Monday, August 27, 2012

From Medan With Lust

Sabtu sore itu aku mengendarai mobilku di jalan tol Cipularang menuju ke Bandung. Aku memilih melaju dengan santai karena memang tidak ada yang aku kejar. Presentasi untuk tender proyek di Bandung baru hari Rabu siang dan tim kami bisa mempersiapkannya hari Senin - Selasa. Jalanan agak padat seperti biasa karena weekend. Tiba-tiba dari sebelah kiri sebuah mobil Toyota Fortuner dengan seenaknya memotong jalan membuat aku sedikit terkejut dan mengumpat dalam hati, "Sialan tuh Fortuner nggak tau aturan... nyalip di tol kok dari kiri.' Aku cuma membunyikan klakson beberapa kali untuk memperingatkan si pengemudi dari kelakuan ugal-ugalannya, tapi sesudah itu aku tidak ambil pusing. Aku ingin santai menikmati perjalanan.

Setelah istirahat makan sambil mengisi BBM aku melanjukan perjalananku. Mendekati Padalarang jalan mulai padat dan semua kendaraan melambat, di spedometerku cuma tercatat sekitar 25-30 km/jam. Baru kurang lebih 10 menit berjalan lambat aku melihat mobil yang tidak asing lagi, Fortuner yang ugal-ugalan menyalipku dari kiri tampak berhenti di bahu jalan. Sepertinya ada masalah dan dua orang wanita muda tampak sedang kebingungan sambil membuka kap mesin. Aku sudah melupakan sama sekali kekesalanku sebelumnya, sekarang kupikir tak ada salahnya kalau aku mencoba menawarkan bantuanku, siapa tahu ada gunanya. Kuhentikan mobilku sekitar 15 meter di depan mereka, dan dengan ramah aku menawarkan bantuanku.

"Halo, ada yang bisa saya bantu...?"
"Halo juga bang... ini entah kenapa, motor kami tiba-tiba mati mesinnya."

Dari logatnya aku langsung menduga mereka berasal dari Medan, karena disana 'mobil' mereka sebut 'motor'. Sebenarnya aku tidak tahu banyak soal mesin tapi sudah kepalang basah. Mereka mengenalkan diri, yang mungil berambut pendek dan dicat pirang bernama Dessy, sedangkan yang agak sintal dan berambut panjang namanya Marisa. Usia mereka kuperkirakan masih terbilang muda, sekitar 23 tahunan. Akhirnya aku menawarkan memanggil mobil derek untuk membawa mobil ke bengkel kenalanku di Bandung, sementara mereka bisa menumpang mobilku. Mereka setuju karena tidak ada pilihan lain.

Selama perjalanan mereka bercerita kalau mereka baru datang dari Medan dan sengaja ingin pergi ke Bandung menggunakan mobil abang si Dessy yang ada di Jakarta. Keduanya masih single dan ngakunya sedang menjomblo. Mereka belum pernah ke Bandung sebelumnya dan sekarang juga tidak punya rencana yang pasti. Mereka hanya ingin senang-senang di Bandung menikmati hadiah liburan dari kantor.

"Jadi rencananya malam ini kalian mau menginap di mana?"
"Belum tahu kita bang.. abang ada tahu hotel yang bagus tapi nggak gitu mahal?"
"Wah, kalau weekend begini agak susah kalau nggak booking dulu..., " aku pura-pura kaget.

Otak mesumku mulai bekerja, aku melihat kesempatan yang mungkin bisa kumanfaatkan... Aku akan atur supaya mereka tidak mendapat hotel dan akhirnya terpaksa tidur di kamar hotel yang sudah aku pesan sebelumnya. Setelah mengurus mobil ke bengkel, sengaja mereka  ku ajak ke beberapa hotel terkenal yang sudah pasti fully-booked pada saat weekend.

"Macam mana nih bang Doni.. sudah 10 hotel kita datangi semua penuh..." kata Marisa setengah putus asa.
"Yah, begitulah Bandung kalau weekend, lain kali mestinya kalian pesan kamar dulu..."
"Kami orang Medan mana tahu bang... tolong bantulah bang, terserah di mana aja asal kami bisa tidur malam ini... kita nggak ada saudara atau teman di Bandung bang..." kata Dessy yang tampak mulai capek.

"Ok, begini aja... kalian malam ini bisa tidur di kamar hotelku, aku tidur di mobil, besok kita cari hotel lagi, siapa tahu sudah ada," kataku memberi alternatif.
"Abang macam mana nanti... nggak apa-apa abang tidur di mobil?"
"Nggak apa-apa, cuma aku nanti numpang mandi aja di kamar ya..."

Mereka setuju, lalu kamipun pergi ke sebuah hotel terkenal di jalan Riau. Ini sebenarnya bagian dari rencana otak mesumku. Dengan situasi seperti ini aku tampak sebagai pahlawan bagi mereka, dan bukan tidak mungkin mereka akan memberikan balas jasa untuk itu meski aku tidak memintanya. Sementara mereka membereskan barang-barang, aku mandi. Begitu aku selesai mandi mereka mengajakku untuk mencari makan, maklum sudah jam 8 malam dan memang perutku juga mulai lapar.

"Bang Doni tahu tempat makan enak di Bandung khan bang? Kita makan sama-sama yuk... kami yang traktirlah bang...OK?"

Kami pergi mencari makan di daerah Dago Atas, tempatnya nyaman dan suasanyanya cepat membuat kami akrab. Aku masih bersandiwara menampilkan diriku seperti seorang pahlawan yang tulus hati, padahal pikiran kotorku sudah semakin tergoda, terutama melihat Marisa yang tampak sexy dengan rok mini dan t-shirt ketatnya. Tapi dengan berpura-pura polos seperti itu tampaknya malah membuat Dessy dan Marisa berusaha keras untuk menarik simpatiku. Tidak jarang mereka berusaha menggodaku, baik dengan kata-kata yang menjurus maupun dengan cubitan-cubitan manja mereka. Maklum usia mereka sudah cukup matang untuk memuaskan birahi.

"Abang, macam mana abang nanti tidur di mobil sendiri... kesepianlah abang...," kata Dessy mulai memancing-mancing.
"Ah..enggak apa-apalah berkorban buat dua cewek cantik macam kalian," kataku pura-pura jadi pahlawan kesiangan.
"Tidur ajalah di kamar sama kami bertiga, asal abang bener-bener tidur ya...jangan macam-macam sama anak Medan ya..." kata Marisa becanda seolah-olah mengancam.

Hm.. ini yang aku tunggu...aku langsung setuju. Mana mungkin tiga orang dewasa berlainan jenis dalam satu kamar hanya melewatkan waktu dengan tidur... Aku rasa mereka sudah tahu persis resikonya. Kami pulang ke hotel sekitar jam 12 malam, bertiga langsung kami menuju ke kamar. Kulihat mereka saling berbisik dan tertawa, entah apa yang dibisikkan, tapi aku menduga pasti ada sesuatu yang ingin mereka rencanakan. Aku masih pura-pura polos dan berlagak tidak tahu apa-apa.

Di kamar kami langsung ke tempat tidur ukuran kingsize, cukup lega buat bertiga. "Abang di tengah ya bang... biar adil," kata Marisa. Aku menurut saja seperti kerbau dicucuk hidungnya. Sementara mereka berganti baju, aku berbaring di tengah tempat tidur tersenyum sendiri membayangkan apa yang mungkin akan terjadi. Setelah mengenakan baju tidur masing-masing. Marisa dan Dessy langsung berbaring di samping kiri-kananku. AC kamar cukup dingin sehingga menjadi cukup alasan buat kami tidur berdekatan di balik selimut.  Dengan manja Marisa dan Dessy menyenderkan kepala mereka di bahuku. Aku tahu, mereka sudah membuka diri, sekarang giliranku yang harus menanggapi 'tawaran' mereka sebelum semuanya terlambat.

"Kayaknya abang nggak bisa tidur nih..." kataku lirih sambil mulai mengikuti gaya bahasa mereka.
"Kenapa bang... nggak biasa tidur diantara dua putri cantik ya.." kata Marisa menggoda.
"Abang bingung..." kataku sambil kedua taganku mulai meraba paha mereka.
"Bingung kenapa bang...?" kata Dessy manja sambil tangannya mengusap dadaku yang sedikit berbulu.
"Bingung siapa yang harus abang cium duluan...yang mungil atau yang montok.." kataku sambil tertawa.
"Ah..abang ini, kami kira bingung kenapa, terserah abang lah... siapa yang abang suka..kami sih nggak masalah siapa yang duluan, yang penting abang adil ya bang...," kata Marisa sambil mencubit perutku dengan manja. Langsung kutangkap tangan Marisa dan kutarik sehingga kepalanya makin mendekat. Aku langsung mencumbu bibirnya dengan hangat, dan Marisa langsung menanggapi dengan tidak kalah hangatnya. Kurang lebih semenit kami bercumbu lalu kulepaskan dan aku berganti mencumbu Dessy yang sudah siap menunggu. Tanganku mulai aktif meraba payudara Dessy di balik BHnya dan membuatnya menggelinjang keenakan.

Kulepaskan bibirku dari Dessy dan sekarang aku mencumbu Marisa lagi sambil mulai membuka dasternya. Dessy tanpa diminta juga langsung membuka dasternya dan dia juga mulai membuka baju dan celanaku. Akhirnya kami bertiga telanjang bulat tanpa sehelai benangpun. Mataku tidak terpejam melihat 2 gadis Medan tergolek di hadapanku, yang satu kurus tinggi dan putih dengan payudara kecil namun padat, sementara satu lagi badannya agak berisi dan kulit sedikit coklat dengan payudara besar yang agak menggantung namun masih terlihat kencang.

Dari semula aku sudah terangsang melihat Marisa yang sexy, maka aku langsung meremas payudaranya yang empuk dan menjilati putingnya. Sementara tangan kananku mulai meraba ke arah selangkangan Marisa sambil mencari belahan vagina diantara bulu-bulunya yang halus. Jariku segera menemukan belahan vagina Marisa yang basah dan aku langsung masukkan kedua jariku ke dalamnya sambil ibu jariku mempermainkan klitorisnya yang membuat Marisa melenguh keenakan. Sementara itu Dessy terus meremas-remas penisku yang tegang dengan lembut lalu memasukkannya ke dalam mulut.

Setelah puas melumat payudara Marisa, aku mengarahkan kepalaku ke selangkangannya. Marisa menanggapi dengan membuka kedua pahanya sehingga belahan vaginanya tampak membuka menampakkan lubangnya yang merah segar dan sempit. Aku langsung menjilati vaginanya sambil sesekali mengulum klitorisnya. Marisa semakin menggelinjang  penuh nafsu.

"Aduuh bang...enak kali baaang.... abang pandai kali jilat punya Icha... oooh.. mmhh.."

Sekitar 5 menit lamanya aku puas menjilati vagina dan klitoris Marisa, kulihat Marisa sudah hampir mencapai orgasme. Langsung aku lepaskan kepalaku dari selangkangan Marisa, sengaja membuatnya penasaran. Aku juga melepaskan penisku dari mulut Dessy dan lalu merebahkan tubuh mungil Dessy ke samping Marisa. Sekarang giliran Dessy yang kujilati payudaranya sambil tanganku menjelajahi vagina mungilnya yang ditumbuhi bulu tipis. Sementara itu Marisa langsung menggantikan tugas Dessy melumat penisku ke dalam mulutnya.Sama seperti yang kulakukan pada Marisa, aku membuka paha Dessy dan lalu membenamkan kepalaku diantara selangkangannya sambil menjilati vagina mungil Dessy dengan penuh nafsu. Kupermainkan klitorisnya dengan lidahku sambil tanganku memilin-milin puting payudaranya yang mungil. Dessy mulai menggelinjang keenakan sambil kedua tangannya memegang erat kepalaku. Tidak berapa lama kemudian pinggul Dessy mulai bergerak tidak terkontrol.

"Bang...aduh..bang..Dessy nggak tahan bang..... ooohh... baaang... "

Kulepaskan penisku dari mulut Marisa, lalu aku memposisikan diriku diantara kedua paha Dessy. Kuarahkan penisku ke dalam lubang vaginanya yang tampak basah. Kutunggu sampai Dessy mulai bisa mengendalikan diri, lalu dengan sekali sentakan lembut penisku langsung masuk menghujam ke dalam vaginanya.

"Mmh...baaang... enak baaang, masukin yang dalam baang..." Dessy merem-melek dan merintih penuh nikmat sambil memeluk erat tubuhku. Aku merasakan vagina Dessy sempit sekali, mungkin karena tubuhnya yang mungil dan pinggulnya yang kecil. Untung saja cairannya cukup banyak karena sudah terangsang, sehingga penisku tidak terlalu sulit utuk bergerak keluar-masuk. Rasanya seperti penisku masuk ke vagina perawan, setiap kali aku menggerakkan penisku terasa vaginanya seperti memerah penisku dengan kuat. Sementara itu di sebelah kami Marisa tidak berkedip melihat aksi kami, tangannya mulai gatal menggerayangi vaginanya sendiri.

Sempitnya vagina Dessy membuat penisku terangsang sangat hebat dan gelombang orgasme mulai muncul di luar kendali. Sementara itu Dessy juga semakin tidak terkontrol gerakannya, pinggulnya berkedut-kedut menyambut setiap tusukan penisku sehingga penisku terbenam semakin dalam di liang vaginanya. Aku tidak mau ambil resiko, kulepaskan penisku sebentar untuk memasang kondom, lalu kembali kumasukkan penisku ke dalam vagina Dessy.

"Aduh baang..Dessy udah mau keluar baaang..nggak tahan bang...punya abang masukin yang dalam baang... adduuuhh..ooohh...ooohhh...baaang...ooohhh..."  Sementara aku juga hampir sampai puncak meski sudah dengan susah payah aku berusaha mengendalikan diri. Tidak biasanya aku secepat ini, vagina Dessy memang luar biasa....

"Aduuuh Dessy.... abang mau keluar juga...ooh...kita barengan ya..." kataku sambil mempercepat tusukan penisku. Dessy menggelinjang makin tidak terkontrol, tangannya mencengkeram punggungku dengan kuat seolah tidak mau lepas.

"Aaagh...baaang...Dessy  keluaaar... bang.."
"Abang juga...aduuuh...aaaagh..." akhirnya terasa badanku bergetar hebat mengiringi keluarnya spermaku ke dalam kondom sambil kutusukkan penisku dalam-dalam di vagina Dessy.

Badanku langsung terkulai lemah menindih tubuh mungil Dessy yang masih berkedut-kedut menahan gelombang orgasmenya. Setelah mengumpulkan sisa-sisa tenagaku aku mengecup bibir Dessy dengan hangat, lalu kucabut penisku dari vaginanya dan kemudian membuang kondom yang penuh dengan sperma ke tempat sampah. Aku membaringkan diriku diantara dua gadis yang terbaring tanpa busana. Yang satu sedang terkulai kelelahan menikmati sisa orgasmenya, sedangkan yang satu lagi tampak masih berharap bisa menikmati apa yang baru dilihatnya.

"Icha.. tunggu bentar ya.. 5 meniiit aja.. abis itu giliran kamu"
"Santai aja bang....sampai pagi juga Icha tunggu bang.. yang penting adil..." katanya sambil tertawa.

Kuraih tangan Marisa dan kuarahkan ke penisku yang masih terkulai lemas. Marisa tahu apa maksudnya, dia langsung meremas dan mengocok-kocok penisku supaya cepat bangun. Marisa mengambil tissu untuk membersihkan sisa cairan di penisku lalu mulai mengulum penisku yang perlahan mulai bangkit. Tidak sampai 5 menit penisku mulai mengeras. Mungkin sudah terlanjur 'horny' melihat aku dan Dessy, begitu melihat penisku siap tempur Marisa langsung memposisikan diri di atasku dan mengarahkan penisku ke dalam vaginanya. Dengan perlahan tapi pasti pinggulnya menekan ke bawah sehingga penisku masuk terbenam dalam di vaginanya. "Aagh..." Marisa memekik sambil merem menaham rasa nikmat.

