuci ini cukup pandai dalam melakukan oral-sex.

Aku tidak tinggal diam, tanganku mulai menggerayangi selangkangan Bi Eci, jari-jariku mulai masuk ke dalam lubang vaginanya yang basah sambil mengusap-usap klitorisnya. Bi Eci tampak keenakan, dia langsung melepas celana dalam dan BHnya sehingga kami berdua betul-betul telanjang bulat. Bi Eci kembali melumat penisku dengan ganas, sementara tanganku terus menggerayangi vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Tampaknya Bi Eci mulai tidak tahan dan dia berusaha melepaskan tanganku dari vaginanya, "Masukin aja itunya den, ke punya bibik..."

Bi Eci lalu berbaring telentang dengan wajah penuh harap. Akupun sudah sangat terangsang dan penisku sudah sangat tegang. Tapi aku tidak langsung memasukkan penisku ke vaginanya, aku mulai meremas-remas payudara Bi Eci yang montok dengan puting yang besar. Kemudian mulutku mulai melumat dan menghisap-hisap buah dada yang ranum itu dengan penuh gairah. Bi Eci makin terangsang dan terus mendesah-desah, "Den... masukin sekarang den... bibik nggak tahan..."

Bi Eci lalu membuka pahanya lebar-lebar sehingga lubang vaginanya samar-samar tampak terbuka di balik bulu-bulunya yang lebat. Aroma vagina Bi Eci membuat aku semakin tidak sabar ingin memasukkan penisku ke dalamnya. Aku lalu memposisikan diriku di antara kedua pahanya, perlahan-lahan kusibakkan bibir vaginanya dan kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah teramat basah.

"Mmhh... den... ," Bi Eci merintih dengan berbisik, menjaga supaya suaranya tidak terdengar ke luar kamar. Aku mulai menggoyangkan penisku naik turun memasuki vagina Bi Eci yang hangat dan basah. Bi Eci yang sudah berbulan-bulan tidak disentuh suaminya tampak sangat menikmati tusukan-tusukan penisku. Aku merasakan otot vagina Bi Eci seperti meremas-remas penisku dengan ganas. Sementara itu tangan Bi Eci tampak meremas kasur untuk menahan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya, matanya tampak terpejam meresapi nikmat.

"Bi, saya lupa mau pake kondom dulu, nanti takut keluar di dalam bisa gawat..."
"Nggak apa-apa den, bibik pake KB kok..., nggak usah pake kondom, keluarin aja di dalam kalau aden mau keluar....," katanya sambil mencegahku mengeluarkan penis dari dalam vaginanya.

Aku terus menusukkan penisku dalam-dalam sambil tanganku meremas-remas payudara Bi Eci. Akhirnya aku merasakan gerakan Bi Eci makin ganas dan mulai tidak beraturan, tangannya mulai meremas-remas pantatku seolah memintaku untuk menusukkan penis lebih dalam lagi sementara pinggulnya memagut-magut pinggulku dengan kuat. "Mmhh...mmhh...den....bibi sudah keluar...."

Kami berhenti sejenak, tetap dalam posisi aku menindih Bi Eci yang terlentang tak berdaya. Aku memberi kesempatan Bi Eci menikmati orgasmenya yang pertama setelah berbulan-bulan....

"Enak bik...?" tanyaku, Bi Eci hanya mengangguk malu-malu. Tak lama kemudian Bi Eci kembali menggoyang-goyangkan pinggulnya, akupun lalu merespon dengan kembali menancapkan penisku ke dalam vaginanya berulang-ulang. Setelah beberapa menit berlalu aku merasakan gelombang orgasme mulai terbentuk.

Aku mempercepat tusukanku, "Bi, kayaknya saya mau keluar...."
"Mmhh... bibik juga... keluarin di dalam den..."
"Agghh...mmhh.... bik.....saya keluar..."
"Mmhh...iya den....bibik juga keluar lagi.....uuhh..."

Aku menusukkan penisku dalam-dalam sambil menumpahkan seluruh isi spermaku berkali-kali ke dalam liang vagina Bi Eci sementara itu Bi Eci dengan kuat memeluk tubuhku dan matanya terpejam menahan nikmat. Akhirnya aku merebahkan diri di samping Bi Eci yang tampak lemas melepas rasa puas. Kulihat cairan putih mulai meleleh dari lubang vagina Bi Eci.