Marisa mulai menggerakkan pinggulnya naik-turun sambil berdesah-desah mengekspresikan setiap rasa nikmat setiap kali penisku meluncur masuk ke dalam vaginanya, aku juga tidak mau kalah menanggapi gerakannya dengan menyentakkan pantatku ke atas dengan ringan saat Marisa menekan ke bawah.

"Bang...ntar sama Icha nggak usah pake kondom ya...aman kok...Icha pengen abang keluarin punya abang di dalam," kata Marisa berbisik sambil berusaha menahan desah nafasnya yang berat. Aku mengiyakan sambil tersenyum kegirangan. Memang vagina Marisa tidak sesempit Dessy, tapi kekurangannya itu ditutupi dengan libido yang besar sehingga membuat penisku terasa seperti sedang diremas-remas oleh dinding vaginanya. Payudaranya yang montok membuat tanganku tergerak untuk meraba dan meremasnya. Tidak berapa lama kemudian aku merasakan Marisa mulai kehilangan kontrol.

"Aduh baang.. Icha udah nggak tahan, abang yang di atas aja..." katanya sambil melepaskan penisku dari vaginanya. Marisa lalu berbaring di sebelah Dessy yang masih tergolek kelelahan. Diangkatnya kedua pahanya, sehungga belahan vagnanya tampak membuka mengundang penisku untuk masuk ke dalamnya. Langsung aku arahkan penisku masuk ke dalam liang vaginanya. kutekan dalam-dalam sampai penisku terasa menyentuh ujung liang vaginanya. "Aaagh...bang.... enak bang...gila bang...enak kali punya abaaang...," Marisa berusaha mengekspresikan rasa nikmat yang dirasakannya.

Aku terus mengenjot pinggulku naik-turun dengan cepat sehingga membuat Marisa semakin kehilangan kontrol. Kuganjal pantatnya yang bulat montok dengan bantal sehingga penisku masuk semakin dalam lagi. Akhirnya usaha Marisa berganti posisi untuk mengontrol orgasmenya sia-sia, dengan posisi di bawahpun orgasmenya tidak kuasa dibendungnya lagi.

"Adduuh bang...Icha mau keluaar... aduuh bang Icga nggak tahan lagi baaang..."
"Keluarin aja...Icha... nanti abang nyusul...."
"Aggh...baaang...Icha keluaaar baaaang...aggh...oohhh...ooooooooh," Marisa menggelinjang keras sambil mengedut-kedutkan pinggulnya. Akhirnya Marisa tergolek lemas tak berdaya, sementara penisku masih tertancap di dalam vaginanya. Aku sendiri belum merasakan orgasme karena yang kedua memang biasanya lebih lama.

Setelah Marisa mulai sadar, aku kembali menggerakkan penisku. Marisa tampaknya juga kembali mulai terangsang, maklum wanita memang bisa cepat pulih setelah orgasme. Beda dengan laki-laki yang pasti butuh waktu untuk istirahat sebelum bisa tegang kembali. Kali ini aku minta Marisa berganti posisi, kubalikkan badannya dan kuangkat pantatnya. Perlahan kubuka pahanya dan penisku langsung membelah vaginanya dari belakang. "Agghh... enak kali baang..." Marisa tampak sangat menikmati posisi ini, tangannya berusaha meraih buah pelirku dan meremas-remasnya sehingga membuat aku semakin terangsang. Ketika aku mulai merasakan munculnya gelombang orgasmeku yang kedua, langsung kucabut penisku dan kubalikkan badan Marisa. Kuangkat kaki kanan Marisa dan kusilangkan agak ke kiri sehingga tubuhnya agak menyamping. Dengan posisi ini penetrasi penisku terasa semakin mantap karena kaki kanan Marisa ikut menambah kekuatan otot vaginanya dalam menjepit penisku. Tanpa membuang waktu lagi aku langsung menancapkan penisku ke dalam vagina Marisa. Posisi ini rupanya 'baru' buat Marisa sehingga dia menjadi begitu cepat terangsang.

"Abang,,,aduh...Icha bisa keluar lagi nih bang..."
"Nggak apa-apa Icha..keluarin aja...abang juga mau keluar...kita barengan..."
"Aggh...bang...aduuuh...bang...Icha nggak tahan bang...enak kali bang..."
"Keluarin barengan aja ....abang udah mau nembak....mmhh..."
"Keluarin di dalam punya Icha ya bang...adduuuhh...Icha mau keluar sekarang baaangg..."
"Aggh...abang juga keluar...aaaaghh..."

Akhirnya aku tidak tahan lagi, sambil kupeluk erat tubuh montok Marisa spermaku menyembur keluar memenuhi liang vagina Marisa yang berdenyut-denyut karena orgasmenya yang kedua. Setelah melepaskan seluruh perasaan puas, aku mencabut penisku yang lemas kehabisan tenaga. Spermaku tampak mulai menetes keluar dari vagina Marisa. Kukecup bibirnya dengan lembut, Marisa hanya bisa tergolek pasrah tanpa daya. Setelah tenaga kami pulih, kamipun ke kamar mandi membersihkan diri.

Dessy yang sedari tadi menikmati aksi kami langsung protes, "Abang nggak adil ya..., kenapa nggak tanya Dessy dulu, harusnya sama Dessy abang juga nggak perlu pake kondom, Dessy juga aman... baru selesai mens 3 hari yang lalu, sama dengan Icha"
"Sorry, abang cuma nggak mau ada resiko, emang apa bedanya sih..."
"Ya bedalah bang... kalau nggak pake kondom lebih enak... waktu nembak punya abang serasa meledak di dalam...puasnya mantap kali..."
"Oh...gitu...Ya udah, besok kita main lagi nggak pake kondom, abang janji..." kataku menghibur Dessy yang masih cemberut.
"Beneran ya bang... jangan bohong... besok abang main dengan Dessy nggak pake kondom... abang harus adil..."

----------------

Waktu sudah menunjukkan jam 2 pagi ketika kami memutuskan untuk tidur bertiga saling berpelukan tanpa busana. Sekitar jam 6 pagi aku terbangun. Kulihat kedua gadis Medan masih tergolek di samping kiri-kananku. Dengan gemas kuraba payudara Marisa yang montok dari belakang sehingga Marisapun terbangun.

"Abang udah bangun.?.Jam berapa ni bang..?. Marisa masih ngantuk.."
"Udah jam 6 pagi sayang..., abang gemes lihat tetek kamu... boleh abang pegang ya..."
"Ihh abang...nanti terangsang macam mana bang...."
"Ya nggak apa-apa, kita main lagi... threesome seperti semalam"
"Dasar...abang...genit..., abang udah sering threesome ya...." kata Marisa sambil mencubit pahaku.
"Ah..kadang-kadang aja.. kalau dapet rejeki seperti sekarang ini...mana mungkin abang tolak.."
"Kami belum pernah lho bang... semalem itu yang pertama kami main bertiga. Tadinya aku takut juga  bang..., tapi Dessy yang bilang buat pengalaman..."
"Tapi suka khan..." kataku sambil tanganku mempermainkan putingnya.
"Ihh... abang ini... getek kali....." katanya sambil tangannya berusaha ke belakang meraih penisku.

Aku tidak peduli, tanganku terus meremas-remas payudara Marisa sehingga membuatnya mulai terangsang. Kubalikkan badannya dan tanganku mulai menggerayangi selangkangannya sehingga vagina Marisa menjadi basah oleh cairannya. Nafas Marisa kembali terengah-engah menahan nafsu dan tangannya meremas-remas penisku yang mulai mengeras.

"Boleh abang masukin..."
"Iya bang...masukin aja..."

Langsung aku membuka paha Marisa dan menindih tubuh montoknya sambil menancapkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah basah. Dessy tampak masih tidur, tapi aku tidak enak hati kalau  kami berdua main duluan meninggalkan Dessy. Sambil aku menancapkan penisku naik-turun di atas tubuh Marisa, tanganku meremas-remas payudara Dessy hingga dia terbangun. Setelah sadar apa yang terjadi, Dessy hanya tersenyum dan tetap membiarkan tanganku meremas-remas payudaranya. Pagi itu permainan kami berjalan sangat cepat, karena nafsunya sudah langsung tinggi tidak sampai 5 menit Marisa mulai menggelinjang tidak beraturan. Kupercepat tusukan penisku, tidak lama kemudian Marisa memelukku dengan erat sambil menjerit panjang menahan nikmat dan langsung kolaps beberapa detik kemudian, tergolek lemas karena orgasme.

Tidak menunggu lama, penisku yang masih tegang langsung kucabut dari vagina Marisa dan mencari sasaran baru, vagina Dessy. Dessy yang sudah terangsang berat melihat persetubuhan kami, langsung membuka pahanya dan membiarkan penisku masuk ke dalam vaginanya. Aku tidak membuang waktu, langsung kugenjot penisku keluar-masuk vagina Dessy dengan irama yang cepat. Kami berganti-ganti posisi, kadang aku di atas, kadang aku di bawah. Menghadapi vagina Dessy yang sempit aku tidak bisa bertahan lama, hanya kurang lebih 7 menit aku mulai merasakan gelombang orgasme. Dan tampaknya Dessy juga merasakan hal yang sama, pagutan pinggulnya makin kuat dan cengkeraman vaginanya makin keras.

"Bang... keluarin di dalam ya baangg...Dessy mau ngerasain abang punya keluar di dalam..."
"Iya Dessy...abang udah mau keluar..."
"Ayo bang...Dessy juga mau keluar...aggh...ooohh...mmhhh.. sekarang bangg...ooohhh."
"Dessy...abang keluaar...ooohh...."

Akhirnya dengan sebuah sentakan kuat aku memuncratkan seluruh spermaku ke dalam vagina Dessy yang menerimanya dengan perasaan puas.

----------------

Setelah beristirahat melepaskan rasa puas, kami mandi dan bersiap melanjutkan aktivitas. Sementara mobil mereka masih di bengkel sampai hari Senin mau tidak mau akulah yang mengantarkan mereka menikmati kota Bandung. Tidak apalah, aku pikir pengalaman bersama mereka semalam dan pagi tadi sudah menjadi hiburan yang luar biasa buatku. Dan ternyata pengorbananku mengantarkan mereka juga tidak sia-sia. Ketika aku menawarkan mereka untuk mencari hotel, mereka menolak. Mereka mau tidur bertiga lagi di kamar hotelku dan menikmati threesome sampai mereka pulang ke Jakarta lagi pada hari Selasa, artinya sudah pasti aku akan menikmati surga libido bersama mereka selama dua malam lagi.....alamak... mantap kali...!

Sunday, August 16, 2009

Pijatan Bi Eci

Menjelang akhir kuliahku di Bandung aku tinggal di daerah Dipati Ukur, mengontrak bersama 3 orang temanku. Karena sibuk dengan tugas akhir aku sudah jarang bertemu dengan Tante Nita maupun teman-temannya. Terakhir aku berkencan dengan Tante Nita sebulan yang lalu. Saat itu ketiga temanku pergi berlibur ke Jakarta selama 3 hari, lalu aku sengaja mengundang Tante Nita untuk datang ke rumahku. Selama dua hari berturut-turut Tante Nita datang sambil membawa makan siang dan selajutnya kami melepaskan kerinduan syahwat kami sepuasnya hingga malam hari. Tante Nita belum mau pulang kalau aku belum orgasme tiga kali.

Sebulan tidak menyentuh seorang wanitapun rasanya sungguh berat bagiku, tapi aku beruntung bisa mengalihkannya dengan berkonsentrasi dalam kesibukan menyelesaikan tugas akhir. Di rumah kami tidak ada pembantu, hanya ada Bi Eci yang setiap hari datang untuk mencuci baju. Bi Eci ini sangat baik, meski kami hanya membayarnya untuk mencuci baju tidak jarang dia juga ikut membereskan dan membersihkan rumah. Bi Eci asli Sukabumi, usianya sekitar 35 tahun dan suaminya bekerja sebagai sopir di Jakarta. Meski sudah memiliki 3 orang anak Bi Eci tidak tampak gemuk, mungkin karena dia banyak bekerja dan juga pintar merawat tubuhnya. Wajahnya khas Sunda, cantik dan kulitnya putih. Aku dan teman-temanku kadang-kadang suka menggodanya, tentu dalam batas-batas yang wajar sehingga Bi Eci juga tidak tersinggung.

Suatu hari Bi Eci datang kepadaku, dia mengeluh suaminya belum pulang-pulang sudah 2 bulan dan dia butuh uang untuk bayar sekolah anaknya. Aku memberinya pinjaman Rp 200.000,- Untuk ukuran waktu itu jumlah tersebut cukup besar, kira-kira setengah jumlah kiriman bulananku. Bi Eci berjanji mengembalikannya kalau suaminya sudah pulang nanti, aku sih setuju aja.

Sudah sebulan berlalu, aku sebenarnya tidak terlalu memikirkan uang yang dipinjam oleh Bi Eci karena tidak pernah kuanggap sebagai sebuah pinjaman. Tapi Bi Eci tampaknya tidak merasa enak hati karena sudah sebulan lebih suaminya masih juga belum ada kabar.

"Duh, aden... bibik minta maaf belum bisa mengembalikan pinjaman bibik..."
"Ah, udah bik, nggak usah dipikirin, itu buat bibik aja...."
"Jangan den..., bibik nggak enak..."

Aku mencoba menjelaskan kalau uang itu aku anggap sebagai bonus karena dia mau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lain selain mencuci, tapi Bi Eci tetap tidak mau.

"Ya udah deh, bibik bisa bayar dengan cara lain, nggak usah harus pake duit..."
"Gimana den...?"

"Gini bik..., bibik bisa mijitin saya nggak?"
"Oh.. kalau cuma mijit sih bibik bisa aja den, tapi enak apa enggak bibik nggak tau soalnya bibik cuma pernah mijit suami bibik aja..."
"Ah, nggak apa-apa bik, yang penting bibik mijitnya serius, nggak setengah-setengah, pasti enak...., sekali mijit saya itung 25 ribu gimana..."

Bi Eci setuju, kami lalu masuk ke kamar dan menutup pintu, kebetulan pada waktu itu cuma ada aku saja di rumah. Aku berbaring tengkurap di tempat tidur dan Bi Eci mulai memijatku. Mulanya Bi Eci agak canggung karena berdua sekamar denganku, tapi lama-kelamaan dia mulai terbiasa. Pijatannya lumayan enak dan membuatku merasa nyaman sekali. Sambil memijit Bi Eci mulai curhat soal suaminya yang nggak pulang-pulang.

"Wah, terus bibik kesepian dong....," kataku mulai memancing-mancing.
"Yah, resiko den..., untung ada anak-anak jadi bibik nggak terlalu kesepian."
"Maksud saya kalau malam gimana? Bibik sendirian terus dong..."
"Ah aden ini....," katanya sambil mencubit pantatku.
"Jujur aja bik, emangnya bibik nggak kepengen begituan...."
"Ih... bibik masih normal den, ya pengen juga..."

"Ya udah, gini bik... tiap mijit saya itung 100 ribu tapi bibik mijitnya ekstra ya... persis seperti kalau bibik mijit suami bibik gitu...ada tambahannya," kataku memancing lebih lanjut.
Sejenak Bi Eci terdiam dan memandangku, "Aden pengen ya....kalau aden pengen bibik sih mau aja...," kata Bi Eci setengah berbisik di telingaku.

Aku cuma tersenyum, Bi Eci lalu bangkit keluar kamar untuk memastikan pintu rumah sudah terkunci kemudian dia masuk kembali dan mengunci pintu kamarku. Dia mulai melepas bajunya sehingga yang tertinggal hanya BH dan celana dalamnya saja. Sekarang kami berdua sama-sama hanya mengenakan pakaian dalam saja. Bi Eci membalikkan badanku dan tangannya masuk ke celana dalamku, dia meremas-remas penisku yang perlahan-lahan mulai membesar. Tampaknya Bi Eci benar-benar sedang mempraktekkan apa yang dilakukannya setelah memijat suaminya. Di pelorotkannya celanaku, dan dia langsung menjilat-jilat penisku lalu memasukkan ke dalam mulutnya. Tidak kusangka Bi Eci yang sehari-hari hanya tukang cuci ini cukup pandai dalam melakukan oral-sex.

Aku tidak tinggal diam, tanganku mulai menggerayangi selangkangan Bi Eci, jari-jariku mulai masuk ke dalam lubang vaginanya yang basah sambil mengusap-usap klitorisnya. Bi Eci tampak keenakan, dia langsung melepas celana dalam dan BHnya sehingga kami berdua betul-betul telanjang bulat. Bi Eci kembali melumat penisku dengan ganas, sementara tanganku terus menggerayangi vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu lebat. Tampaknya Bi Eci mulai tidak tahan dan dia berusaha melepaskan tanganku dari vaginanya, "Masukin aja itunya den, ke punya bibik..."

Bi Eci lalu berbaring telentang dengan wajah penuh harap. Akupun sudah sangat terangsang dan penisku sudah sangat tegang. Tapi aku tidak langsung memasukkan penisku ke vaginanya, aku mulai meremas-remas payudara Bi Eci yang montok dengan puting yang besar. Kemudian mulutku mulai melumat dan menghisap-hisap buah dada yang ranum itu dengan penuh gairah. Bi Eci makin terangsang dan terus mendesah-desah, "Den... masukin sekarang den... bibik nggak tahan..."

Bi Eci lalu membuka pahanya lebar-lebar sehingga lubang vaginanya samar-samar tampak terbuka di balik bulu-bulunya yang lebat. Aroma vagina Bi Eci membuat aku semakin tidak sabar ingin memasukkan penisku ke dalamnya. Aku lalu memposisikan diriku di antara kedua pahanya, perlahan-lahan kusibakkan bibir vaginanya dan kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah teramat basah.

"Mmhh... den... ," Bi Eci merintih dengan berbisik, menjaga supaya suaranya tidak terdengar ke luar kamar. Aku mulai menggoyangkan penisku naik turun memasuki vagina Bi Eci yang hangat dan basah. Bi Eci yang sudah berbulan-bulan tidak disentuh suaminya tampak sangat menikmati tusukan-tusukan penisku. Aku merasakan otot vagina Bi Eci seperti meremas-remas penisku dengan ganas. Sementara itu tangan Bi Eci tampak meremas kasur untuk menahan rasa nikmat yang menjalari seluruh tubuhnya, matanya tampak terpejam meresapi nikmat.

"Bi, saya lupa mau pake kondom dulu, nanti takut keluar di dalam bisa gawat..."
"Nggak apa-apa den, bibik pake KB kok..., nggak usah pake kondom, keluarin aja di dalam kalau aden mau keluar....," katanya sambil mencegahku mengeluarkan penis dari dalam vaginanya.

Aku terus menusukkan penisku dalam-dalam sambil tanganku meremas-remas payudara Bi Eci. Akhirnya aku merasakan gerakan Bi Eci makin ganas dan mulai tidak beraturan, tangannya mulai meremas-remas pantatku seolah memintaku untuk menusukkan penis lebih dalam lagi sementara pinggulnya memagut-magut pinggulku dengan kuat. "Mmhh...mmhh...den....bibi sudah keluar...."

Kami berhenti sejenak, tetap dalam posisi aku menindih Bi Eci yang terlentang tak berdaya. Aku memberi kesempatan Bi Eci menikmati orgasmenya yang pertama setelah berbulan-bulan....

"Enak bik...?" tanyaku, Bi Eci hanya mengangguk malu-malu. Tak lama kemudian Bi Eci kembali menggoyang-goyangkan pinggulnya, akupun lalu merespon dengan kembali menancapkan penisku ke dalam vaginanya berulang-ulang. Setelah beberapa menit berlalu aku merasakan gelombang orgasme mulai terbentuk.

Aku mempercepat tusukanku, "Bi, kayaknya saya mau keluar...."
"Mmhh... bibik juga... keluarin di dalam den..."
"Agghh...mmhh.... bik.....saya keluar..."
"Mmhh...iya den....bibik juga keluar lagi.....uuhh..."

Aku menusukkan penisku dalam-dalam sambil menumpahkan seluruh isi spermaku berkali-kali ke dalam liang vagina Bi Eci sementara itu Bi Eci dengan kuat memeluk tubuhku dan matanya terpejam menahan nikmat. Akhirnya aku merebahkan diri di samping Bi Eci yang tampak lemas melepas rasa puas. Kulihat cairan putih mulai meleleh dari lubang vagina Bi Eci.

Setelah rasa lelah mulai hilang kami bangkit dan berpakaian. Bi Eci tampak malu-malu menyadari apa yang telah kami perbuat, dia agak salah tingkah.

"Bik, pijatan spesialnya enak banget...maksud saya burung saya dipijat memek bibik, saya jadi ketagihan...."
"Ah, aden... bibik jadi malu, bibik baru pertama kali dengan laki-laki lain..."
"Bibik suka...? Kapan bisa pijit saya lagi...?"
"Terserah aden, kapan aja bibik sih nggak masalah asal jangan ketahuan yang lain, bibik malu...."
"Terus, kalau utang bibik udah lunas bibik masih mau pijit saya lagi...? Saya betul-betul ketagihan bik...."
"Hi..hi...hi... terserah aden, kapan aden mau tinggal bilang aja....., nggak usah diitung bayar utang segala...."

Akhirnya Bi Eci berpamitan pulang setelah berjanji melakukan lagi besok saat teman-temanku tidak ada di rumah. Aku bilang sama Bi Eci kalau besok gantian Bi Eci yang di atas, Bi Eci cuma menjawab dengan tersenyum nakal.

Friday, July 24, 2009

HOT Backpacker

Kisah ini terjadi setelah aku bekerja di Jakarta. Saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju Bandung lewat Puncak Pass dengan mobil kijangku dalam rangka tugas kantor. Perjalananku cukup lancar karena bukan hari libur dan hari cukup cerah, waktu itu kira-kira pukul 15.30 sore. Aku menikmati perjalananku sendirian sambil mendengarkan alunan musik jazz.

Kurang lebih 2 km menjelang Puncak Pass aku melihat seorang wanita bule sedang berjalan sendiri dengan ransel besar di punggungnya. Dia berkacamata, umurnya sekitar 30-an, wajahnya lumayan cantik, mirip-mirip Luna Maya tapi agak gemuk, rambutnya ikal dan pirang. Dengan segera aku menghentikan mobilku dan turun untuk menawarkan tumpangan. Bahasa Inggrisku memang pas-pasan tapi untuk komunikasi sederhana tentu saja bisa.

"Hi, where are you going...?"
"Oooh, hi... I want to go to Puncak Pass.."
"Well, I am going there too, want to go together..? It's free..."
"Hmm.. no thanks, I want to walk..."
"Come on.. it's still too far... I think it's about 5 miles from here..." kataku sedikit berbohong.

Sejenak dia tampak bingung dan ragu-ragu, tapi akhirnya dia mau ikut denganku. Kami berkenalan, dia menyebut namanya Anne, dari Australia, dan sedang menikmati liburan ala backpacker di Indonesia. Dia sudah menginap dua malam di Jakarta, lalu akan melanjutkan ke Bandung, Jogya, dan terakhir rencananya akan menghabiskan liburannya di Bali sebelum kembali ke Australia.

"Are you alone?"
"Yes, for now, but my friends are waiting for me in Bali, we will meet there..."

Kami berhenti di Puncak Pass, aku mengajaknya makan di Restoran. Setelah itu aku mengajaknya berjalan menikmati perkebunan teh. Anne orangnya sangat ramah, cukup terbuka dan mudah akrab. Tanpa malu-malu kadang dia menggandeng tanganku selama kami berjalan-jalan di antara tanaman teh. Lalu kami ke Telaga Warna, sebuah danau kecil yang ada di daerah Puncak, dan kami duduk menikmati danau tersebut sambil menghilangkan lelah.

"Are you tired Anne...?"
"Aha..yess, but it's fun... I really like it..."
"Come on, you can lean on me... just relax..."
"Is it Ok for you...?"

Meski baru saja kenal, tanpa canggung Anne merebahkan diri dan kepalanya berada di pangkuanku sementara kakinya yang sudah lelah setelah berjalan cukup jauh diselonjorkan di bangku. Sambil ngobrol, sesekali aku menyentuh tangannya. Kelihatannya Anne tidak keberatan dengan aksiku maka aku lebih jauh lagi berani membelai-belai rambutnya. Tubuh wanita bule yang tergolek kelelahan di pangkuanku tentu saja mulai membangkitkan gairahku. Apalagi Anne tampaknya juga tidak keberatan seandainya aku meminta lebih jauh. Mungkin ini salah satu yang dia cari selama berlibur sendirian disini.

"Anne... if you want, I can give you a massage to refresh your body...," kataku coba memancing.
"Oo... no..no... not here.... "
"Of course not.. we can find more private place..." kataku.
"Hey... we just met...," katanya.
"But, if not now we probably will not meet again...," kataku mencoba merayunya.
Anne hanya tersenyum penuh arti.

Tidak berapa lama kemudian Anne bangkit, "OK, let's go... I'm very tired....".
Aku tahu Anne menanggapi maksudku. Aku rasa dia juga menginginkan apa yang saat itu aku inginkan. Aku mengajaknya langsung pergi ke Bandung dan mencari penginapan di sana. Dengan begitu aku bisa menikmati malam bersama Anne tanpa harus meninggalkan pekerjaan kantor esok hari.

Kami sampai di Bandung sekitar pukul 20.00. Kami langsung makan malam dan kemudian mencari penginapan di daerah Setiabudi. Setelah masuk kamar kami bergantian mandi, Anne mandi duluan, setelah itu aku. Saat aku keluar dari kamar mandi tampak Anne berbaring tengkurap dengan mata terpejam di tempat tidur hanya berbalut handuk. Aku langsung menghampirinya,

"May I massage you now...?" kataku berbisik di telinganya, Anne mengangguk tanpa berkata-kata. Aku langsung membuka handuknya dan tampak Anne tidak mengenakan pakaian dalam sedikitpun. Aku mulai memijat punggungnya beberapa saat, lalu aku mulai memijatnya kakinya yang terasa kaku karena kelelahan. Anne tampak sangat menikmati, "Hm.. I feel great..."

Tentu saja aku tidak bisa berkonsentrasi sepenuhnya pada pijatanku. Pikiran ngeresku terus menggoda. Aku ingin segera mengakhiri pijatanku dan menikmati tubuh Anne yang putih dan montok itu. Setelah kira-kira 10 menit aku memijat tubuh Anne, tanganku mulai menggerayangi payudara Anne. Mengetahui maksudku, Anne langsung membalikkan tubuhnya dan membiarkanku melumat payudaranya. Tangan kananku mulai menggerayangi area kewanitaannya, jari-jariku mulai masuk ke vagina dan mengelus-elus klitorisnya. Perlahan-lahan vagina Anne mulai terasa basah dan licin. Anne tidak tinggal diam, sambil melenguh keenakan tangannya berusaha meraih celana dalamku dan melepaskannya. Dia langsung meremas-remas penisku yang sudah mengeras dari tadi. Kemudian dengan ganas Anne menarikku dan merebahkan badanku, dia langsung menjilati dan mengulum penisku. Aku biarkan Anne menikmati penisku sepuasnya.

Kemudian Anne mengatur posisi tubuhnya sedemikian rupa sehingga vaginanya yang ditumbuhi bulu-bulu pirang itu berada tidak jauh dari wajahku. Belahan vaginanya tampak begitu basah membuatku tidak sabar ingin segera menjilatinya. Segera kuarahkan mulutku ke vaginanya dan aku mulai menjilati vaginanya. Sekali kali aku mengulum klitorisnya diantara bibirku sambil terus menjilatinya, Anne tampak makin terangsang dan lenguhannya semakin ganas. Lalu lidahku kembali mengeksplorasi liang vaginanya yang basah dan lembut. Aroma vaginanya sedikit berbeda dengan aroma vagina wanita-wanita lokal yang pernah kunikmati, entah karena beda cara perawatan atau karena pengaruh gen, aromanya terasa lebih lembut dan itu membuatku semakin terangsang.

Kurasakan vagina Anne semakin basah, aku rasa Anne sudah sangat terangsang. Benar saja, Anne langsung melepaskan penisku dan memakaikan kondom yang sudah disiapkannya. Lalu dia memposisikan dirinya di atas pinggangku. Sambil setengah jongkok tangannya berusaha memasukkan penisku ke dalam lubang vaginanya yang sudah begitu basah.

"Ooohh..." Anne melenguh merasakan nikmat saat penisku memasuki vaginanya. Selanjutnya dengan ganas Anne mulai menggoyang-goyangkan pinggulnya sehingga penisku terasa keluar-masuk vaginanya. Meski badannya montok dan ukuran tubuhnya lumayan besar (maklum bule), vaginanya terasa cukup menjepit penisku. Payudaranya yang menggantung tampak bergerak naik turun mengikuti irama goyangan Anne. Aku langsung meremas-remas dan memelintir kedua payudaranya dan memilin-milin putingnya. Anne tampak makin terangsang dan badannya menggelinjang hebat. Tidak berapa lama kemudian Anne menjerit dan pinggulnya menekan ke bawah dengan kuat sehingga penisku terasa masuk sampai ke ujung, "Aaagh... I'm cummiiingg......". Tangannya meremas lenganku dengan kuat selama beberapa detik, kemudian badannya mulai melemas dan Anne langsung merebahkan diri kelelahan di sampingku.

Tapi tidak lama, Anne tampaknya cepat pulih dan dia memintaku untuk menyetubuhinya lagi, "I want your cock inside me again... and make me cum....". Aku langsung bangkit dan Anne langsung membuka selangkangannya untuk mempersilahkan penisku masuk ke dalam vaginanya. Tanpa berlama-lama langsung kutancapkan penisku dalam-dalam ke liang vaginanya sambil terus menggerakkan pantatku dengan kuat. Anne kembali menjerit tertahan, "Oooh... fuck me hard...fuck me hard..." Tanganku terus meremas payudaranya dan lidahku menjilati telinga dan lehernya. Tampak Anne sangat menikmatinya, dia menanggapi dengan menggerakkan pinggulnya mengimbangi gerakanku sambil tangannya terus mencengkeram punggungku kuat-kuat. Tubuh kami basah oleh keringat meski malam sebenarnya begitu dingin. Kami terus menikmati persetubuhan yang panas ini, kami saling meremas, saling menjilat, kadang bibir kami saling bercumbu dan lidah kami saling melilit. Akhirnya Anne mulai merasakan orgasmenya yang kedua, akupun mulai merasakan desakan sperma yang ingin tumpah.

"Ooohh... fuck me harder...I'm cumming.... I'm cumming..." Anne menggelinjang hebat.
Aku menggerakkan pantatku makin kuat, dan akupun sudah tidak tahan lagi, "Oohh... Anne.....yess... I'm cumming too...". Akhirnya kami berdua mengalami orgasme secara bersamaan, kami saling berpelukan erat merasakan nikmat yang luar biasa sebelum akhirnya seluruh tubuh kami terasa lemas.

Kami berbaring lemas dan saling berpelukan. Anne mengatakan kalau ini adalah pengalamannya yang pertama bercinta dengan pria Asia, akupun mengatakan bahwa ini adalah pengalaman pertamaku bercinta dengan wanita bule. Anne bilang dia sangat menikmatinya dan ingin melakukannya lagi kalau rasa lelahnya sudah hilang. Memang hanya sejam saja kami beristirahat, setelah itu tangan Anne meremas-remas penisku hingga kembali mengeras dan Anne memintaku untuk memasukkannya lagi ke dalam vaginannya. Kami melakukannya berulang-ulang malam itu sampai kami akhirnya benar-benar kelelahan setelah orgasmeku yang ketiga,

Pagi harinya kami mandi bersama dan melakukannya lagi di kamar mandi. Tidak puas dengan itu, Anne menarikku ke atas ranjang dan menindih tubuhku lagi sambil memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang sudah tampak merah. Berbagai gaya kami lakukan pagi itu, kadang Anne di atas, lalu gantian aku yang di atas. Kemudian Anne memintaku untuk menusukkan penisku dari belakang, doggy-style. Kadang kami melakukannya di atas lantai atau sambil duduk di kursi. Sampai akhirnya kami mengalami orgasme yang begitu nikmat berkali-kali. Rasanya kami sudah bergumul lebih dari dua jam pagi itu. Anne terlihat sangat kelelahan tapi wajahnya menampakkan rasa puas, akupun demikian.