Setelah rasa lelah mulai hilang kami bangkit dan berpakaian. Bi Eci tampak malu-malu menyadari apa yang telah kami perbuat, dia agak salah tingkah.

"Bik, pijatan spesialnya enak banget...maksud saya burung saya dipijat memek bibik, saya jadi ketagihan...."
"Ah, aden... bibik jadi malu, bibik baru pertama kali dengan laki-laki lain..."
"Bibik suka...? Kapan bisa pijit saya lagi...?"
"Terserah aden, kapan aja bibik sih nggak masalah asal jangan ketahuan yang lain, bibik malu...."
"Terus, kalau utang bibik udah lunas bibik masih mau pijit saya lagi...? Saya betul-betul ketagihan bik...."
"Hi..hi...hi... terserah aden, kapan aden mau tinggal bilang aja....., nggak usah diitung bayar utang segala...."

Akhirnya Bi Eci berpamitan pulang setelah berjanji melakukan lagi besok saat teman-temanku tidak ada di rumah. Aku bilang sama Bi Eci kalau besok gantian Bi Eci yang di atas, Bi Eci cuma menjawab dengan tersenyum nakal.

Friday, July 24, 2009

HOT Backpacker



Kisah ini terjadi setelah aku bekerja di Jakarta. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju Bandung lewat Puncak Pass dengan mobil kijangku dalam rangka tugas kantor. Perjalananku cukup lancar karena bukan hari libur dan hari cukup cerah, waktu itu kira-kira pukul 15.30 sore. Aku menikmati perjalananku sendirian sambil mendengarkan alunan musik jazz.

Kurang lebih 2 km menjelang Puncak Pass aku melihat seorang wanita bule sedang berjalan sendiri dengan ransel besar di punggungnya. Dia berkacamata, umurnya sekitar 30-an, wajahnya lumayan cantik, mirip-mirip Luna Maya tapi agak gemuk, rambutnya ikal dan pirang. Dengan segera aku menghentikan mobilku dan turun untuk menawarkan tumpangan. Bahasa Inggrisku memang pas-pasan tapi untuk komunikasi sederhana tentu saja bisa.

"Hi, where are you going...?"
"Oooh, hi... I want to go to Puncak Pass.."
"Well, I am going there too, want to go together..? It's free..."
"Hmm.. no thanks, I want to walk..."
"Come on.. it's still too far... I think it's about 5 miles from here..." kataku sedikit berbohong.

Sejenak dia tampak bingung dan ragu-ragu, tapi akhirnya dia mau ikut denganku. Kami berkenalan, dia menyebut namanya Anne, dari Australia, dan sedang menikmati liburan ala backpacker di Indonesia. Dia sudah menginap dua malam di Jakarta, lalu akan melanjutkan ke Bandung, Jogya, dan terakhir rencananya akan menghabiskan liburannya di Bali sebelum kembali ke Australia.

"Are you alone?"
"Yes, for now, but my friends are waiting for me in Bali, we will meet there..."

Kami berhenti di Puncak Pass, aku mengajaknya makan di Restoran. Setelah itu aku mengajaknya berjalan menikmati perkebunan teh. Anne orangnya sangat ramah, cukup terbuka dan mudah akrab. Tanpa malu-malu kadang dia menggandeng tanganku selama kami berjalan-jalan di antara tanaman teh. Lalu kami ke Telaga Warna, sebuah danau kecil yang ada di daerah Puncak, dan kami duduk menikmati danau tersebut sambil menghilangkan lelah.

"Are you tired Anne...?"
"Aha..yess, but it's fun... I really like it..."
"Come on, you can lean on me... just relax..."
"Is it Ok for you...?"

Meski baru saja kenal, tanpa canggung Anne merebahkan diri dan kepalanya berada di pangkuanku sementara kakinya yang sudah lelah setelah berjalan cukup jauh diselonjorkan di bangku. Sambil ngobrol, sesekali aku menyentuh tangannya. Kelihatannya Anne tidak keberatan dengan aksiku maka aku lebih jauh lagi berani membelai-belai rambutnya. Tubuh wanita bule yang tergolek kelelahan di pangkuanku tentu saja mulai membangkitkan gairahku. Apalagi Anne tampaknya juga tidak keberatan seandainya aku meminta lebih jauh. Mungkin ini salah satu yang dia cari selama berlibur sendirian disini.

"Anne... if you want, I can give you a massage to refresh your body...," kataku coba memancing.
"Oo... no..no... not here.... "
"Of course not.. we can find more private place..." kataku.
"Hey... we just met...," katanya.
"But, if not now we probably will not meet again...," kataku mencoba merayunya.
Anne hanya tersenyum penuh arti.

Tidak berapa lama kemudian Anne bangkit, "OK, let's go... I'm very tired....".
Aku tahu Anne menanggapi maksudku. Aku rasa dia juga menginginkan apa yang saat itu aku inginkan. Aku mengajaknya langsung pergi ke Bandung dan mencari penginapan di sana. Dengan begitu aku bisa menikmati malam bersama Anne tanpa harus meninggalkan pekerjaan kantor esok hari.

Kami sampai di Bandung sekitar pukul 20.00. Kami langsung makan malam dan kemudian mencari penginapan di daerah Setiabudi. Setelah masuk kamar kami bergantian mandi, Anne mandi duluan, setelah itu aku. Saat aku keluar dari kamar mandi tampak Anne berbaring tengkurap dengan mata terpejam di tempat tidur hanya berbalut handuk. Aku langsung menghampirinya,

"May I massage you now...?" kataku berbisik di telinganya, Anne mengangguk tanpa berkata-kata. Aku langsung membuka handuknya dan tampak Anne tidak mengenakan pakaian dalam sedikitpun. Aku mulai memijat punggungnya beberapa saat, lalu aku mulai memijatnya kakinya yang terasa kaku karena kelelahan. Anne tampak sangat menikmati, "Hm.. I feel great..."

Tentu saja aku tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada pijatanku. Pikiran ngeresku terus menggoda. Aku ingin segera mengakhiri pijatanku dan menikmati tubuh Anne yang putih dan montok itu. Setelah kira-kira 10 menit aku memijat tubuh Anne, tanganku mulai menggerayangi payudara Anne. Mengetahui maksudku, Anne langsung membalikkan tubuhnya dan membiarkanku melumat payudaranya. Tangan kananku mulai menggerayangi area kewanitaannya, jari-jariku mulai masuk ke vagina dan mengelus-elus klitorisnya. Perlahan-lahan vagina Anne mulai terasa basah dan licin. Anne tidak tinggal diam, sambil melenguh keenakan tangannya berusaha meraih celana dalamku dan melepaskannya. Dia langsung meremas-remas penisku yang sudah mengeras dari tadi. Kemudian dengan ganas Anne menarikku dan merebahkan badanku, dia langsung menjilati dan mengulum penisku. Aku biarkan Anne menikmati penisku sepuasnya.

Kemudian Anne mengatur posisi tubuhnya sedemikian rupa sehingga vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu pirang itu berada tidak jauh dari wajahku. Belahan vaginanya tampak begitu basah membuatku tidak sabar ingin segera menjilatinya. Segera kuarahkan mulutku ke vaginanya dan aku mulai menjilati vaginanya. Sekali kali aku mengulum klitorisnya diantara bibirku sambil terus menjilatinya, Anne tampak makin terangsang dan lenguhannya semakin ganas. Lalu lidahku kembali mengeksplorasi liang vaginanya yang basah dan lembut. Aroma vaginanya sedikit berbeda dengan aroma vagina wanita-wanita lokal yang pernah kunikmati, entah karena beda cara perawatan atau karena pengaruh gen, aromanya terasa lebih lembut dan itu membuatku semakin terangsang.

Kurasakan vagina Anne semakin basah, aku rasa Anne sudah sangat terangsang. Benar saja, Anne langsung melepaskan penisku dan memakaikan kondom yang sudah disiapkannya. Lalu dia memposisikan dirinya di atas pinggangku. Sambil setengah jongkok tangannya berusaha memasukkan penisku ke dalam lubang vaginanya yang sudah begitu basah.