Akhirnya kami berpisah juga karena aku harus segera pergi menyelesaikan urusan kantor. Anne memberiku nomor hp-nya selama di Indonesia dan dia berharap aku bisa menyusulnya di Bali untuk kembali menikmati malam-malam yang panas di sana. Sayangnya aku tidak bisa memenuhi permintaan itu karena tidak bisa mendapatkan cuti. Aku katakan padanya untuk memberi kabar kalau lain kali ingin datang lagi ke Indonesia, aku siap menemaninya kemana saja.

Friday, August 29, 2008

Mbak Mar

Kerabatku yang tinggal di Bandung sebenarnya cukup banyak. Salah satunya Tante Nani dan Om Hadi suaminya yang tinggal di daerah Setra Sari. Tante Nani saudara sepupu ibuku. Dulu sewaktu pertama kali mau kuliah ke Bandung orangtuaku meminta aku untuk tinggal di tempat Tante Nani atau saudara yang lain, tapi aku tidak mau karena pasti tidak bebas.

Meskipun begitu aku selalu berusaha menjaga tali persaudaraan, setidaknya tiga bulan sekali aku datang mengunjungi Tante Nani dan Om Hadi, kadang menginap kadang sekedar main saja. Pada suatu hari Tante Nani dan Om Hadi datang ke tempat kosku untuk meminta tolong.

"Doni, kamu bisa jaga rumah tante sampai hari Senin depan? Soalnya ada acara keluarga di Jakarta, Tante Tuti kakaknya Om Hadi mantu. Besok kami sekeluarga ke Jakarta."
"Bisa aja tante, tapi emangnya Mbak Mar nggak ada?"
"Kebetulan Mbak Mar sedang nengok anaknya di Pekalongan sudah lima hari. Janjinya sih balik kemarin tapi sampai hari ini belum ada kabar, jadi tante terpaksa minta tolong kamu. Itu mobil kijang kalau mau dipake jalan-jalan malam mingguan ya pake aja, bensinnya udah diisi penuh. Dan kalau kamu perlu apa-apa, ini ada di amplop. Nanti kalau Mbak Mar sudah datang, kamu boleh pulang."
"Nggak masalah tante, dari rumah tante ke kampus juga nggak jauh kok..." kataku sambil menerima amplop.

******

Hari Kamis sore aku datang ke rumah Tante Nani. Mereka sekeluarga, Om Hadi, Tante Nani, dan Yudi anak mereka yang masih kecil tampak sudah siap berangkat dengan mobil BMW hitam kesayangan Om Hadi. Setelah berbasa-basi sebentar dan meyakinkan segalanya siap serta tidak ada yang ketinggalan merekapun berangkat sekitar jam setengah enam.

Kupandangi rumah mewah mereka, semuanya tersedia: alat hiburan, mobil, makanan dan minuman lengkap di dalam kulkas dan freezer. Wah nikmat juga, seperti berlibur di villa. Tapi aku juga terbayang kesepian yang harus kulewati di rumah ini. Ah nggak apa-apalah, apalagi ketika aku membuka amplop ternyata Tante Nani memberiku uang 500 ribu. Untuk ukuran waktu itu (tahun 1994) jumlah itu lebih besar sedikit dari jatah kiriman 1 bulan! Lumayan....

Aku sendiri sudah menyiapkan perangkat 'hiburan' pengusir sepi berupa beberapa keping VCD porno yang sengaja kusewa. Tapi baru setengah jam aku menikmati VCD porno tiba-tiba kudengar bel berbunyi. Aku segera keluar dan kulihat ternyata Mbak Mar datang menenteng beberapa tas.

"Eh... Mas Doni, Bu Nani sama Pak Hadi mana? Kok sepi...?"
"Mbak...dari kemarin ditungguin kok nggak dateng-dateng... Tante sama Om ke Jakarta sampai hari Senin, kakaknya Om Hadi mantu...Mbak kemana aja..."
"Iya Mas... anak-anak di rumah nggak mau ditinggal cepet-cepet... jadi mundur dua hari."
"Ya udah, masuk aja mbak, istirahat dulu..."

Mbak Mar ini bukan pembantu, sebenarnya masih ada hubungan saudara jauh dengan Om Hadi. Dia kerja di rumah ini dengan imbalan Om Hadi akan menyekolahkan ke 2 anaknya sampai tamat perguruan tinggi. Anaknya yang tertua masih SMP dan yang kecil SD kelas 4, keduanya tinggal sama neneknya. Mbak Mar sendiri sudah 5 tahun cerai, umurnya sekarang mungkin sekitar 35 tahun, dia ditinggal suaminya yang kawin lagi dengan perempuan lain.

Dengan santai aku menutup pagar sementara Mbak Mar masuk ke rumah untuk membereskan barang-barang bawaannya. Tiba-tiba aku tersadar kalau VCD belum kumatikan. Wah...celaka, ketahuanlah kelakuan minusku! Segera aku bergegas masuk ke dalam. Dan benar saja, VCD memang masih menyala, lengkap dengan suara-suara desahan erotis yang terlanjur kusetel cukup keras. Kulihat Mbak Mar tidak ada di dalam, mungkin dia langsung pergi ke kamar. Aku yakin Mbak Mar tahu apa yang aku lakukan, setidaknya dia pasti mendengar suara dari VCD porno yang sedang kuputar. Dengan perasaan malu, segera aku mematikan VCD dan kuganti dengan saluran TV swasta.

Setelah selesai mandi Mbak Mar masuk ke dalam ruang tengah tempatku menonton TV untuk membereskan ruangan. Tidak seperti biasanya, Mbak Mar kelihatan agak kikuk dan salah tingkah. Akupun demikian, tapi aku berusaha untuk pura-pura tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Tapi kekikukan itu tidak berlangsung lama, Mbak Mar segera menyiapkan makanan dan kemudian mengajakku makan di meja. Karena Mbak Mar memang bukan pembantu, dia biasa makan di meja bersama-sama dengan Tante Nina dan Om Hadi. Kamipun mulai ngobrol biasa seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa.

Setelah ngobrol ngalor-ngidul akhirnya aku memberanikan diri bertanya mengenai VCD porno yang kuputar.

"Maaf Mbak Mar, tadi waktu masuk rumah lihat film yang saya putar"
"Ih Mas Doni ini... diam-diam ternyata nakal juga... sukanya liat yang gituan... ya iya dong pasti keliatan" katanya malu-malu.
"Oh... jadi Mbak Mar liat ya... duh aku jadi malu....jangan bilang-bilang Tante Nani atau Om Hadi ya...?"
"Ya enggaklah mas... lagian Mas Doni khan udah dewasa jadi kalau ngeliat yang begituan khan juga nggak apa-apa sebenernya..."
"Ya bagus... kita kompak ya mbak..."

******

Suasana rumah yang sepi ditambah udara Bandung Utara yang dingin membuat aku tidak bisa konsentrasi menikmati acara-acara TV yang terasa membosankan. Aku seorang mahasiswa yang sudah sering merasakan nikmatnya tubuh wanita, sekarang tinggal berdua dalam sebuah rumah bersama dengan seorang janda yang mungkin juga sudah lama merindukan sentuhan laki-laki. Apapun bisa terjadi dalam keadaan seperti itu.

Sebelumnya aku tidak pernah tertarik sedikitpun dengan Mbak Mar, wajahnya biasa, 'not my type'-lah, dan tubuhnya juga agak gemuk seperti wanita-wanita yang sudah punya anak dan hanya bekerja di rumah pada umumnya. Sisi fisik yang menarik dari Mbak Mar mungkin kulitnya yang putih dan bersih serta payudaranya yang lumayan besar. Tapi alasan utamaku tidak pernah mengganggunya selama ini adalah karena dia masih saudara dengan Om Hadi. Aku tidak mau sampai merusak hubungan baikku dengan Om Hadi gara-gara masalah itu.

Keadaan menentukan lain, hari ini semuanya berubah. Suasana rumah yang sepi serta bayangan adegan-adegan hot yang tadi kutonton terus memojokkanku dan semakin memperlemah akal-sehatku. Pikiran-pikiran nakal dan mesum kini mulai menggodaku, semakin lama semakin hebat hingga akhirnya membuatku tidak tahan lagi ingin segera menikmati tubuh Mbak Mar. Aku segera bergegas ke kamar Mbak Mar dan mengetuk pintunya.

Mbak Mar membuka pintu, "Ada apa Mas Doni..."

"Mbak lagi ngapain...?"
"Nggak ngapa-ngapain, cuma istirahat... mau tidur, besok khan mesti beres-beres rumah."
"Temenin aku dong... nonton TV, besok nggak usah bangun pagi-pagilah, khan nggak ada siapa-siapa... santai aja mbak, yang penting nanti rumah beres sewaktu om dan tante pulang..."
"Iya deh, tapi sebentar... mbak mau ganti baju dulu..."
"Aaah, nggak usah mbak, khan nggak ada siapa-siapa... gitu ajalah, cuma di dalam rumah aja kok."

Mbak Mar cuma tersenyum, dia membetulkan dasternya dan kemudian berjalan mengikuti aku ke ruang tengah. Kami menonton TV swasta yang acaranya buatku masih membosankan. Sengaja aku mengajak Mbak Mar untuk duduk di sofa panjang bersama denganku. Aku sedang mencari momen yang tepat untuk mengganti acara TV dengan VCD pornoku.

"Mbak Mar, kalau nonton yang seperti tadi itu pernah?"
"Ah... Mas Doni, mbak mana pernah nonton gituan, di daerah mbak nggak ada. Maklum bukan kota besar," katanya tersipu malu.
"Nggak pernah nonton tapi begituan sering khan...?" tanyaku mencoba memancing-mancing.
"Kalau begituan ya dulu jelas pernah dong dengan suami... khan anaknya udah dua... tapi nggak persis seperti yang tadi, ceweknya berdua yang cowok sendiri... yang aneh-aneh begitu mbak sih belum pernah," katanya menjelaskan, aku cuma tertawa kecil.
"Tapi kalau sedang begituan Mbak Mar bersuara kayak cewek yang tadi nggak?"
"Mas Doni ini tanya yang enggak-enggak aja. Jelas nggak kayak gitu dong, nanti kedengaran tetangga gimana...?"

Aku masih mencari momen yang pas, ketika kurasa momennya sudah tepat aku mulai menawarkan untuk mengganti TV dengan VCD porno.

"Mbak, TVnya aku ganti dengan film yang tadi boleh...?"
"Ih mas Doni ini... ntar pusing sendiri lho..."
"Nggak apa-apa ya mbak, aku lagi pengen nonton yang begituan... lagian nanggung yang tadi belum selesai, mbak temenin aku nonton ya.. nggak seru nonton sendiri...," kataku dengan nada memohon.
"Terserah Mas Doni lah..."

Mendapat lampu hijau aku langsung mengganti acara TV dengan VCD porno. Kami duduk bersebelahan menikmati tayangan adegan-adegan panas di layar kaca. Setengah jam sudah berlalu, kami tidak banyak bicara dan menikmati setiap adegan persetubuhan yang merangsang birahi. Penisku sendiri sejak awal sudah tegang, sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi ingin segera mengeluarkan spermaku yang siap meledak. Kulihat Mbak Mar juga mulai tidak tenang, sebentar-sebentar dia berganti posisi.

"Mbak, terangsang nggak liat film seperti ini...?"
"Lha iya dong... memangnya Mas Doni enggak?"
"Kalau cowok sih udah pasti terangsang mbak..."

Kupegang tangan Mbak Mar dan pelan-pelan kutarik ke arah selangkanganku, "Coba pegang punyaku ini mbak... udah keras... tandanya aku udah terangsang mbak..." Mbak Mar sempat kaget juga, tapi dia tidak menolak. Dengan pasrah dibiarkannya tangannya kubimbing ke selangkanganku, kemudian pelan-pelan dirabanya penisku.

"Masukin aja tangannya mbak.... pegangin punyaku"

Mbak Mar menuruti permintaanku, dia membuka resleting celanaku lalu diselipkannya tangannya ke dalam celana dalamku. Kelihatannya Mbak Mar juga mulai menikmati, dia meremas-remas penisku dengan lembut sambil terus matanya menatap adegan demi adegan di layar TV.

"Mbak mau isep punyaku?"

Tanpa banyak protes Mbak Mar memelorotkan celana jeans dan celana dalamku. Dia berjongkok di depanku dan kemudian penisku langsung dimasukkan ke dalam mulutnya. Aku merasakan sensasi yang luar biasa setiap kali lidahnya mengulum penisku. Rasanya penisku siap meledak di dalam mulut Mbak Mar. Tapi aku mencoba menahan diri, aku ingin merasakan vagina Mbak Mar dan mengeluarkan spermaku di dalamnya.

Kulepaskan penisku dari mulut Mbak Mar, lalu tubuhnya kurebahkan di atas karpet. Adegan-adegan panas VCD porno sudah tidak lagi menarik perhatianku, tubuh seorang janda yang terbalut daster tipis dan dengan pasrah terlentang menanti sentuhan laki-laki jauh lebih menggairahkan bagiku.

"Gantian sekarang aku yang jilatin memek mbak ya...?"
"Jangan mas... mbak malu, nanti dilihat orang..." katanya lirih.
"Tenang aja mbak, pintu pagar dan pintu depan sudah aku kunci kok..  nggak bakal ada orang masuk mbak...."

Kusibakkan daster Mbak Mar ke atas, terlihat celana dalam warna krem sedikit basah, mungkin terkena cairan vagina Mbak Mar. Pelan-pelan kubuka celana dalam Mbak Mar, dia terdiam pasrah. Bulu vagina Mbak Mar tidak begitu lebat dan tampak lumayan basah oleh cairan vagina, sementara itu belahan vaginanya terlihat cukup jelas. Perlahan-lahan kubuka paha Mbak Mar sehingga belahan vaginanya mulai melebar. Dengan hati berdebar segera kubenamkan kepalaku di antara kedua paha Mbak Mar. Aku mulai menjilati bibir vagina Mbak Mar dan mempermainkan klitorisnya. Mungkin karena tubuh Mbak Mar agak gemuk, gundukan vaginanya yang besar terasa empuk sekali dan klitorisnya juga lebih besar dari wanita-wanita lain yang pernah kunikmati. Tubuh Mbak Mar langsung bergetar hebat saat lidahku menjilati klitoris dan bibir vaginanya dengan penuh nafsu, nafasnya seperti habis maraton, pinggulnya bergerak-gerak menahan rasa nikmat yang sudah lama dirindukannya.

"Aduh... Mas Doni...adduuh...aggh... geli sekali mas... rasanya pengen pipis," katanya setengah berbisik.

Mungkin karena sudah bertahun-tahun tidak mendapat sentuhan laki-laki, Mbak Mar jadi sangat sensitif. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit sebelum Mbak Mar mengalami orgasmenya yang pertama.

"Mas Doni... adduuuh... aku keluaarrr masss... aduuhh... aagghhh"

Setelah menggelinjang dan bergetar hebat selama beberapa saat akhirnya tubuh Mbak Mar tergolek lemas di atas karpet. Perlahan-lahan kuangkat dan kulepaskan dasternya, lalu kucopot BHnya sehingga Mbak Mar sekarang tergolek polos tanpa busana di hadapanku. Akupun melepaskan seluruh pakaianku sehingga kami berdua benar-benar polos tanpa busana, persis seperti para pemain film VCD porno yang sedang kami putar.

Mata Mbak Mar masih terpejam, mungkin dia masih meresapi kenikmatan yang baru terjadi. Payudara Mbak Mar memang cukup besar, demikian juga pentilnya yang bulat mirip seperti onde-onde mini. Tidak tahan melihat pemandangan menggairahkan itu aku langsung meremas-remas dan menjilati kedua payudaranya. Sementara itu tanganku yang satunya lagi menggerayangi vaginanya. Jari-jariku mulai masuk ke lubang vagina dan mempermainkan klitorisnya lagi. Mbak Mar cuma bisa mendesah-desah lirih menahan nikmat. Akupun sudah mulai tidak tahan ingin segera memasukkan penisku.

"Mbak... boleh aku masukin punyaku ke memek Mbak Mar? Aku udah nggak tahan..."

Mbak Mar menjawab dengan mengangguk. Langsung kutindih tubuh Mbak Mar yang montok dan penisku ku arahkan ke lubang vaginanya yang sudah siap sejak tadi. Hanya dengan sekali sentak masuklah penisku dengan sempurna ke dalam vagina Mbak Mar yang sudah licin, "Bless..." Mbak Mar menjerit tertahan dan matanya terbelalak saat penisku meluncur masuk ke dalam vaginanya,

"Aaahhh..."
"Sakit mbak...?"
"Enggak... enak kok....terusin aja..."

Vagina Mbak Mar masih cukup sempit, mungkin karena sudah lama tidak tersentuh pria. Tapi cairan yang keluar membasahi vaginanya membuat penisku dengan mudah meluncur keluar-masuk. Mbak Mar juga pintar memainkan otot vaginanya sehingga penisku serasa diremas-remas oleh dinding-dinding vaginanya. Tubuh gemuk Mbak Mar membuatku merasa nyaman saat menindih dan memeluknya, empuk dan hangat. Sensasinya benar-benar berbeda dengan wanita-wanita yang pernah aku tiduri selama ini.

Mungkin karena sudah sangat sensitif, kali ini tidak sampai 3 menit Mbak Mar sudah menunjukkan tanda-tanda menuju orgasmenya lagi. Gerakannya pinggulnya yang lebar mulai liar, payudaranya yang seperti balon berisi air itu berguncang-guncang, nafasnya kembali ngos-ngosan dan dipeluknya tubuhku erat-erat. Segera kupercepat gerakanku dan kutusukkan penisku dalam-dalam. Betul saja... Mbak Mar kembali mengalami orgasme...

"Mas Doni.. adduuuh... aku keluar lagii... aaagh... aagghh....," tubuh Mbak Mar menegang dan kedua tangannya memeluk erat-erat badanku.

Tak lama kemudian tubuh Mbak Mar kembali terkulai lemas. Sementara itu penisku masih tertancap tegang di dalam vaginanya, dan aku merasa sangat tanggung. Mbak Mar hanya kuberi kesempatan istirahat sebentar lalu aku kembali menggerak-gerakkan pantatku. Hanya selang beberapa detik saja Mbak Mar kembali bergairah, pinggulnya ikut bergerak naik-turun dan berputar-putar mengimbangi tusukan-tusukan penisku. Otot-otot vagina Mbak Mar kembali terasa mencengkeram penisku. Sementara itu aku mulai merasakan getaran-getaran nikmat di seluruh tubuhku, rasanya tidak lama lagi aku akan orgasme.

"Mbak...Doni udah mau keluar...?"

Tiba-tiba Mbak Mar tersadar akan resiko yang mungkin akan dihadapi. Setengah panik dia segera berusaha mendorongku sehingga penisku terlepas dari vaginanya.

"Aduh... jangan dikeluarin di dalam mas... aku takut hamil..."

Ah, sialan. Hanya tinggal beberapa tusukan saja. Mbak Mar tahu aku sangat kecewa, dia berusaha memberi jalan keluar.

"Punya kondom nggak mas...?"
"Wah, nggak ada... aku beli dulu ya..."

Mbak Mar cuma mengangguk sambil kembali mengenakan dasternya, "Aku tunggu lho...," katanya genit sambil melap vaginanya yang basah dengan tisu. Aku segera berpakaian dan melarikan motorku ke apotik terdekat untuk membeli kondom.

Sampai di rumah aku langsung menemui Mbak Mar yang masih duduk di depan TV mengenakan daster. Tapi kulihat celana dalam dan BHnya masih tergeletak di karpet. Kutunjukkan empat kotak kondom yang baru kubeli.

"Ih... banyak amat, emangnya mau berapa kali?" tanya Mbak Mar.
"Ini untuk jatah sampai besok mbak, semuanya 12 kondom....., mbak kuat khan?"

Mbak Mar cuma tertawa kecil.

Tanpa banyak omong aku kembali melepaskan pakaianku. Lalu Mbak Mar kutarik dari sofa dan kurebahkan di karpet. Dasternya kuangkat dan tampak vaginanya yang sudah basah siap menanti penisku. Langsung kutindih Mbak Mar dan penisku kumasukkan ke dalam vaginanya. Mbak Mar cukup kaget dengan serangan kilatku. Ah nikmatnya tubuh montok Mbak Mar...

"Nggak pakai kondomnya mas..?"
"Ntar aja kalau udah mau keluar, sekarang lebih enak gini... memek Mbak Mar lebih terasa mantep"

Aku langsung menyentak-nyentakkan pinggulku sehingga penisku tertancap dalam di vagina Mbak Mar berulang-ulang. Tanganku terus aktif mempermainkan payudaranya yang besar, sambil sesekali menjilati putingnya. Aku sudah tidak sabar ingin menumpahkan spermaku. Setelah beberapa menit penisku keluar-masuk vagina Mbak Mar, aku mulai merasakan tanda-tanda orgasme. Segera kucabut penisku dan kukenakan kondom.

"Duh... aku udah mau keluar mbak..."
"Masukin aja lagi mas... aku juga mau keluar, kita barengan ya..."

Mbak Mar membuka pahanya lebar-lebar dan dia mengangkat kedua pahanya dengan tangannya. Tubuhnya yang agak gemuk membuat perutnya membentuk lipatan-lipatan, tapi itu tidak mengurangi gairahku sama sekali, pandanganku tetap terfokus pada vaginanya. Belahan vaginanya tampak membuka sehingga lubangnya yang berwarna merah dan berkilat karena lendir dengan klitorisnya yang sebesar kacang bogor tampak cukup jelas. Tidak tahan melihat pemandangan itu langsung aku tancapkan penisku ke dalam vaginanya dan aku gerakkan pantatku dengan cepat. Makin lama makin cepat sehingga membuat Mbak Mar menggelinjang hebat dan mendesah-desah tak beraturan. Tidak sampai satu menit aku mulai merasakan sensasi orgasme, aliran darahku serasa mengalir dengan deras.

"Mbak...Doni mau keluar sekarang...aagghh...nggak tahan mbak...aaaggh.."
"Aku juga mas... aaagghhh...aduuuhh... Mas Doniiii....aku keluar lagiii..."

Akhirnya spermaku menyembur keluar dan tertampung seluruhnya di dalam kondom. Aku segera mencabut penisku, kulepaskan kondom yang penuh sperma dan segera kubungkus dengan tisu sebelum kubuang ke tempat sampah. Aku kembali berbaring di sisi Mbak Mar yang masih tergolek lemas. Kubelai rambut Mbak Mar dan kukecup bibirnya dengan lembut.

"Enak mbak...?"
"Enak banget... udah lama mbak nggak ngerasain yang seperti ini..."
"Sejak cerai...?"

Mbak Mar cuma mengangguk, matanya sayu kelelahan.

"Mbak Mar keluarnya cepet juga ya Mbak... wah pasti suami mbak dulu seneng banget ya... tiap malem bisa bikin mbak puas..."
"Ah dulu sih enggak juga mas, kadang-kadang aja mbak keluar, biasanya suamiku duluan yang keluar... terus udah...selesai, padahal aku baru mulai terangsang..."
"Sekarang kok bisa cepet banget, nggak sampe 3 manit udah keluar?"
"Nggak tau kenapa...., mungkin karena sebelumnya nonton film begituan dan karena tadi memek mbak dijilatin mas Doni jadinya mbak udah terangsang banget... jadi bablas deh..pengen terus.. Tapi mungkin juga karena mbak udah puasa lama, bertahun-tahun nggak ngerasain yang begituan, sekarang mumpung ada kesempatan rasanya kepengen banget terus-terusan digituin Mas Doni..." katanya malu-malu sambil mencubit perutku.

"Mbak Mar mulai merasa pengen saya tidurin kapan sih?" tanyaku penasaran.
"Mm... waktu tadi Mas Doni ngajak mbak nonton film, lama-lama mbak terangsang... jadi kepingin digituin juga seperti di film.... hi..hi...mbak ngebayangin gimana rasanya kalau punya Mas Doni masuk ke memek mbak.... ah..udah ah... mau tau aja...mbak jadi malu..."
"Ah aku cuma pengen tau aja mbak, soalnya nggak nyangka mbak yang biasanya sehari-hari kalem kok mainnya lumayan hot... goyangannya muantep banget...jepitannya maut... aku puas banget lho mbak..."

Kubelai rambutnya dan kukecup bibirnya dengan ringan. Mbak Mar cuma tersenyum, matanya kembali terpejam dan wajahnya menampakkan rasa puas sekaligus lelah. Kami berbaring di karpet saling berpelukan melepas lelah selama beberapa menit. Tubuh Mbak Mar yang montok membuatku merasa nyaman saat memeluknya. Kulihat VCD sudah habis, aku tidak memperhatikan sejak kapan selesainya karena aku lebih asyik menikmati yang 'live' bersama Mbak Mar. Setelah merasa cukup fit Mbak Mar bangkit dan mencoba mengambil pakaiannya.

"Mau kemana Mbak...?"
"Mau ke kamar... tidur..."
"Nggak usah pakai bajunya mbak... kita main lagi di kamar... mau?"

Aku lalu bangkit berdiri dan menggandeng tangan Mbak Mar menuju ke kamarnya. Di atas tempat tidurnya kami melanjutkan persetubuhan kami. Mungkin karena belum terbiasa dengan banyak gaya, Mbak Mar umumnya hanya terlentang pasrah menerima tusukan penisku. Meskipun begitu Mbak Mar sama sekali tidak pasif, pantatnya selalu aktif mengikuti gerakanku. Hanya sekali dia bertukar posisi dan berada di atas, itu juga atas permintaanku, tapi tidak sampai bertahan satu menit Mbak Mar langsung kolaps, orgasme di posisi itu. Jadi ronde berikutnya Mbak Mar hanya terlentang saja, katanya supaya tidak terlalu cepat orgasme dan bisa menghemat tenaga.

Malam itu kami lewati dengan desahan dan erangan nikmat serta suara derit ranjang yang bergoyang, tubuh kami berdua basah oleh keringat. Akhirnya aku menghabiskan tiga buah kondom di kamar Mbak Mar. Kalau Mbak Mar sendiri entah berapa kali dia mengalami orgasme. Seperti yang diakuinya sendiri, mungkin karena dia sudah lama tidak ML sekarang vaginanya jadi sangat sensitif dan mudah orgasme. Setelah puas dan lelah aku kembali ke kamarku karena tempat tidur Mbak Mar kecil, hanya cukup untuk 1 orang.Tidak berapa lama kemudian Mbak Mar tergolek tidur pulas di kamarnya dengan mengenakan daster tanpa celana dalam dan BH. Saat itu kulihat jam dinding sudah menunjukkan jam 2 lebih, hampir jam setengah 3 pagi. Tidak terasa hampir 6 jam lamanya kami bergumul malam itu. Aku baru sadar, Mbak Mar ini seperti macan tidur yang sekarang terbangun dan siap menerkam mangsa.

********

Esok paginya aku terbangun sekitar jam 9 pagi. Sebenarnya ada kuliah jam 1 siang, tapi aku merasa malas sekali untuk berangkat ke kampus. Tugas menjaga rumah Tante Nani sekarang menjadi 'prioritas utama' bagiku.

Saat aku keluar kamar kulihat Mbak Mar sedang di dapur menyiapkan sarapan kami berdua, dia masih mengenakan daster yang semalam. Sementara aku hanya mengenakan t-shirt dan celana dalam. Melihat ruang TV masih berantakan aku menduga kalau Mbak Mar juga baru bangun dan belum mandi. Kuhampiri Mbak Mar dan kupeluk tubuhnya dari belakang. Kuciumi lehernya dan kuraba payudaranya yang besar itu. Ternyata dia masih tidak memakai BH, ah nikmatnya meremas-remas payudara Mbak Mar yang kenyal..., kupermainkan puting-putingnya yang besar dan akupun mulai terangsang lagi. Kuraba pantatnya, ternyata dia juga belum memakai celana dalam, langsung kunaikkan dasternya dan kuraba vaginanya. Mbak Mar hanya mendesah-desah perlahan sambil berusaha meraih penisku.

"Wah masih seperti semalem, belum pakai apa-apa ya mbak...?"
"Hi..hi.. mbak sengaja, biar cepet kalau Mas Doni kepengen main lagi..."
"Yang semalem emangnya belum puas mbak...?"
"Ya puas banget, justru itu mbak jadi pengen lagi sekarang.... kalau Mas Doni juga mau...," katanya genit.

Mendengar tantangan halus Mbak Mar penisku yang sudah mulai terangsang langsung membesar dan tegang. Segera kutarik Mbak Mar menuju ke ruang TV dan kubaringkan tubuhnya di karpet. Kuangkat dasternya dan tanpa banyak tanya Mbak Mar langsung membuka kedua pahanya menantangku. Kami lalu bergumul kembali sebelum akhirnya spermaku kembali tumpah di dalam kondom.

Setelah merasa puas, kami mandi berdua. Tapi aku tidak tahan melihat tubuh bugil Mbak Mar yang montok di depan mataku. Aku meminta Mbak Mar untuk membungkuk dan penisku masuk ke dalam vaginanya dari arah belakang. Total pagi itu kami menghabiskan tiga buah kondom sebelum aku merasa benar-benar lelah.

Sehabis makan siang kami merasa fit lagi, dan kamipun ML lagi di atas sofa sambil menonton VCD pornoku. Kami mencoba mengikuti berbagai gaya yang ada di layar TV. Kadang aku duduk di sofa dan Mbak Mar duduk di pangkuanku dengan arah membelakangi aku, kadang kupangku Mbak Mar dalam posisi berhadap-hadapan di atas karpet, kadang kubaringkan Mbak Mar di sofa dan kutusuk vaginanya dengan penisku sambil salah satu kakinya kuangkat ke atas. Sekali waktu kuminta Mbak Mar nungging dan kutusuk lubang vaginanya dari arah belakang. Saat yang lain aku berbaring terlentang di karpet dan Mbak Mar berada diatas seperti sedang menunggang kuda liar. Entah berapa kali kami berdua orgasme siang itu.

Malamnya gairah kami kembali bangkit, kamipun bersetubuh dengan panas dan liar. Kali ini aku mengajak Mbak Mar untuk tidur di kamarku sehingga kami bisa langsung melakukannya lagi saat bangun di pagi hari. Tugas menjaga rumah Tante Nani betul-betul seperti bulan madu yang luar biasa buat kami berdua, nyaris sepanjang hari kami selalu berdua di dalam rumah tanpa selembar pakaianpun. Bahkan saat makanpun kami telanjang bulat. Hanya sekali-kali saja kami keluar rumah naik mobil kijang Tante Nani untuk sekedar refreshing, mencari makanan, atau membeli kondom tambahan! Di luar itu kami menghabiskan waktu dengan ML dan tidur berpelukan seperti sepasang pengantin baru.

Pagi hari saat kami bangun biasanya kami tidak langsung keluar dari kamar, kami saling meraba dan meremas lalu saling jilat sampai kami terangsang hebat. Kemudian berlanjut dengan penisku bersarang di dalam vagina Mbak Mar untuk membuatnya menggelinjang dan merintih keenakan. Selesai kami mengalami beberapa kali orgasme biasanya kami kembali berbaring saling berpelukan sebelum kami mandi berdua.

Mungkin karena sudah kelelahan kadang penisku tidak juga terangsang meski Mbak Mar yang telanjang bulat di depanku terus menggoda dan menantangku untuk ML. Kalau sudah begini Mbak Mar dengan sabar menjilati dan mengocok penisku sampai akhirnya tegang lagi dan kami bergumul lagi sampai puas. Atau Mbak Mar yang sudah 'horny' kadang tidak sabar menunggu penisku tegang, dia duduk di sofa sambil mengangkangkan kedua kakinya lalu menarik kepalaku keselangkangannya. Mbak Mar kemudian memintaku menjilati vagina dan klitorisnya sampai orgasme, beberapa kali.

Kalau Mbak Mar sendiri sepertinya tidak pernah ada kata capai, setiap kali penisku tegang vaginanya selalu siap melumat penisku kapan saja dimana saja. Aku benar-benar kagum dengan stamina dan nafsunya, sama sekali tidak kusangka wanita montok yang sederhana dan polos itu ternyata telah bermetamorsa menjadi wanita haus seks melebihi wanita-wanita lain yang pernah kutiduri.