"Ooohh..." Anne melenguh merasakan nikmat saat penisku memasuki vaginanya. Selanjutnya dengan ganas Anne mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya sehingga penisku terasa keluar-masuk vaginanya. Meski badannya montok dan ukuran tubuhnya lumayan besar (maklum bule), vaginanya terasa cukup menjepit penisku. Payudaranya yang menggantung tampak bergerak naik turun mengikuti irama goyangan Anne. Aku langsung meremas-remas dan memelintir kedua payudaranya dan memilin-milin putingnya. Anne tampak makin terangsang dan badannya menggelinjang hebat. Tidak berapa lama kemudian Anne menjerit dan pinggulnya menekan ke bawah dengan kuat sehingga penisku terasa masuk sampai ke ujung, "Aaagh... I'm cummiiingg......". Tangannya meremas lenganku dengan kuat selama beberapa detik, kemudian badannya mulai melemas dan Anne langsung merebahkan diri kelelahan di sampingku.

Tapi tidak lama, Anne tampaknya cepat pulih dan dia memintaku untuk menyetubuhinya lagi, "I want your cock inside me again... and make me cum....". Aku langsung bangkit dan Anne langsung membuka selangkangannya untuk mempersilahkan penisku masuk ke dalam vaginanya. Tanpa berlama-lama langsung kutancapkan penisku dalam-dalam ke liang vaginanya sambil terus menggerakkan pantatku dengan kuat. Anne kembali menjerit tertahan, "Oooh... fuck me hard...fuck me hard..." Tanganku terus meremas payudaranya dan lidahku menjilati telinga dan lehernya. Tampak Anne sangat menikmatinya, dia menanggapi dengan menggerakkan pinggulnya mengimbangi gerakanku sambil tangannya terus mencengkeram punggungku kuat-kuat. Tubuh kami basah oleh keringat meski malam sebenarnya begitu dingin. Kami terus menikmati persetubuhan yang panas ini, kami saling meremas, saling menjilat, kadang bibir kami saling bercumbu dan lidah kami saling melilit. Akhirnya Anne mulai merasakan orgasmenya yang kedua, akupun mulai merasakan desakan sperma yang ingin tumpah.

"Ooohh... fuck me harder...I'm cumming.... I'm cumming..." Anne menggelinjang hebat.
Aku menggerakkan pantatku makin kuat, dan akupun sudah tidak tahan lagi, "Oohh... Anne.....yess... I'm cumming too...". Akhirnya kami berdua mengalami orgasme secara bersamaan, kami saling berpelukan erat merasakan nikmat yang luar biasa sebelum akhirnya seluruh tubuh kami terasa lemas.

Kami berbaring lemas dan saling berpelukan. Anne mengatakan kalau ini adalah pengalamannya yang pertama bercinta dengan pria Asia, akupun mengatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamaku bercinta dengan wanita bule. Anne bilang dia sangat menikmatinya dan ingin melakukannya lagi kalau rasa lelahnya sudah hilang. Memang hanya sejam saja kami beristirahat, setelah itu tangan Anne meremas-remas penisku hingga kembali mengeras dan Anne memintaku untuk memasukkannya lagi ke dalam vaginannya. Kami melakukannya berulang-ulang malam itu sampai kami akhirnya benar-benar kelelahan setelah orgasmeku yang ketiga,

Pagi harinya kami mandi bersama dan melakukannya lagi di kamar mandi. Tidak puas dengan itu, Anne menarikku ke atas ranjang dan menindih tubuhku lagi sambil memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah tampak merah. Berbagai gaya kami lakukan pagi itu, kadang Anne di atas, lalu gantian aku yang di atas. Kemudian Anne memintaku untuk menusukkan penisku dari belakang, doggy-style. Kadang kami melakukannya di atas lantai atau sambil duduk di kursi. Sampai akhirnya kami mengalami orgasme yang begitu nikmat berkali-kali. Rasanya kami sudah bergumul lebih dari dua jam pagi itu. Anne terlihat sangat kelelahan tapi wajahnya menampakkan rasa puas, akupun demikian.

Akhirnya kami berpisah juga karena aku harus segera pergi menyelesaikan urusan kantor. Anne memberiku nomor hp-nya selama di Indonesia dan dia berharap aku bisa menyusulnya di Bali untuk kembali menikmati malam-malam yang panas di sana. Sayangnya aku tidak bisa memenuhi permintaan itu karena tidak bisa mendapatkan cuti. Aku katakan padanya untuk memberi kabar kalau lain kali ingin datang lagi ke Indonesia, aku siap menemaninya kemana saja.