"Mas Doni, mungkin begini ini ya rasanya kalau orang kaya di kota besar berbulan madu..."
"Iya kali, aku khan juga belum pernah menikah mbak... kalau mbak sendiri dulu bulan madunya gimana?"
"Ya biasa aja, setelah malam pertama ya udah, besok-besoknya kerja normal, cuma waktu kita masih pengantin baru begituannya agak sering, malam waktu mau tidur dan pagi-pagi waktu bangun tidur. Gayanya juga nggak aneh-aneh, suamiku di atas dan mbak di bawah. Tapi kalau yang seperti sekarang ini terus terang mbak belum pernah... baru sekali ini mbak ngerasain. Kita begituan terus seharian, nggak pagi, siang, sore atau malem. Gayanya juga macem-macem, udah kayak di film aja, mainnya di kasur, di karpet, di sofa, di kamar mandi, di dalam mobil, di ruang tamu...iih seru banget... mbak jadi kepengen terus begituan dengan Mas Doni... "

Menjelang kedatangan Tante Nani dan Om Hadi kami segera membereskan rumah dan menghilangkan jejak-jejak apapun yang bisa menimbulkan kecurigaan, terutama sisa-sisa kondom yang kadang tidak sengaja belum dibuang ke tempat sampah. Aku sendiri pulang ke tempat kos sebelum Tante Nani dan Om Hadi kembali untuk mencegah kecurigaan. Aku pulang dalam keadaan betul-betul lelah dan lemas, tapi puas. Sampai di tempat kos sekitar jam 5 sore aku langsung tidur dan baru bangun besoknya jam 9 pagi!

Seingatku mungkin selama empat hari empat malam berbulan madu itu kami sudah menghabiskan sekitar 12 kotak kondom atau 36 buah kondom! Dan kalau sekali aku orgasme Mbak Mar kira-kira dapat 3 - 4 kali orgasme bisa dibayangkan berapa kali Mbak Mar mengalami orgasme dalam 'bulan madu' ini, pastinya lebih dari seratus kali. Tidak heran kalau saat aku pulang Mbak Mar minta kapan-kapan kita 'bulan madu' lagi, katanya aku harus bertanggungjawab karena telah membuatnya kepengen ML terus.

*******

Sejak kejadian 'bulan madu' itu aku mulai sering main ke rumah Tante Nani. Mbak Mar sendiri kelihatannya jadi ketagihan ML denganku. Kalau Om Hadi sekeluarga kebetulan tidak ada di rumah, Mbak Mar langsung menarik tanganku dan kami ML di kamarnya. Biasanya sampai berkali-kali atas permintaan Mbak Mar, dia nggak pernah merasa puas kalau cuma sekali. Mbak Mar baru puas dan mengijinkan aku pulang kalau dia sudah dapat jatah sekurang-kurangnya lima kali orgasme.

Dari Mbak Mar aku baru tahu kalau Om Hadi sekeluarga paling tidak sebulan sekali berlibur ke villa mereka di Ciater. Memang Tante Nani tidak pernah meminta aku menjaga rumahnya saat mereka berlibur, selain karena sudah ada Mbak Mar mungkin dia juga tahu resikonya kalau aku sering-sering berdua dengan Mbak Mar di rumahnya tanpa ada orang lain. Pada saat mereka pergi berlibur seperti itu kami kembali mengulangi 'bulan madu' meski cuma semalam. Rasanya ML dengan wanita matang yang agak gemuk seperti Mbak Mar punya sensasi kenikmatan yang tersendiri, lain dari yang lain, dan aku sangat menikmatinya. Kalau nanti kelak istriku mulai gemuk, aku tidak akan protes atau minta dia melangsingkan dirinya, sebaliknya aku malah akan semakin sering ML dengannya kapanpun ada kesempatan.

Wednesday, August 27, 2008

Tante Rina, Teman Seperjalanan

Suatu ketika salah seorang kerabat dekatku di Sidoarjo menikah dan aku harus datang sebagai wakil keluarga. Hubungan kami cukup dekat, aku bermaksud datang beberapa hari sebelum hari-H. Akupun berangkat naik kereta api dari Bandung ke Surabaya untuk kemudian nanti disambung naik kendaraan umum lain menuju Sidoarjo. Karena dikirimi uang yang cukup oleh orang tuaku, aku membeli tiket untuk kelas bisnis yang ber-AC.

Tadinya aku mengira perjalanan ini akan melelahkan dan membosankan. Tapi ternyata keadaannya berbeda. Di kereta api aku mendapat tempat duduk di sisi kiri. Duduk di sebelahku di dekat jendela adalah seorang wanita yang dari pakaian dan dandanannya aku rasa berasal dari kalangan menengah-atas. Tidak muda lagi memang, umurnya mungkin sekitar 45 tahun, tapi masih cukup menarik dan tampak jelas bahwa dia lumayan cantik sewaktu muda. Kulitnya agak kuning, bersih dan terawat, wangi lagi.

"Mau kemana tante?" tanyaku berusaha bersikap ramah.
"Mau ke Surabaya.., adik mau ke mana?"
"Sama tante...mau ke Surabaya juga..."

Kamipun berkenalan, namanya Marina, aku memanggilnya Tante Rina. Dia ke Surabaya untuk menyusul suaminya yang sedang mengikuti rapat kerja para pejabat sebuah departemen. Tante Rina cukup ramah dan pandai mencari topik-topik pembicaraan yang menarik sehingga perjalanan kereta yang harusnya membosankan jadi lumayan menyenangkan. Tidak itu saja, Tante Rina juga mentraktirku makan malam di gerbong restorasi sehingga kami menjadi semakin akrab.

Tanpa sadar aku mulai menanyakan hal-hal yang mungkin agak pribadi. Untungnya Tante Rina tidak tersinggung.

"Tante kok pakai repot-repot ke Surabaya? Anak-anak yang di rumah sama siapa?"
"Ah anak-anak sudah mulai gede-gede dan bisa ditinggal, ada yang jaga kok, masalahnya suami jaman sekarang ini repot dik kalau dibiarkan pergi ke luar kota berhari-hari... suka lupa istri..."
"Oo..." aku cuma tersenyum.

Lalu Tante Rina mulai bercerita panjang lebar tentang isu-isu perselingkuhan dan petualangan suaminya dengan banyak wanita. Aku hanya berusaha menjadi pendengar yang baik, maklum itu persoalan rumah tangga yang seharusnya aku tidak perlu tahu dan tidak boleh ikut campur, apalagi aku baru beberapa jam saja mengenalnya. Tapi rupanya semakin larut malam Tante Rina malah semakin banyak mencurahkan seluruh keluh-kesah persoalan rumahtangganya padaku. Seolah-olah Tante Rina mendapat kesempatan untuk mengumbar semua perasaan tertekan yang selama ini harus dipendamnya.

"Aduh maaf ya Dik Doni, tante kok jadi cerita banyak masalah tante."
"Nggak apa tante, saya senang kok tante percaya saya meski kita baru kenal"
"Terima kasih ya dik... nggak tau kenapa setelah tante cerita, perasaan tante jadi lebih lega" katanya sambil memegang tanganku. Aku balas memegang tangannya dan kami saling berpegangan cukup lama sehingga membuat perasaan kami menjadi semakin dekat satu sama lain. Hari semakin larut, kulihat jam tanganku sudah menunjukkan pukul 12. Penumpang lain sudah banyak yang tertidur, tapi pembicaraan Tante Rina semakin seru dan kami malah semakin akrab. Bahkan tak segan-segan Tante Rina sesekali menyenderkan kepalanya di bahuku.

"Dik Doni, kayaknya tinggal kita aja yang belum tidur... Dik Doni sudah ngantuk?"
"Enggak tante, terus terang ngobrol dengan tante membuat saya nggak ngerasa ngantuk, tapi kalau tante udah ngantuk nggak apa-apa, tidur aja duluan..."

Tante Rina kembali menyenderkan kepalanya di bahuku., kali ini dia bahkan semakin manja, tangannya memeluk lenganku.

"Nggak apa-apa khan Doni.... tante merasa nyaman di dekat Doni"
Tante Rina mulai memanggil namaku tanpa atribut 'dik'. Aku cuma tersenyum, tanpa sadar aku mulai mencium rambutnya yang lembut dan wangi. Tadinya aku sempat khawatir Tante Rina akan tersinggung dan mengira aku kurang ajar, tapi ternyata tidak, tangannya malah semakin erat memeluk lenganku.

Bagaimanapun aku seorang laki-laki normal, berdekatan dengan seorang wanita di malam hari dalam keadaan sepi seperti ini pasti memunculkan pikiran-pikiran erotis. Dan itulah yang terjadi saat itu, pikiranku mulai mengembara ke wilayah erotis. Terbayang pengalaman ML-ku dengan Tante Nita atau wanita-wanita lain dan aku ingin sekali bisa menikmati tubuh Tante Rina. Tanganku mulai mengelus tangan Tante Rina dan aku semakin sering menciumi rambutnya. Tante Rina tidak menunjukkan tanda-tanda penolakan, aku mulai memberanikan diriku untuk mengelus-elus wajahnya seperti layaknya sepasang kekasih.

Selama beberapa saat kami diam tidak berbicara apa-apa, hanya terdengar suara roda-roda kereta menggelinding di atas rel. Aku tahu Tante Rina juga belum tidur, tangannya semakin erat memegang tanganku dan juga mulai membalas mengelus-elus tanganku. Aku tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Tante Rina saat itu, tapi pikiranku terus dipenuhi khayalan-khayalan dan keinginan-keinginan erotis tentang Tante Rina.

Setelah beberapa lama aku mulai yakin semua penumpang lain sudah tertidur dan tidak ada yang memperhatikan kami. Aku makin berani, kuangkat wajah Tante Rina, matanya terbuka perlahan dan kami saling berpandangan. Seolah ada magnet yang sangat kuat, wajah kami saling mendekat dan akhirnya kami mulai berciuman. Awalnya ada sedikit keraguan tapi tidak lama kemudian kami sudah tidak peduli apa-apa lagi. Kurasakan bibirnya terasa hangat dan lembut. Di balik penampilannya yang sopan dan anggun, Tante Rina ternyata juga seorang wanita yang hangat dan penuh gairah. Lidahnya mulai nakal masuk ke dalam mulutku dan tangannya mulai berani menggerayangi daerah selangkanganku. Akupun membalas cumbuan mautnya dengan melilitkan lidahku, sementara itu tanganku mulai meraba-raba payudaranya.

Tante Rina makin ganas, dia mulai melepas ikat pinggangku dan membuka retsletingku. Tangannya yang nakal masuk ke celana dalamku dan meremas-remas penisku yang mulai mengeras. Aku tidak mau kalah, aku mulai membuka satu per satu kancing baju Tante Rina dan kuselipkan tanganku ke dalam BHnya. Kuremas-remas payudaranya yang hangat dan empuk, sesekali kupilin-pilin putingnya sehingga membuat Tante Rina mencumbuku semakin ganas.

Tapi tiba-tiba penumpang yang duduk di sisi sebelah kanan, tepat di sebelah kami terbangun. Kami segera menghentikan perbuatan kami dan segera merapikan pakaian kami yang amburadul. Untungnya orang itu tidak begitu menyadari apa yang sedang terjadi, tapi kami tidak berani lagi melakukannya. Tante Rina hanya tersenyum nakal sambil mengedipkan sebelah matanya kepadaku, lalu kembali menyandarkan kepala di bahuku.

"Besok anterin Tante ke hotel ya Don..." katanya lirih sambil mencubit pahaku.
"Ok tante..." aku segera tahu apa maksudnya, tidak lama kemudian kami berduapun tertidur.

******

Kami sampai di stasiun Gubeng Surabaya sekitar pukul 9 pagi, segera Tante Rina mencari taksi untuk membawa kami ke hotel.

"Nanti suami tante gimana?"
"Ah nggak apa-apa, sekarang dia lagi sibuk rapat sampai jam 5 sore nanti... lagi pula kita pergi ke hotel yang lain.."

Sampai di hotel kami langsung menuju kamar. Aku merebahkan diri di tempat tidur untuk meluruskan badan yang terasa lelah setelah semalaman harus tidur dalam posisi duduk. Sementara itu Tante Rina langsung masuk ke kamar mandi, tampaknya dengan sengaja ia tidak menutup pintu. Tidak berapa lama kemudian Tante Rina memanggilku,

"Doni... mandi yukk, barengan tante"

Aku bergegas masuk ke kamar mandi dan kulihat Tante Rina sedang berdiri di bawah pancuran shower dalam keadaan telanjang bulat. Payudaranya yang semalam kuremas-remas tampak agak menggantung, kulihat pentilnya berwarna coklat, begitu menggairahkan. Sementara itu di antara kedua pangkal pahanya terlihat bulu-bulu kemaluan yang cukup lebat dan basah kuyup menutupi seluruh daerah vaginanya. Aku hanya bisa terbelalak kagum menatap keindahan tubuh wanita matang ini. Biarpun umurnya tidak muda lagi dan tubuhnya tidak begitu kencang, tetap saja aku terangsang. Aku tidak sabar untuk segera bisa memasukkan penisku ke dalam liang vaginanya.

"Sini... jangan bengong, ayo buka bajunya, sabunin punggung tante..."

Akupun segera menanggalkan seluruh pakaianku dan menghampiri Tante Rina.

"Duh...tante sexy sekali..."
"Doni juga... tuh liat... udah tegang anunya...hi..hi..hi..."

Tanpa banyak basa-basi kami langsung bercumbu di bawah pancuran shower air hangat, melanjutkan apa yang semalam kami mulai dan belum tuntas. Tangan Tante Rina mulai meremas-remas penisku sementara tanganku juga mulai merayapi selangkangannya. Di balik bulu-bulu yang lebat kurasakan belahan vagina Tante Rina yang begitu hangat dan licin berlendir. Tante Rina mulai bergetar dan mendesah-desah menahan nikmat.

"Mhh...ss...sabunin tante dulu sayang... nanti gantian tante yang sabunin kamu..."

Aku mencabut jari-jariku dari dalam liang vaginanya, lalu segera menyabuni punggungnya. Kemudian dari arah belakang aku menyabuni Tante Rina sekaligus meremas-remas payudaranya. Kusabuni pantat dan pahanya sambil sesekali aku meremas-remas pantatnya yang sexy. Tanganku mulai menuju ke selangkangannya dan jari-jariku yang nakal kembali masuk ke sela-sela belahan vaginanya. Tante Rina tampak kembali bergetar dan sangat menikmati itu, kali ini ia membiarkan aku mengeksplorasi seluruh tubuhnya.

Kemudian giliran Tante Rina menyabuni seluruh tubuhku dengan lembut. Sementara tangan kanannya menyabuni seluruh badanku, tangan kirinya terus meremas-remas penisku sehingga membuat gairahku semakin memuncak dan ingin segera menancapkan penisku ke dalam vaginanya. Akhirnya setelah puas meremas-remas penisku Tante Rina mulai berjongkok di depanku dan langsung memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Dikulumnya penisku dengan penuh nafsu, terlihat jelas pipinya yang kempot saat menghisap penisku. Kucengkeram rambut Tante Rina sambil menahan rasa nikmat yang diberikan mulutnya.

Setelah 'foreplay' dirasa cukup Tante Rina lalu menarikku ke tempat tidur. Dengan sedikit tergesa-gesa direbahkannya badanku ke atas tempat tidur sehingga aku terlentang. Rupanya Tante Rina sudah sangat 'horny'. Tanpa banyak bicara Tante Rina memposisikan dirinya di atasku sambil memasukkan penisku ke dalam vaginanya yang tertutup bulu-bulu lebat.

Bersamaan dengan masuknya penisku ke dalam vaginanya kulihat Tante Rina memejamkan mata dan membuka mulutnya menahan rasa nikmat. Tidak lama kemudian pantatnya mulai turun-naik, perlahan tapi penuh tenaga diikuti desahan-desahan yang erotis. Penisku terasa menusuk vagina Tante Rina hingga ke ujung, sensasinya sungguh luar biasa. Aku merasakan vagina Tante Rina seolah mencengkeram erat dan mengurut-urut penisku sehingga aku harus bersusah payah mengendalikan diri supaya tidak terlallu cepat mengalami orgasme. Permainan Tante Rina benar-benar luar biasa menurutku. Sementara pantatnya naik turun makin cepat, tangannya terus aktif mempermainkan bola pingpongku. Aku tidak mau kalah, tanganku juga terus meremas-remas payudaranya.

"Aduuh tante...enak banget..."
"Mmhh...Doni... punya kamu juga enak.... keras dan masuk sampai ke ujung..."
"Tante punya juga ok... seperti masih perawan aja" kataku memujinya sambil terus menyentak-nyentakkan pinggulku menyambut pagutan ganas vaginanya.

"Mmhh...Doni...kayaknya tante mau keluar sebentar lagi..."
"Barengan tante...Doni juga mau keluar..."
"Keluarin aja sayang... keluarin di dalam..."

Tidak lama kemudian gerakan Tante Rina makin liar, kepalanya terus bergoyang-goyang tak beraturan, nafasnya terengah-engah, matanya terpejam dan mulutnya menganga menahan nikmat... sementara tangannya mencengkeram apapun yang bisa diraihnya.

"Aaagghh...Doni...Aaagggghhh..."
"Tantee....Doni keluaar.... aagh..."

Spermaku muncrat ke dalam liang vagina Tante Rina diikuti dengan rasa nikmat yang luar biasa, tulangku seolah rontok dan aku kehilangan semua tenagaku. Sementara itu tubuh Tante Rina yang baru saja mengalami orgasme hebat juga mulai terkulai lemas. Perlahan-lahan dia membiarkan tubuhnya yang sudah kehilangan tenaga rebah di sampingku. Kami berpelukan sambil mencoba meresapi sisa-sisa kenikmatan orgasme yang kami alami tadi. Kulihat spermaku mengalir keluar dari belahan vaginanya, bercampur dengan cairan vagina dan menetes ke sprei tempat tidur.

Kami hanya beristirahat 5 menit sebelum Tante Rina mulai bangkit kembali birahinya dan meremas-remas penisku yang masih agak kelelahan. Sentuhan tangan Tante Rina perlahan-lahan membangkitkan gairahku dan penisku kembali mengeras seperti sebelumnya.

"Masukin lagi Don... tante masih pengen..."

Tanpa banyak tanya lagi aku langsung menindih tubuh Tante Rina yang tergolek dengan paha dikangkangkan siap menantiku. Segera kumasukkan penisku ke dalam vaginanya yang masih basah oleh cairan spermaku.

"Iya... masukin yang dalam sayang... veggie tante jadi punya kamu hari ini..."

Kami lalu bergumul lagi dengan ganas dan penuh nafsu. Setelah melewati beberapa macam gaya akhirnya tubuh kami kembali terkulai lemas karena orgasme. Dan lagi-lagi kami hanya beristirahat beberapa menit saja sebelum penisku kembali bersarang dalam vagina Tante Rina yang masih haus akan kenikmatan.

"Aduuuh Doni...tante nggak kuat lagiii....tusuk yang dalam sayang...aagghh.."
"Ayo tante kita barengan lagi...Doni juga mau keluaarr..."
"Aaaggh... mmhh...aagghhh..Doniiii..."

Bersamaan dengan orgasme Tante Rina, spermaku kembali tumpah-ruah ke dalam vaginanya untuk yang ketiga kali. Setelah beristirahat beberapa menit sebenarnya aku masih bernafsu melihat tubuh Tante Rina yang tergolek lemas disebelahku. Vagina Tante Rina tampak basah bersimbah cairan dan dari balik bulu-bulu lebatnya terlihat belahan vagina yang berwarna merah. Tapi kelihatannya Tante Rina kali ini sudah benar-benar kehabisan energi. Entah berapa kali dia sudah orgasme hari itu, mungkin delapan kali mungkin juga lebih.

"Ah gila kamu Doni... udah dulu ya... tante capek banget... kaki tante sudah gemeteran" katanya lembut mencoba menolak tanganku yang kembali menggerayanngi vaginanya.
"Doni masih mau tante... katanya veggie tante untuk Doni hari ini..."
"Aduh tante bener-bener nggak sanggup Don...kapan-kapan lagi ya... tante suka kok main sama kamu... tante janji kita begini lagi di Bandung nanti" katanya setengah memohon.
"Kalu gitu Doni jilatin aja ya...? Boleh tante?"

Tante Rina tidak menjawab, dia hanya diam pasrah ketika kusibakkan bulu-bulu vaginanya dan lidahku mulai menjilati semua bagian sensitif di vaginanya. Kadang lidahku menjilati seluruh bibir vaginanya, kadang kumasukkan ke dalam liang vaginanya, atau klitorisnya kujilati dan kuhisap dengan lembut. Tidak butuh waktu lama, Tante Rina mulai merespons permainanku. Pinggulnya mulai bergerak-gerak dan diapun mendesah-desah menahan nikmat dan nafasnya kembali terengah-engah. Lama kelamaan aku juga mulai tidak tahan, penisku mengeras dan rasanya seperti ingin meledak. Akhirnya aku bangkit sambil memegangi penisku,

"Boleh dimasukin tante...?"

Tante Rina tidak menjawab, tapi juga tidak menolak. Dia hanya diam pasrah sambil perlahan membuka kedua pahanya. Kulihat samar-samar belahan vaginanya yang berwarna merah membuka dan menantang penisku untuk segera masuk. Kamipun kembali melakukan persetubuhan yang penuh desahan dan erangan nikmat. Entah berapa kali Tante Rina mengalami orgasme saat itu, yang jelas setelah aku memuntahkan spermaku yang keempat kalinya kami berdua hanya bisa berpelukan diam, nyaris tak bergerak selama setengah jam sebelum bisa bangkit dari tempat tidur.

********

Kira-kira jam 3 sore kami check-out dari kamar hotel. Kamipun berpisah, Tante Rina ke hotel tempat suaminya menginap sedangkan aku melanjutkan perjalananku ke Sidoarjo. Tante Rina tidak lupa memberikan kartunama dan berpesan supaya aku kembali menghubunginya setelah pulang ke Bandung.

"Jangan lupa di Bandung telpun tante ya Don.."

Tidak butuh waktu lama, hanya 2 minggu setelah itu aku kembali menghubungi Tante Rina dan kami pun berkencan lagi di sebuah hotel dari jam 12 siang sampai jam 7 malam, nyaris tanpa jeda.

Friday, August 8, 2008

Teh Irma

Sewaktu masih kos di tempat Tante Nita sering aku diminta Tante Nita mengantar ke salon langganannya di daerah Setiabudi. Mau tidak mau aku juga menjadi langganan di salon tersebut. Biasanya aku dilayani oleh Teh Irma, orangnya ramah, suka sekali becanda dan ngobrol saat melayani pelanggan. Usianya mungkin sekitar 30 tahun dan dia seorang janda dengan 2 anak, baru cerai dua tahun yang lalu. Wajahnya lumayanlah, kulitnya putih... cuma bodinya agak montok meski nggak bisa dibilang gemuk juga. Teh Irma tahu kalau aku suka jalan dan kencan dengan Tante Nita. Mungkin Tante Nita yang cerita, entahlah aku tidak ambil peduli.

Setelah aku tidak tinggal di rumah Tante Nita akupun masih sering ke salon tersebut, kadang untuk janjian ketemu dengan Tante Nita kalau dia lagi 'kesepian', kadang juga karena aku memang perlu potong rambut atau sekedar creambath. Sudah hampir enam bulan ini aku tidak bertemu Tante Nita, selain untuk mencegah kecurigaan dari Om Rahmat, suaminya, juga karena aku memang sibuk dengan urusan kuliah.

Pada suatu hari sepulang dari kampus aku menyempatkan diri datang ke salon langgananku, mau creambath. Seperti biasa Teh Irma melayaniku dengan keceriaannya yang khas cewek Sunda. Mungkin karena hari itu akhir bulan keadaan salon tampaknya cukup sepi, hanya ada tiga pengunjung termasuk aku.

"Halo... Doni... mau potong...?"
"Enggak ah.. creambath aja.."

Sambil mulai meng-creambath kepalaku seperti biasa Teh Irma mulai bercerita. Mungkin karena keadaan agak sepi pembicaraan Teh Irma mulai ke masalah hubunganku dengan Tante Nita.

"Kok udah jarang janjian dengan Tante Nita? Padahal dua hari yang lalu Tante Nita kemari lho..."
"Saya sibuk kuliah teh..."
"Udah bosen ya... dasar cowok... kalau udah bosen terus ditinggalin gitu aja..."
"Eh enggak kok, siapa yang bosen.... enak lagi dengan Tante Nita..." kataku sambil tertawa kecil.
"Idiih... baru mahasiswa udah nakal banget, yang dipikirin gituannya aja..." Teh Irma pura-pura cemberut sambil mencubit pipiku.
"Lha, khan Tante Nita nggak mungkin saya nikahin, jadi saya kawinin ajalah..." kataku menggodanya. Teh Irma mencubit pipiku lagi dengan gemesnya.

Entah setan apa yang mampir di kepalaku tiba-tiba aku tertarik dengan Teh Irma. Dari cermin kuperhatikan wajahnya yang lumayan manis dan tanpa sadar aku mulai memperhatikan lekuk tubuhnya yang montok. Mungkin Teh Irma tahu kalau aku memperhatikannya, dia terlihat agak salah tingkah. Ah... kepalang tanggung, kupikir sebagai janda yang sudah bercerai 3 tahun Teh Irma mungkin sekali-sekali juga membutuhkan belaian laki-laki.

"Teh, pulangnya masih lama nggak...?"
"Sebentar lagi, kenapa...?"
"Doni mau ngajak teteh ke Lembang, jalan-jalan, boleh?"

Ditembak langsung seperti itu kelihatannya Teh Irma tidak siap, dia makin salah tingkah.

"Lho kok bengong, ada yang marah ya..."
"Ih... ada-ada aja...teteh nggak punya suami dan nggak punya pacar tau... emangnya Doni mau ngajak ke Lembang kapan?"
"Ya sehabis teteh kerja kita langsung berangkat, naik motor aja... mau ya?"
"Tapi jangan lama-lama ya... nanti teteh nggak bisa masuk rumah, dikunci sama ibu kos"

Gotcha! Modal nekatku berhasil juga... mana mungkin nggak lama di Lembang... naik motor malam-malam dari Lembang dinginnya minta ampun, siapa yang kuat? Mau nggak mau pasti pakai acara menginap di hotel.

******

Kira-kira jam 5 sore Teh Irma keluar dari salon dan langsung menghampiriku yang sudah siap menunggu di halaman salon. Karena Teh Irma pakai rok dia duduk menyamping di belakangku, tangannya langsung melingkar di pinggangku. Akupun langsung tancap gas menuju Lembang.

Di Lembang kami mampir ke tempat susu murni kesukaanku. Kami duduk bersebelahan seperti sepasang kekasih sambil menikmati susu murni yang hangat dan roti bakar. Teh Irma mulai bercerita panjang lebar. Dari soal bekas suaminya yang suka selingkuh, teman kampungnya yang jadi selebriti di Jakarta sampai soal Tante Nita dan pelanggan-pelanggan lainnya. Aku cuma menjadi pendengar yang baik sambil sekali-sekali memberi tanggapan seadanya. Pikiranku sama sekali tidak di situ, dalam otak ngeresku terus terbayang bagaimana tubuh montok Teh Irma nanti akan tergolek telanjang tanpa sehelai busana di ranjang hotel menanti sentuhanku.

Akhirnya aku memberanikan diri mengarahkan pembicaraan ke arah rencana mesumku, kupegang tangannya dan kubelai-belai dengan lembut.

"Teh Irma, teteh menurut Doni masih cantik kok nggak kawin lagi... nggak kesepian ditinggal suami?" Taktik basi, tapi tetap efektif...karena dari nada bicara dan 'body-language'-nya yang kuamati sejak tadi Teh Irma tampaknya tidak akan keberatan kalau aku ajak 'making-love'.

"Kalau calon sih ada di kampung, masih saudara, tapi mungkin baru tahun depan kawinnya, emangnya kenapa?" katanya sambil tersenyum genit.
"Enggak... cuma pengen tau, dulu waktu ada suami khan tiap malam ada yang kelonin tapi sekarang khan tidurnya sendiri, terus kalau teteh lagi pengen gimana...?"
"Iih... udah gelap ngomongnya mulai ngaco... ya teteh tahan aja dong..."
"Kalau nggak tahan...gimana?" tanganku mulai nakal melingkar ke pinggangnya dan mulai mengelus-elus tubuhnya yang montok.

Teh Irma sama sekali tidak keberatan dengan aksiku, dia malah merebahkan kepalanya di pundakku dengan manja dan tangannya balas melingkar di pinggulku. Aku rasa dia tahu ke arah mana maksud pembicaraanku.

"Ya, begitulah... sekali-kali selep-serpis khan enak juga..." katanya lirih dengan mata genit.

Sejenak kami terdiam sambil memikirkan langkah selanjutnya.

"Teh, daripada selep-serpis kalau Doni yang serpis aja gimana? Mau...?"

Teh Irma diam tidak menjawab, tiba-tiba dia menatapku lalu bibirnya mendekat ke bibirku. Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, bibirku langsung menyambut bibirnya dan kamipun bercumbu dengan ganas. Nafas Teh Irma mulai turun-naik tidak beraturan seperti sedang menahan gejolak nafsu yang begitu lama tertahan. Pelan-pelan tangaku mulai meraba payudaranya yang montok, Teh Irma tidak mau kalah, tangannya mulai meremas penisku dengan lembut. Setelah beberapa menit melumat bibir dan lidahku, Teh Irma melepaskan cumbuan mautnya.

"Kita ke hotel yuk..." katanya perlahan.

*******

Akhirnya sekitar jam 7 malam kami meluncur ke sebuah hotel melati yang cukup bagus. Tarifnya ekonomis tapi kamarnya lumayan bersih dengan kamar mandi di dalam. Aku minta ijin untuk beli kondom, tapi Teh Irma melarang setengah berbisik, "Nggak usah pake kondom say..., biar lebih enak, aman kok...."

Setelah mengunci pintu kamar lalu kami menuju kamar mandi, kulepaskan baju Teh Irma satu-per satu sampai hanya tinggal celana dalam dan BH yang tersisa. Diapun melakukan hal yang sama, melepaskan pakaianku satu per satu sehingga tinggal tersisa celana dalam. Meski tubuhnya lumayan montok, tampaknya cukup padat juga, tidak begitu tampak adanya lipatan-lipatan lemak. Mungkin Teh Irma rajin merawat badan dan berolahraga. Yang jelas tubuhnya betul-betul membuatku bergairah.

Kami saling berpandangan dan mulai berciuman. Tanganku mulai melepaskan tali BHnya dan tampak buah dada Teh Irma yang montok begitu ranum menantang sehingga membuat aku semakin bernafsu meremas-remasnya. Teh Irma tidak mau kalah, gantian dipelorotkannya celana dalamku dan dengan lembut diremas-remasnya penisku yang sudah mulai tegang. Tanpa menunggu lebih lama lagi tanganku langsung masuk ke dalam celana dalam Teh Irma, belahan vaginanya terasa sudah basah dan licin. Jariku dengan leluasa masuk ke lubang vaginanya yang hangat dan basah, kemudian jariku juga mempermainkan klitoris Teh Irma sehingga membuatnya mengerang keenakan, "Ahh.....mmhh...".

"Uuh..tahan dulu sayang... kita mandi dulu biar lebih asyik..." kata Teh Irma terbata-bata sambil berupaya melepaskan diri dari gerayanganku. Kamipun mandi berdua dengan air hangat. Selama mandi tanganku tidak pernah lepas dari tubuh Teh Irma, saat menyabuninya kadang aku meremas dada Teh Irma yang montok, sekali waktu aku menyelipkan jari-jariku di antara celah vaginanya. Teh Irma juga begitu, sambil menyabuni badanku dia terus meremas-remas penis dan buah pelirku. Kukatakan kalau aku suka sekali dengan tubuhnya yang montok.

"Ah.. rayuan gombal, teteh khan gemuk... "
"Enggak gemuk teh, tapi montok dan sexy... beneran... justru body teteh yang montok bikin cowok terangsang banget, nggak sabar pengen masuk ke memek teteh" kataku setengah berbisik sambil lagi-lagi menyelipkan tanganku ke vaginanya.

"Mau dimasukin sekarang?" tanyanya mulai nggak sabar.
"Di kamar mandi...?"
"Iya, dari belakang aja..."
"Katanya mau diserpis dulu..."
"Serpisnya ntar aja di tempat tidur, teteh udah kepengen ngerasain punya kamu sekarang..."

Teh Irma lalu membalikkan badan dan membungkuk sambil berpegangan pinggir bak mandi. Bulu-bulu vagina Teh Irma nggak begitu lebat sehingga tampak belahan vaginanya berwarna kemerahan dan membuat penisku menjadi semakin tegang.

Perlahan-lahan kuarahkan penisku ke lubang vagina Teh Irma, dengan sengaja kupermainkan penisku di bibir vaginanya. Kadang kuuusap-usapkan penisku ke klitoris Teh Irma, lalu kumasukkan ujung penisku beberapa saat dan kutarik keluar lagi.

"Ih.. jail banget sih say..., masukin dong... sampai ujung..." Teh Irma mulai merengek-rengek, tubuhnya meliuk-liuk dengan gelisah. Akupun mulai nggak tahan, lalu dengan dorongan perlahan kumasukkan penisku dalam-dalam ke vaginanya.

"Agh...mhh...gitu dooong..mmhh.." Teh Irma melenguh keenakan. Suara desahan Teh Irma membuatku semakin bergairah, dengan goyangan yang berirama dan kuat aku terus menusukkan penisku berulang-ulang ke dalam liang vagina Teh Irma yang terasa begitu hangat dan masih sempit.

Rasanya sayang kalau kami menikmati orgasme kami yang pertama di kamar mandi, kulepaskan penisku dari jepitan vagina dan kami berjalan menuju ke kamar tidur. Dengan perlahan kurebahkan Teh Irma di tempat tidur, kubuka pahanya dan tampak belahan vaginanya terbuka berwarna merah muda basah oleh lendir.

"Aku serpis ya teh..."

Teh Irma cuma tersenyum genit sambil membuka pahanya tanda setuju. Langsung kubenamkan wajahku di antara dua pahanya. Kusibakkan bibir vaginanya dan dengan lembut kujilati seluruh daerah sensitifnya. Lidahku mengeksplorasi liang vaginanya, lalu kujilati klitoris Teh Irma yang menyembul keluar. Sementara tanganku juga sibuk meremas payudara Teh Irma dan sekali-sekali memilin putingnya. Teh Irma mendesah-desah dan tampak sangat menikmati, dipegangnya kepalaku seolah dia tidak mau lidahku lepas dari vaginanya.

Tidak berapa lama kemudian pinggul Teh Irma terasa bergerak makin aktif, tangannya juga semakin kuat menekan kepalaku.

"Doni... teteh udah mau keluar...mmhhh...aduuh...oohh...oohh.."

Dan akhirnya seluruh tubuh Teh Irma menegang menahan nikmat orgasmenya yang pertama malam itu...

"Aaggh.... Doniii... aagh.....!!!"

Tidak berapa lama kemudian tubuh Teh Irma terkulai lemas. Aku lalu berbaring di sisinya, kukecup bibirnya sambil kubelai rambutnya.

"Enakan mana sama selep-serpis teh..." kataku menggoda.
"Enakan ini gilaa... udah lama nggak ngerasain yang seperti ini... suami teteh aja belum pernah jilatin memek teteh sampai keluar kayak gini..." katanya sambil mencubit perutku.

"Mau dijilat lagi...?"
"Kapan-kapan ya... sekarang teteh mau gantian isep punya kamu terus dimasukin ke memek teteh.." katanya sambil meraih penisku.

Tanpa buang-buang waktu dimasukkannya penisku ke dalam mulutnya dan diemutnya dengan penuh gairah. Kadang-kadang dilepaskannya lalu lidahnya dengan lihai menyapu seluruh permukaan penisku. Akupun tidak mau tinggal diam, kugeser badanku supaya tanganku bisa meraih vaginanya. Sementara Teh Irma sedang berupaya melumat penisku, jari-jariku menjelajahi celah-celah vaginanya dan terus masuk hingga aku merasakan dinding vagina yang terasa sedikit bergerigi, tentu ini g-spot! Jari-jariku terus mengusap-usap wilayah sensitif itu dan ini membuat tubuh Teh Irma bergetar menahan rasa nikmat.

"Mmhh... mmhhh..." desahan Teh Irma makin keras.

Akhirnya Teh Irma melepaskan penisku dari mulutnya, mungkin dia sudah nggak tahan, vaginanya gatal minta ditusuk penisku. Dengan mengambil posisi duduk ia masukkan penisku ke dalam vaginanya. Dengan penuh gairah ditekannya pantatnya ke pinggulku sehingga penisku masuk dengan sempurna ke dalam vaginanya. Aku merasakan penisku seperti menyentuh ujung vaginanya. Pantat Teh Irma terus bergerak naik turun dengan cepat. Rupanya Teh Irma sudah tidak sabar untuk merasakan orgasmenya lagi! Akupun merespon dengan menghentak-hentakkan pantatku sehingga penisku terbenam lebih dalam lagi...

"Mmhh...Doni...enak banget... uuhh..."

Vaginanya yang hangat dan sempit membuat penisku serasa dijepit dan diurut-urut, sensasi nikmatnya luar biasa. Ditambah lagi desahan Teh Irma yang terdengar begitu sexy membuat penisku mulai bergetar dan berdenyut-denyut menuju puncak orgasme. Sama dengan yang aku rasakan, tampaknya Teh Irma juga sudah mendekati orgasmenya yang kedua.

"Doni... teteh udah mau keluar...mmhhh...mmhh.."
"Iya teh, kita barengan, Doni juga udah mau..."

Gerakan kami menjadi semakin intens dan liar. Akhirnya tangan Teh Irma mencengkeram keras lenganku sambil memejamkan mata menahan sensasi orgasme yang meledak-ledak. Tubuhkupun menjadi kejang saat semburan sperma terasa keluar dari penisku yang berkedut-kedut meluapkan rasa nakmat yang luar biasa.

"Aaahhh... Doni....Aaaaaagh...." Teh Irma menjerit melepaskan rasa nikmat orgasmenya.
"Uuhh... teteh... mmhhh.... " aku juga tidak tahan mengungkapkan rasa nikmatku.

Akhirnya tubuh Teh Irma terkulai lemas ambruk di dadaku. Sejenak kami berpelukan diam tidak bergerak, mencoba merasakan sisa-sisa sensasi nikmat yang masih ada. Sementara itu penisku yang masih ada di dalam vagina Teh Irma mulai melemas. Aku merasakan aliran cairan spermaku yang bercampur dengan cairan Teh Irma mengalir keluar dari vagina dan membasahi pangkal pahaku.

Teh Irma melepaskan diri dari badanku dan dia berbaring lemas di sebelahku sambil matanya tetap terpejam. Kukecup bibirnya sambil kupeluk tubuhnya yang montok dan basah oleh keringat. Kulihat jam di dinding hotel, ternyata sudah jam 8.45 malam, tidak terasa hampir 1 jam juga kami memadu syahwat. Pura-pura aku menawarkan Teh Irma untuk pulang,

"Udah hampir jam 9 sayang... kita pulang sekarang...?"
"Enggak ah, dingin... lagian sampe tempat kos pasti udah dikunci..."
"Jadi..."
"Ya kita terusin aja doong... khan baru satu ronde.."
"Lho Teh Irma mau berapa ronde?"
"Terserah Doni.. teteh mau aja, sampai pagi juga boleh..." katanya genit.
"Ih... buka puasa ya... serakah amat..." kataku menggoda.
"Hi..hi..hi.. teteh udah lama nggak ngerasain kayak gini.."
"Emangnya abis cerai nggak pernah lagi?"
"Ya pernah juga sih, nggak munafik, tapi khan jarang dan udah hampir tiga bulan teteh enggak begituan... "
"Pantesan teteh punya masih sempit, jarang dipake sih... " kataku memuji.

Hanya lima menit istirahat, tangan Teh Irma sudah menggerayangi penisku dan mengusap-usapnya. Otomatis penisku mulai mengeras lagi. Aku langsung merespon dengan mulai merermas dan menjilati payudara Teh Irma. Kukulum dan kuhisap-hisap putingnya yang bulat kecoklatan. Tidak hanya itu, tanganku mulai menggerayangi selangkangan Teh Irma dan jari-jariku mulai nakal masuk ke liang vaginanya yang masih basah oleh spermaku. Teh Irma mulai menggelinjang menahan nikmat.

"Doni, pisangnya masukin lagi ke memek teteh ya... tapi Doni yang di atas, gantian..." Teh Irma berbisik lirih sambil membuka kedua pahanya lebih lebar. Bibir vaginanya yang merah merekah dan bersimbah sisa-sisa spermaku sangat menggugah nafsu kelaki-lakianku. Tanpa membuang waktu langsung aku membenamkan penisku dalam-dalam ke lubang vagina Teh Irma.

Dengan lembut tapi pasti kuturun-naikkan pantatku sambil sesekali menekan dan memutar-mutarnya untuk menambah rasa nikmat. Teh Irma juga tidak pasif, pantatnya ikut bergerak seirama dengan gerakanku sambil tangannya terus meremas pantat dan punggungku. Sebagai variasi kuangkat kaki kiri Teh Irma sementara kaki kiriku kusilangkan di atas kaki kanannya. Posisi ini membuat penisku terasa lebih dalam masuk ke vagina Teh Irma dan kelihatannya Teh Irma sangat menikmati.

"Aduuh... mmhh...."
"Sakit...?"
"Enggak sayang, enak banget....terusin... tusuk yang keras....mmhhhh... rasanya sampe ujung..."

Mendapat semangat dari Teh Irma gerakanku menjadi lebih cepat dan bertenaga. Tidak berapa lama kemudian Teh Irma mulai menggelinjang tidak beraturan, tangannya meremas kasur, bantal, atau apa saja yang bisa diraihnya.

"Uuggh.. Doni...teteh mau keluar lagi..."

Seperti biasa kalau ronde kedua orgasmeku cenderung lama, kali inipun aku belum mau orgasme. Tapi gerakanku kupercepat supaya Teh Irma bisa merasakan puncak orgasmenya dengan intens. Dan tidak berapa lama kemudian Teh Irma mulai bergerak liar, pinggulnya berkedut-kedut melampiaskan kenikmatan orgasme lagi.

"Aagh...Doni...aaggh...."

Kutancapkan penisku dalam-dalam dan kutahan sampai tubuh Teh Irma terkulai lemas tanda sensasi orgasmenya sudah selesai. Beda dengan laki-laki yang butuh waktu beberapa menit untuk kembali pulih setelah orgasme, perempuan biasanya tidak butuh waktu lama untuk 'on' lagi. Itu sebabnya mereka bisa orgasme berkali-kali hanya dalam waktu yang singkat. Seperti yang pernah kualami dengan Tante Nita, sekali waktu dia mengalami orgasme 8 kali hanya dalam selang waktu 20 menit saja! Laki-laki mana bisa seperti itu. Aku pikir Teh Irma juga tidak berbeda, makanya aku tidak melepaskan penisku dari dalam vaginanya. Kulepaskan kaki kirinya dan perlahan-lahan kutindih tubuh montok Teh Irma, dan sambil memeluk tubuhnya yang masih lemas kubelai-belai rambutnya.

"Mau lagi teh...?" tanyaku sambil perlahan lahan kembali menggoyangkan pantatku.

Teh Irma tidak menjawab, hanya membuka mata dan memandangku sambil tersenyum genit. Perlahan-lahan goyanganku makin kuintensifkan. Dan tidak lama kemudian Teh Irma mulai berreaksi kembali, vaginanya terasa mulai menjepit penisku. Pinggulnya juga mulai bergoyang, kadang berputar-putar, kadang naik-turun mengimbangi gerakanku. Hanya butuh beberapa menit saja sebelum akhirnya Teh Irma kembali menggelinjang menahan nikmat.

"Agghh.. Doniii... Mhh...", tangan Teh Irma mencengkeram punggungku dengan kuat selama beberapa detik sebelum akhirnya seluruh tubuhnya kembali terkulai lemas.

Perlahan kucumbu lehernya, lalu bibirnya. Teh Irma tidak tinggal diam, dia juga menanggapi cumbuanku dengan menjulurkan lidahnya ke dalam mulutku sambil pantatnya kembali merespon tusukan penisku. Kamipun lalu kembali bergumul ganas, kami berganti posisi berkali-kali. Kadang aku di bawah, kadang kembali lagi di atas.

"Gila kamu Doni... nanti teteh keluar lagi..."
"Nggak apa-apa teh, Doni juga udah mau keluar sekarang..."

Mengetahui aku juga sedang menuju puncak orgasme Teh Irma menjadi semakin ganas, sambil menindih tubuh montoknya aku merasakan vagina Teh Irma mencengkeram kuat penisku dan pinggulnya bergoyang naik-turun dengan kuat mengimbangi gerakanku. Aku merasakan aliran darahku semakin kencang dan seluruh tubuhku mulai bergetar.

"Aduuh teh... Doni mau keluar..."
"Mmhh..teteh juga say... kita barengan ya..."
"Aagghh... Teh Irmaaa...."
"Doni...Mmhh...aaaggghhh..."

Akhirnya dengan sebuah sentakan kuat spermaku kembali tumpah ke dalam vagina Teh Irma. Kami berpelukan erat selama beberapa lama sebelum akhirnya aku merebahkan diriku di samping Teh Irma dengan seluruh tubuhku terasa lemas seolah-olah kehilangan seluruh tulangnya. Malam itu kami tertidur dengan lelap sambil berpelukan tanpa sehelai busana selain selembar selimut yang menutupi tubuh kami berdua dari serangan hawa dingin kota Lembang. Kami benar-benar merasa puas dan kelelahan malam itu.

********

Saat aku terbangun hari sudah mulai terang, kulihat belum jam 7. Teh Irma masih terlelap di sampingku dan tubuhnya masih tertutup selimut. Kukecup keningnya dan kupeluk tubuhnya untuk memberikan rasa hangat. Tidak lama kemudian Teh Irma terbangun dan tersenyum manis menatapku.

"Udah bangun...?" tanyanya.

Aku hanya menganggup dan tanganku mulai nakal menggerayangi seluruh tubuhnya yang montok. Teh Irma tidak tinggal diam, tangannya juga mulai meraba-raba penisku dan langsung membuatnya berdiri tegang. Payudara Teh Irma yang montok tampak begitu menggairahkan dan aku memuaskan nafsuku dengan menjilatinya, lalu aku mengulum puting-putingnya yang bulat. Hanya butuh beberapa menit saja sebelum akhirnya Teh Irma membuka pahanya lebar-lebar dan memintaku untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Pagi yang dingin di Lembang tidak lagi terasa dingin, tubuh kami kembali bersimbah keringat oleh panasnya persetubuhan kami.

Entah berapa kali Teh Irma orgasme pagi itu, aku tidak ingat, yang jelas spermaku tumpah ke dalam vaginanya beberapa kali. Di tempat tidur sebelum mandi sekali, di kamar mandi sekali dengan 'doggie-style', lalu sekali lagi setelah kami berpakaian dan bersiap hendak pulang, di tempat tidur. Ya, saat itu aku memang betul-betul 'horny' dengan Teh Irma. Aku tidak tahan melihat montoknya tubuh Teh Irma yang sexy. Sesaat setelah Teh Irma selesai berpakaian, kupeluk tubuhnya dari belakang dan kujilati leher dan telinganya. Tanpa banyak bicara kamipun kembali melepaskan busana masing-masing lalu bergumul di tempat tidur sampai kenikmatan yang kami nantikan terpuaskan lagi.

Akhirnya kami pulang kembali ke Bandung sekitar jam 11 siang dan Teh Irma terpaksa terlambat kerja. Teh Irma tidak marah atau menyalahkanku, nyatanya ia sendiri juga sangat menikmatinya dan sama sekali tidak menolak ketika aku mengajaknya untuk berkencan lagi seminggu kemudian.